Ruang - Pada Akhirnya, Kita Memiliki Jalan Masing-masing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ruang - Pada Akhirnya, Kita Memiliki Jalan Masing-masing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Ruang - Pada Akhirnya, Kita Memiliki Jalan Masing-masing

Ruang

Bangunan-bangunan yang penuh dengan jebakan modern
membuatku tak bisa tinggal berlama.
Kadang aku membutuhkan lagu baru untuk menulis puisi
seperti mencari lukisan baru untuk sebuah rumah
yang begitu mudah runtuh ketika tersiram airmata.
Dengan puisi, aku memang tak bisa berlari seperti harimau
yang mengejar rusa di tengah belantara
karena aku hanyalah kura-kura
yang terperangkap dalam ruang kekuasaan negara ini.
Aku bekerja dan mengabdi pada sebuah ruang
yang dilingkari dokumen untuk kupeluk dan kucintai.
Kepalaku yang menjadi pertaruhan di ruang ini.

Ketika semua melesat di kota ini menjadi cahaya malam
dan jalanan menjadi lebih panjang dari jam 12,
aku hanya bisa berdiri dari kejauhan memandang cafe
dan merasakan betapa hidupku telah sangat jauh tertinggal.
Puisi terlalu sibuk dengan sejarah buku-buku dan moral
hingga melupakan ruang-ruang yang berubah,
dinding-dinding jadi minimalis oleh lelampu
di antara meja yang siap menampung makanan dari manapun.
Ketika itu pula aku ingat pakaian dan parfummu
yang selalu gagal kutebak asalnya,
walau telah ribuan buku dan teori kuhafal di luar kepala.
Semua seolah menguap dari ruang panas kota ini
dengan bangunan yang semakin padat di otakku
menggusur semua ingatan tentang hujan dan pagi.

Aku bernyanyi untuk diriku sendiri di dalam batin,
genangan di selokan mungkin iba padaku,
ia memantulkan sisa bayangan bulan dari masa lalu
yang masih ada di kota ini sebagai yang kukenali.
Tak ada yang bisa membendung tumbuhnya gedung-gedung
dan
jalan-jalan melebar yang dipenuhi beragam undang-undang.
Bila kuterlelap sekejap saja, maka kakiku akan tertatih-tatih
dan tak ada sesiapa pun yang mendengar hujan deras
dari dalam jiwaku yang dingin, namun tak bisa meraung.
Aku melihat diriku tergusur berteriak memanggilku,
namun orang-orang merasakan sebagai nyanyian malam di sebuah
cafe.

Aku melihat diriku di antara mereka melaju ke sebuah ruang
tepat pada jam 12 malam
cahaya bulan mengikutiku sampai di sebuah pintu.
Aku terhenti dan menangis menulis puisi
meminta ampun seolah Tuhan ada di hadapanku
karena aku telah melupakan kota ini
menjadi ruang kerdil untuk binatang.

2017

Pada Akhirnya, Kita Memiliki Jalan Masing-masing

Sebuah jalan yang berbelok dari matamu menuju kebun tembakau
tersisakan dalam segelas teh yang makin dingin dalam dadaku.
Aku duduk menghadap ke barat memandang
betapa kita dipisahkan oleh usia dan asal usul,
tapi senyummu membuatku selalu ingin bertemu.
Maka kutempuh jalan berkabut itu antara PurbalinggaWonosobo
dengan gigil berbukit yang tak usai dilambaikan pepohonan.

Kita bertemu tanpa sebuah kecurigaan.
Dunia yang sunyi menjauh dan mendekat dari waktuku.
Tak ada yang bisa kudengar dari tahun-tahun rontok
dan membusuk di sepanjang tepian sungai.
Selain musim semi yang menumbuhkan rerumputan,
aku juga tak bisa melihat warna rambutmu
dalam terang dan gelap karena kau serupa rembulan jatuh
pada telaga warna. Bahkan, tanganku tak bisa menjangkau
arah jalan dalam takdirmu untuk pulang
atau berdiam dalam candi.

Hanya sebuah cafe yang pernah menyimpan sore kita bersama,
tapi di luar itu kita dikepung kegelapan dengan udara dingin
dan tak ada lagi kata-kata yang dapat mengubah langit.
Ketika kau memanggilku malaikat, aku tak lagi memiliki doa
untuk menahanmu berdiri sebagai patung, atau mengering seperti
kripik.
Kita teranjur dingin seperti mendoan yang tak menyisakan sebuah
rasa
untuk dicecap dalam keabadian.

Jalanmu, jalan berkelok menuju kampung
menjalar pada rambutku dan berguguran setiap saat.
Negara ini tetap menyimpan jalan terjal bagi orang miskin.
Kita tak sempat berfoto bersama sebagai petunjuk kenangan
debar dan detak bebukitanlah yang terasa tiap kali kulewati jejakmu.
Dan aku berbelok ke kiri, menepi
bahwa pada akhirnya kita memiliki jalan masing-masing
yang harus diselesaikan oleh pilihan hidup.

2017

*)Arif Hidayat Lahir di Purbalingga, Januari 1988. Penyair, esai dan dosen tetap di Fakultas Ushuludin, Adab dan Humaniora, IAIN Purwokerto. Bergiat di Komunitas Beranda Budaya. ❑-c

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Hidayat
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 9 Juli 2017

0 Response to "Ruang - Pada Akhirnya, Kita Memiliki Jalan Masing-masing"