Bero dan Keluarganya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bero dan Keluarganya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Bero dan Keluarganya

BERO muncul di kaki bukit bersama Miseno dan Jibat—yang memikul seekor babi hutan gemuk—berikut anjing-anjingnya. Luka yang menganga di bagian kepala dan perut hama perusak itu masih meninggalkan bercak-bercak merah di semak-semak rendah jalan setapak. Dua atau tiga ekor anjing yang tertinggal dari kawanannya berhenti untuk mengendus-endus bercak-bercak darah itu sampai tuan mereka—Bero—memanggilnya dengan sebuah suitan panjang yang terdengar lamat-lamat sampai ke ujung kampung.

“Cepatlah sedikit. Sebentar lagi gelap,” ujar Bero. 

Miseno dan Jibat mendengus seraya menggegaskan langkahnya. Beban di pundak mereka terasa semakin berat ketika menapaki jalan setapak yang becek dan mendaki. Itu gumuk terakhir, sebelum mereka melalui jalan setapak menurun menuju kampung.

Hari itu, tenaga mereka lebih banyak terkuras. Seekor rusa jantan—yang semakin jarang terlihat—telah membawa mereka masuk jauh ke hutan. Namun mereka tak berhasil menangkapnya. Bero menyesali dua ekor anjingnya yang hari itu tak bisa ikut berburu—beberapa hari sebelumnya seorang pemuda kampung telah merajam dua anjing itu dengan alasan tak jelas. Akhirnya, mereka memburu dua ekor babi hutan yang sedang beristirahat di sebuah ngarai bersemak tinggi di hutan itu. Satu pejantan yang lebih gesit berhasil lolos dari kepungan mereka. Tapi lemparan tombak Bero memang jitu, sehingga berhasil meredam keberingasan seekor lainnya yang lebih gemuk.

“Kalian teruslah ke sungai,” ujar Bero saat mereka tiba di ujung kampung. “Saya langsung ke rumah. Nanti saya suruh Jimah menyusul ke sana.”

Miseno dan Jibat berbelok ke arah sungai. Mereka akan membersihkan babi hutan itu di sana. Bero mengambil jalan lurus ke rumahnya diikuti lima ekor anjing. Sedangkan tiga ekor lainnya telah mendahului Miseno dan Jibat ke arah sungai. Namun, ketika sebuah suitan panjang terdengar kembali, anjing-anjing itu segera berlarian dan berkumpul di sekitar kaki Bero seperti sekelompok serdadu yang sigap dan patuh begitu saja kepada komandannya.


SETIBA di rumah, Bero langsung menuju halaman belakang. Sebelum berangkat pagi itu, Bero mengikat kedua anjingnya di tiang jemuran. Ia berpesan kepada Jimah agar memboreh luka-luka anjing itu dengan kunyit yang sudah dikukus.

“Jimah, bagaimana anjing-anjing itu?”

Jimah yang sedang termenung di dekat sumur terkaget oleh kedatangan Bero. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia menunjuk dua sosok binatang yang membujur kaku di dekat kakinya. Melihat keduanya, Bero tak bisa menahan kesal yang berkecamuk. Ia menggoyang-goyangkan tubuh dua anjing itu sambil memaki-maki tak keruan. Setelah reda beberapa saat, ia bertanya kepada Jimah dengan suara gemetar.

“Apa yang sudah kamu lakukan seharian tadi, Jimah?”

Jimah menatap anjing yang sudah mati itu dengan perasaan sedih dan takut. Bibirnya bergerak-gerak hendak menjelaskan sesuatu, namun yang terdengar hanya dengung tak jelas yang membuat Bero semakin bingung.

“Ayolah Jimah, bicara! Bicaralah saat seperti ini.”

Jimah kembali berdengung. Kali ini lebih tenang sambil membuat gerakan-gerakan tertentu dengan tangannya. Tentu Bero sudah tahu, Jimah tunawicara sejak kecil. Anak sulungnya itu bahkan sulit mengeluarkan suara tangis ketika dilahirkan.

“Jadi, kamu pergi ke pasar. Pulangnya, anjing itu sudah mampus!”

Jimah mengangguk pelan. Lalu ia melangkah ke sebuah lubang galian tempat sampah untuk mengambil sesuatu. Sebuah tulang binatang—sepertinya tulang paha seekor ayam—ditunjukkan kepada Bero. Tanpa ragu-ragu Bero mengambilnya dan mengendusnya untuk memeriksa baunya.

“Anjing ini pasti diracun. Keparat!” ujar Bero seraya mengeloyor ke dapur.

Bero kembali dengan sebuah cangkul dan menyuruh Jimah memindahkan dua ekor anjing yang sudah mati itu. Bero akan menguburkan mereka di bawah gerumbul pohon pisang di dekat kandang ayam yang tak terpakai.

“Sudah, sekarang bantu suami dan adikmu di sungai.”

