Demi waktu yang Berjatuhan di dalam Tubuhku - Suara-suara yang Terjatuh ke dalam Pelukanmu - Hidup yang Seperti - Pertanyaan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Demi waktu yang Berjatuhan di dalam Tubuhku - Suara-suara yang Terjatuh ke dalam Pelukanmu - Hidup yang Seperti - Pertanyaan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Demi waktu yang Berjatuhan di dalam Tubuhku - Suara-suara yang Terjatuh ke dalam Pelukanmu - Hidup yang Seperti - Pertanyaan

Demi waktu yang Berjatuhan di dalam Tubuhku

demi waktu yang berjatuhan di dalam tubuhku
telah kucatat nama tuhan
lebih dalam dari perigi perempuanku.
sebab ia yang setengah hati
pergi memunggungi sepi.

hujan berulangkali turun di kota ini
genangannya sampai ke hati.
aku berjalan sambil membawa cermin
yang di dalamnya ada seorang lelaki
menyimpan kenangan di saku celananya.

demi waktu yang menampol kesedihan demi
kesedihan
kucatat nama ibu yang perkasa.
demi burung-burung yang ditembak mati
kusangkarkan burungku di dalam hati.

ketika pagi daun-daun tumbuh
menjelang malam daun-daun jatuh
di dalam diriku.
siapa yang terkait
akan dilepas nasib.
sebab yang utuh
hanya milik Kekasih.

demi waktu yang berjatuhan di dalam tubuhku
kuusap-usap segala sakit
kuusap-usap kamu yang jauh
sedang mengunyah sakit.

demi malam yang menyediakan hening
hanya Kamu yang tak bisa berpaling.

Yogya, 2017

Suara-suara yang Terjatuh ke dalam Pelukanmu

ketika hatiku jatuh pada bunyi jam dinding rumah
suara-suara tanpa bunyi mendatangiku
bagai bisikan-bisikan gelap yang tak henti bicara.
sebab tak ada pertanyaan yang benar-benar
terjawab
di dalam ruang yang membosankan ini.
seakan seluruh mata menatapku tanpa wajah
dan mereka berbicara tanpa mengerti artinya.

tidak, aku tidak akan meninggalkan ruangan ini
aku juga tidak akan memecahkan jam dinding ini.
aku hanya ingin mencuci piring, gelas-gelas yang
berjamur
aku hanya ingin mencabuti rumput dan mengepel
lantai penuh debu tapi aku malas.
aku ingin ada seseorang yang melakukannya
tanpa meninggalkan suara di dalam rumah.
aku ingin ia pergi tanpa meninggalkan gema di
hati.
aku ingin terbebas dari simpul-simpul harapan
yang bermuka masam.
aku ingin ia yang memunggungiku tersenyum
tanpa menoleh ke arahku.
aku ingin jam dinding rumah tak lagi
menjatuhkan hatiku
seperti pertama kali hatiku terjatuh ke dalam
hatimu yang bercabang.

Yogya, 2017

Hidup yang Seperti

hidup kita seperti
penyanyi dangdut yang bergoyang
sambil menyanyikan lagu patah hati.
senyumnya mirip politikus yang terjerat korupsi
sambil bersumpah atas nama tuhannya.
hidup kita seperti
penggemar organ tunggal yang berjoget
sampai lupa hutang, lupa anak-istri di rumah
yang telunjuknya bergoyang seperti habis pilkada.
hidup kita seperti
main gundu
bertaruh untuk sesuatu yang kita tak tahu.
hidup kita seperti
warung remang-remang
yang menyediakan menu fi ktif penawar kesepian.
hidup kita seperti
mendatangi pesta perkawinan di kampung
sambil menyalami dan berbisik di telinga
pengantin:
jangan lupa datang ketika aku kawin.
hidup kita seperti
karena kita tak benar-benar memiliki.

Yogya, 2017

Pertanyaan

ia hidup dengan masa lalu
lupa kalau tuhan menciptakan kaki dan wajah
menghadap depan.
ia lupa masa lalu diciptakan untuk di kepala
supaya orang tak lagi salah jalan.

ia hidup di kepalanya
sementara di depannya ada kepala lain yang
bersuara.
ia berbicara untuk banyak kepala
tapi sesungguhnya membicarakan dirinya.

ia meyakini kebenaran tuhan
tapi kebenarannya jadi hantu.
ada orang mempertanyakan hantu
dianggap sedang mengingat tuhan.

kita duduk membaca puisi ini
tapi hati dan pikiran kita tak di sini.
manakah yang lebih nyata
tubuh atau hati dan pikiran kita?

Yogya, 2017 

KEDUNG DARMA ROMANSHA, kelahiran Indramayu, 1984. Berproses di Rumah Lebah, Sanggar Suto, dan Saturday Acting Club (SAC). Kumpulan puisi pertamanya Uterus (2015) dan Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu (2016). Novel terbarunya yang berjudul Telembuk (Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat) baru saja terbit.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kedung Darma Romansha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 2 Juli 2017

0 Response to "Demi waktu yang Berjatuhan di dalam Tubuhku - Suara-suara yang Terjatuh ke dalam Pelukanmu - Hidup yang Seperti - Pertanyaan"