Bermukimlah di Sini - Daun-daun Bambu - Sajak-sajak Hilang - Dada Penyair - Dewi Sri - Hujan yang Turun Lirih - Hujan Menuju Kolam - Hujan yang Tersendat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bermukimlah di Sini - Daun-daun Bambu - Sajak-sajak Hilang - Dada Penyair - Dewi Sri - Hujan yang Turun Lirih - Hujan Menuju Kolam - Hujan yang Tersendat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:40 Rating: 4,5

Bermukimlah di Sini - Daun-daun Bambu - Sajak-sajak Hilang - Dada Penyair - Dewi Sri - Hujan yang Turun Lirih - Hujan Menuju Kolam - Hujan yang Tersendat

Bermukimlah di Sini

apapun yang terjadi
tetap senang dan bersabarlah puisi
bermukimlah di tanah
kata-kataku
merayakan, mengayakan
kemiskinanku

tangan yang mengguratmu ini
sedang sangat keras belajar
seperti seruas akar

yang tak takut susut
ketika paceklik datang
mengambil helai demi helai nektar

Pagesangan, 17 April 2017

Daun-daun Bambu

di sini daun-daun bambu
berjatuhan, menghampar
seperti lukisan
musim gugur
seperti tebaran luka
sehabis bertempur

menantikan sepasang tangan
lentur menabur
ke lubuk pediangan

ketika petang kian dekat
pada ranggas kebun
dan malam tinggal
segelar mimpi
akan tunas-tunas anggur

Pagesangan, Maret 2017

Sajak-sajak Hilang

Selepas isya’, tidurlah anakku
biarkan di luar dunia masih hibuk

di sisimu aku melingkar
mengumpulkan sajak-sajak yang hilang
sambil memeluk

Yang hilang; leburlah menjadi debu
yang datang; datanglah beribu-ribu
Yang hilang; bersuluk, jauh dari bunyi
yang terang; beruku’ dekat rakaat sunyi

Yang hilang, seperti daun-daun bambu
gemerisiknya adalah langgam sedih
dikabarkan angin

Namun daun-daunnya yang likat itu
rumah; bagi belalang-belalang piatu
rumah; bagi doa-doa yang terhimpun
dari ketinggian waktu

2017

Dada Penyair
pada tubuhmu tergelar
selembar dada
denyutnya menghidupkan rahim

yang mengandung ribuan
benih kata-kata

di musim, di waktu
di kesedihan yang sempurna
anak-anak puisimu lahir

dengan sayap
mengitari puggungnya
terbang-hinggap-terbang
dari kubah ke kubah

ke gema-gema lonceng
di menara-menara lainnya
mengumpulkan guguran doa

sebelum matahari menyepuh subuh
dibilasnya kata-kata
yang keruh tersentuh
dosa

lalu melontarkannya bersama guguran
doa, ke ketinggin nun
tak terhingga

Pagesangan, 14 Mei 2017

Dewi Sri

sedari waktu yang duka
sempurna kau menjelma
runduk peluh
dari tabah titi mangsa

menggoda burung-burung melingkar
mencuci diri
di palung kabut

sebelum pecah fajar
sebelum mimpi siang
liar menjalar
aku menyerah pada namamu

yang tertera pada petal-petal
bunga padi
jadi bulir-bulir ranum
yang dikawin matahari

yang takkan habis kuziarahi
pada setiap basah dan
rengkah musim

takdir bagi benih-benih mimpi
lahir
berrmukim

2012-2015

Hujan yang Turun Lirih

ada sulur-sulur terbentuk
dari hujan
rambatannya lirih dan pelan
terulur dari atap

garis-garisnya yang panjang
dan putih itu
serupa bilur
yang pernah dekat

Pagesangan, 2015

Hujan Menuju Kolam

ada hujan menuju kolam
di atas kolam teratai kembang
kembang mengambang
melipur ikan-ikan

ikan-ikan bergairah
mengecupi lumut
lumut setia pada batu-batu

batu-batu kekal
melubangi waktu
oh, betapa sabar karunia itu.

Pagesangan, 2015

Hujan yang Tersendat

barangkali karena hujan yang
tersendat tiba dari jauh
diambang latar
bunga sepatu tak kunjung mekar

maka angin dan kupu-kupu
saling berganti menyentuh
menyingkap tiap-tiap kuncup
dengan gairah cinta paling utuh

2014

Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur, 20 Juli 1975. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media seperti Media Indonesia, Indopos, Suara Karya, Bali Pos, Suara NTB, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Langgam Sumut Pos, Linifi ksi, dan Harian Waktu. Setelah lama bekerja di Jakarta, sejak 2014 menetap di Mataram dan turut bergabung di komunitas Akarpohon Mataram, NTB.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lailatul Kiptiyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 30 Juli 2017

0 Response to "Bermukimlah di Sini - Daun-daun Bambu - Sajak-sajak Hilang - Dada Penyair - Dewi Sri - Hujan yang Turun Lirih - Hujan Menuju Kolam - Hujan yang Tersendat"