Laci Kesedihan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Laci Kesedihan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Laci Kesedihan

MIRA teringat kata-kata ibunya, suatu saat jika kesedihan mendatangimu, pejamkan matamu lekat-lekat. Lalu ambilah kesedihan itu dari dadamu dan letakkanlah ke dalam laci yang tak kau pakai di rumahmu. Bisa laci di bawah meja, atau laci dalam lemari, atau laci apa saja yang jarang kau sentuh. Biarkan kesedihan itu bersemayam di sana. Jangan kau ganggu gugat. Sampai kesedihan itu lenyap dimakan waktu.

“Bagaimana cara meletakkannya, Bu? Apakah seperti meletakkan pakaian usang yang tak dipakai lagi?” tanya Mira waktu itu.

“Ya, kesedihan memang pakaian yang tak perlu kau pakai berlama-lama. Maka, singkirkan saja ia. Pejamkan saja matamu. Lalu masukkanlah kedua tanganmu ke dalam laci yang terbuka itu. Rasakan saja, setiap kesedihan itu mengalir dari dadamu, melalui tanganmu, dan mengucur ke dalam laci itu. Jika kau harus menangis, menangislah. Ketika kemudian kau rasakan hatimu sedikit ringan, berarti kesedihan itu telah berpindah dari tanganmu ke dalam laci itu.”

Dulu, ibu Mira sering sekali bersedih hingga di rumah banyak sekali laci kosong tak terpakai. Pasti ibu sengaja menggunakan laci-laci itu untuk menyimpan kesedihannya. Jadi laci-laci itu tak benar-benar kosong. Ada kesedihan ibu di dalamnya.

Mira punya seorang ayah, hanya saja, ibu tak pernah memberi tahu ayah soal laci-laci kesedihan itu. Ayah juga jarang sekali menyentuh laci-laci itu. Ayah tak punya banyak alasan untuk menyentuh lemari-lemari, meja-meja, atau bahkan laci. Setiap ayah butuh pakaian atau sesuatu, selalu ibu yang menyiapkannya sehingga ayah tak perlu repot-repot membuka lemari di mana laci kesedihan ibu meringkuk di dalamnya.

Ayah datang ke rumah setiap dua hari, dua hari berikutnya ia tak pulang, dan lalu pulang setelah dua hari ia tak pulang.

Ibu bilang, “Ayah harus bekerja dan mengurus orang lain seperti mengurus kita setiap dua hari.”

Mira juga merasa heran, menurut Mira, bukan ayah yang mengurus Mira dan ibunya, tapi ibu yang mengurus ayah dan Mira. Tapi sudahlah, Mira tak mau memikirkan itu panjang-panjang. Ia takut bingung, meski sebenarnya Mira sudah bingung. Karena ayah-ayah teman Mira tak perlu tak pulang untuk mengurus orang lain selama dua hari.

Setiap dua hari tanpa ayah itulah, Mira sering melihat ibunya termenung di kursi dapur atau meja makan. Atau kadang di bibir ranjang. Sebelum akhirnya mendatangi laci-laci yang tak terpakai untuk menuntaskan tangis di hadapannya. Mengalihkan kesedihan dari tangannya. Agar berpindah ke dalam laci-laci malang itu.

Setelah bertahun-tahun terlewat, dan usia Mira beranjak matang, Mira lekas memahami bahwa ayah memiliki dua perempuan dan dua anak dari dua perempuan. Perempuan pertama adalah ibu Mira yang melahirkan Mira, dan perempuan kedua adalah perempuan lain yang juga melahirkan anak lain yang bukan Mira. Barangkali ayah seperti seekor serangga, kupu-kupu, atau mungkin capung, atau mungkin kumbang, yang harus memiliki sayap sama di kiri-kanan. Sayap pertama dan kedua. Sayap yang harus sama-sama diurus secara adil. Ya, barangkali memang begitu seorang laki-laki. Ia takkan bisa terbang hanya dengan sebilah sayap. Ayah takkan bisa terbang jika hidup hanya dengan ibu Mira. Tapi Mira tetap saja bingung. Bahkan, sampai ibu akhirnya meninggal karena serangan jantung—menurut Mira, ibu meninggal karena kesedihan yang turut bersarang di jantung, bukan serangan jantung, Mira tetap saja bingung memahami ayah.

Setelah ibu meninggal, Mira tinggal serumah dengan ayah dan perempuan itu, perempuan ayah yang selain ibu. Tentu saja perempuan itu berbeda dengan ibu. Meski perempuan itu tak pernah memarahi Mira, Mira tahu perempuan itu dan anak perempuannya tak pernah menyukai Mira. Sebagaimana Mira tak pernah menyukai mereka. Memangnya siapa yang bisa menyukai anak dari perempuan lain yang merebut ayah dari ibu? Memangnya siapa yang bisa menyatukan dua sayap yang ada di kiri dan kanan?

