Ode #1 - Ode #2 - Ode #3 - Ode #4 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ode #1 - Ode #2 - Ode #3 - Ode #4 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:12 Rating: 4,5

Ode #1 - Ode #2 - Ode #3 - Ode #4

Ode #1

- buat Agustav Triono

Biar saja matari remuk dihantam temaram
Atau pohon-pohon di sepanjang trotoar
Terisak meratapi guguran daun
Buah langit yang kau kupas kulitnya
Menebar puisi beraroma kopi
Pekat tanpa gula mengoyak mata

Agustav dan aku orangnya entah mengapa
Sering alpa mengeja peta buta

“Di mana kau kubur penyair bengal itu?
Dia hutang sekantung keping puisi”

Jadi begini Agustav
Kadang kala malam lebih gurih
Dibanding gelap yang kau sangrai di tungku batu
Atau keringat yang matang di tangkai mimpi
Dan Agustav tenggelamlah kau pada lautan kata-kata
Maka kau kan menjelma Nautilus berlengan seribu
Tinta di otakmu beranak-pinak puisi

Purbalingga, 2017


Ode #2

- buat Rone Yuliar

Mimpi yang kau layangkan saat kuning senja membatu
Kusimpan di kedalaman samudera mataku

Bila purnama pecah berkeping datanglah kemari
Sembari minum kopi akan kuceritakan tentang nabi-nabi
Pembawa pesan bening embun yang selalu terpatri
Di pucuk-pucuk sanubari penghuni bumi

Atau kuceritakan tentang perjamuan penuh muslihat
Seperti pada film-film gangster dan mafia jahat
Atau riwayat para penyair medioker yang pandai menyulap
Tiap tangkap mata menjadi puisi nyinyir dan picisan

Bila keping purnama menjelma kerlip bintang
Mimpimu berkelindan bagai elang bermata jalang
Setajam bilah pedang di padang perang

Aku yang rebah di pundak horizon bianglala
Tenggelam dalam mantra penyihir purba

Purbalingga, 2017

Ode #3

- buat Teguh Purwanto

Pagi-pagi benar kau mencangkul kepalamu
Menebar biji-biji kabut seperti yang menyelimut
Biji-biji tukul tunas-tunas bernas menjaring matari
Tunas-tunas mentas pohon-pohon berdaun gemulai
Daun-daun berhikayat tentang samsara samirana
Tentang aroma fotosintesa penggugah selera
Asmara toya dan gelinjang tanah saling berkisah
Akar-akar menembus bangkai-bangkai terkulai

Di tanah ini kehormatan dikuburkan
Peperangan majnun selepas petang
Sabet pedang, parang dan keliwang
Memburu harta, takhta, wanita
Turangga meringkik selimut duka
Kukila nembang mantra tanpa tanda

Kutitipkan doa untuk pohon-pohon
Pada gerimis yang selalu mekar
Berbuah jutaan galon mata air
Tak lelah menjaga keabadian ardi

Purbalingga, 2017

Ode #4

- buat Guyub Trianto Nugroho

Hitung saja gegaman yang bergelantungan di dinding otakmu
Samurai melengkung mengubahmu menjadi ninja
Seperti pada film kartun yang diputar dari VCD bajakan
Yang ditonton anakmu tiap akhir pekan
Ah itu hanya sebilah parang yang jadi tanda
Betapa hujan lebih tajam dibanding ujung lidah Dursasana
Kau bisa saja berswafoto di balik siluet senja
Seperti pendekar berambut gondrong di buku Khoo Ping Ho
Namun tetap saja kudi yang kau selipkan di sabuk hitammu
Hanya menjadi penutup pusar di ujung buncit perutmu
Aku tetap memandangmu sebagai Bawor yang cablaka
Dengan pisau dapur di tangan kanan dan telunjuk tangan
kiri mengacung
Mengejar ayam lehor yang enggan jadi santapan makan
malammu

Purbalingga, 2017

- Ryan Rachman lahir di Dukuh Kedungtawon, Desa Kuwarisan, Kutowinangun, Kebumen. Kini, tinggal di kaki Gunung Slamet, Dukuh Bukung, Desa Bumisari, Bojongsari, Purbalingga. Bergiat di Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ryan Rachman 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 30 Juli 2017

0 Response to "Ode #1 - Ode #2 - Ode #3 - Ode #4"