Sungkem | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sungkem Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:58 Rating: 4,5

Sungkem

KARENA tiga tahun berturut-turut gagal mudik, padahal Pardi sudah mengirim kabar ke desa, untuk tahun ini dia kapok memberi kabar ke desa. Ia trauma. Dan tidak ingin mengecewakan keluarga. Mereka pasti menganggapnya sebagai anak kurang berbakti. Sungkem setahun sekali saja tidak mau. Begitu prasangka mereka. Soalnya memang bukan mau atau tidak mau, tetapi tidak mampu mudik. Kalau tidak ada uang dan sedang menunggu anggota keluarga di rumah sakit, apa dipaksakan pulang? 

Sejak pertengahan tahun lalu, Pardi dan isteri berhemat betul. Menabung. Penghasilan isteri dari membuka warung es jus memang lumayan. Tetapi dana untuk membeli buah juga banyak, apalagi untuk membeli gula, membayar listrik. Dan lagi semua anaknya, garagara ibunya menjual es jus, setiap hari minta jatah segelas, kadang dua gelas es jus. Tentu ini mengurangi keuntungan. 

Pardi lalu melarang anaknya minta jatah es jus ibunya. Kalau mau minum es jus harus membeli, membayar seperti orang lain. Uangnya, toh dari ayah. Kecuali anak sulung yang di kampus dipercaya menjadi koperasi mahasiswa sudah punya uang saku sendiri. Dua adiknya, belum punya penghasilan. Pardi dengan cerdik mengatur pemberian uang saku anaknya. 

”Kalau kita tidak ketat, mana mungkin kita bisa sungkem Lebaran nanti,” bisik Pardi. 

Dan benar, seminggu setelah bulan puasa berlangsung, Pardi dan isterinya membuka tabungan. Ditambah THR dari pabrik tempat Pardi bekerja, jumlahnya lebih dari cukup kalau untuk biaya membeli tiket kereta api dan membeli oleh-oleh. 

Selama seminggu ini anak sulung kalau malam diminta dosennya untuk menyusun laporan sebuah penelitian. Tebal juga halaman penelitian itu. Ketika laporan itu selesai, dia mendapat honor yang lumayan besar. 

”Saya mau beli motor, bisa untuk mudik,” kata anak sulung, sore menjelang berbuka puasa.. 

Pardi dan isterinya terkejut. 

”Beli motor? Pulang mudik naik motor? Terus ayah, ibu dan adik-adikmu bagaimana?” 

”Ya, sekalian beli motor. Kalau hanya untuk membayar uang muka dua motor uangku cukup. Kan asyik. Aku memboncengkan Amri. Dan ayah membonceng ibu dengan Maryam,” katanya. 

Pardi memandang isterinya. Mengangguk dan tersenyum. 

”Baiklah kalau begitu,” kata Pardi.

Jadilah keluarga Pardi mudik dengan naik dua motor. Dengan dua motor cukup ruang untuk membawa tas oleholeh, pakaian, jaket dan plastik tebal untuk istirahat. Mereka juga membawa termos almunium berisi minuman panas, kue-kue, nasi, lauk kering. 

Mereka berangkat setelah hampir seluruh penghuni kampung perantau itu pulang kampung. Masih cukup waktu, pikir Pardi. Mereka mengendarai motor dengan hati-hati.. 

Pada hari ketiga pulang mudik, mereka sudah memasuki jalan pegunungan menuju desa. Pardi dan keluarganya merasa tubuhnya makin segar. Segala keletihan di sepanjang perjalanan lenyap. Mereka mendaki jalan pegunungan, sampai di atas, ada persimpangan. Mereka akan membelok ke kanan sebelum menempuh satu jam lagi sampai desanya. 

Simpang empat sepi. Dan ketika Pardi memelankan motor. Ia ingin istirahat sebentar. Tapi tiba-tiba dari balik deretan pohon muncul empat orang memakai tutup muka. 

”Berhenti! Lepaskan motor kalian atau kalian bergelimpangan di tempat ini!” bentak satu seorang di antaranya menggerak-gerakkan senjata pedangnya. 

Bulan tanggal tua masih bertengger di langit. Dingin dan sepi. Anak sulung Pardi juga menghentikan motor. Ada ada saja gangguan menuju sungkem, gerutu Pardi dalam hati. 

