Mbah Nu Menangis Tersedu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mbah Nu Menangis Tersedu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Mbah Nu Menangis Tersedu

INNALILAHI wa’innailahi rajiun! Telah meninggal dunia dengan tenang....” 

Dengan saksama dia dengar pengumuman berita duka dari pengeras suara musala kampung. Kata demi kata dia cermati sungguh-sungguh. Ketika suara penyampai berita menyebut nama, dia menghela napas panjang, sebelum mengembuskan dengan kuat. 

“Ternyata kamu dulu yang dipanggil, Met,” gumam Mbah Nu berkalikali. Gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Air mata bahkan meleleh di pipi. 

Siapa pun di kampung itu tahu mengapa setiap kali mendengar siaran berita duka dari musala, Mbah Nu selalu begitu; bergumam berkalikali, sebelum berurai air mata. Usia Mbah Nu kini 79 tahun. Usia yang tergolong istimewa. Sembilan tahun di atas rata-rata harapan hidup orang negeri ini. Apalagi pada usia itu kesehatannya relatif masih baik. Badannya masih kekar dan bugar. Hampir semua indra, kecuali penglihatan, masih berfungsi sebagaimana mestinya. 

Di kampung, Mbah Nu orang paling tua. Semua teman segenerasi sudah meninggal, sehingga tak ada lagi kawan sebaya yang bisa diajak ngobrol, membunuh waktu. Slamet, yang lima tahun lebih muda, sore tadi meninggal dan beritanya barusan dia dengar. 

Mbah Nu kesepian. Darsih, anak tunggal yang hidup serumah, sudah sakit-sakitan. Asep, sang menantu, selalu pulang malam. Pekerjaan sebagai pedagang keliling memaksa dia menghabiskan banyak waktu siang hari dalam perjalanan. Situasi itu membuat Mbah Nu merasa begitu sulit melupakan Mbah Mur, almarhumah istrinya. 

“Kelak bila tiba saatnya dipanggil Allah, semoga aku lebih dulu, Mbah!” kata Mbah Nu, suatu petang, ketika dia dan Mbah Mur dudukduduk di beranda, usai mendengar kabar kematian salah seorang tetangga yang disiarkan dari musala. 

“Kok begitu, Mbah?” tanya Mbah Mur sembari mengupas pisang rebus kesukaan Mbah Nu. 

“Karena hidupku sangat bergantung kepadamu, Mbah.” 

“Lo, aku pun begitu. Aku juga bergantung pada sampean.” 

“Kukira tidak sepenuhnya begitu. Benar, kita memang saling bergantung. Namun bila ditimbang, bobotnya jauh lebih berat ketergantunganku kepadamu, Mbah.” 

Mbah Mur menyodorkan pisang rebus yang sudah terkupas pada suaminya. Petang itu hanya mereka berdua di rumah. Darsih sedang tetirah ke rumah mertua. Beberapa bulan terakhir ini kesehatannya menurun. Penyakit TBC membuat keadaannya bertambah parah. 

“Saya atau sampean yang nanti kepundhut dulu, kita serahkan sepenuhnya pada Allah, Mbah,” ucap Mbah Mur sambil beranjak, membawa gelas yang tinggal berisi endapan ampas kopi ke dalam rumah. 

Sekalipun Mbah Nu setuju ucapan istrinya, dalam hati dia berharap dialah yang kelak lebih dulu dipanggil Allah. Dia tidak sanggup membayangkan, pada usia senja, hidup sendirian, tanpa Mbah Mur di sisinya. Namun Mbah Mur ternyata lebih dulu dipanggil Allah, meninggal mendadak akibat serangan jantung. 

Tak alang-kepalang dukacita Mbah Nu. Sang istri pergi selamanya tanpa didahului pertanda apa pun. Berbulan-bulan dia larut dalam kesedihan. Mbah Nu tak doyan makan. Badannya kurus dan layu. Nyaris setiap saat dia berdoa sambil menangis. Berdoa, memohon Allah segera memanggil, menyusul istrinya. 