Saat Bero mulai mengayunkan cangkul, matahari telah benar-benar lesap di balik hutan sebelah barat di mana segerombolan babi hutan mungkin sedang merencanakan perburuannya sendiri.


KEESOKAN harinya, Bero merasa tak perlu pergi ke hutan. Persediaan daging untuk anjing-anjing itu telah tercukupi. Di samping itu, ia masih berduka atas kematian dua ekor anjingnya. Hari itu, ia memutuskan untuk menjenguk istrinya di kampung sebelah. Bertahun-tahun lalu, ia tak bisa mengubur jenazah istrinya di kuburan kampung. Sekelompok pemuda yang—katanya—mewakili seluruh kampung, keras-keras melarangnya. Bero sangat terpukul dan hampir tak bisa menahan diri ketika itu. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin jenazah istrinya yang tak tahu apa-apa ditolak oleh segerombolan anak ingusan di kampungnya sendiri. Pada waktu yang sama, ia begitu sedih memikirkan bayi kembar itu—Jimah dan Jibat—yang tak akan pernah melihat ibu mereka sepanjang hidup. Sejak itu, Bero membesarkan kedua anak tersebut sendirian. Ia mengajari Jibat yang pendiam cara mengendalikan anjing-anjing dan berburu babi hutan. Jimah sendiri bertugas mengurus rumah dan mengantarkan daging buruan ke seorang pengepul di pasar desa.

“Sepi sekali, di mana anjing-anjing itu?” ujar Bero.

Miseno yang baru saja menandaskan kopinya menyahut dari dapur, “Mereka bersama Jibat ke sungai. Memasang bubu sepertinya.”

Di samping ikut berburu, sejak kecil Jibat memang senang memasang bubu di sungai. Meski begitu—entah kenapa, mungkin karena selalu memasang di tempat yang salah—ia jarang mendapatkan tangkapan yang diinginkan.

“Jimah, jangan lupa. Nanti pulangnya bawa ikan segar.”

Bero berkata sembari menyelipkan sebilah parang di pinggangnya. Bero selalu memesan ikan segar jika Jimah pergi ke pasar. Kecuali Miseno, tak ada yang makan daging di rumah itu. Apalagi Bero—makan daging binatang buruan hanya akan membuatnya teringat-ingat bagaimana cara membunuh sehingga merasa iba. Ia tak mau memiliki hubungan dekat dengan binatang yang diburu, dan memakan dagingnya akan membawa kemungkinan ke arah itu.

“Saya berangkat.”

Bero menoleh ke rumah sekali lagi, mengingat-ingat seolah-olah ada sesuatu yang terlupakan, tapi tak berhasil mengingatnya. Beberapa langkah kemudian, Bero baru tersadar bahwa ia selalu berjalan dengan anjing-anjingnya.

Jarak sepelemparan batu dengan kepergian Bero, Jibat datang dengan langkah gontai. Wajahnya pucat dengan kening berkerut-kerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang teramat pelik. Miseno—yang memperhatikannya dari arah pintu dapur—tampak heran dibuatnya. Betapa pun pendiam, Jibat bukanlah pemuda yang murung. Miseno mencoba mencari tahu apa sebenarnya terjadi dengan wajah itu. Miseno baru tersadar bahwa Jibat tidak sedang bersama anjing-anjing itu.

“Kamu kenapa? Ke mana anjing-anjing itu?”

Jibat menghela napas panjang, lalu memberi isyarat kepada Jimah agar mengambilkan segelas air putih. “Bawalah cangkul, parang, atau apalah. Pergilah ke ladang di pinggir sungai. Anjing-anjing itu… mampus!”

“Mampus? Kamu yang mau mampus. Kamu ini!”

“Saya tak bergurau. Cepat ke sana, bereskan anjing-anjing itu. Besok, mungkin kita yang akan diracun!”

Miseno saling tatap dengan Jimah. Lalu ia kembali menatap Jibat dengan mimik tak percaya. “Panggil dia—Bero. Cepat, mumpung belum jauh!” ujarnya seraya menyambar cangkul dan berlari ke arah ladang.

Jibat segera bangkit menyusul Bero. Ia tak berani membayangkan wajah Bero yang akan murka. Sementara itu, Jimah masih termangu—ia ragu, apakah akan ke pasar atau bergabung dengan suaminya di ladang, mengurus bangkai anjing-anjing itu.


MEREKA telah menguburkan anjing-anjing itu dalam satu lubang. Anjing-anjing itu terkapar saat Jibat mencari tempat untuk memasang bubu. Anjing-anjing itu telah menemukan tulang-tulang yang berserakan di ladang. Tulang-tulang binatang itu terlihat masih baru. Seseorang—atau sekelompok—sepertinya telah dengan sengaja membubuhi racun dan menyebarkannya di ladang.

