Marabunta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marabunta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:07 Rating: 4,5

Marabunta

KENANGAN seringkali merapuhkan hati. Sepuluh tahun sejak kepergian kakek, tidak lagi kunikmati aroma asin laut di Kali Mas, wangi hio di Sampho Kong, gurih cakue di Pecinan atau aroma manis gurih kuah lumpia di Pandanaran. Sebuah iklan baris di halaman belakang koran pagi membuatku seperti tersedot pusaran kenangan itu: Dicari! Freelancer untuk pekerjaan di Semarang. Hub. 081XXXX999

Iklan singkat itu seketika membiangkan ribuan pijar. Lahan basah yang menyemaikan kecambah di kepalaku. Tetapi, hal kedua, yang membuat aku tertarik pada iklan itu, adalah fakta: sudah enam bulan aku menjadi pengangguran. Rindu masa lalu hanyalah pelengkap penderita.

Maka, di sinilah aku. Duduk di dekat lengkung jendela, memesan kopi susu yang mereka beri nama latte macchiato, dan menunggu. Kulepaskan diri dari riuh bising lalu lintas, menyerah pada rengkuhan bangunan bergaya Spanish Colonial yang anggun. Sebuah pesan pendek berdecit: Seorang lelaki akan menemuimu.

Saat tengah kunikmati minumanku, lelaki berwajah cemerlang berjalan menuju mejaku. Tanpa ekspresi, ia duduk di hadapanku.

’’Seberapa baik kau mengenal Kota Semarang?” Suaranya pecah di antara komposisi musik jazz tanpa vokal, The Shadow of Your Smile.

’’Separo dari hidup saya tertambat di sini,” jawabku asal. Pria itu menatap wajahku telak, seperti hendak mengaduk-aduk isi kepalaku. Namun...

’’Apa yang paling kau takutkan dalam hidup?” Kembali ia bertanya. Banyak jawaban sudah kusiapkan di tenggorokan, namun yang berhasil keluar dari bibirku hanya: ’’Kemiskinan.’’ Pria tampan itu tersenyum.

’’Pekerjaan ini rumit. Butuh waktu lama. Dan mengandung risiko.’’

’’Senyampang uang bisa menjadi alasan, segalanya akan menjadi mungkin.’’ 

’’Bayaranmu seratus juta.’’ 

’’ Tidak buruk.” Bagaimana mungkin aku setabah ini mendengar kabar seratus juta. Tidak menjerit atau meloncat kegirangan. Layaknya pembunuh bayaran, kurasa sikapku sangat tenang. Profesional. Lelaki tampan itu mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana, menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat. ’’Ini sebagai tanda jadi.’’ Begitu saja ia memungkasi perjumpaan ini. Sangat efisien. Kami berpisah dan hatiku tertindas jejak hijau, sehijau lapangan bola yang baru saja dilindas mesin pemotong rumput. Segar. Aromatik.

Semalaman mendekam dalam kamar Hotel Pelangi Indah aku gagal memejam. Pikiran terakuisisi oleh pertanyaan tentang siapa lelaki tampan itu serta apa yang harus kulakukan. Tetapi enam bulan tanpa pekerjaan adalah neraka. Begitulah suara hatiku berperang sendiri. Jadi, apa pun pekerjaan itu, seratus juta layak diperjuangkan.

Fajar baru saja menetas, ketika sebuah pesan pendek berkata: ’’ Temui seseorang di gedung yang dijaga semut raksasa.’’ Demikianlah, kusibak pagi yang basah oleh embun. Berjalan kaki dari Hotel Pelangi Indah menuju gedung Marabunta. Kakek menyukai gedung itu dengan alasan romantis. Di situlah tempat kakek bertemu pertama kali dengan nenek. Cinta bersemi di gedung tua, kata romantis tak cukup mewakili.

’’Gedung ini dulu bernama Schouwburg. Di sinilah keluarga priyayi dan kompeni menghabiskan akhir pekan bersama keluarga sambil menikmati pertunjukan balet, komedi, atau orkestra.’’ Setiap mengisahkan itu, cahaya terbit dari sepasang mata kakek yang kelabu.

