Semoga Kau Tidak Melihatku, Melfa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Semoga Kau Tidak Melihatku, Melfa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:07 Rating: 4,5

Semoga Kau Tidak Melihatku, Melfa

TELAH lama aku tidak menikmati malam yang sempurna, kini hanya ada petir yang menghunjam, dan derum guntur menggelegar.

Hujan terus saja menggempur sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta. Hujan yang mengguyur beserta badai kencang, kini telah membuat jalanan tergenang, dan menjadikan para pengguna jalan kesusahan.

Waktuku selalu tersendat untuk mendatangi tempat ini. Tempat yang menghidupi diri, dan anakku Melfa. Aku memang tidak pernah mendengarkan yang dikatakan orang kepadaku. Mungkin kebanyakan dari mereka, menganggapku perempuan tak benar, seorang ibu yang tak tahu siksa Tuhan. Tetapi inilah kenyataan yang ada, pekerjaanku malam hari, lalu kembali pada esok hari yang masih petang. Begitulah yang selalu saja aku lakukan. Akulah ibu yang tak ada harganya.

Sudah lebih dari 20 tahun aku bekerja di sana, sejak Melfa belum dilahirkan sampai sekarang ia tumbuh menjadi gadis kecil yang begitu lucu. Aku tetap saja belum berhenti. Ketika tiba waktuku meninggalkannya, ia selalu saja mengulurkan banyak pertanyaan, dari aku mengenakan baju, hingga termangu di depan kaca. Ia selalu ada di sampingku, selalu meracau, seolah kepalanya sesak dengan beberapa pertanyaan. Aku selalu diam mendengarkan. Mungkin itu akan lebih baik jika harus menjawab banyak kata yang mendarat di bibirnya. Mungkin, ia memang pantas memandangku, melihat ibunya yang hanya menjadi wanita murahan.

"Kenapa Ibu selalu pergi malam hari?" Suara itu yang selalu terdengar ketika ia menatapku memoleskan beberapa pewarna pada muka.

Aku hanya tersenyum, ia begitu lucu jika berbicara.

"Ibu mau bekerja Melfa, kamu tidur saja, nanti Ibu bangunkan jika sudah pagi!" jawabku sebab terlampau jenuh mendengarnya,

"Kenapa Ibu bekerja malam-malam?" Anak itu selalu menanyakannya padaku.

"Ibu memang selalu bekerja malam hai Melfa, karena kalau siang, Ibu ingin bermain denganmu!" jawabku tersenyum.

"Jadi begitu ya Bu." Sambil mengangguk-angguk ia mencoba memahami yang kukatakan.

Selalu kubayangkan seperti apa kehidupan anak itu di masa tua. Jika ia tahu yang sebenarnya, ibunya yang seperti ini. Pikiran kacau ketika harus mencari jawaban yang tepat ketika ia menanyakan siapa ayahnya? Ah, persetan dengan ayahnya. Aku sendiri pun tidaak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya.


***
MELFA masih tertidur pulas saat aku membuka pintu kamarnya. Anak itu sungguh cantik. Aku menciumnya dengan penuh kasih sayang, seolah aku memang benar-benar ibu yang selalu menjaga anaknya penuh cinta. Padahal, tidak demikian!

Ciumanku yang mendarat hangat di pipinya membuatnya terbangun dari tidurnya yang panjang. Matanya terbuka perlahan, dahinya mengerut, aku hanya tersenyum ketika mata yang agak ke biru-biruan itu menatapku dengan segala keindahannya. Aku menciumnya sekali lagi, sembari membantu tubuhnya beranjak dari tempatnya berbaring.

"Ibu sudah pulang?" Suara Melfa yang sedikit serak.

"Iya Melfa, ini sudah pagi, saatnya Ibu menemanimu di rumah!" jawabkuu sambil tersenyum. 

"Pekerjaan Ibu sudah selesai?" Ia kembali bertanya.