Bero menjadi sangat murka setelah kejadian itu. Malamnya, ia berkeliling kampung dan mendatangi siapa saja yang tengah mengobrol untuk ditanyai perihal yang menimpa anjing-anjingnya. Tentu saja, tak ada satu pun yang mengaku.

Namun, di ujung malam yang muram itu, dua orang pemuda telah minum terlalu banyak dan berteriak-teriak di dekat pos ronda. Mereka menyebutkan soal manusia pemakan babi dan pemelihara anjing. Mereka menyebutkan tentang anjing-anjing yang mati.

“Mampus, kalian! Anjing-anjing najis!”

“Besok kita racun saja yang punya rumah….”

“He, mulutmu! Diam kamu comberan….”

“Dia yang comberan. Mana dia itu, tukang makan babi. Dasar anjing!”

Mendengar itu, Bero pun mendatangi mereka. Tanpa berpikir panjang, Bero menghajar dua pemuda mabuk itu. Namun mereka semakin brutal saja, berteriak-teriak, mengolok-olok sejadi-jadinya, hingga satu per satu warga kampung keluar untuk melerai. Saat kehebohan itu semakin tak terkendali, seorang laki-laki segera menarik Bero dari kerumunan dan menjauhkannya dari tempat itu.

“Bero, saya beri tahu kamu. Untuk sementara kamu pergi saja dari kampung ini. Mereka sudah merencanakan ini sejak lama,” ujar laki-laki itu.

“Tunggu dulu. Ada apa ini? Mereka itu siapa?”

“Orang-orang yang dulu menolak jenazah istrimu.”

Bero terdiam sejenak. Matanya melotot, mulutnya komat-kamit, gemeretuk giginya menahan amarah tak terhingga.

“Mereka masih menolak keluargamu.”

“Jadi, keparat-keparat itu yang membunuh anjing-anjing itu?”

Laki-laki itu menggelengkan kepala.

“Pergilah. Saya tak bisa mengatakannya.”

Bero tak mau tinggal diam. Ia berniat mendatangi kerumunan itu lagi. Tapi laki-laki itu berhasil membujuknya sekali lagi. Bero pun menjauh dari kerumunan, pulang dan mulai berkemas. Keesokan harinya—pagi-pagi sekali—bersama Jibat dan sebuah buntalan besar, ia berjalan memasuki hutan dan tak pernah kembali. Rumah Bero yang selalu dijaga oleh anjing-anjingnya itu pun selalu terlihat sepi. Sekali waktu saja, Miseno dan Jimah datang untuk membuka pintu. Ada yang mengatakan, sepasang suami-istri itu sudah pindah ke kampung sebelah—tinggal di rumah orang tua Miseno.


MALAM itu hujan deras disertai angin kencang. Orang-orang melongok sebentar ke jendela hanya untuk menutupnya kembali. Mereka memeriksa pintu-apakah sudah terkunci dengan baik-lalu kembali menarik selimut di tempat tidur. Tentu saja, tak ada satu pun yang keluar untuk memeriksa ladang mereka pada malam seperti itu. Pada saat itulah puluhan ekor babi hutan mendapat kesempatan. Babi-babi yang beringas itu menyantap dan menghancurkan apa saja yang ditemui di ladang. Hama liar yang mengamuk itu membikin ludes ladang sebagian besar warga kampung.

Seorang warga yang terbangun pagi-pagi dan memeriksa ladangnya menjadi murka, lalu segera mengabarkan bencana itu kepada yang lainnya. Warga kampung pun berkumpul dan bersepakat membalas kelakuan babi-babi itu. Hari itu juga mereka merangsek masuk ke hutan. Namun mereka tak bisa menemukan apa-apa selain rasa lelah dan putus asa.

“Tak ada satu pun yang punya anjing,” ujar salah seorang warga. “Parang sependek ini, bagaimana jika kita bertemu babi-babi sialan itu?”

“Tak ada tanda-tanda. Jangan-jangan itu babi hutan siluman,” ujar yang lainnya.

“Balas dendam. Mungkin keluarga Bero sedang balas dendam.”

Saat mendengar nama itu, orang-orang saling menatap—sudah lama tak ada yang pernah menyebut nama Bero dan keluarganya. Mereka tiba-tiba merasa gentar. Lalu satu demi satu mulai bersepakat kembali ke kampung untuk menyusun rencana berikutnya. Baru beberapa langkah mereka berbalik arah, sebuah suitan panjang menggema di antero hutan itu. Orang-orang itu berusaha tak menghiraukannya sambil terus bergegas. Namun ada suara-suara lain yang mengikutinya. Semakin dekat, suara-suara itu terdengar seperti derap sepasukan serdadu binatang yang siap menyerang mereka. Orang-orang itu semakin gentar dibuatnya.

Pagesangan, 4 Mei 2017

Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya telah dimuat di sejumlah media. Tinggal di Pagesangan, Mataram, Nusa Tenggara Barat.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjak S. Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 22 - 23 Juli 2017 

0 Response to "Bero dan Keluarganya"