Mencari Imam Mushola | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mencari Imam Mushola Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:15 Rating: 4,5

Mencari Imam Mushola

HAMPIR sebulan. Sejak meninggalnya Pak Maulana Hafiz, mushola sepi. Sebagian warga mengeluhkan keberadaannya.

“Mushola seperti rumah tua tak berpenghuni.”

“Ya, mushola kita itu serupa kendaraan yang teronggok tak bersopir.”

“Kalau memang harus begitu mengkhawatirkan mengapa harus dibangun.”

Sebagai ketua warga, Pak Revolino merasa pikirannya terganggu mendengar omongan masyarakat tentang mushola. Pasalnya. Ia adalah yang berwenang memberi keputusan siapa yang menjadi imam mushola. Lelah rasanya. Bahkan, ketergangguan pikiran itu pernah terjadi setelah pembangunan mushola rampung lima tahun lalu, keluhan warga atas keterlambatannya menentukan seseorang menjadi imam mushola yang tentu juga pengurusnya pun, tersiar di warganya.

Namun, ia lebih banyak diam. Belum bisa menentukan. Hingga akhirnya ia segera menetapkan Pak Ramadan menjadi Imam.

Pak Revolino mengunjungi tokoh yang pernah belajar di Madrasah Aliyah itu untuk diminta menjadi imam di mushola. Tentu semua warga pun setuju. “Sudah, segera! Biar jelas saja imamnya,” begitu kata mereka.

Lalu ia segera mendaulat Pak Ramadan menjadi Imam. Pak Ramadan sempat menolak. Selain suntuk mengasuh anak kembarnya yang baru masuk SD, ia juga harus mengantar jemput istrinya jualan klontong di perempatan kota. “Tidak ada yang siap jadi imam, Pak,” kata Pak Revolino.

Pak Ramadan hanya mencurahkan pandangan. “Buat apa membangun mushola kalau tidak ada imamnya, Pak?” sambut Pak Niko yang menemani Pak Revol.

Keesokannya, ketika melihat Pak Ramadan baru pulang mengantar istrinya, dengan memboncengi kedua anaknya, Pak Niko segera mengejarnya hingga sampai di rumah dan ia menemuinya. Mengerti maksudnya, Pak Ramadan mengatakan, “ Rahmat siap imam, Pak,” begitu ia memanggil Rahmat Sugiarto, salah seorang warganya.

Sore setelah mendengarnya dari Niko, di kali kedua itu Pak Revolino ke rumah Pak Ramadan. Ia tetap memintanya menjadi Imam.

Menduga Pak Rahmat yang lebih aktif di lingkungan warga dalam berbagai kegiatan dan perhelatan apa pun, ia kembali berkata, “Pak Rahmat saja, Pak.”

Pak Revol diam beberapa jenak. Ia meragukannya. Meski pernah belajar di madrasah sore hari sepulang dari SD, ia juga jarang, bahkan tidak pernah mendengar Pak Rahmat yang tinggal di rumah yang bersebelahan dengannya itu membaca Alquran. “Warga sudah sepakat bapak yang mengimami kami di mushola.”

Akhirnya ia pun menerima. Siap meski tetap diam, tak memberi jawaban ketika itu. Setelah Pak Ramadan meninggal akibat kelelahan, dan jantungnya terasa meledak hingga ia tergeletak tanpa tertolong sebelum dibawa ke rumah sakit, Pak Revolino kembali dibuat bingung. Siapa yang menjadi imam.


***
SORE itu masih panas. Matahari barat cerah. Istrinya bergegas masuk ketika Pak Revolino sedang duduk dengan sarung dan peci di kepalanya. Ia baru akan siap melaksanakan sholat asar. “Imam mushola diserahkan ke Pak Maulana saja, Pak.”

Ia tidak segera menjawab. Beberapa hari lalu di antara warga kampungnya yang kecil itu ia sudah mendengar isu laki-laki enam puluhan itu akan menjadi Imam. Lalu, tak ingin hanya isu yang semakin santer, ia segera menemui Pak Maulana. “Saya minta bapak siap menjadi imam.”

Pak Maulana Hafiz diam. “Saya ingin bapak tidak memberi alasan kampung atau lainnya.”

Belum mendapat jawaban, ia pulang setelah memastikan Pak Maulana akan tetap siap. Mengimami warga di mushola. Kemudian ia baru memastikan ketika istrinya meminta lelaki satu-satunya yang bacaan Alqurannya baik itu untuk menjadi imam, “Aku juga menginginkannya imam, Nung.”

“Bagaimana, Pak?” memastikan imam mushola.

Ia mengangguk. “Ya.”

Pak Maulana Hafiz siap menjadi imam mushola. Ia adalah warga kampung sebelah. Tapi, karena mereka membutuhkan, maka ia pun bersiap. Sebelumnya, ia juga menyerahkan kepada Pak Rahmat.

“Aku gak bisa apa-apa, Pak.”

“Tapi, bapak lebih mampu dari warga lainnya.”

“Warga sudah mendukung Bapak,” balas Rahmat.

“Aku bukan warga sini, Pak Rahmat.” Ia beralasan.

“Tidak kenapa, Pak. Sama saja.”