Aku cukup lama memandangnya, matanya berkedip sangat pelan. Seandainya ia tahu pekerjaanku, mungkin ia akan marah, atau bahkan malu memiliki ibu sepertiku. Perasaan itu yang memenuhi batinku setiap kali ada di sampingnya.

"Melfa ingin kapan-kapan Ibu mengajakku ke tempat Ibu bekerja, pasti di sana bagus. Banyak lampu, mainan, dan pasti ramai dengan orang-orang yang datang ke tempat Ibu bekerja. Aku ingin kesana Bu, Melfa ingin ikut Ibu bekerja. Boleh kan Bu?"

Otakku mulai sesak dengan rasa cemas karena perkataannya. Pikiranku melayang jauh. Aku tak bisa membayangkan jika ia bersamaku ke tempat itu, bermalam bersamaku, menyaksikan kerjaku.

"Boleh kan Bu, hanya satu kali saja?" Ia memaksa. 


***
LANGIT kembali hitam legam di sepanjang Jalan Malioboro. Mata Melfa tak henti-hentinya membelalak kesana-kemari menyaksikan orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan itu. Sesekali ia mendongakan kepalanya, memandang cahaya lampu-lampu yang berbaris rapi di tepian jalan. Ini kali pertama bagi Melfa keluar rumah.

"Tempat Ibu bekerja, di mana?"

"Di belakang gedung itu, Melfa!"

Melfa terdiam, bibirnya kembali tersenyum manis, menyaksikan beberapa turis yang tertawa riang di atas delman. Sesekali matanya melirik pada segerombol pemain angklung yang banyak di datangi orang.

Kami berlalu di samping gedung pusat perbelanjaan. Tepatnya melewati gang kecil yang basah oleh bekas hujan. Kurangkul Melfa sebab jalan ini tidak begitu lebar, hanya muat satu orang saja.

"Kenapa Ibu lewat jalan ini?" gumamnya seraya menatap wajahku leka.

"Di sini tempat Ibu bekerja, Melfa!"

"Masih lama ya, Bu?"

"Tidak, Melfa, sebentar lagi, kita akan sampai!"

Kami tiba di suatu tempat, di mana Melfa tak akan pernah tahu nama dari tempat yang ia datangi malam ini. Kecemasanku mencuat kembali ketika kulihat alisnya mengerut. Pasti banyak pertanyaan yang ia pikirkan tentang tempat ini. Kulemparkan mataku pada langit yang masih bersih dari bintang dan cahaya bulan. Aku selalu berdoa agar malam ini tak hujan seperti sebelumnya. Angin kembali berembus mendinginkan suasana hati yang gelisah.

"Ini, tempat apa, Bu?" Tiba-tiba Melfa mendaratkan sebuah pertanyaan kepadaku.

Hening. Aku tiidak menjawab. Kulihat sorot matanya tertuju pada beberapa wanita berbaju ketat dan memakai rok pendek yang lewat di sampingnya.

Aku sudah kehabisan kata-kata menjawab pertanyaannya. Air mataku hampir saja jatuh melihat Melfa mengerutkan alis, menatap sederet laki-laki dan wanita yang berciuman mesra di bawah cahaya lampu dan keramaian orang yang baru saja datang.

"Ibu, di mana tempat Ibu bekerja? Jawab Bu, di mana tempat Ibu bekerja?"

Air mataku tak bisa lagi kutahan ketika Melfa mendesakku. Tangisku jatuh. Hatiku hancur ketika harus menjawab pertanyaannya. Aku memeluknya dengan erat. Beberapa orang menatap kami.

"Ibu... kenapa Ibu menangis? Di mana tempat Ibu bekerja? Jawab Bu. Melfa ingin melihat Ibu bekerja!" ■ Yogya, 2017

* A Khotibul Umam: lahir di Sumenep Madura. Pemangku Sastra Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Tinggal di Pondok Pesantren Hasyim Asyiari Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Khotibul Umam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 18 Juni 2017

0 Response to "Semoga Kau Tidak Melihatku, Melfa"