’’ Temukan perempuan yang diabadikan dalam lukisan kaca.’’

Aku mencari pintu masuk yang terdiri atas kaca-kaca patri berhias lukisan. Kemudian terpaku pada sepasang kaca patri dengan lukisan penari balet dan bulatan merah di atas kepala. Matahari.

’’Margaretha Geertruida Zelle.’’ Kukirim gambar dan keterangan foto. ’’Apa yang kau tahu tentang dia?” 

’’Setara dengan Madonna atau Evita Peron. Selalu ada perempuan dengan ambisi luar biasa untuk menaklukkan dunia.’’

’’Menurutmu dia apa? Penari? Pelacur? Matamata?” 

’’ Tergantung angle yang kita gunakan.” ’’Apakah menurutmu garis keturunannya masih ada?”

’’Anak laki-lakinya meninggal di Sumatera ketika masih bayi. Anak perempuannya meninggal di Belanda pada tahun 1919 karena radang otak.”

’’Sejarah tidak selamanya seperti apa yang kau baca. Matahari memiliki seorang cucu perempuan dari Jeanne Louise.’’

’’Louise meninggal dalam keadaan belum menikah.’’

’’Situasi politik saat itu tidak memungkinkan. Demi keamanan, keluarga memutuskan untuk merahasiakan kelahiran sang cucu.”

’’Saya tidak percaya negara maju dapat membohongi publik.’’

’’Fakta yang benar adalah: Louise, anak perempuan Matahari, meninggal karena preklamsia. Bayi itu selamat, bersama ayahnya yang tak lama meninggal dalam sebuah perang. Ia dijaga oleh pengasuh yang setia pada sang kakek, Rudolph Macleod. Namanya Bernadette. Ia hidup berpindah-pindah antara Belanda, Paris, Indonesia, India, untuk menelusuri sejarah neneknya.” 

’’Matahari terlalu besar untuk dibuatkan opera sabun.” 

’’Bayaranmu mahal. Inilah tugasmu. perempuan berambut kelabu di tangga balkon Marabunta akan membantumu.” 

Seketika aku menoleh ke arah tangga setengah melingkar yang menghubungkan hall dengan balkon. Seorang perempuan berusia 60-an mengenakan shack dress berwarna hijau segar berdiri menunggu. Aku menghampirinya. Tepat dua anak tangga di bawahnya, aku berhenti. 

’’Bernadette was de naam van mijn moeder. Hij reisde de hele wereld naar landen die ooit bewoond door mijn oma, Margaretha . Hij stelde een boek dat niet werd voltooid tot aan de dood.” (Bernadette adalah nama ibu saya. Ia berkeliling dunia ke negara-negara yang pernah ditinggali oleh nenek buyut saya, Margaret. Dia menulis sebuah buku yang tidak selesai sampai ajalnya tiba). 

Jadi perempuan ini anak dari Bernadette, sekaligus cicit dari Matahari? Jika benar, maka dunia telah tertipu. 

’’Namaku Margaretha II. Bernadette, atau ibuku, menikah dengan lelaki Semarang, melahirkan aku dan kakak lelakiku. Mereka bercerai saat aku berusia dua tahun. Mama membawa aku kembali ke Belanda, menikah lagi dengan pria Belanda sambil melanjutkan buku biografi itu: Blood Line of Matahari. The Untold Story.” Perempuan itu melangkah turun perlahan, lututnya terlihat tidak sehat. ’’ Tugasmu adalah menemukan kakakku.’’ Perempuan itu menyerahkan amplop cokelat besar. ’’Ini ada sepuluh juta lagi buatmu.’’ 

’’Jika mereka kutemukan?’’ 

’’Kau akan menerima tiga puluh juta lagi.’’ 

’’Kenapa tidak seluruh pembayaran?’’ 

’’Karena masih ada tugas selanjutnya.’’


***
HINGGA pagi berikutnya aku masih terjaga dengan kabel-kabel menyala. Sebuah kesadaran tiba-tiba meletus dari kepalaku. Berkas dalam amplop ini menyesakkan dadaku. Foto-foto lama yang tidak asing, wajah yang melekat di kepalaku. Benang kusut itu akhirnya terkuak selapis demi selapis. Sebuah pesan kulayangkan:

’’Aku menemukan puzzle yang Anda maksudkan.’’ 

