Semoga Belum Terlambat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Semoga Belum Terlambat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Semoga Belum Terlambat

AKU mendongak pada rembulan yang bersinar makin tipis. Malam hampir berlalu, tapi pagi belum betul-betul tampak menjelang. Aku belum mengantuk. Hasan sahabatku sudah terlelap di kasur butut. Dengkurnya bagaikan pelarian dari keputusasaan seorang lelaki tak berdaya di suatu tempat yang muram. Angin kemarau membuat pohon-pohon berderit-derit, ranting-rantingnya berderak, daun-daun keringnya berguguran. 

Beberapa saat kemudian angin hangat berembus di langit yang mendung. Angin itu membawa aroma bunga-bunga yang datang dari pinggiran kali yang paling jauh. Aku terkesiap melihat seorang lelaki datang dengan langkah tenang. Ia mengenakan kain ihram, masuk ke dalam rumah. 

“Assalamualaikum!” 

“Waa...Wa...Waalaikumuasalam,” jawabku tergeragap. 

Lelaki itu sangat tampan. Wajahnya bercahaya. Sangat bersih dan indah. Keindahan yang sulit diungkapkan. Hakikat keindahan itu melihatnya dengan mata. Karena itu aku hanya percaya pada keindahan yang dapat dilihat dengan mata dan dirasakan dengan hati. 

“Berpuasalah di bulan Ramadan, dirikanlah salat, bacalah kitab sucimu dan mintalah ampunan kepada Tuhan atas dosa-dosa masa lalumu,” ujar lelaki itu sembari menepuk pundakku secara halus. 

Ia melanjutkan, ”Semua dosa dan kesalahan yang kita perbuat adalah kelalaian kita sendiri. Namun, Tuhan itu pemaaf. Karena itu selalu ada kesempatan untuk memperbaiki dan bertobat.” 

Hujan berhenti. Lelaki itu menghilang di antara dedaunan pohon mangga. “Temui aku di stasiun akhir kereta,” bisiknya. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih terpukau. Aku rasa, aku tidak sedang bermimpi. 

*** 
WAJAH dan caraku berjalan kerap membuat beberapa anak kecil di lingkunganku ketakutan. Aku memiliki wajah yang terkesan seram. Hidungku pesek dan beberapa gigiku di bagian tengah sudah tanggal. Saat aku tertawa yang terlihat adalah gigi taringku, sehingga senyumku menyerupai seringai drakula. Kaki kananku lebih pendek dibanding kaki kiriku, sehingga aku berjalan pincang. Aku berjalan seperti orang yang baru saja turun dari kapal laut yang diterjang badai berminggu-minggu. 

Tapi bagi anak-anak yang sudah cukup lama mengenalku, aku tidaklah seseram penampilan fi sikku. Aku sangat baik dan ramah, begitu menurut mereka. Aku suka memberi makanan, minuman, permen, es krim, bahkan uang tanpa mereka minta sekalipun. 

Meskipun aku tak punya pekerjaan tetap, aku kerap menyumbangkan uangku kepada siapa saja yang membutuhkan. Pekerjaanku serabutan, seperti memulung sampah, lalu kujual kepada penadah di pinggiran kota. Aku juga terkadang jadi juru parkir tidak resmi di pasar induk dan tenaga keamanan swakarsa. Secara rutin aku menyumbangkan uang hasil mulung dan markir ke masjid di gang sempit perkampungan kumuh ini. Banyak warga heran, aku selalu menyumbang uang untuk masjid, padahal mereka tak pernah melihat aku sembahyang di masjid itu atau di rumahku sekalipun. Aku tak pernah berpuasa di bulan Ramadan. Mungkin menurut mereka aku tak beragama. Pandanganku tentang agama memang berubah drastis ketika ayahku mati puluhan tahun lalu. 

Aku tak peduli dengan omongan orang-orang mengenai sembahyangku, puasaku, ibadahku, bahkan mengenai keimananku. 

*** 
AKU berhenti sembahyang, puasa, mengaji dan beribadah di musim kemarau berpuluh-puluh tahun lalu, ketika aku melihat ayahku mati bunuh diri. Ia menembak langit-langit mulutnya sendiri dengan pistol. Ayahku adalah tentara pembasmi anggota partai komunis atau yang diduga komunis kala itu. Kematian ayahku sangat efektif karena pada detik pertama peluru itu meletus, putus pula napas ayahku. 

Aku tak bisa berbuat banyak, karena aku masih kanakkanak. Aku hanya mampu memandang wajah ayahku yang menoleh ke arahku dalam keremangan dekat ranjang tempat tidur di mana ia menyudahi hidupnya. Aku menyadari betul ayahku memang sudah lama berniat bunuh diri. Aku merasa putus asa untuk merayu ayahku agar tidak bunuh diri. Aku pernah mencoba membujuk ayahku, bahwa ia membunuh petani-petani kelapa sawit yang dituding komunis itu adalah tugas negara. Aku juga bilang, ayah bertobat saja, berhenti dari dinas militer. Nyatanya ayahku mati dengan isi kepala berpencar. 

