Sang Penyair | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sang Penyair Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Sang Penyair

.... Bukankah anjing akan mencuri, 
bila dididik seorang maling? 

SEREMPAK applause seluruh penonton baca puisi di dalam gedung pertunjukan. Fadal Lazuardi, penyair yang bernama asli Suwardi itu turun dari panggung dengan langkah senyap. Wajahnya dingin. Tak melontarkan sepatah katapun ketika sebagian penonton menanyakan makna baris terakhir puisinya yang baru saja dipanggungkan bergaya seorang demonstran. 

Fadal mengumpat setengah berbisik, “Bagaimana negeri yang melahirkan banyak maling ini dapat berubah, kalau orang-orang yang suka menonton penyair baca puisi tak paham simbol. Bagaimana mereka akan turut menjaga kekayaan negeri ini agar tak dijarah anjing-anjing berwatak maling, namun selalu menyebut dirinya sebagai penyelamat rakyat.” 

“Tak sepantasnya kau bilang begitu!” Liztya Maimunah, istri Fadal mengingatkan. “Seharusnya sebagai penyair yang bijak, kau menjelaskan pada mereka tentang makna puisimu itu.” 

“Kalau aku menjelaskan makna yang terselubung di dalam puisiku, tak perlu aku mencipta puisi.” 

“Apa gunanya menjadi penyair, bila bahasamu hanya kau sendiri yang paham? Apa artinya kau berapi-api membaca puisi di atas panggung, bila hanya dapat tepuk tangan, pulang tak membawa amplop? Lebih baik jadi buruh aduk di bangunan. Bekerja konkret dan menghasilkan.” 

Pertanyaan dan merangkap pernyataan Liztya yang melebar ke mana-mana itu dirasakan Fadal melampaui tikaman belati. Karena tak ingin berdebat di depan banyak orang, Fadal membawa istrinya meninggalkan gedung pertunjukan. Sepanjang perjalanan pulang, mereka tak saling bicara. Hanya suara mesin motor butut yang nyempreng. Mengharu-biru suasana malam yang mulai lengang. 

Setiba di rumah, perang dingin antara Fadal dan Liztya masih berlanjut. Manakala Liztya memasuki kamar, Fadal masih duduk di ruang tamu. Menyedu kopi tanpa gula. Mengisap rokok tingwe. Dalam diam, ia merenungkan ucapan istrinya yang sejak mula tak sepakat bila dirinya menekuni profesi penyair. 

Berlarut-larut direnungkan, ucapan Liztya semakin mengganggu pikiran Fadal. Hingga saat ia tertidur, ucapan istrinya itu telah menjelma menjadi hantu dalam mimpi. Mengejar-ngejarnya hingga ke kolong jembatan, ke lambung gua, dan ke sebalik rerimbun awan paling pekat. Sungguh malam itu, ia senasib seorang maling yang diburu-buru anjing gila. 

*** 
BERHARI-HARI Fadal berhelat dengan pikirannya yang berkecamuk. Tak tega melihat Liztya yang bekerja siang-malam sebagai buruh pabrik tekstil untuk memenuhi kebutuhan dapur, Fadal memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan sebagai buruh aduk di bangunan. Melepas profesinya sebagai penyair dengan membakar seluruh puisinya. 

Bosan sebagai buruh aduk, Fadal belajar menjadi tukang batu pada Kasmin. Karena bakatnya, ia menjadi tukang batu. Sesudah tiga tahun menjadi tukang batu, ia menekuni pekerjaan baru sebagai mandor bangunan. Dengan modal yang dikumpulkan, ia menjadi pemborong. Sejak itu, keadaan ekonomi keluarganya semakin membaik. 

Setiap malam Minggu, Fadal yang baru sebulan memiliki Avanza second itu selalu membawa Liztya ke pantai. Mampir ke shopping center. Membeli baju, celana, gaun, beha, celdam, hingga sepatu bermerek. Mampir di restoran termewah untuk menikmati hamburger, sosis, dan fried chicken yang tak pernah dirasakan semasih menekuni profesinya sebagai penyair. 

Habis mengantar istrinya pulang, Fadal melajukan Avanza second-nya ke kafe. Ngobrol bersama bos-bos pengembang. Berkaraoke bersama gadis-gadis lacur papan atas. Pulang sesudah teler berat. Tidur mendengkur serupa babi. Sampai lepas tengah siang. 

*** 
SERATUS delapanpuluh derajad, kehidupan Fadal berubah. Oleh tetangga kirikanan, Fadal tak lagi diremehkan sebagai penyair kere, namun sebagai raja uang. Setiap barang yang diinginkan dapat dibelinya. Setiap tujuannya dapat diwujudkan. Tak heran jika ia berhasil menduduki jabatan Kades Slarangsari sesudah membeli 75 persen suara warga. 

Sebagai istri yang mendapat sebutan “Bu Kades”, Liztya sangat bangga dengan apa yang dicapai Fadal. Namun kebanggaannya itu hanya seumur jagung, ketika Fadal yang ingin mengembalikan modal saat Pilkades itu terbukti melakukan korupsi dana desa. Setiap malam, ia meratapi nasib Fadal yang telah dicopot jabatannya sebagai lurah Slarangsari. Mendekam ke dalam penjara. 

Sebagaimana Liztya, jiwa Fadal pun hancur berkepingan. Hari-hari dalam sel dirasakan Fadal seperti panjangnya waktu di dalam neraka. Setiap malam, ia tak dapat tidur. Hingga suatu waktu, ia ingin mengutuk dirinya dengan baris terakhir puisinya yang dihafal luar kepala, “Bukankah anjing akan mencuri, bila dididik seorang maling?” Membaca baris terakhir puisinya itu berulang-ulang di depan empat napi yang sesel dengannya. 

Empat napi yang semuanya maling itu sontak berang ketika mereka dihubung-hubungkan dengan anjing. Serempak mereka menghunjamkan pukulan ke perut, dada, dan kepala Fadal. Seusai Fadal tak sadarkan diri, mereka merebahkan tubuh di lantai sel yang dingin. Tertidur. Malam hening. 

Sore harinya, Fadal siuman. Wajahnya pucat, matanya tak bercahaya. Sering bicara, menangis, dan tersenyum sendiri tanpa sebab. Selalu mengigaukan baris terakhir puisinya yang dihafal luar kepala itu berulang-ulang saat tidur. Hingga sewaktu Liztya membezuk di penjara, Fadal telah dinyatakan gila oleh sipir. Mendengar pernyataan sipir itu, ia hanya dapat menghela napas panjang. Sontak, air mata meleleh di pipinya yang menyerupai langit kelabu. ❑-c 

Cilacap, 29 Juli 201 

*)Sri Wintala Achmad. Menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia dan Jawa). Nama kesastrawanannya dicatat dalam: Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 23  Juli 2017

0 Response to "Sang Penyair"