Ismi, Tabahkan Hatimu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ismi, Tabahkan Hatimu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:53 Rating: 4,5

Ismi, Tabahkan Hatimu

MALAM itu langit bertabur bintang. Tiada awan berarak. Bulan sabit meremang di ufuk Barat, sinarnya lembut mengelus pucuk-pucuk pepohonan. Sesekali di kejauhan terdengar lolong anjing yang terasa menyayat hati. Suasananya sepi, walaupun malam belum larut benar. Gadis sebatang-kara itu sedang meratapi nasibnya, dan tanpa setahunya seorang laki-laki berbadan gemuk berwajah bulat masuk ke dalam dan menghampirinya.

Ismi, gadis itu, tidak senang dengan kehadiran seorang laki-laki di malam hari. Ia tidak senang terusik di dalam kesendiriannya. Tetapi laki-laki yang di hadapannya itu adalah orang yang telah banyak mengeluarkan uang untuk keperluan pemakaman almarhumah ibunya. Terpaksa ia bersikap sopan.

Si tua itu lama menatap Ismi. Tadinya kedatangannya dikatakan untuk menguruskan tunjangan kematian atas nama ibunya. Tetapi di balik itu ada maksud yang tersembunyi. Perhatian laki-laki itu sudah tersita oleh kemontokan tubuh gadis yang ada di depannya itu. Ismi bertambah cantik saja di saat berduka seperti ini. Laki-laki itu semakin mendekat, dan Ismi mulai merasa curiga. Ia jijik melihat tingkah orang itu, apalagi kalau diingat bahwa namanya kurang baik di mata masyarakat. Selain pekerjaannya sebagai tukang ijon, sifatnya pun mata keranjang pula.

“Ismi, kau tahu, akulah yang menguruskan pensiun janda ibumu. Sementara dari orang lain aku mendapat sekian persen dari rapel yang keluar, tetapi khusus dari ibumu aku tak memungut sepeser pun. Itu dikarenakan karena aku menaruh kasihan kepada ibumu, sampai kepada biaya pemakaman almarhumah!”

“Tetapi pertolongan paman Sabur bukannya tanpa pamrih. Paman menginginkan Ibu. Untung Ibu adalah wanita yang kuat iman, sehingga paman tidak berhasil memikat ibu!”

“Ismi, kau jangan bicara begitu. Ingatlah kepada kebaikanku. Jangankan kepada ibumu, kepadamu pun aku siap menolong. Dan sekarang aku juga bawa uang. Terimalah ini! Kalau suatu saat kurang, bilanglah sama paman!”

Si tua itu sudah dikuasai nafsunya, matanya liar jelalatan. Kesempatan baik ini akan dimanfaatkan benar-benar. Tetapi Ismi kali ini masih tetap tenang.

“Paman, saya tidak butuh uang! Bahkan semua uang paman akan segera saya kembalikan. Demi kebaikan semuanya, saya persilakan paman meninggalkan tempat ini!”

“Aku sayang kau, Ismi! Jangan marah! Saya kira tidak baik menolak pemberian orang lain. Aku heran atas sikapmu yang sekeras itu. Sebenarnya aku tertarik oleh kemolekan tubuhmu. Aku menginginkan kau, Ismi! Kau dengar itu? Aku ingin membahagiakanmu! Percayalah kau akan berkecukupan!”

Semakin muak Ismi mendengarnya. Mukanya merah karena marah dan matanya menatap tajam kepada si tua Sabur itu. Tetapi rupa-rupanya ia sudah bernafsu sekali, sehingga mencoba menjamah Ismi yang kelihatan tersudut.

“Silakan segera keluar! Bila tidak, sesekali aku menjerit, kau akan menanggung malu. Orang kampung akan segera menangkapmu!”

Dengan cepat didorongnya laki-laki itu keluar pintu. Berbarengan dengan itu mbok Inem baru saja akan masuk tiba-tiba menjerit keras saking kagetnya. Situasi menjadi gaduh. Sebelum tetangga bertandang, si Sabur tua telah kabur ditelan gelapnya malam.

