Di Napalmelintang, Bunga yang Indah Tidak Boleh Layu Tergesa-gesa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Napalmelintang, Bunga yang Indah Tidak Boleh Layu Tergesa-gesa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:30 Rating: 4,5

Di Napalmelintang, Bunga yang Indah Tidak Boleh Layu Tergesa-gesa

Gawe beghat nga col ada ase’e kalu pade ati nga 
Betang-betang yang bebuah ahai kak ni 
Yang ditenam hetang-hetang ni 

(Kerja keras yang kau lakoni dengan cinta takkan terasa 
Karena pohon-pohon yang berbuah hari ini adalah yang ditanam kemarin-kemarin)

KAU ber- nandai --menyenandungkan lirik-lirik itu dengan langgam dan cengkok Melayu Selatan yang khas-- dengan pikiran yang melayang pada murid-muridmu di Napalmelintang. Kau tak habis pikir, bagaimana pelajar SMP di pedalaman kabupaten itu lebih gemar mendengarkan nandai daripada membaca buku!

Memang, kau tahu, bahwa benih yang baru ditanam takkan lekas berbuah, namun kau jengkel juga sebab hingga tahun keduamu sebagai guru honorer di sekolah itu, murid-muridmu tak juga menunjukkan ketertarikan pada buku-buku yang kerap kau bawa di dalam boks sepedamotormu setiap hari. Memang, satu-dua murid tertarik membuka-buka buku, itu pun buku bergambar dengan warna cerah dan teks besar-besar. Tapi, tetap saja, bila disilakan memilih membaca atau mendengarkan nandai, mereka akan memilih yang kedua.

’’Kau harusnya berbangga,” ujar ibumu ketika kau ceritakan kekesalanmu itu. ’’Bukan lantaran kau diwarisi keindahan suara sebagaimana Ibu yang beroleh banyak kawan dan sedikit uang dari nandai ketika muda, melainkan karena kecakapanmu bisa bermanfaat.”

Saat itu kau hanya manggut-manggut. Bukan tak percaya pada pujian ibumu, melainkan karena memikirkan: Benarkah aku harus bernandai ketika mengajar bahasa Indonesia?

’’Lagi pula sepatutnya kau bersyukur, Nak. Zaman sekarang, jarang sekali ditemukan orang yang lihai ber- nandai. Gadis pula! Nandai bukan sekadar melagukan lirik dengan cengkok yang merdu, tapi juga menyerukan kebaikan. Orang-orang dulu menggunakan nandai sebagai nasihat, berbagi kabar baik, bermaklumat sesuatu yang genting, bahkan mukadimah pinangan. Siapa tahu kau justru menjadi salah satu yang membuat senandung khas daerah kita itu masih bisa didengarkan sampai nanti-nanti …” Ah, harapan ibu terlalu berlebihan, batinmu. ’’Suara Bu Guru merdu nian!” Itulah celetukan khas murid-muridmu saban kau menyelesaikan sebuah nandai.

’’Sejak Bu Guru ber- nandai tentang buku menanam jagung tu, Siti jadi membaca buku itu. Kemarin kami menanam jagung di halaman belakang.’’

’’Bu, besok-besok, kalau jam pelajaran bahasa Indonesia lagi, aku nak bawa gitar kopong. Nandai itu tambah merdu kalau diselingi petikan gitar tunggal, Bu.’’

Benar, di hajatan pernikahan, sunatan, syukuran naik haji dan rumah baru, nandai biasa dibawakan dengan selingan bunyi gitar dalam irama Melayu Batanghari Sembilan. Gitar tunggal, begitu orang-orang Musi biasa menyebut gaya petikan itu. Selain karena hanya diiringi bunyi dari petikan sebuah gitar nonelektrik, irama yang dihasilkan sangat khas, seperti paduan musik Melayu Riau dan Suku Dayak di Kalimantan.

Sempat tebersit dalam pikiranmu untuk tidak lagi membawakan buku-buku bergambar dan menggantinya dengan VCD nandai saja, namun kau tak pernah melakukannya. Selain tak ada yang menjual VCD nandai, sekesalkesalnya pada mereka, kau tetaplah seorang pengajar yang bahagia melihat senyum, tawa, dan antusiasme mereka untuk belajar meluap-luap, walaupun lewat buku bergambar, walaupun lewat nandai!

’’Bolehkah buku yang Bu Guru nandai- kan itu kami pinjamkan pada bapak di rumah, Bu?”