Aku merasa sia-sia, ternyata hubunganku dengan Tuhan bertepuk sebelah tangan. Waktu itu, dalam setiap doaku dalam sembahyang, aku selalu memohon kepada Tuhan agar dosa-dosa ayahku diampuni. Aku masih berdoa saat ayahku hendak bunuh diri, agar Tuhan menggagalkan usahanya, misalnya pistol yang digunakannya ternyata kosong peluru, atau paling tidak saat dikokang, pistolnya macet. Tapi, ayahku mati tanpa pertolongan Tuhan. Tanpa bantuan malaikat pencabut nyawa. Ayahku telah menentukan kematiannya sendiri, bukan Tuhan. Lalu kenapa aku harus sembahyang dan berdoa memohon pertolongan Tuhan? Apalagi berpuasa di bulan suci dan mengaji. Kenyataannya ayahku lebih berkuasa dari Tuhan ketika menarik pelatuk pistol. Yang aku lakukan hanya menangis. Aku kehilangan ayah. Aku merasa ditinggal Tuhan. 

Setelah aku tumbuh dewasa, aku punya sehektare kebun kelapa sawit. Aku hidup berkecukupan. Hanya saja, wabah malaria menyerang kampungku, dan menewaskan anak dan istriku. Perihal kematian anak dan istriku pun kuanggap bukan kuasa Tuhan. Tetapi disebabkan oleh serangan nyamuk jahanam itu. Aku merantau ke Jakarta. Tujuanku menetap di Jakarta, untuk melupakan kenangan atas anak dan istriku, bukan karena faktor ekonomi semata. 

*** 
RUMAHKU di ujung gang dekat kali dan pohon mangga. Rumahku saling berdempetan dengan rumah-rumah kumuh lainnya di pinggiran kali. Aku dan Hasan tinggal serumah. Hasan sama denganku, tak pernah sembahyang. 

Pagi ini aku pergi ke sebuah stasiun. Bulan puasa tinggal menghitung hari. Persiapan menjelang bulan suci tampak semarak ketika aku melewati pasar menuju stasiun. Sebuah kereta komuter memasuki stasiun. Aku buru-buru membeli tiket dengan tujuan Bogor. 

Aku turun dari kereta dan keluar dari peron. Langkahku terpincang-pincang di tengah keramaian penumpang yang turun dan naik ke kereta komuter ini. Aku sedikit terkejut saat melihat lelaki tampan memakai kain ihram itu menungguku dan kini mendekatiku. Aku mengangakan mulutku yang pasti terlihat jauh lebih lebar dari ukuran normal. Di dalam mulutku sudah jelas tampak deretan gigi tajam mengenaskan yang masih tersisa. Ternyata ia nyata, memang aku tidak bermimpi semalam, batinku. 

Lelaki tampan itu lantas berkata, ”Kukira kau tidak akan datang.” 

Aku kembali mengangakan mulutku. Ia mengajak aku ke sebuah pojokan dekat toilet umum di luar stasiun. 

“Se.. se.. sebenarnya kau siapa dan mau apa?” tanyaku. Aku bicara serupa siput kecil yang tertatih-tatih berjalan di selembar daun pisang. Ia tersenyum misterius. Aku melongo tak mengerti, wajahku mirip jaring laba-laba tipis berwarna keputihan. 

Matahari tepat berada di ubunubunku. Lelaki tampan itu tersenyum memandangku sebelum ia mendongak melihat langit. Ia seperti melihat bentangan riwayat hidupku. 

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku merasakan angin panas bertiup amat kencang membawa berbagai benda beterbangan membentuk pusaran besar yang bergerak hebat mengantarkan aku pada sebuah suasana hening. Aku merasakan keheningan yang begitu ganjil. Keheningan yang lantas berganti dengungan panjang. 

Entah berapa lama. Ketika aku dengan susah-payah membuka kelopak mata, ada beberapa jemari yang saling menggapai, sisa puntung rokok di atas rel dan batang korek api bekas berserak di antara bebatuan. Tubuhku serasa melayang. Aku merasa bagai sebuah boneka bertali yang tiba-tiba dipotong benangnya. Tubuh kumelayang lagi. Sebuah kereta komuter jurusan Bogor-Jakarta Kota baru saja menyambar sesuatu. 

Siang itu stasiun Bogor digemparkan oleh peristiwa yang tak ada hubungannya dengan kenaikan harga-harga menjelang bulan puasa. Sebuah ambulans parkir beberapa ratus meter dari pintu keluar stasiun. 

Beberapa saat sebelum diusung ke atas tandu aku terpana. Aku bagaikan tak percaya pada apa yang terjadi. Lelaki tampan berkain ihram itu adalah diriku sendiri. Sebagai manusia, aku selalu mendambakan kebenaran Tuhan. Dalam keadaan seperti ini, terngiang perkataan guru mengajiku dulu. Man ’arafa nafsahu, fakod ’arafa Rabbahu. Siapa yang mengenal dirinya, maka kenallah ia akan Tuhannya. 

”Ketika itu kaum muslimin suci bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan,” suara guru mengajiku makin pelan, ditelan raungan sirene ambulans. 

”Ya, Allah. Sampaikan aku pada bulan Ramadan, semoga belum terlambat.” 

Sebuah kereta komuter tujuan Jakarta Kota berhenti. Menyisakan suara derit yang pilu. 

2017 

Bamby Cahyadi ialah penulis kelahiran Manado, 5 Maret 1970. Sehari-hari ia bekerja di industri food and beverages. Buku terbarunya Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bamby Cahyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu 4 Juni 2017

0 Response to "Semoga Belum Terlambat"