Nama Saya Pahlestina | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nama Saya Pahlestina Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:31 Rating: 4,5

Nama Saya Pahlestina

SAYA bangun terlambat. Bergegas mengenakan baju, bergegas menghabiskan segelas susu, dan bergegas menghabiskan dua tangkup roti sambil berlari ke tepi jalan untuk mencegat bus kota. Membersihkan mulut dan bergelayut di pintu. Membayar dan tak mau beringsut ke tengah meski dioprak-oprak untuk terus masuk. Setelah melewati tujuh shelter dan dua perempatan, pada lampu lalu lintas ketiga bus beringsut terhalang nyala lampu merah: aku meloncat turun untuk menyeberang ke kanan, dan menyeberang lagi untuk memperoleh angkot yang akan langsung lewat di depan kantor—seperti biasanya.

Dan, pada penyeberangan pertama, setelah meloncat turun dari bus, ketika saya baru lima langkah melampaui garis melintasi jalan, sebuah sedan menyambar saya, mengapungkan saya melewati bibir trotoar dan menjerembabkan saya ke dalam luncuran sepanjang empat meter. Mengantukkan kepala pada pagar tembok dan mengapungkan kesadaran ke dalam keremangan yang mendenging. Segalanya jadi samar. Juga ketika lelaki yang datang itu berjongkok di depan saya. Menggoyangkan tangan dan tersenyum licik ketika tangannya terulur ke saku depan celana. Nihil. Ia menarik pantat kanan dan menjulurkan tangannya meraih dompet. Saya merontak akan meraih tangannya. Nihil. Lelaki itu memasukkan dompet saya ke saku celananya. Bangkit.

Berteriak ke arah sedan yang malahan menekan gas setelah susah payah mengerem. Bergerak mengejar—ketika orang-orang berdatangan. Menyeberang. Menyelinap ke gang. Sesaat celingukan dan menarik dompet saya. Meluruskannya. Mengambil uang kontan—setengah dari gaji bulan ini—dan memasukkannya ke saku depan celana. Celingukan. Membuang dompet dan sisa isinya ke tumpukan sampah yang siap diangkat. Lantas berjalan lurus sepanjang gang itu ke ujung yang entah di mana. Saya tahu itu, karena saya telah bangkit dan menguntitnya secara rahasia. Menandai punggungnya yang bagai perahu oleng di laut oleh gerak leher memainkan kepala menengok ke kiri dan ke kanan.

Celingukan. Menyapu wajah orang-orang dengan curiga. Melangkah ringan bagai gerbong kereta diluncurkan di rel yang licin di penurunan. Nun. Dan aku melihatnya mengelok ke gang lain, menerabas ke gang yang lebih lebar, dan mendadak muncul di keramaian jalan besar. Saya berlari memburunya. Tapi di mulut jalan itu saya bertabrakan dengan seorang lelaki dengan baju lengan panjang putih—yang dipasang sepenuh selongsong pipanya—celana panjang putih, dan memakai rompi berwarna merah dengan hiasan lencana bintang Daud di dalam lingkaran. Kami saling tertegun, saling mendelik. “Menyingkir,” bisikku setengah mengancam.

Si lelaki berompi merah dengan hiasan bintang Daud dalam lingkaran itu tersenyum mengejek. Dadanya dibusungkan. Senyumnya menceng mencemooh. Matanya lebih mengejek lagi. “Apa?” katanya. Saya menggerutu. Saya bilang bahwa saya baru ditabrak orang, bahwa saya terguling nyosor di trotoar, bahwa saya setengah pingsan dan lantas dilucuti oleh orang yang memakai baju flanel dengan motif kotak-kotak garis cokelat dan kelabu dengan latar krem—dipakai sebagai jaket untuk menutup kaos putih dengan lambang seonggok bintang berlatar biru di pojok kanan atas dan banyak strip merah dan putih—memakai jeans dan memakai sepatu kanvas berwarna biru.

“Saya akan mendakwanya!” 

“Itu bukan urusanku.”

“Itu urusanku. Minggir!”

“Kamu yang minggir. Minggir!” katanya sambil menolakkan kedua lengannya ke dada saya. Saya tersurut, terseok, ketika ia menabrak saya dengan gerakan gila semacam tank atau buldoser. “Gila!” gumamku sambil membalik dan memperhatikannya melaju. Saya mengacungkan tangan tapi ia cuma melenggang dengan kepala tertengadah menantang dan sekaligus mencemooh. “Sinting!” makiku.

Seseorang—dengan jaket kulit dan punggungnya berhiaskan gambar bidang yang diberi garis silang-menyilang mata angin—menabrak saya dan terus mendudu tanpa mengucapkan kalimat apa-apa. Saya membalik kepada seseorang yang memakai kemeja biru dengan bordir bola dunia dan tulisan UN di saku kemejanya cuma melirik dan melengos ketika saya mengajaknya bicara.

“Ini dunia macam apa? Ini warga macam apa?” gumamku sambil bergerak ke jalanan. Celingukan mencari lelaki kemeja flanel kotak-kotak. Nihil. Hanya orang-orang yang berwajah datar, tanpa minat dan sangat tak peduli yang bergerak ke sana atau kemari, di trotoar, dengan jalanan yang dirambati kendaraan yang melaju atau berhenti untuk parkir—orangnya ke luar, menutup pintu dan menguncinya, lalu jalan tanpa mempedulikan siapa di sekitarnya.

Saya menggeleng-gelengkan kepala. Mengusap ruap keringat. Menggigit bibir. Jalan. Membelok ke gang. Memasuki lorong telantar yang penuh sampah dan bau pesing. Muncul di jalan. Jalan. Belok ke gang ke arah semula. Merasuki gang becek dengan sampah yang berserakan. Melaju. Lurus. Muncul di jalan. Celingukan mencari si flanel. Nihil. Jalan. Celingukan. Tersentak ketika saya melihat sedan biru itu melaju ke sana.