Tentu saja itu adalah permintaan yang sangat membahagiakanmu. Tanpa harus melihat judul buku yang dimaksud, dari sampulnya saja, kau sudah bisa menebak kalau itu bukan buku pelajaran, melainkan buku yang ada gambarnya.

’’Jangankan buat bapak,” jawabmu lembut dengan mata lebih berbinar dari biasa, ’’buat emak, kakak, adik, atau bahkan tetangga kalian pun, tak apa, Nak.’’

’’Kalau aku sering membacakan buku buat emak, Bu Guru!’’

Kau menoleh ke gadis kecil yang tengah berseru di bangku nomor dua dari kanan.

’’Soalnya emakku tidak bisa membaca, Bu,” sambungnya tanpa merasa malu. ’’Sebenarnya ingin ber- nandai seperti Ibu, tapi suaraku sumbang.’’ Kali ini wajahnya bersemu malu.

Mendapat angin segar untuk mengutarakan pendapat, murid-muridmu yang lain pun berebutanberseru.Kautidakbisamendengarnya dengan jelas, tapi bisa menangkap inti aduan mereka: Selama ini, sebagian dari mereka banyak yang meminjamkan atau membacakan buku kepada anggota keluarga. Buku-buku itu dapat dipastikan pernah kau-nandai- kan. Ah, sejak itu kau kerap membaca ulang buku-buku yang dibawa ke sekolah, menyarikan isinya, untuk di-nandai- kan kemudian.

Memang bukan kerja mudah, tapi kau tak pernah menganggapnya melelahkan. 


*** 
SEJAK kecil kau sudah memiliki perpustakaan kecil di kamar. Tak seperti sebagian orang yang memiliki hobi yang sama, kau menyukai semua jenis buku. Dari sastra, pelajaran, pertanian, teknologi, geografi, hingga kerajinan tangan. Tak semua buku itu kau beli. Ada yang dihadiahi guru, dosen, atau pemberian teman kosmu yang sudah diwisuda sebagai kenang-kenangan. Ketika kuliah di Universitas Bengkulu, kau paling kerap mendapatkan buku di ulang tahunmu.

Meskipun begitu, kau tak pernah tertarik mengikuti lomba mengarang yang sesekali diadakan Dinas Pendidikan Kabupaten Musirawas. Kau justru lebih tertarik mengikuti lomba menyanyi dan nandai yang kerap menghadiahimu piala dan Tabanas yang jumlahnya lebih dari cukup.

Sebagaimana membaca, nandai pun tak kau tekuni dengan serius. Lulus SMA, kau justru lebih sering naik-turun gunung, masuk-keluar hutan, dan membersihkan Pantai Panjang saban Minggu pagi bersama teman-teman mapala-mu.

Sejak itu, alam dan buku pun menyatu dalam hidupmu (sementara suaramu yang merdu, hanya unjuk kebolehan di kamar mandi).

Sejak mendapatkan gelar sarjana pendidikan bahasa Indonesia, kau menyebarkan lamaran ke berbagai sekolah dan bimbingan belajar di tanah kelahiranmu. Hingga lima bulan menunggu, tak satu pun kabar baik menghampiri. Justru tawaran mengajar datang dari Rini, tetanggamu yang selama ini bekerja sebagai pengajar honorer di SMP Napalmelintang.

’’Aku sudah 2 tahun mengajar bahasa Indonesia di sana. Jujur, menurutku, honornya nggak sebanding dengan beban dan tanggung jawabnya. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri. Kepala sekolahnya setuju saja asalkan aku menyiapkan pengganti. Menurutku, kalau sekadar cari pengalaman, tak ada salahnya kau coba. Kalau tertarik, kau ikut aku ke Napalmelintang besok.”

Sebenarnya kau ragu, namun entah bagaimana, kau justru mengangguk. Tak mudah bagimu menyakinkan kedua orang tua agar merestui keinginanmu mengajar di pedalaman itu.

’’Tidak jauh, Pak. Cuma…,” ujarmu usai makan malam.

’’Bapak beberapa kali ke sana,” potong bapakmu seraya menoleh ibumu yang tengah menuangkan air putih ke gelasnya.

’’Kau harus melewati dua hutan, lima desa, dan jalan-jalan terjal dan berlubang,” timpal ibumu. ’’Sewaktu muda dulu, Bapak beberapa kali menemani Ibu ke sana.”

’’O ya? Ada urusan apa ke sana, Bu?” tanyamu penasaran.

