Sepenggal Jalan Anakku - Ayah - Kisah dari Tanah Ngarai - Ambang Batas | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepenggal Jalan Anakku - Ayah - Kisah dari Tanah Ngarai - Ambang Batas Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Sepenggal Jalan Anakku - Ayah - Kisah dari Tanah Ngarai - Ambang Batas

Sepenggal Jalan Anakku

: gemintang dhewa

sepenggal jalanmu masih aku simpan
di sela detak napas yang mulai rapuh
sesal dan doa acapkali merebutnya
menjelma air mata
mengalir bersama serpihan gelisah lainnya
menuju samodra
jiwa

kinasih,
usiamu telah sampai pada titik
sepenegak langit
angin di rambutmu juga tak henti berderai
menyerta langkah dan pandang
mengurai jejak yang kau tinggalkan

maka izinkan sepenggal jalanmu
masih tetap aku simpan
agar sujudku tetap berkalam

Semarang 2016

Ayah

: almarhum chamim dwidjomartojo

kepada langit tempatmu bermalam
kembali aku baca
serpihan sejarah nan kelam
yang dulu kau rentang
di dinding-dinding kota
jauh sebelum subuh bertuan

masih ada jejak yang tertinggal
tapi di mana kau simpan
jalan setapak berimbun ilalang
untuk anak-anakmu yang tak sepaham
saat mengarungi kelok sungai memanjang

kini doa dan rinduku saling berdesakan
setelah menahun terlelap dalam kekhilafan
kepada-nya aku selalu berharap
agar kau segera bersanding
dengan istrimu
: ibuku

Semarang 2017


Kisah dari Tanah Ngarai

(kado untuk prof agus maladi irianto)

di beranda
seraya menjaga jarak waktu
kita saling berbagi kisah
tentang masa kanak-kanak
yang tak pernah genap untuk dibukukan
kampung halaman yang mulai kering
kehilangan wajah
lantaran banyak perawan desa
disunting para saudagar pendatang
dijadikan hiasan lampu taman

di jalan-jalan berbelukar
liar menggurita
kita sering berebut air mata para tualang
yang terhempas birokrasi kaum pecundang
langit kota riuh warna-warni
meski bintang gemintang telah lama mati suri
di meja makan kaum berdasi
kita selalu berkeling mata
tertawa menahan nyeri

di mimbar-mimbar kebudayaan
ada kalanya kita tak sepaham dalam berkisah
aku memilih menjadi sungai
yang tak pernah berpikir kapan sampai muara
kamu lebih suka tanah ngarai
meniti batu dan tebing terjal
gerutuku bertanya
entah apa yang ingin kamu gapai

di beranda
sendiri melepas detak waktu
bulan dan matahari berkabar kepadaku
tentang harum kembang setaman
yang dulu pernah kau tanam
di jalan-jalan berbelukar
di tanah ngarai dan tebing terjal

di beranda
dalam gemuruh lalulalang
aku tetap merindukanmu
untuk saling berkisah

Semarang 2017

Ambang Batas

ketika bercermin
selalu dua belah pisau bersemayam
di sepasang mataku
kapan kamu akan datang
mumpung aku masih punya waktu
sebelum harus aku tuangkan
air mata terakhir
untuk menutup semua cermin
di hadapanku

Semarang 2017

- Agoes Dhewa, pegiat seni, tinggal di Semarang (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agoes Dhewa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 11 Juni 2017

0 Response to "Sepenggal Jalan Anakku - Ayah - Kisah dari Tanah Ngarai - Ambang Batas"