“Hey!” teriak saya. “Hey … kamu!” Sopir di sedan itu menengok ketika seseorang di sebelahnya menjawil dan menunjuk. Mata kami bersipergok. Sedan itu melaju ketika saya berlari mengejarnya. Berlari memburu sedan yang mencuri ke kanan dan mendahului mobil box dengan tulisan Angkasa Inc dan lambang bintang Daud dalam lingkaran. Saya berlari. “Hentikan mobil itu! Hentikan si barbarian itu!” teriak saya.

Tetapi orang-orang cuma melirik dan menatap tanpa mengubah gurat mimik sama sekali. Melengos dan terus berjalan dengan tidak peduli. Saya berteriak memaki tapi mereka seperti boneka timah yang punya daun telinga tapi tak memiliki lubang telinga—terlebih gendang suara, syaraf pendengaran, dan otak kesadaran untuk menyimak. Semua tidak peduli. Saya berlari mengejar sedan itu. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Menubrukkan diri dan memaksa sedan itu berhenti—lantas orang-orang menangkap pengemudinya, menghajarnya, dan membakarnya. Nanti. Tapi bagaimana cara mendahului sedan itu?

Saya berlari ke gang, merasukinya dan berpikiran akan muncul di muka perempatan itu. Nun! Lantas mendudu dan menabrakkan diri sehingga sedan itu ikut terpental. Tersuruk di trotoar. Lalu orang-orang akan menangkap si pengemudi dan menghajarnya—bahkan membakarnya. Nanti—Nun! Dan saya berlari. Meloncat-loncat bagai kijang dalam langkah-langkah panjang. Mengapung dan menutul-nutul bagaikan tay-hiap yang memakai jurus capung di atas kapu-kapu di sungai mengalir. Nun. Merapung. Melayang mengatasi bubungan dan rentangan kabel listrik dan telepon. Menjejak di billboard dan neonsign yang dimatikan. Memandang berkeliling. Hinggap di titik 20 m di hadapan sedan yang melaju itu. Saya membuat ancang-ancang. Saya mendudu dan langsung—bagai bom yang diluncurkan dari pelontar granat dan mengincar menara putar rentan tank baja—menyambut lajunya sedan yang bersiap dibelokkan di perempatan.

Saya tersenyum karena merasa bisa mengagetkannya dengan hantaman bunuh diri yang akan membuatnya dipergoki—sekitar 5 m dari perempatan itu banyak orang berkerumun dan mengelilingi sesuatu, lalu seseorang berteriak dari seberang sambil mengacung-acungkan dompet saya yang dibuang oleh si lelaki kemeja flanel itu—dan seterusnya. Saya berlari, sedan itu membelok dengan bunyi berderit dari rem dan upaya pembelokan yang disengaja. Kami bertemu. Mobil itu berderit dan berguncang memlintir dan berdebum ketika roda menabrak bibir trotoar, lalu berderak ketika pantatnya membanting menampar tiang listrik.

Orang-orang menjerit. Mereka menengok. Lantas berlari ke arah tubuh saya, yang menggelosor setelah terlontar bagai bola kasti dilontarkan dan dihantam pemukul kasti yang digerakkan oleh kontraksi otot tukang tebang pohon. Nyungsep bagai jala yang dilontarkan menutup lubuk. Melebar dan lunglai mengendap akan menangkap ikan yang berenang di kedalaman. Nun dalam remang dan suara yang mendengung.

Saya tersenyum. Orang-orang berdatangan. Saya tersenyum—meski yang tampak seperti seringai sakit—dan membayangkan orang-orang memeriksa saya, lalu berbalik dan menghajar si pengemudi itu. Terbayang bunyi kulit dan daging menerima gegar hantaman kepalan dan kaki—mungkin juga pemukul atau batu. Ya! Dan orang-orang berdatangan. Membalikkan saya dan mengusap wajah saya yang berdarah. Setelah jelas mereka melepaskan raihan di leher.

“Orang ini lagi,” katanya sambil meludah.

“Bubar! Bubar!” kata seseorang yang memakai jaket jeans dan memakai anting-anting sebelah berlambang bintang Daud di kuping kiri. 

“Ini orang gila! Ini orang yang bikin repot dengan bunuh diri,” katanya.

Seseorang yang tadi berteriak dari seberang karena menemukan dompet saya yang dicopet itu datang. Ia memakai kupiah kecil yang mencukup puncak ubunnya dari belakang. Mengacungkan dompet, meluruskannya dan melepaskan KTP saya. “Namanya Pahlestina,” katanya, “Ini alamatnya Barat masjid al-Aqsa …. Alamat apa ini?”

“Memang rada …” kata si lelaki beranting-anting bintang Daud sebelah itu.

Saya menelan ludah. Saya bangkit. Saya mengepalkan tangan. Saya harus berjuang sendiri di tengah warga kota yang tidak peduli. Saya akan memburu si pengemudi itu, menabraknya seperti tongkat bilyar menghantam bola bilyar—sampai semua cerai berai dan tersuruk ke pojok gelap terlupakan. Menubrukkan diri, menubrukkan diri, menubrukkan diri, dan terus menubrukkan diri. Sampai kiamat—nanti—lalu saya akan mendakwanya di hadapan Allah SWT. Mendakwa semua warga kota dan isi dunia yang tak mau tahu dan sok alpa. Nun. []


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 9 Juni 2002

0 Response to "Nama Saya Pahlestina"