Pagi, siang, sore, malam, Mbah Nu menunggu panggilan itu. Manakala yang ditunggu tak datang juga, dia pun putus asa dan kehilangan akal sehat. Beberapa kali Mbah Nu bertindak nekat. Sekali dia gantung diri. Gagal, sebab tali yang mengikat leher putus. 

Sekali waktu, dia menghilang beberapa malam, sebelum ditemukan tertidur pulas di samping kuburan Mbah Mur. Terakhir, ketika mengantarkan jenazah seorang tetangga ke pemakaman, tiba-tiba Mbah Nu menjatuhkan diri ke liang lahat. 

Tak pelak, orang sekampung geger. Ada yang iba, ada yang terharu, bahkan tak sedikit yang tertawa tertahan. Aneka perasaan yang sama mungkin dialami sebagian warga kota lain yang membaca koran atau menonton televisi yang memberitakan perbuatan nekat Mbah Nu. 

Untuk mencegah peristiwa serupa terulang, Pak Darto, ketua RT, mengundang pengurus. Pertemuan itu untuk menindaklanjuti surat perintah Kepala Desa agar pengurus RT segera bertemu keluarga Mbah Nu. Bermusyawarah dengan agenda tunggal, mencari solusi tepat dan terukur - - begitu istilah Kepala Desa -- untuk mengatasi perilaku Mbah Nu. Menurut info bocoran dari Kepala Desa, pemberitaan soal Mbah Nu di koran dan beberapa stasiun televisi membuat Camat dan Bupati tidak nyaman hati. 

“Bapak-bapak, para petinggi kabupaten dan Kepala Desa khawatir, kalau tidak segera kita hentikan, kelakuan Mbah Nu akan menjadijadi,” kata Pak Darto. Langsung menyasar ke inti pertemuan. 

Gimana caranya, Pak?” Mas Jum, urusan keamanan RT angkat bicara. 

“Itulah sebab Bapak-bapak saya kumpulkan. Kita bersama mencari solusi.” 

“Bagaimana kalau dipasung saja?” usul Bang Bary, sekretaris RT. 

“Jangan, Bang. Itu tindakan tidak bermartabat dan bertentangan dengan harkat kemanusiaan,” sergah Pak Basuki, bendahara RT, dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.

“Sebelum memutuskan tindakan untuk Mbah Nu, mestinya dalam pertemuan ini dihadirkan pula keluarganya.” Pak Margono, wakil ketua RT yang sejak tadi diam saja, mengemukakan saran. 

“Kepala Desa juga menganjurkan begitu, Pak Mar. Namun siapa yang akan kita undang? Bu Darsih sakitsakitan, suaminya selalu pulang larut malam,” jawab Pak Darto dengan suara seperti mengeluh. 

Sejenak sunyi menjalar di ruang pertemuan. Para petinggi RT 04 RW 02 Desa M terlihat sedang berpikir. Boleh jadi setiap orang sedang mencari gagasan yang tepat untuk dikemukakan. Sepiring pisang molen dan kacang rebus serta teh hangat di hadapan mereka sejenak terabaikan. 

“Bagaimana kalau dibawa ke rumah sakit jiwa?” Suara lantang Bang Bary memecah kesunyian. 

“Iya, setuju!” timpal Mas Jum dan Pak Margono, hampir serempak. 

“Saya tidak sarujuk, Bapak-bapak. Kenapa mesti dibawa ke rumah sakit jiwa? Mbah Nu tidak gila!” tukas Pak Basuki dengan suara pelan, berwibawa. 

“Kalau tidak setuju usul kami, usul kau apa, Pak?” Bang Bary menatap tajam Pak Basuki. Suaranya kering dan getas. 

Pak Basuki menunduk. Sepertinya sedang berpikir keras. Seperempat menit kemudian dia berkata, “Bagaimana kalau kita membentuk tim khusus untuk mengawasi Mbah Ranu?” 

“Tim khusus? Mengatasi masalah sepele begitu saja pakai tim khusus segala, Pak. Lagian siapa mau jadi anggota?” tukas Mas Jum sambil tertawa. 

“Agar bisa lebih dimengerti, sila Pak Bas menjelaskan secara detail,” ujar Pak Darto. 

