Tuhan Mengundang Kita di Beranda Ramadhan - Cakrawala - Gelombang Ramadhan - Kesunyian Dzikir yang Mengalir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tuhan Mengundang Kita di Beranda Ramadhan - Cakrawala - Gelombang Ramadhan - Kesunyian Dzikir yang Mengalir Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Tuhan Mengundang Kita di Beranda Ramadhan - Cakrawala - Gelombang Ramadhan - Kesunyian Dzikir yang Mengalir

Tuhan Mengundang Kita di Beranda Ramadhan 

Tuhan mengundang kita di beranda Ramadhan
Ayo kita bersama-sama segera memenuhi undangan-Nya
Jika kita mendekat sejengkal, Tuhan menyongsongnya sehasta
Jika kita mendekat sehasta, Tuhan menyongsongnya sedepa
Jika kita mendekat berjalan, Tuhan menyongsongnya berlari-lari
Di hadapan-Nya, kita sama berkendara rasa lapar dan dahaga
Dengan niat tulus ikhlas kita hanya mengharap keridhoan-Nya

Di beranda Ramadhan, tak ada kursi, kita harus maklumi
Karena kalau ada kursi pasti nanti akan diperebutkan
Seperti kursi kekuasaan yang selalu menjadi incaran
Orang-orang licik korup yang penuh tipu muslihat
Dan selalu berbuat yang menghalalkan segala cara
Tuhan, banyak masalah kehidupan yang harus kita bicarakan
Di jaman sekarang yang semakin tak karuan semakin sungsang
Keadaan jaman yang sering terjadi memutar balik kenyataan
Mari, Tuhan, kita dialogkan alternatif penyelesaian terbaik
Di antara kita tak ingin ada rasa sungkan ewuh-pakewuh
Kita begitu akrab layaknya sahabat yang sangat dekat
Persahabatan yang tetap terjalin di dunia sampai akhirat kelak
Di beranda Ramadhan, kita semua diperlakukan sama
Pria-wanita, tua-muda, kaya-miskin, senang-susah
Karena yang membedakan di antara kita adalah
Tingkah laku perbuatan dan ketaqwaan kita beribadah
Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya

Tuhan menyuguhi kami makanan ruhani sejati
Yang mengenyangkan kita akan hakekat makanan
Paling enak dan sangat lezat bagi jiwa yang papa
Semua arah pembicaraan kita di beranda selalu bermuara
Pada permohonan maaf kami sebagai manusia biasa
Yang selalu tak luput dari khilaf dan kesalahan, betapa
Engkaulah, Tuhan Maha Pemaaf dan Maha Penyayang
Betapa aku tak berani menatap wajah Tuhan
Karena aku selalu merasakan kehadiran-Nya
Yang benar nyata ada menyatu dalam diriku
Tuhan, kita begitu sangat dekat, bahkan tak berjarak
Karena Tuhan memang lebih dekat dari urat leher kita

Cakrawala 

Cakrawala terbuka, dunia beraneka warna
mekar rasa di dada hingga mengembara aku
dalam semesta jiwa meniti tasbih demi tasbih
perjalanan mencari masjid di hati nurani

Dari jari-jemari kedua tanganku ini, kuhimpun lagi
ayat-ayat Tuhan yang terucap, merenda alif-ba-ta
imanku terjaga, keyakinan pun semakin dalam
masuki batin bening, betapa cakrawala makin terbuka
luas terbentang menjadikan pelangi kehidupan

Percaya kehidupan sesudah kehidupan, terbaca gamblang
dari jendela hati, cakrawala menjelang hadirkan
panorama nyata, ayat-ayat Tuhan yang tercipta


Gelombang Ramadhan 

Aku ingin membelah gelisah, bagaikan Musa
membelah lautan yang gelombangnya ketakmenentuan
dunia meraja di hati, hingga telah terpelanting
dan Firíaun pun tenggelam, betapa terlambat
kembali pada kebenaran hakiki, hingga kini
menjadi pelajaran dalam arus zaman ini
hempasannya lebih deras melindas kehidupan kita

Terhadap tanda-tanda zaman yang tertangkap
yang belum terlambat, betapa segalanya
mesti disadari lebih dini untuk dimengerti
karena hanya memperturutkan nafsu diri
menyeret kita dalam arus yang menenggelamkan

Ada kecipak makna yang tersirat
meniti aku pada buih-buih tasbih
terangkum dalam gelombang ramadhan
yang mengangkat harkat kehidupan kita

Kesunyian Dzikir yang Mengalir 

Ada yang telanjur kuucapkan, sebelum sempat
kusiapkan segala kata yang nanti akan berubah
dalam pemahamanmu, tentang praduga yang gersang
sementara kesunyian dzikir terus mengalir
setiap kali kesempatan, ingin menyentuh dari
dasar kesadaranmu yang jauh, hingga selalu
menjadi prasangka yang baik

Pada semua yang akan tiba, kuterima dengan pasrah
keluasan cakrawala membuka dada yang lapang
siap tertabur dari semua yang ada, atas kuasa
Tuhan alam semesta, tapi kesunyian dzikir
tak mungkin dipungkiri, mengalir sendiri
segala pengharapan pada kemurahan-Nya hingga
tergelar kebenaran yang nyata

Sampai batas mana, aku berada dalam genggam
penghayatan, peran yang kau mainkan ini
ingin menjadi aktor terbaik berbagai versi
alternatif yang kuharapkan dan biarlah
kesunyian dzikir dihayati mengalir
muara yang sama dalam satu tujuan kedamaian
bagi dirimu, jiwa yang tentram

*) Akhmad Sekhu, lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Mantan Ketua Komunitas Sastra Mangkubumen (KSM) Univ. Widya Mataram Yogyakarta, ini tinggal di Jakarta Buku puisinya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Puisi yang Tak Selesai Dibisikkan (manuskrip, siap terbit). Novelnya: Jejak Gelisah (2005) diterbitkan Grasindo. ❑-e



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Akhmad Sekhu
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 11 Juni 2017

0 Response to "Tuhan Mengundang Kita di Beranda Ramadhan - Cakrawala - Gelombang Ramadhan - Kesunyian Dzikir yang Mengalir "