Ismi menangis sejadi-jadinya. Mbok Inem yang sudah tua itu masih gemetaran karena ketakutan. Ia menyesali kedatangannya yang terlalu malam. Ia satu-satunya yang setiap malam menemani Ismi. Di dalam tangisnya Ismi selalu menyebut-nyebut nama seorang pemuda. Pemuda itu Wawan, orang yang mau mengerti keadaannya dan mencintainya pula. Satu minggu sesudah ibunya meninggal, ia baru mengirim berita kepada Wawan di Jakarta.

“Mas-ajeng! Mbok Inem menyesal karena terlambat. Bila datang agak awal, tidak akan mungkin si tua-bangka itu berani datang kemari!”

“Bagaimana Mbok nasibku ini? Aku selalu ditimpa kemalangan. Yang satu disusul yang lain. Dan dalam keadaan serba berkekurangan seperti ini. Harapan hidupku hanya tergantung kepada mas Wawan yang jauh!”

“Mas-ajeng! Yang penting sekarang adalah kita harus tawakal menerima musibah ini. Mbok Inem sudah banyak makan garam. Perkara keluhan soal derita hidup, bukan mas-ajeng saja yang mengalami. Setiap orang pasti. Hanya dalam menerima atau menanggapi nasib itu yang berbeda-beda!” Mbok Inem mencoba menenangkan hati Ismi.

“Ya mbok, ternyata kau baik benar. Tetapi apa yang harus saya lakukan dalam menerima semuanya ini?”

“Ada sementara orang menerimanya dengan berduka sepanjang waktu hingga badannya menjadi kurus kering. Ada yang dengan mengeluh serta mengasingkan diri. Bahkan ada yang dengan masa bodoh dan acuh saja. Tetapi ada pula yang menerimanya dengan tabah, sabar dan tawakkal. Coba renungkan, mas-ajeng termasuk yang mana?”

“Saya akan berbuat sejauh kemampuan sebagai orang yang tabah, sabar dan tawakal!”

“Nah, mas-ajeng kan sudah dewasa. Bisa memilih mana yang paling baik yang harus dilakukan. Do’akan ibumu siang dan malam. Tentang kesulitanmu, mohonkan petunjuk Yang Maha Kuasa, insyaallah ada jalan, selama kita mau berikhtiar!”

“Tetapi aku sebatang-kara, mbok! Aku hidup sendirian dan masih gadis pula, mana mungkin!”

“Mas-ajeng tidak sendirian. Yang Maha Kuasa selalu memelihara mas-ajeng. Tenangkan pikiran, bersujudlah selalu kepada-Nya. Seribu jalan disediakan bagi kita. Makhluk yang namanya manusia itu ditakdirkan untuk ikhtiar, karena kita memiliki kelebihan dari makhluk lain, antara lain pikiran dan perasaan!”

Ismi mencoba memahami semua nasihat mbok Inem. Lama ia merenung-renung. Hampir setiap malam ia bisa mereguk segarnya air dingin penawar duka dari orang paling sederhana ini. Ia selalu mencoba menguatkan iman di dalam menerima musibah beruntun selama enam bulan terakhir ini.

-----
Dibukanya dengan hati-hati sampul kilat yang baru diterimanya. Harapan satu-satunya hanya tertuju kepada pujaan hatinya, yaitu Wawan ….

Ytc. Ismi Karmilah,

Kilat khususmu kubaca dengan tangan gemetar. Perkenankanlah terlebih dahulu Wawan menyatakan ikut bela sungkawa atas berpulangnya ibunda tercinta. Do’aku, semoga Allah SWT menerima almarhumah dalam pengayoman-Nya dan melimpahkan segala ampunan-Nya kepada ummat yang menghadap. Kiranya Allah melimpahkan kekuatan bathin kepada kau yang ditinggalkan. Amien.

Ismi sayangku! Perpisahan selamanya menyedihkan. Namun demikian perpisahan itu pasti bakal tiba, bahkan kepergian kita masing-masing pun adalah suatu kepastian. Kita tidak akan bisa mengelak jika janji itu telah tiba. Kita pasti kembali kepada-Nya. Wawan hanya bisa berpesan: kirimkanlah do’a buat almarhumah, mohonkan ampun dan jalan terang di alam arwah.