’’Kan ibumu penyanyi nandai ternama waktu mudanya,” sahut bapakmu seraya melirik nakal ke arah ibumu. ’’Dan bapakmu ini pemain gitar tunggalnya. Klop!” Tawa bapakmu pecah. Kau pun ikut tertawa. Ibumu mesem-mesem. Wajahnya merah daging semangka.

Ibumu memang memiliki suara yang sangat indah. Kalau sedang memasak atau menyiram bunga di pekarangan, tanpa sadar ia sering menyanyikan lagu Melayu atau bernandai. Ia baru akan berhenti kalau kau atau bapakmu bertepuk tangan di akhir lagu. Sebenarnya, ia juga kerap memuji keindahan suaramu, tapi kau tak terlalu menanggapinya, walaupun beberapa lomba menyanyi yang kau ikuti --sebagian besar atas sarannya-- selalu menempatkanmu dalam posisi tiga besar.

’’O ya,’’ suara ibumu memecah lamunanmu. ’’Ibu juga sering menemani bapakmu ke Napalmelintang untuk mengantar pesanan lemari atau kusen rumah,” seru ibumu tak mau kalah.

Ya, pekerjaan bapakmu sebagai pembuat lemari memungkinkan ia mendatangi lebih banyak tempat tinggal pemesannya, termasuk daerah pedalaman.

’’Jadi, kami sudah hafal benar jalan menuju daerah itu, Nak,” ibumu mengembalikan fokus pembicaraan.

’’Lagi pula, ngajar di pedalaman itu, peluangmu untuk diangkat jadi CPNS kecil!” seru bapakmu setelah menenggak segelas air putih. Ya, di mata seorang wiraswasta kecil-kecilan sepertinya, melihatmu menjadi seorang CPNS adalah impian.

Kau terdiam sejenak sebelum dengan hatihati menjawab, ’’Sementara menunggu bukaan tes CCPNS, aku nak cari pengalaman ngajar dulu, Pak. Boleh, ya?” Kedua orang tuamu saling pandang. ’’Baiklah,” bapakmu kembali menatapmu, ’’Tapi kau harus bertanggung jawab dengan pilihanmu. Bapak tak ingin mendengar keluhan, kabar kalau kau sering mangkir dari sekolah, apalagi merengek minta berhenti dalam beberapa bulan ke depan,” lanjutnya seakan mengabaikan protes ibumu.

Kau mengangguk yakin. Bapakmu lupa kalau anak gadisnya adalah anggota mapala semasa kuliah. Kau mencium punggung tangannya sebelum memeluk ibumu yang sepertinya masih belum menerima keputusan suaminya.

’’Ikhlas ya, Bu,” ujarmu setelah merenggangkan pelukan. Kau tahu, kalau bapakmu sudah memutuskan sesuatu, ibumu akan nurut saja. Kalaupun jengkel, itu hanya ekspresi sesaat dan akan kembali seperti sediakala beberapa saat kemudian.

Ibumu mengangguk ragu. Kau tahu ia masih sangsi dengan kesanggupanmu mengajar di Napalmelintang.


*** 
TERNYATA benar! Perjalanan ke Napalmelintang lebih layak disebut petualangan. Memang, hingga sepertiga perjalanan, matamu masih dimanjakan dengan pemandangan pepohonan di kiri-kanan jalan. Namun, setelah itu, perjalanan makin menantang dan memacu adrenalin. Jalan kecil yang berlubang, berkelok, dan tikungan yang tajam. Beberapa kali Rini yang melajukan sepedamotornya beberapa meter di depanmu harus berhenti beberapa kali, karena terdapat beberapa pohon roboh karena hujan semalam, atau karena beberapa babi, monyet, dan kancil yang menyeberang jalan.

Dua jam kemudian, kalian memasuki sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi hutan karet. Di sekolah itu, terdapat lima ruang belajar. Masing-masing dua ruangan untuk kelas X dan XI, dan satu ruangan untuk kelas XII; satu ruang guru yang merangkap ruang kepala sekolah dan tata usaha; dan dua WC di sudut kanan sekolah. Satu untuk guru dan TU, satu lagi untuk siswa. Tak usah ditanya bagaimana menyengatnya aroma pesing yang menguar dari WC siswa.

’’Bagaimana? Kau tak berubah pikiran untuk menggantikanku, kan?” tanya Rini ketika kalian hendak menemui kepala sekolah.

Kau tersenyum. ’’Aku justru menyukai ini, Rin,’’ ujarmu meyakinkan.