Setiap kali waktu makan tiba, ayah benar-benar seperti kepala seekor serangga. Meja makan itu berbentuk persegi panjang. Ayah duduk di salah satu ujung, menjadi titik pusat, sedangkan Mira di sebelah kanan ayah, dan perempuan itu serta anaknya duduk di sebelah kiri ayah. Seandainya ibu Mira masih hidup dan duduk persis di sebelah kanan ayah, sejajar berhadap-hadapan dengan perempuan itu, barangkali ayah langsung bisa terbang karena sayap-sayapnya telah lengkap. Membayangkan itu, Mira teringat ibunya hingga kesedihan itu mendatanginya seperti angin dingin yang tiba-tiba mengusap kulit, lalu meresap ke pori dan membekukan sesuatu yang ada di dalam, membuat sesuatu itu sesak sampai air mata pecah dan meleleh di pipi Mira.

Pada saat-saat seperti itu, Mira lebih banyak menundukkan kepala, sebelum menyendiri di kamarnya dan berdiri di depan laci yang terbuka lebar di bawah meja belajarnya. Ayah sering datang ke kamar Mira untuk mengusap pundak Mira dan bertanya ada apa? Tapi Mira lebih suka bungkam. Oh, betapa lelaki ini tak pernah bisa memahami sayapnya sendiri, sayapnya sebelah yang tinggal satu, pikir Mira dengan mulut terkatup rapat. Sepertinya Mira juga tak bisa menyukai ayahnya seperti anak-anak lain menyukai ayahnya. Entah mengapa. Terkadang Mira berpikir bahwa ibunya meninggal lantaran ayahnya sendiri.

Ayah menduakan ibu dan ayah menduakan Mira. Itu yang terjadi. Mira tak bisa menahan rasa sesak di dadanya setiap kali melihat ayah memeluk perempuan itu, bersenda-gurau dengan anak itu. Ayah sering mengajak perempuan itu dan anaknya keluar untuk jalan-jalan dan bersenang-senang tanpa Mira. Ayah memang selalu menawari Mira untuk ikut, tapi tatapan kedua perempuan itu selalu mengatakan begini, “Menyingkirlah! Kehadiranmu hanya akan merusak kebahagiaan kami. Merusak kebahagiaan kami.” Dan ayah juga tak pernah memohon Mira dengan sungguh-sungguh, agar Mira benar-benar ikut. Semua hanya basa-basi. Seolah ayah juga senang kalau Mira tidak ikut. Kalau ayah mau tahu, hati Mira sakit sekali. Hancur. Barangkali seperti itulah hati ibu dulu, ketika dua hari ayah rutin menghilang.

Mungkin ayah tampak berusaha berbuat adil, tapi sungguh, di dunia ini tak benar-benar ada perempuan yang sudi diduakan. Sehingga adil itu nyaris tak pernah ada. Bahkan seandainya ibu Mira seorang malaikat, ia akan tetap merasa sedih ketika lelakinya menemui perempuan lain untuk berusaha berbuat adil. Mira tahu, selama hidup bersama ayah, ibu hanya menyembunyikan kesedihan itu dari ayah dan meletakkannya di dalam laci. Hingga ayah tak pernah sadar bahwa ibu mati karena kesedihan itu. Kesedihan yang terlalu banyak hingga laci-laci di dunia ini sekalipun tak akan cukup untuk menyimpan kesedihan itu. Ya, sebab itu ibu mati. Dan yang ayah tahu soal ibu hanya, bahwa ibu adalah seorang perempuan yang baik lagi penurut, tegar dan tak banyak menuntut. Dan Mira, ia benar-benar tak mau mati seperti ibu.

Tinggal serumah dengan ayah dan perempuan itu dan anaknya, bagi Mira sama artinya dengan meramu bunga-bunga kesedihan. Laci di lemari Mira rasanya sudah tak cukup untuk menyimpan kesedihan itu. Laci di bawah meja belajar Mira juga sudah penuh oleh luapan kesedihan. Bahkan kamar Mira terasa sesak oleh kesedihan yang meluber dari waktu ke waktu. Sudah tak cukup lagi.

Malam itu, ketika ayah dan perempuan itu dan anaknya pergi bersenang-senang, Mira memilih untuk memulai hal baru. Ia ingin bangkit. Ia ingin terbang bebas seperti serangga. Ia ingin pergi dan terlepas dari setiap kesedihan yang membelenggunya. Kesedihan itu harus dilenyapkan. Laci-laci itu harus disingkirkan dan diisi dengan sesuatu yang lain. Dan Mira sudah mengisinya.

Sepaket kosmetik lengkap dan sebuah cermin mungil telah mengisi kemurungan laci itu. Beberapa helai baju dan majalah-majalah perempuan juga telah mengisi laci-laci lain. Dan Mira telah siap. Malam itu, Mira memoles wajahnya. Gurit cantik yang tersembunyi itu semakin nyata. Lipstik merah muda itu telah membuat bibir Mira tampak penuh. Dan bayangan mata yang ia oleskan di sekitar mata itu membuat mata Mira tampak tajam seperti dua cahaya yang takkan pernah padam.

Malam itu, Mira ingin menjadi serangga betina yang terbang bebas dengan ribuan sayap di sisinya. Ribuan sayap yang terbuat dari helai-helai kesedihan yang diperam begitu lama dalam laci-laci di kamarnya.

Malang, 2016

Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 29 - 30 Juli 2017 

0 Response to "Laci Kesedihan"