’’Marabunta. Lunch time.” Membayangkan angka tiga puluh juta akan kuterima siang ini serta tagihan kartu kredit dan cicilan apartemen, membuatku bergegas melesat. Perempuan berambut kelabu itu sudah di sana. Tersenyum kaku namun wajahnya cerah. Dia sendirian, berdiri menyandar pada sebuah sisi tangga menuju balkon. Sambil mengacungkan amplop di tangannya, ia berkata: ’’Temukan kakak mamaku.’’ 

’’Sudah saya temukan. Anda menghendaki dipertemukan?’’ ’

’Kaulah yang akan menemuinya.’’ Perempuan itu mengulurkan amplop cokelat dengan wajah dingin, tidak seperti kemarin. Ketika aku tak kunjung menerima amplop itu, dia maju selangkah menuruni tangga. Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Sambil menahan rasa gatal di dadaku, kuterima amplop itu dengan selapis curiga. Uang 30 juta tak seharusnya seberat ini. Dengan penasaran kubuka di hadapannya. Holly shit!! Uang merah tiga ikat sesuai janji dan sebuah pistol!! Perempuan berambut kelabu itu tersenyum dingin.

’’Temukan dia dan gunakan pistol itu. Kemudian kau akan menerima bayaran sisanya.’’

Jemariku bergetar. Gasing di kepalaku berputar cepat. Gemuruh di dadaku meletup. Bagaikan lava hendak meluap ke muka bumi, rasa marahku tak terbendung. Kuraih pistol itu, lalu mengaturnya dengan sederhana. Perlahan kuarahkan moncongnya lurus ke arah perempuan berambut kelabu. Tiba-tiba suara letusan pistol mengenai dadanya, sedangkan aku belum menyentuh pelatuk sama sekali. Perempuan itu roboh di tangga. Spontan aku menoleh ke belakang. Tepat di belakangku, lelaki tampan itu berdiri dengan pistol masih di tangannya. Darahku berhenti mengalir. 

’’Ayo segera kita tinggalkan tempat ini.’’ Ia berjalan mendahuluiku setelah memasukkan pistol ke dalam saku dalam mantelnya. Pistol di tanganku segera kumasukkan ke dalam amplop, bergegas mengikutinya.


***
KAMI duduk berhadapan di Spiegel Bistro. Ia memesan jus mangga. Aku hanya es teh sedikit gula untuk meredam dentam jantung. Saat kami mereguk minuman separo gelas, suara sirine ambulans dan mobil polisi meraung-raung. Pasti telah ditemukan tubuh berlumuran darah itu. Tanganku membeku oleh cemas dan ketakutan. Pasti polisi segera menangkap kami. Wajahku akan menyebar di berbagai media dengan status: pembunuh!

’’ Jangan cemas,” suara lelaki tampan itu menghentikan debarku. ’’Aku sudah mematikan CCTV di gedung itu.’’ ’

’Mengapa?” 

’’Karena aku sudah menduga Magaretha II palsu akan melakukan itu. Dia akan memberimu pistol untuk membunuh target, yang notabene adalah salah satu ahli waris Matahari.” 

’’Palsu?” 

’’ Ya, dia telah membunuh Margaretha II asli. Mereka mirip, dan kemiripan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perempuan itu bernama asli Ludwina. Ahli sejarah dari Universitas Leiden yang membantu Margaretha II menyusun buku.’’ 

’’Dan kau...?” 

’’Aku Edward, staf pengacara yang menangani perihal warisan Tuan Rudolf McLeod.”

Sekarang tubuhku benar-benar beku. Haruskah kukabarkan kepada ayah bahwa kami adalah garis darah Matahari? ***

Wina Bojonegoro, pengarang Surabaya. Bukunya yang sudah terbit, Moonlight Sonata, The Souls, Episode Surat Kejantanan, dan Negeri Atas Angin.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wina Bojonegoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu  23 Juli 2017

0 Response to "Marabunta"