Wasiat Penyair untuk Padma - Untuk Lelaki yang Terbunuh Sepi di Surga - Menatap Rindu di Cermin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wasiat Penyair untuk Padma - Untuk Lelaki yang Terbunuh Sepi di Surga - Menatap Rindu di Cermin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Wasiat Penyair untuk Padma - Untuk Lelaki yang Terbunuh Sepi di Surga - Menatap Rindu di Cermin

Wasiat Penyair untuk Padma

Padma
penyair tidak gantung diri ditinggal kekasih
tetapi penyair kan mabuk menangis sepanjang hari
jika kata-kata tak lagi jadi puisi
sebab penyair adalah koleksi baju perempuan
setiap bertamasya tampak baru dan berbeda
atau bila suatu bahagia ia mengajakmu berjalan
namun tampa percakapan
jangan kira ia gagu dan gugup
namun penyair hanya perlu berpikir sambil berjalan
sebab setiap bekas perjalanan
adalah catatan kenangan
yang musti dikekalkan puisi-puisi

padma
kiranya hatimu kesengsem
pada pengembaraan penyair
meski rumah hatinya miskin harta
namun ia memperkaya cinta
sebab penyair tak punya kesedihan berlebihan
ia hanya pintar mengendalikan api
jadi sekuntum kesturi
dan jangan lari atau takut jika penyair
sedang mabuk di dekatmu
ia hanya terlalu banyak mereguk
berbotol-botol arak air mata
yang dipesan dari toko hatimu
yang hanya menjual perasaan lara
sebab ia akan memabukkan jiwamu
dengan seteguk wiski cinta

padma
dan bila suatu hari resah menyentuh bibirmu kembali
sedang matamu tersesat di hutan penderitaan
carilah penyair ia akan mengarahkanmu ke jalan puisi
nantinya hatimu menemui
pendekar kata-kata mengkilau
menghapus lara yang berlarah-larah dalam jiwamu
maka tinggallah dalam hati penyair
jika tetap ingin bahagia

cabean, 2017

Untuk Lelaki yang Terbunuh Sepi di Surga

engkau rapuh dalam kenangan
kekal dalam ingatan

cabean,2017

Menatap Rindu di Cermin

Bukankah kehilangan
adalah jarak dan rindu
paling jauh kutempuh

Namun, ada cara paling pilu
merengkuhmu dari jauh
tatkala rindu menjelang dari
ufuk hatiku

Kusaksikan tanganmu di cermin angan
sedang marapikan kenangan
tampa kelekar merah kesumba bibirmu
telah menumpaskan rindu

Walau lakon kita sering
ditertawai rindu sendiri
ini memang gejala asmara
yang tak biasa

Di saat kupanggil namamu dalam puisi
namun sahutmu terbit dari ufuk ilusi
ini bukan lagi rindu biasa

Seperti lidah harapan-harapan
mencecap dusta yang asin dari
dramatik rindu

cabean, 2017

Nurrahman Alif, Lahir di Banuaju Barat, Sumenep, Madura. Saat ini menetap di Yogyakarta sebagai pemandu literer sastra. Karya-karya puisinya bisa di antologi antara lain Wasiat Darah, Sasoma, dan terpilih 100 puisi terbaik dalam Antologi lomba PCINU Maroko. Buku antologi puisinya Ketika Burung-Burung telah Pergi.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurrahman Alif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 4 Juni 2017

0 Response to "Wasiat Penyair untuk Padma - Untuk Lelaki yang Terbunuh Sepi di Surga - Menatap Rindu di Cermin"