Wawan bisa merasakan betapa berat kepedihanmu. Yang satu disusul kepedihan yang lain. Enam bulan yang lalu ayahmu, kini ibunda menyusul. Wawan hampir tidak bisa membayangkan betapa kau telah dicekam keputusasaan dan kesepian di dalam kesendirianmu. Pintaku tiada lain, tabahkan hati dan kuatkan imanmu! Tunggu sedikit waktu, Wawan akan segera datang. Aku akan pulang dengan membawa sebuah keputusan, demi kebaikan kita berdua.

Dalam duka seperti ini, biasanya timbul suatu penyesalan. Kita belum sempat memberikan bakti kasih sayang kembali. Walaupun sebenarnya bakti yang kita berikan kepada orang tua tidak pernah memadai. Karenanya saya pikir, mengirim do’a adalah kewajiban utama. Saya yakin bahwa do’a dan permohonan ampun dari anak yang sholeh untuk orang tuanya akan diterima oleh Tuhan. Ini pulalah sebabnya sejauh kemampuan, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang sholeh dan sholehah. Teruskan berdo’a selalu setiap kau melakukan sholat, dan yakinlah bahwa ketentraman serta kedamaian bathin akan tiba jua, asal sabar!

Do’aku selalu dan salam buatmu seorang dengan penuh kerinduan. Bersama ini kukirim weselpos Rp. 100.000,- sekadar untuk menambah keperluanmu. Insyaallah, akhir bulan ini Wawan datang.

 Kakakmu selalu,         
         
Wawan Samgita         


Beberapa saat Ismi terdiam, didekapnya erat-erat surat itu di dadanya. Perlahan-lahan air menetes di pipi. Air mata kesedihan dan keharuan. Ternyata masih tetap ada orang yang mau mengerti dan merasa turut menanggung penderitaannya. Sejak masih duduk di bangku SMA, ia sudah tertarik akan pemuda itu. Sekarang ia mencoba memahami maksud Wawan, walaupun untuk itu hatinya seperti tersayat. Ia terbawa oleh naluri kewanitaannya.

Ismi sudah bisa merasakan ketulusan cinta Wawan, ketika ia mengantarkan keberangkatannya beberapa bulan yang lalu: “Ismi, aku pergi untuk sementara waktu. Satu dan lain untuk tidak mengecewakan paman. Setialah kau menunggu. Aku tetap menyayangimu. Sekarang akan terasa juga olehmu bahwa Wawan sesungguhnya bisa dan bersedia menjadi curahan segala kepenatan hatimu. Kapan saja, dalam keadaan bagaimanapun juga Wawan sedia menyambutnya dengan tangan terbuka dan penuh pengertian. Teman duka adalah teman sejati, yang sulit dicari.”

---
Betapa kecewanya Wawan sewaktu datang, ternyata Ismi tidak di tempat. Sebaliknya ia mendapat keterangan dari mbok Inem, bahwa Ismi sejak minggu yang lalu opname di rumah sakit. Ia mendapat kecelakaan sekembalinya menguangkan wessel dari Kantor Pos. Sejenak Wawan tertegun. Dan segera sesudah itu ia bergegas ke rumah sakit. Di sana ia temukan Ismi duduk termenung dekat jendela. Agaknya ia tidak menghiraukan indahnya taman rumput yang hijau segar. Kaki dan tangannya masih terbalut.

Kali ini ia tidak menatap Wawan. Ia tundukkan kepala walaupun Wawan sudah menegur. Pemuda itu memegang wajahnya serta mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah muram itu. Mungkin ia menyesalkan kedatangan Wawan yang terlalu lama menurut perhitungan Ismi sendiri. Ia mengira Wawan sudah tidak memperdulikannya lagi.

Dengan penuh mesra, pemuda itu mengusap air mata kekasihnya dan berkata dengan lembutnya: “Ismi, aku datang. Kuharap kau senang dengan kehadiranku!”

