Puisi Sederhana - Kita yang Kesepian Takkan Mengerti - Penyair Zaman Kita - Kita Adalah Jarak - Puisi Pendek - Puisi dan Penyairnya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Puisi Sederhana - Kita yang Kesepian Takkan Mengerti - Penyair Zaman Kita - Kita Adalah Jarak - Puisi Pendek - Puisi dan Penyairnya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Puisi Sederhana - Kita yang Kesepian Takkan Mengerti - Penyair Zaman Kita - Kita Adalah Jarak - Puisi Pendek - Puisi dan Penyairnya

Puisi Sederhana

Jika kita kalah malam ini penyairku
Sebelum anjing di langit melolong
Sebelum tikus-tikus merayakan rembulan
Dan kita terus gagal menjadi waktu
Kita harus tunduk dan bunuh diri

Puisi adalah detak jantung
Yang mempercepat malam
Menggiring kesunyian kita
Ke peraduan di mana kita
Menggambar cinta dengan penuh nafsu

Puisi adalah langkah kaki
Yang menuntun jiwa kita
Mengarungi lautan paling dalam
Di sana matanya
Membawa kita kembali
Ke meja-meja kopi
Kepada jendela-jendela hotel
Pada jalan-jalan berembun
Pada kereta terakhir
Yang tiba dari kejauhan subuh
Kepada sajak-sajak ngeri
Kepada nisan-nisan waktu
Di mana kita menemukan rindu
Di mana luka-luka jadi prasasti
Dengan taman bunga kehilangan

Di laut di laut penyairku
Di lautan dalam segelas kopi yang lalu
Kita mungkin menyerah sekali lagi..

Jakarta, 2017

Kita yang Kesepian Takkan Mengerti

Jubah malam merenggut hasrat
Membenamkan kita dalam tiada
Sekan kemarin tiada
Seakan esok tinggal hampa

Kita akan pergi juga
Menjauh dari segala
Entah kenapa kita tiada
Atau malam telah sia-sia

Para pecinta berhenti mabuk
Tapi tiada kuasa merenggut anggur
Dari bibir kekasihnya dahulu
Dan mawar yang ia tanam
Kini jadi belantara hampa

Siapa akan menemukan jalan
Dalam belantara
Mawar tumbuh merekah pada matahari
Kita yang kesepian takkan mengerti

Oh jiwa-jiwa hampa
Malam adalah lelucon paling ngilu
Tentang cinta yang tersesat
Malam adalah leucon paling ngilu
Hanya mungkin bagi mereka
Yang jiwanya penuh lara.

Jakarta, 2017

Penyair Zaman Kita

Para penyair kehilangan lagunya
Para penyair kehilangan bahasa
Para penyair terkapar
Di belantara malam
Di pintu-pintu pagi
Benar-benar tak berdaya

Penyair zaman kita
Benar-benar tak berdaya
Terkutuk oleh hayalannya sendiri
Tak tahu rasanya kebebasan
Menari dalam kesepian
Bercinta dengan bayangan

Penyair zaman kita
Menua dan sia-sia
Benar-benar tak berdaya
Siapa hendak dihiburnya
Setiap orang tenggelam
Dalam keterasingan sendiri-sendiri
Dan penyair tahu nasibnya
Di belantara malam
Dipintu-pintu pagi
Benar-benar tak berdaya

Kita adalah lelucon
Bagi zaman yang semu.

Jakarta, 2017

Kita Adalah Jarak

Mataku terbenam di lautan
Dalam malam yang membosankan

Aku ingin menari aku ingin menunggang kuda
Betapa omong kosong telah begitu lama
Betapa larut untuk menyadari sia-sia

Orang-orang menderita
Orang-orang lupa
Waktu hanya catatan pendek
Dari halaman segala yang pergi

Kita memandang malam
Mendengar anjing melolong kesepian
Suara AC, tikus-tikus resah
Dan kita yang nyaris tak berdaya

Kita pendosa tanpa sebab
Kita menjadi bodoh ketika larut
Kita begitu kecil dan hampa
Kita seperti juga malam
Seperti sepi seperti ombak
Seperti laut—kita menelan
Kesunyian sendiri-sendiri

Kita harus terlahir setiap hari
Tapi kita hampa setiap hari
Kita mahluk fana setiap kali malam

Musik yang mengalun dalam jiwa
Datang dari penjuru kejauhan
Kita selalu dalam jarak
Kita dalam waktu yang berdenting
Menjadi bunyi, lagu, musik
Menjadi kenangan, hilang…

Kita sama dengan segala ketiadaan
Kita hanya meminjam cahaya
Untuk melihat setiap kegelapan
Kita meminjam keindahan
Untuk melihat segala hampa
Kita akan berhenti
Dan saat itu kerinduan menjadi nyawa
Kita kedinginan, seperti berdiri sendirian
Di hadapan lautan
Kita mungkin menyeberangi
Segala yang tak kita tahu di kejauhan
Kita mungkin terhempas
Dan tak satu benang pun
Menghubungkan kita dengan masa silam

Tak satu jiwa pun bebas dari hampa
Apa yang kita punya?

Jakarta, 2017

Puisi Pendek

Ratapku bersama segelas kopi
Tentang malam yang hingar
Tentang nasib kita yang tambah sunyi

Dua dara dengan kaki selembut ombak
Duduk dalam kerapuhan
Ia sepertiku juga
Tak tahu ke mana hendak pulang
Selain menepi pada malam
Dengan lagu-lagu panjang
Tentang hari-hari kelu

Tapi siapa peduli
Kita hanya mahluk asing
Lelah pada zaman
Tapi kita tak lebih
Dari potret diri
Dalam hingar bingar
Mencari jalan pulang
Sementara kita tahu
Di rumah tak siapa menanti..

Jakarta, 2017

Puisi dan Penyairnya

Kita adalah tubuh masa silam
Telah menjadi kenangan
Seperti kereta tua melaju
Ke stasiun terakhir
Tak ke mana-mana lagi

Katakana padaku
Kenapa kau berhenti menulis puisi?
Kita mungkin kalah, tapi tidak puisi
Kita mungkin tak ke mana-mana lagi
Tapi puisi jarak abadi
Dan kita peziarah yang malang

Kau tahu di mana senja waktu itu istirah?
Di mata puisi !

Jakarta, 2017

Sabiq Carebesth, Lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Buku kumpulan sajaknya terdahulu Memoar Kehilangan (2012). Kumpulan sajak terbarunya Seperti para Penyair (2017)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sabiq Carebesth
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 9 Juli 2017

0 Response to "Puisi Sederhana - Kita yang Kesepian Takkan Mengerti - Penyair Zaman Kita - Kita Adalah Jarak - Puisi Pendek - Puisi dan Penyairnya"