Kasandra | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kasandra Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:46 Rating: 4,5

Kasandra

CERITA ini sudah sering diungkapkan. Homeros barangkali termasuk yang pertama mengisahkannya walau ia hanya menyebut dua kali dalam kitab tentang peperangan itu. Untuk seterusnya buih ludah dan anggur dan berbagai kepentingan si pencerita akhirnya membuat cerita beranak cucu.

Ini adalah salah satu versi, yang penuh kepentingan si penulis.

Perlu diketahui bahwa semesta tidaklah tunggal melainkan seperti serbuk sari ditiup angin-berasal dari tempat yang sama dan bertualang sendiri-sendiri sesuai dengan nasibnya.

Ini cerita tentang sesudah perang itu, ketika seorang perempuan dibawa ke tanah jauh sebagai seorang budak. Seorang perempuan yang disangka gila karena pada dirinya karunia berubah menjadi kutuk: ia dapat meramalkan masa depan secara tepat tapi tak seorangpun mempercayai ramalan itu. Apalagi yang lebih tepat istilahnya selain: gila.

O, adakah nasib yang lebih buruk dari itu? Tentu ada, yaitu menceritakan kisah tersebut dan tak seorangpun mau mendengarkannya. Karena itu pula aku duduk di sini bercerita padamu tentang kisah ini.

Tanpa melihat ke luar jendela, Priam tahu bahwa Troya sedang terbakar dan hidupnya tinggal sejenak lagi. Ia menengok ke arah pojokan kamarnya yang remang. Tertutup selubung kain, sesosok tubuh berdiri mematung. Lengan dan kakinya terlihat. Sebab, selubung itu tidak menutup sempurna sehingga menunjukkan kulit yang halus, tapi tak sepenuhnya kulit manusia. Terlalu mulus.

Priam, Raja Troya, melepaskan kalung yang melingkari lehernya, kemudian melepaskan liontin dari kalung itu. Ia menggenggam erat liontin sambil mendekati sosok di pojokan dan menarik selubung yang membungkus sosok tersebut. Selubung kain melorot perlahan menyapu seluruh permukaan sosok tersebut sebelum bertumpuk di bawah.

Sosok itu berbentuk perempuan yang dipahat sesuai imaji ideal bentuk tubuh perempuan. Priam mendekati, meraba sosok tersebut dan menekan bagian pusarnya. Terdengar bunyi desir halus, sebuah kotak pipih menonjol. Rupanya pusar sosok tersebut semacam tombol yang merupakan bagian dari kotak.

Priam membuka liontinnya. Di dalamnya ada sebuah batu berbentuk prisma. Tanpa memegang, ia menjatuhkan batu itu ke bagian dalam kotak yang berupa pasangan bentuk batu prisma dan ia mendorong kembali pusar perempuan itu sampai ke tempatnya semula. Tak lama kemudian terdengar bunyi mendesing halus. Tangan Priam yang masih meraba bagian pusar perempuan tersebut perlahan merasakan sosok tersebut menghangat. Tidak lagi sedingin patung-patung pualam penghias kebun dan ruangan-ruangan di istananya.

Sejurus terdengar suara jeritan dan dobrakan logam beradu di ruangan bawah. Priam memperhatikan dada sosok di depannya turun naik mengembang dan mengempis. Sosok itu bernapas dan tubuhnya sehangat tubuh manusia.

Bukanlah kehidupan sesungguhnya yang ia berikan, melainkan sekadar tampak hidup. Napas. Kehangatan tubuh. Sedikit tenaga yang berasal dari batu di dalam liontinnya. Batu Vulkan, demikian orang menamai batu tersebut.

Batuan tersebut menghasilkan panas dan tenaga, tetapi sudah banyak yang mati karena menambangnya. Juga karena menggenggamnya. Tapi Priam tahu tidak semua tenaga dari batu yang terpancarkan menembus semua bahan. Bila menabrak suatu logam lain maka tenaga batu itu hilang. Sejenis logam kelabu yang berat dan kusam. Timbal namanya. Priam membungkus Batu Vulkan itu dalam kotak liontin yang terbentuk dari timbal.

“Kasandra,” bisik Priam ketika kedua mata sosok itu terbuka.

“Kasandra,” sosok tersebut mengulangi apa yang dikatakan Priam. Suaranya menggerodak campuran suara mesin yang asing. “Kasandra,” ia mengulangi. Kali ini suaranya lebih halus.

Sejenak keduanya terdiam. Priam bisa mendengar dengus napas Kasandra yang sedikit lebih keras daripada manusia pada umumnya. Napas yang berasal dari putaran roda-roda mesin dan gerakan tuas di dalam tubuhnya. Seperti napas orang yang sedang sakit tenggorokan, tapi tidak terlalu mengganggu.

Priam memegang dada Kasandra yang turun-naik. Halus dan seperti gerakan dada manusia yang bernapas. Kasandra ciptaannya, jika ciptaan adalah menyusun dan merangkai. Di kamarnya perkamen-perkamen berisikan rancangan mesin-mesin dan berbagai perhitungan bertebaran. Bejana yang saling berhubungan, wadah gelas bertumpuk-tumpuk. Cairan tampak menggelegak di satu bejana dan menetes-netes di bejana lain.

Priam mengambil perkamen-perkamen dan segala catatannya dan melemparkan ke tungku pemanas. Terdengar bunyi berkeletak dan perkamen yang menciut, menguning, dan kemudian terbakar dalam api.

Ia mematikan api di bawah bejana tembaga dan kaca membuat cairan yang terkumpul berhenti menetes. Ia kemudian mengambil pedangnya dan menyabet wadah kaca, membentur bejana tembaga dan menumpahkan isinya. Serpihan kaca berterbangan. Bunyi bejana tembaga mengenai pualam mendentam berat.