Sebenarnya Ismi tidak tega membiarkan. Wawan adalah orang yang baik dan selalu mau mengerti. Di kala ia putus asa, Wawan memberikan harapan. Di kala ia kekurangan, pemuda ia mencukupinya. Di kala ia lemah iman, pemuda itu selalu mencoba membangunkannya. Haruskah ia melupakan itu semua? Kemudian ia menyesal atas sikapnya dan kembali mukanya menjadi cerah.

“Mas Wawan, benarkah kau datang untuk Ismi? Saya takut kau nanti akan menyesal. Namaku sudah tersiar jelek di kampung. Walaupun …!”

“Ismi, sayangku! Saya sudah tahu semuanya. Tetapi saya lebih percaya dengan mbok Inem. Saya yakin kau tetap gadis yang bersih. Sumber suara itu adalah justru dari paman Sabur sendiri, yaitu orang yang tidak kesampaian maksud hatinya.”

“Jadi, jadi kau telah mengetahui semuanya?”

“Tenangkan hatimu. Kau adalah gadis yang tahan uji. Kau adalah gadis yang kuat iman. Sesungguhnya tidak ada kekuatan yang dapat memisahkan kita. Telah saya putuskan lebih baik keluar dari pekerjaan di Jakarta daripada harus berpisah denganmu.”

“Mas Wawan!?” Ismi terkejut atas keputusan ini. Namun sebelum selesai mengucapkan kalimatnya, Wawan telah mendahului:

“Apalah artinya hidupku bila wanita yang kucintai tidak ada di sampingku. Oleh sebab itu aku datang, dengan sedikit terlambat, karena banyak yang harus diselesaikan.”

“Tapi kau telah kehilangan satu kesempatan yang baik mas!”

“Jangan kecil hati. Dari Jakarta saya tidak langsung pulang. Saya siapkan surat-surat yang perlu dan menghadap di Biro Kdpos untuk melamar pekerjaan. Kabarnya Kantor Pos setempat ada formasi satu untuk tenaga rendah.” Wawan mencoba untuk memberi harapan kepada calon isterinya.

“Lalu, hasilnya?”

“Aku akan menjadi seorang calon Juru-muda-karya-pos,” suaranya pelan seperti berkata kepada diri sendiri.

“Pengantar pos, maksudmu mas?”

“Kukorbankan ijazah SMP dan SMA-ku, demi kau! Mungkin kau menyesal, Ismi!?”

“Tidak! Hanya di luar dugaan.”

“Kau harus tahu. Fungsi Pos adalah menjual jasa, melayani masyarakat. Ia menghubungkan manusia yang satu dengan yang lain walaupun tempatnya jauh di seberang lautan. Selama ini surat-menyurat telah berjasa menghubungkan aku dengan kau, bahkan tetap menyatukan hatiku dan hatimu. Sekarang akan tiba giliranku untuk terjun di dalamnya. Aku akan menjadi pengantar-pos yang baik, di mana tugas tersebut nama baik Pos dan Giro dipertaruhkan. Kuharap kau bisa mengerti, Ismi!”

“Ya mas, aku mengerti. Asal tidak kau tinggalkan aku lagi.”

“Oh ya. Saya dengar dari mbok Inem kau akan menjadi petugas Lapangan keluarga berencana, betulkah itu Ismi?”

“Ya, memang benar. Sesuai dengan ijazah, nanti setamat kursus akan diangkat menjadi Group-leader. Akan saya tempuh, asal mas Wawan mengizinkan.”

“Boleh saja. Zaman kemajuan begini, kerja orang dua lebih baik. Tapi saya pikir lucu juga. Petugas KB kok belum berumah tangga!?”

“Gampang mas, semuanya bisa diatur.”

Dua hati yang selama ini berjauhan kini telah menyatu kembali. Dengan wajah cerah, pikiran terang, keduanya berharap bahwa hari esok cuaca tidak akan mendung lagi seperti hari kemarin. Kisah cintanya telah diwarnai dengan aneka kepedihan dan cobaan, namun keduanya sabar, tabah dan tawakal.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gito
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Merpati Pos" edisi No. 6 Th. 11 – Juni 1977  

0 Response to "Ismi, Tabahkan Hatimu"