Setelah Pertemuan - Pintu Kecemasan - Rumah - Ketika Hujan Mengetuk Rumahku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Setelah Pertemuan - Pintu Kecemasan - Rumah - Ketika Hujan Mengetuk Rumahku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Setelah Pertemuan - Pintu Kecemasan - Rumah - Ketika Hujan Mengetuk Rumahku

Setelah Pertemuan

aku lapar, sayang
seperti trotoar yang lengang
hanya lintas angin
dan kecoa yang keluar dari lubang-lubang gelap.
di tubuhku, malam tiba-tiba tumbuh
memanjangkan masa remaja.
aku ingin terbebas dari rayuan
dari kecupan yang membuatku terlempar di kegelapan.
aku ingin mengucapkan cinta tanpa malu-malu
terbebas dari filosofi yang membosankan
sebab hidup adalah hidup.
aku yang lapar
aku yang hidup.
aku ingin mencintai lebih dari keluasan pandangan
tanpa umpama
sebab hidup adalah hidup
tak lahir dari sembarang lamunan
atau perlambang yang ceroboh.

Yogya, 2016


Pintu Kecemasan

menengok halaman belakang berpagar
dan membuka pintunya, aku seperti pulang kepadamu.
selalu ada yang berubah di balik pintu berpagar
ada yang keropos, berlubang, bahkan pohon-pohonnya
banyak yang ditebang.
orang-orang melintas sambil berkata:
‘Aku seperti sudah melihatmu
sebelum kau tahu namamu.’
tak ada yang asing di hati kita
namun mata telah menutup pintu-pintunya;
kau tahu, sejarah selalu lupa catatan kakinya.
dulu, setiap pintu-pintu kecemasan ada penjaganya.

jangan lagi berpaling dariku
empat abad lewat
bapak kita telah mencatatnya
ketika hati kita belum milik eropa.
o, wangsakerta, di mana kau sembunyikan jantung kita?
dulu kau menyimpannya dalam kitab duapuluhtujuh raja-raja.
kemana lima sangga?
kemana para pujangga?
kemana aku akan mengetuk pintu kecemasanku?

Kuala Lumpur, 2016

Rumah

kita telah lama meninggalkan rumah ini
mungkin untuk sesuatu yang belum kita miliki
yang menggandeng kita ke pasar malam.
di sini, kita hanya ingin membeli kebahagiaan.

aku membayangkanmu
bagaimana kau menciumku,
memarahiku, karena sesuatu
yang menendang kita ke lubang nasib.
o, dimanakah lubang kebahagiaan?

aku kini lebih dulu tiba di rumah kita.
menyapu halaman, mencabuti rumput,
dan mengepel lantai yang diduduki rindu.
aku mencuci pakaian agar baunya tak mendatangiku
ketika tidur.
aku menunggumu
bersama jarak yang menjeratku.
datanglah kau bagai melipat waktu!
lepaskan ikatan ini dari tubuhku
jilati tubuhku yang penuh masa lalu.
tapi dimanakah simpul kebahagiaan itu?

Kuala Lumpur-Yogya, 2016


Ketika Hujan Mengetuk Rumahku 

datanglah sukacita ketika hujan turun
turunlah hujan dan basuh tubuhku dengan mulutmu
langit yang bening
air hujan yang turun
masuk ke dalam sepi
mengetuki pintu-pintu tuhan
tuhan turun ke dalam hatiku
hujan turun ke dalam sepiku
aku menjauhkan diri dari diriku
aku menjauhkan sepi dari sepiku
aku menjauhkan hujan dari hujanku
o, hujan yang membawa firman
dan membuka pintu-pintu dalam diriku
basuhlah segala luka, segala cuka
yang nggenang dalam lupa.
o, yang fana dipikul
yang sir disingkir
kutangkis sirep ajimu.

ya...hujan yang bersayap
hinggap di dahan sepiku.

Yogya, 2016

*) Kedung Darma Romansha, kelahiran Indramayu, 1984. Kumpulan puisi pertamanya ‘Uterus’ (2015) dan ‘masa lalu terjatuh ke dalam senyumanmu’ (Merpati Jingga-Malaysia, 2016). Selain itu juga menulis novel ‘Kelir Slindet’, buku pertama dari dwilogi Slindet (Gramedia, 2014). Novel barunya telah terbit ‘Telembuk (dangdut dan kisah cinta yang keparat)’ IBC, 2017. Selain menulis, ia juga terlibat dalam beberapa garapan teater dan film.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kedung Darma Romansha
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 4 Juni 2017

0 Response to "Setelah Pertemuan - Pintu Kecemasan - Rumah - Ketika Hujan Mengetuk Rumahku "