Hal-hal yang diawali dengan optimisme memang memiliki peluang besar untuk menciptakan kebahagiaan. Begitupun dengan hari pertamamu di SMP Napalmelintang itu. Pertemuanmu dengan Pak Bambang Hakim, kepala sekolah, memberikan energi bagi kedua belah pihak. Karena menangkap semangat positifmu, Pak Bambang pun langsung memperkenalkanmu kepada dewan guru sebagai guru honorer bahasa Indonesia yang baru. Hari itu kau baru tahu kalau kau akan mengajar semua kelas. 


*** 
LIMA kali seminggu kau ke Napalmelintang. Kau berangkat usai membuatkan sarapan untuk orang tuamu di subuh buta. Di sekolah, kau berusaha menjadi sahabat bagi murid-muridmu. Karena di sekitar sekolah banyak sungai, padang rumput, dan bukitbukit kecil yang hijau, tak jarang kau memindahkan kelas ke alam terbuka. Tapi itu saja belum cukup, kau harus melakukan hal lain: memancing antusiasme mereka pada pelajaran! Maka, kau pun merasa sangat bersyukur ketika Tuhan menurunkan merdunya suara ibumu pada dirimu. Ya, sebuah puisi yang awalnya iseng kau-nandai- kan, ternyata membuat murid-murid ketagihan. Sejak itu, kau tahu kalau mereka sudah berada dalam genggamanmu. Kau pun me- nandaikan materi pelajaran yang kau pikir akan mudah membuat mereka bosan, seperti mengarang cerita, menulis puisi, atau membuat resume. Pada bulan keenammu di SMP Napalmelintang, nandai- mu membuahkan hasil. Kau mempersembahkan piala pertama bagi sekolah itu ketika Dinda Zakira, murid kelas XI, menyabet juara II lomba bercerita tingkat SMP se-Kabupaten Musirawas. Selain kelihaianmu dalam ber-nandai, keberhasilanmu itu tak terlepas dari bukubuku yang kau bawa ke sekolah setiap hari. Ya, setelah tiga bulan mengajar, kau memanfaatkan buku-buku koleksimu untuk dinikmati murid-murid. Awalnya karena ruang perpustakaan belum ada, kau menitipkan buku-bukumu pada staf tata usaha (TU). Baru empat hari, delapan buku sudah tak bersampul. Engkau pun sempat menitipkan buku-buku koleksimu pada rumah murid yang paling dekat dengan sekolah. Kali ini lebih parah. Bukumu bukan hanya sobek halamannya dan lepas sampulnya, melainkan juga banyak yang hilang. Usut punya usut, rumah tempat kau menitipkan buku itu setiap pagi menjual nasi gemuk. Saban kekurangan kertas untuk membungkus, tanpa merasa bersalah, ibu muridmu ia akan merobek halaman buku. ’’Beberapa buku juga sering dipakai ayah buat berkipas sepulang menyadap karet di siang hari, Bu,” ujar murid itu dengan polosnya. Sejak itu, kau membawa sepeda motormu ke tempat modifikasi sepeda motor di kota dengan menambahkan boks seukuran 30 x 60 cm di boncengan. Awalnya bapakmu menen- tang, tapi kau berhasil meyakinkannya.

’’Buku-bukuku yang seabrek ini baru bermanfaat ketika dibaca, Pak. Apalagi dibaca murid-muridku, Pak,” dalihmu dengan wajah memelas.

Kau akhirnya membawa buku-bukumu ke dalam boks. Walaupun seorang guru bahasa Indonesia, kau juga membawa buku-buku lain seperti buku pelajaran matematika, IPA, IPS, agama, dan olahraga. Selain itu, buku-buku nonpelajaran seperti buku cerita (baik bergambar maupun tidak), resep makanan, pertanian praktis, komik, dan kerajinan tangan. Di masingmasing kelas, 15 menit sebelum jam belajar berakhir, kau meletakkan buku-buku itu di lantai depan ruangan. Kau mewajibkan setiap murid meminjam satu buku dan mengembalikannya paling lama satu minggu kemudian.

Ternyata, buku-buku nonpelajaranlah yang lebih menarik minat para murid. Kau pun mafhum, mungkin mereka terlalu penat dengan pelajaran sekolah. Meski begitu, kau sangat berharap, ada prestasi yang dapat mereka persembahkan untuk sekolah. Bukan hanya piala lomba bercerita seperti tahun yang lalu, tapi juga lomba matematika, IPA, IPS, atau hafalan UUD 45.