***
SEJAK kematian Pak Maulana Hafiz akibat penyakit sesak napasnya, mushola sepi. Tak ada yang mengimami. Bukan hanya maghrib yang biasa dipenuhi jamaah, setiap waktu sholat sehari semalam pun tak terlihat mushola ramai oleh mereka. Tak ada yang berjamaah. Atau sekadar shalat sendiri. Warga pun belum bisa menentukan siapa yang siap menjadi imam setelah belum juga mendapatkan seorang pun.

Pagi-pagi itu biasanya Nurjanah membicarakan mata pelajaran anaknya sebelum suaminya mengantarnya ke seko lah, ia juga sibuk bicara mushola. “Memangnya tidak ada laki-laki apa di kampung ini!” kesal Nurjanah. Entah ke siapa.

Revolino lebih merapikan buku-buku anaknya yang masih SD dan memasukannya ke tasnya. Bukan hanya warga, atau istrinya, ia juga ingin mushola segera memiliki imam. Apalagi bisa mengajari anak-anak membaca Alquran sembari menunggu waktu isya. Tapi, siapa? “Masa iya orang-orang di kampung ini al-Fatihah saja tidak ada yang bisa!” lagi, Nurjanah bergumam masih dengan nada kesal.

Revolino hanya diam. Tak menghiraukan. Ia lebih mempersiapkan keberangkatan anaknya. Itu tugasnya. Lalu setelah rapi, ia menuju sepeda motor yang terparkir di depan rumah, dan meninggalkannya. Mengantar anaknya.


***
MENJELANG maghrib, Revolino duduk di ruang keluarga. Waktu mulai gelap setelah matahari pelan tertarik ke barat. Tapi, kamar-kamar rumahnya terang oleh lampu yang sudah terpasang.

“Pak… mushola harus segera memiliki imam,” kata Nurjanah yang baru saja mengambil air wudu.

“Tapi, keputusan imam itu keinginan warga juga, Nung.” Begitu ia memanggil Nurjanah, istrinya.

“Sampai kapan mereka menentukan seorang imam.”

“Sampai dapat.”

“Ya, kapan. Hampir sebulan mushola sepi.”

“Kita tunggu saja.”

“Bapak biasanya menentukan sendiri kan.”

Ia diam. Seakan tak menghiraukannya.

“Aku ingin warga di sini yang menjadi Imam.” Istrinya masih berdiri, memakai mukena akan sholat.

Ia kembali dibuat bingung. Siapa? Tanya hatinya. Pak Rahmat? Ia tak pernah menawarkan dirinya siap menjadi imam. Tapi, pantas atau tidak ia imam? pikirnya.

Namun, tanpa disengaja, ia pernah bertemu Pak Nikodi warung Pak Ramadan yang dikelola anak sulungnya, Rizki. Ia hanya mendengarkan ketika mereka mengatakan ingin secepatnya ada yang jadi imam di mushola. “Siapa, Pak,” tanya Rizki.

“Dari kampung kita saja.”

“Warga yang harus memintanya, Pak.”

“Ya, meski bacaannya tak bagus-bagus bangat,” kata Pak Niko.

Revolino hanya diam. Tapi, belum mengerti siapa yang mereka maksud, hatinya bertanya-tanya. Siapa…? Pertanyaan itu terus mengusik pikiran. Hingga istrinya juga menyarankan imam dari warganya.

“Siapa yang siap, Nung.”

Tanpa menuju kepada siapa pun, Nurjanah berkata, “Ya, Allah, Pak, kalau saya jadi laki-laki ni…” Ia menuding ke dirinya. “Saya sudah siap menjadi imam.”

Revol tersenyum. Memandanginya dengan senang atas perkataannya.

“Dari pada sepi begitu. Mushola seperti tak terurus.” Ia juga memandanginya.

Lalu Revolino mengalihkan pandangan ke setiap kamar yang pintunya terbuka. Ke ruang keluarga. Ruang yang juga untuk shalat. Lalu ia berpikir. Ia menduga Nurjanah menunjuk seseorang dari warganya yang lebih mampu menjadi Imam.

Memang itu yang ia inginkan. Mengapa tidak sejak kematian Pak Ramadan, atau bahkan sejak dibangun mushola ia berbicara denganku seorang imam mushola, hatinya.

Ia mengerti. Banyak warga meragukan Rahmat sebagai Imam. Namun, ia juga mengingat beberapa hari setelah menjadi imam, merasa tak enak badan, Pak Ramadan meminta Rahmat mengimami. Hanya sekali itu saja.

Pak Maulana juga pernah menjelaskan, di akhirat nanti mushola akan menuntut warganya yang tidak mengisi dan menghidupkannya. Maka agar tidak sengsara di akhirat, dengan alasan yang cukup kuat itu, ia bersiap menentukan seorang imam.

Tadinya ia akan shalat di ruang keluarga setelah istrinya sudah siap lebih dahulu. Tapi, perkataan istrinya itu juga mengharuskannya menentukan imam mushola. Ia segera keluar rumah. Menoleh ke kanan-kiri jalan depan rumahnya. Di sepanjang jalan, selain Pak Niko dan Pak Rizki, ia melihat bapak-bapak lainnya. Tanpa mengerti maksudnya, mereka menuruti ketika ia meminta mereka menemani ke rumah Pak Rahmat.

Cibitung, Maret 2016 

Penulis lahir dan menetap di Bekasi. Bekerja sebagai guru. Ia bisa dihubungi di email bangendin@yahoo.com

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Makanudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 30 Juli 2017

0 Response to "Mencari Imam Mushola"