“Kasandra, kau tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya Priam.

“Ya, Tuanku,” jawab Kasandra. Makhluk itu—jika bisa dikatakan bahwa susunan mesin dan selaput pembungkusnya itu adalah makhluk ciptaan Priam—turun dari tempatnya. Ia melangkah dengan gemulai.

“Kini kau keluarlah, sambut mereka,” kata Priam sambil melemparkan sebatang kayu dari tungku ke tirai. Api segera melahap tirai itu dengan rakus.

Priam, raja tua itu, mati bunuh diri dengan cara membakar dirinya sendiri, demikianlah cerita bergulir. Sebenarnya ia sudah mati sejak dulu ketika dari balik jendela ia harus melihat anaknya mati di medan perang. Jiwanya sudah mati duluan dan kini tubuhnya ikut mati karena tak punya lagi tujuan hidup.

Di dunia lain, makhluk seperti Kasandra dinamakan robot dengan kecerdasan buatan, tetapi makhluk jadi-jadian ini dengan jasad terdiri dari logam, karet, dan minyak mesin ini tak memiliki nama kecuali nama pemberian tuanya—itu pun bukan benar-benar namanya melainkan nama anak perempuan Priam yang sudah lama mati.

Kasandra, begitulah ia dikenal, bergerak seperti manusia tetapi tidak terlalu cerdas. Para pemenang perang yang menemukan Kasandra berdiri di depan pintu kamar Priam yang terbakar.

“Namaku Kasandra, aku anak perempuan Priam,” begitu sosok itu mengenalkan diri kepada Para Pemenang Perang. Tak ayal mereka menyeret Kasandra ke kapal mereka.

Di atas kapal mereka sadar anak perempuan ini tidaklah terlalu cemerlang, tetapi kemudian mafhum barangkali dulu kala permaisuri sedang ingin iseng dengan tukang kebun di taman dan Priam sedang pergi entah ke mana. Akibat perselingkuhan ini maka keturunannya pun tidaklah sempurna. Tetapi setidaknya budak Troya ini cantik, begitulah pikiran Para Pemenang Perang.

Setidaknya, walaupun berbicara aneh, bernapas seperti sedang berusaha menelan kulit kerang, sebagai budak Kasandra dapat menyajikan anggur. Semenjak di kapal pun, Sang Raja Pemenang sebagai kapten kapal dan awaknya suka membawa Kasandra ke pojok yang gelap.

Mereka tertawa-tawa dan mengatakan bahwa perempuan Troya itu bersuara dan bertingkah aneh, tetapi tidak mengapa. Tidak sepenuhnya manusia dan mereka menganggap itulah hasil perkosaan dewa atas manusia. Atau Priam sedang tidak berkonsentrasi ketika meniduri permaisurinya. Atau barangkali anak Priam dengan dayang-dayang atau dengan perempuan udik yang kurang waras. Mereka tertawa-tawa…

 ***
DI dunia ini nama penyakit tersebut adalah sifilis, tetapi di dunia itu mereka menyebutnya sebagai kutukan Dewa Tanah Jauh. Seperti wabah, penyakit itu hampir menghabiskan separuh penduduk kerajaan pemenang. Penyakit itu dibawa oleh budak bodoh dari Troya yang kini menghilang.

Walau sudah banyak persembahan di altar, penyakit itu tak kunjung habis. Sampai pada suatu malam sang permaisuri Raja Pemenang yang cerdas, atau barangkali mendengar suara Dewi Kesembuhan, mengambil obor dan membunuh semua laki-laki dan perempuan yang terkena penyakit itu, lalu membakarnya. Ia yang juga terkena kemudian mencemplungkan dirinya ke api unggun raksasa itu.

Orang-orang bilang sang permaisuri dirasuki setan atau mendengarkan bisikan dewa palsu dan malu sendiri. Ada juga yang bilang permaisuri Raja Pemenang membakar suami dan seluruh orang di istana dibantu oleh selingkuhannya dan para tentara. Mereka disuap dan dijanjikan emas permata hasil jarahan Tanah Jauh jika mau membantu melakukan kudeta. Namun kemudian si selingkuhan malah memperdaya Sri Ratu dengan melemparkannya ke dalam api dan ia lari dengan para tentara dan harta kerajaan.

Seperti wabah, gunjing berkembang biak dengan cepat. Merambat di udara dan berpecah seperti serbuk sari ditiup angin. Masing-masing dengan cerita sendiri-sendiri. Dan orang-orang pun melupakan budak bodoh yang dibawa dari Tanah Jauh. Yang kabur menghilang membawa penyakit itu.

Tetapi di dalam gua dekat hutan, tak jauh dari Kerajaan Para Pemenang, di dalam ceruk yang gelap, ia tinggal di sana. Dalam kegelapan dan dingin. Denyut napasnya berkurang, hangat tubuhnya berkurang, tetapi ia masih hidup. Berada dalam keadaan tidur panjang tanpa mimpi untuk seribu tahun ke depan, dengan botol-botol kecil di dalam dirinya berisikan wabah-wabah yang diciptakan Priam. Orang mengenalnya dengan sampar, sifilis, gonorea, ebola, zika, hanta.

Berbeda dengan Pandora yang juga membawa sepercik harapan dalam kotaknya, maka makhluk ini hanya membawa pesan dari tuannya.


Dinar Rahayu lahir di Bandung 9 Oktober 1971. Kumpulan cerpennya berjudul Lacrimosa (2009). Ia juga menulis novel bertajuk Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (2002).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dinar Rahayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi Sabtu - Minggu 15 - 16 Juli 2017 

0 Response to "Kasandra"