“Begini, Bapak-bapak. Kita minta pihak desa ikut campur. Maksud saya, kita minta bantuan satu-dua orang hansip untuk mengawasi Mbah Nu. Hansip itu, ditambah beberapa tetangga, kita minta mengawasi segala gerak-geriknya.” 

Malam beranjak. Jarum jam dinding menunjuk angka 12 dan 10. Di luar sepi mengental. Hanya sesekali terdengar suara penjual mi keliling memukul-mukul wajan, menawarkan dagangan. 

“Setuju. Itu cara elok dan aman,” ucap Pak Darto. “Bagaimana, Bapak-bapak?” 

“Yah, kita coba saja,” jawab Bang Bary. Sementara Mas Jum dan Pak Margono hanya mengangguk-angguk. 

Keesokan hari hasil pertemuan dibawa ke balai desa. Tanpa banyak bertanya Kepala Desa menyetujui. Fauzi dan Sugeng, dua hansip desa, ditambah beberapa tetangga Mbah Nu, bersedia mengawasi semua gerak-gerik dan aktivitasnya. 

Kini, sudah hampir satu setengah tahun Mbah Nu ditinggal Mbah Mur. Pada kurun masa itu banyak peristiwa terjadi. Anaknya, Darsih, meninggal. Asep, menantunya, kecelakaan dan nyawanya tak terselamatkan. Dan entah tahu diawasi atau karena hidup sendirian di rumah, kini Mbah Nu terlihat lebih tenang. Hal-ikhwal tentang dia berlangsung normal sebagaimana orang kebanyakan. Dia menghabiskan hari-hari dengan duduk mencangkung di beranda rumah sembari memandang ke kuburan desa. 

Situasi itu membuat orang-orang yang bertugas mengawasi lengah. Suatu pagi yang lembap, sepulang menunaikan salat subuh, orang-orang kampung terkejut oleh berita duka dari musala. 

Innalillahi wa’innailahi rajiun. Telah meninggal dengan tenang Mbah Ranu Wiharjo atau Mbah Nu pada usia 79 tahun. Jenazah akan dimakamkan hari ini, Sabtu, 15 Juli 2017, pukul....” 

Orang-orang yang mendengar kabar itu terperanjat, tidak percaya. Sebab, tadi masih banyak yang melihat Mbah Nu salat berjamaah di musala. Beberapa orang segera bergegas ke rumahnya. Sepi. 

“Mbah Nu tak ada di rumah,” kata seseorang. 

“Siapa tadi yang menyiarkan berita kematiannya?” tanya seseorang yang lain. 

“Tidak tahu! Ayo, kita cek ke musala!” 

Orang-orang bergegas menuju musala. Di sepanjang perjalanan orang yang bergabung bertambah hingga terbentuk barisan panjang, tak beraturan. Derap langkah kaki mereka memecah pagi dan membangunkan orang yang belum terjaga dari tidur. 

Pada jarak pandang sekian meter dari musala terdengar beberapa seruan, “Bukankah itu Mbah Nu?” 

“Ya, itu Mbah Nu!” 

“Ya, benar. Itu Mbah Nu!” 

Seruan menyebut nama Mbah Nu pecah, bersahut-sahutan. Tanpa dikomando mereka mempercepat langkah. Sampai di depan musala terjadi kegaduhan kecil. Orang-orang sertamerta menumpahkan ragam perasaan dengan cara masing-masing. Ada yang beristiqfar, ada yang menyumpah-nyumpah, ada yang tertawa, ada juga yang matanya berkaca-kaca. 

Di ambang pintu musala Mbah Nu duduk mencangkung dan menangis tersedu. Pandang matanya tak lepas tertuju ke kuburan desa. (44) 

Mlati Lor, 2017

 - Mukti Sutarman SP lahir di Semarang, 6 Maret 1956. Puisinya dimuat antara lain di Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Solo Pos, Kedaulatan, Koran Amanah. Dia mendirikan Keluarga Penulis Semarang (KPS) bersama Bambang Sadono (1981) dan pernah menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mukti Sutarman SP
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" 23 Juli 2017

0 Response to "Mbah Nu Menangis Tersedu"