Pardi mengurai sabuk kulit dari perutnya. Sabuk itu panjang dan kepala sabuknya dari logam berat. Anak sulung Pardi juga berbuat sama. Pardi berbisik kepada isterinya agar menjaga dua anaknya. Amri dan Maryam yang untungnya tidak rewel. Isteri Pardi yang orang Snnda dan sebenarnya pandai pencak silat itu diam. Dia percaya pada suami yang dulu di desa asal perempuan itu pernah memenangkan sayembara pencak silat untuk mendapatkan dirinya sebagai isteri. Dia memeluk dua anaknya, tetapi matanya tetap waspada 

”Mas, kami ini mau sungkem. Tolong kami jangan diganggu,” kata Pardi mantap. 

Empat orang itu tertawa. Semua memegang pedang. 

”Tadi mendengar suara motormu, kami tahu motormu ini masih baru. Kalian tidak akan kami ganggu kalau mau menyerahkan dua motor ini.” 

Pardi memegang ikat pinggangnya dari ujung ke ujung. 

”Kalian pasti bukan orang desa ini dan belum mengenal aku dan anakku” 

”Siapa kau dan anakmu?” 

”Aku Pardi Kentos ! Dan ini anakku yang kudidik dengan pencak aliran Mbah Wongso desa Tunggak Jati.” 

Mereka berempat kaget. Agak gentar. Nama-nama yang disebut Pardi cukup dikenal di daerah itu. Untuk menutupi kegentaran hati ada yang mencoba mengertak. 

”Kami tidak peduli kau Pardi Kentos atau Pardi Mrongos. Aku Joko Timblis. Jagoan dari desa timur sana.” 

Tanpa berkomentar lagi Pardi langsung menyerang lebih dahulu. Ia tahu siapa Joko Timblis. Dulu memang ditakuti anak-anak muda sebaya. Pardi melecutkan ikat pinggang berkepala besi ke dua arah dengan gerak sendal pancing. Keduanya mengarah ke pergalangan tangan lawan. Anak Pardi juga langsung menyerang dengan menggunakan jurus sendal pancing pula. Terdengar tiga teriakan dan sebuah makian. Dalam sekali gebrak pergalangan tiga anak buah JokoTimblis sudah kena hajar kepala ikat pinggang itu. Pedang mereka terlepas dan pergelangan tanan luka tidak bisa dipergunakan lagi untuk memegang pedang. Joko Timblis berhasil menangkis serangan Pardi. Ia mencoba membalas menyerang tetapi dengan cepat Pardi meliukkan tubuh lalu kembali menyerang dengan jurus sendal pancing ke arah siku dan lutut Joko bergantian. Joko sempat menghindari serang pada siku tetapi sesaat kemudian lututnya kena hajar besi kepala ikat pinggang itu. Ia memaki Pardi. Tidak bisa menggerakkan lutut kanannya lagi. 

”Joko, kamu masih ingin mengganggu kami?” teriak Pardi. 

Melihat kelompoknya sudah terluka, Joko menggeleng. Ia tidak berani melempar pedang menyerang Pardi, sebab ia tahu betul kalau dengan sekali pukul kepala ikat pinggang, pedang itu kontan bisa berbalik arah menyerang pemiliknya sendiri. 

”Hei, jawab. Kalian masih mau mengganggu atau membiarkan kami lewat?” 

”Silakan lewat Mas,” kata Joko terbata-bata. 

Pardi dan anak sulung menghidupkan motor. Melaju menuju desa kelahiran. Waktu itu dari arah masjid desa terdengar suara adzan awal menandakan dimulainya makan sahur. 

Orangtua Pardi dan saudaranya yang sudah mudik duluan kaget melihat Pardi dan anak-anaknya mudik naik motor. Mereka bersalaman dan berpelukan. 

”Aman to Le neng ndalan?” tanya ayah Pardi. 

”Alhamdulillah, aman Pak,” jawab Pardi. 

”Baik ayo-ayo semua segera sekalian makan sahur. Ayo-cucuku semua,” ajak ibu Pardi. 

Anak sulung Pardi makan sahurnya banyak sekali. Demikian juga anak kedua dan ketiga, Pardi dan isterinya. Sayur lodeh pegunungan yang terkenal pedas sudah tiga tahun mereka rindukan. Apalagi tempe gorengnya kering, agak asin, bisa mengurangi rasa pedas itu. 

”Hari Raya masih beberapa hari lagi. Jadi sungkemnya jangan sekarang ya,” kata ayah Pardi melucu,” Uang jajan untuk cucu juga tidak sekarang.” Pardi tersenyum isterinya juga tersenyum. 

Yogyaakrta 2017

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustofa W Hasyim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 18 Juni 2017

0 Response to "Sungkem"