Hingga, di pengujung tahun keduamu mengajar, sebulan setelah mengikuti tes CPNS, Pak Bambang memberitahumu kalau ada beberapa orang tua murid yang ingin menemuimu. Tentu saja jantungmu berdegup lebih kencang dan wajahmu mendadak marun. Bukan karena Pak Bambang menganggu waktu mengajarmu, melainkan karena bukan rahasia lagi kalau kedatangan orang tua murid hanya disebabkan dua kemungkinan.

Pertama, si murid bermasalah dengan guru yang bersangkutan. Sering tidak masuk kelas ketika jam pelajaran, misalnya, hingga orang tuanya pun dipanggil. Kedua, si orang tua merasa keberatan dengan perlakuan sang guru pada anaknya.

Dalam perjalanan menuju ruangan Pak Bambang, kamu menimbang-nimbang kemungkinan itu. Kemungkinan yang pertama, sangat tidak mungkin, karena pemanggilan orang tua pastilah atas permintaan sang guru mata pelajaran. Dan kamu tak pernah merasa meminta Pak Bambang memanggil orang tua murid. Kemungkinan kedua? O, apakah ada murid-murid yang diamdiam tak menyukaimu hingga…


*** 
DI kantor, kau baru sadar, tak jauh dari kursi para orang tua murid itu, ada tiga tandan pisang batu, sembilan ikat petai, lima botol madu, dan beberapa karung yang tak dapat kau terka isinya.

’’Kami sangat berterima kasih kepada Bu Guru,’’ seorang laki-laki seusia bapakmu membuka pembicaraan.

’’Ya, pelanggan saya bilang bolu kukus buatan saya makin legit. Itu karena saya banyak belajar dari buku resep yang sering dibawa Siti ke rumah.’’ Kali ini seorang perempuan bersongkok miring menimpali.

’’Karena buku metode bertanam padi hemat air yang ibu pinjamkan pada anak saya, kami tidak lagi meributkan air setiap masa tanam datang. Dan panen tahun ini, hasil padi kami meningkat dua kali lipat dan …”

Kau terpana. Kau masih sulit percaya dengan apa yang barusan kau dengar. Namun begitu, kau kini bisa menebak isi karung yang ada di dekatnya.

’’Jagung-jagung kami juga tidak diserang hama wereng lagi …”

’’Kami sudah membungkus buah durian dengan plastik transparan supaya tidak didekati tupai ...’’

’’Alhamdulillah, si Mila sudah hafal bacaan tahyat akhir...”

’’Anak saya yang paling kecil sudah tahu nama buah-buahan sambil bernyanyi. Kakaknya mengajarinya sambil ber- nandai. Bu Guru pandai nandai, katanya ya...”

’’Maaf Bu, bukunya sudah banyak sobek. Bagaimana, Bu? Apa harus kami ganti?” 

’’Saya minta izin untuk memiliki buku Bercocok Tanam Cabai, Bu. Itu… buku yang sampulnya hijau daun pisang!” ’’….’’ Tiba-tiba kau ingin jatuh tersungkur dalam syukur yang tak terkira.

’’Bu,” suara Pak Bambang membuyarkan keterpanaannya. ’’Kami perlu banyak belajar pada pengabdian, rasa cinta Ibu pada anakanak, dan tentu saja pada pengorbanan Ibu yang tanpa pamrih.’’

Kau tidak hanya menerima jabat tangan dari para orang tua murid, kepala sekolah, dan dewan guru, tapi juga pelukan erat dari kerja keras yang kau semai selama ini. Kau sungguh tak sabar mengabarkan semua ini kepada kedua orang tuamu; bahwa kau bukan hanya bertahan di SMP di pedalaman ini, melainkan juga memberikan kemaslahatan bagi masyarakatnya. 


*** 
PAGI itu, bapakmu menepuk-nepuk punggungmu. Ibumu memelukmu. Erat sekali. Mereka berdua sebenarnya ingin tersenyum untuk menguatkanmu, meskipun malah air asin yang keluar dari ekor mata yang sendu. Pengabdianmu di Napalmelintang memang belum waktunya selesai.

Kau melipat koran lokal itu lamat-lamat. Tak ada namamu di daftar itu, di antara nama-nama yang lulus tes CPNS Kabupaten Musirawas tahun itu. (*) 

--Untuk istriku, guru bahasa Indonesia di Musirawas


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Benny Arnas
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu  30 Juli 2017

0 Response to "Di Napalmelintang, Bunga yang Indah Tidak Boleh Layu Tergesa-gesa"