selepas karam - buku kesembilan - tentang maut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
selepas karam - buku kesembilan - tentang maut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

selepas karam - buku kesembilan - tentang maut

selepas karam

empat puluh hari kemudian, di puing kuil,
ia saksikan padma itu,
merekah dan merah
– ia mengira itulah yang disaksikan kanjeng nabi
dalam malam mi'raj, dua atau tiga depa dari aras allah –
“tambangraras," ia bergumam

di tepi pulau
pohon kelapa, kucila, dan manggis liar,
terus menjatuhkan buah
yang segera menjelma ikan
begitu menyentuh permukaan laut

ia tahu, itulah laut yang gelombangnya
menghantam rakit lima bilah bambunya
menghantarnya pada ambang maut
di mana ia saksikan kelahirannya sebagai si bakal mati
bersama jayengsari, bersama rancangkapti
dan ia menangis
ia hanya ingin menangis
tapi airmatanya bukan lagi airmatanya,
melainkan airmata semua orang
yang terluka, yang terpisah, yang berduka

yang tak hendak berpisah dengan duka

tapi kini, telah ia lepas itu semua,
dan ia terima sebagai nasib

hanya nasib

menjelang fajar
lamat-lamat sebuah kapal merapat
ia tahu ia akan kembali berlayar



buku kesembilan

dalam buku yang menolak fana itu
mereka tak bahagia, sebenarnya

dari celah jendela, mereka saksikan
malam jatuh – malam keempat jumadilakhir –
dan 7700 malaikat membagi berkah
dari langit cerah

"kenapa harus, pangeran, seseorang berkeras abadi
dengan mengabaikan moral?"

tapi pangeran itu, anom hamengkunegara iii, bergeming
"apakah aku ingin abadi?" ia membatin
ia tak tahu
tapi ia tahu bahwa buku itu memang akan kalis dari lupa,
menyelamatkan suluk tambangraras dari kemeranggasan

ia hanya menghendaki sebuah cermin
di mana para bangsawan sanggup mengaca kegenitan mereka sendiri
melalui lanskap pastoral
tanpa takut dikenal

keheningan memanjang
sebelum pangeran itu menggumam,
begitu lirih hingga tak ada yang mendengarnya
"tidak, tapi kita memang harus menuliskannya"

tentang maut

seperti bayangan yang memanjang
maut mendatangi mereka sebelum
malam surut: rancangkapti yang menangis,
mangunarsa yang terdiam, dan tambangraras
yang tak tahu lagi
*
tapi, sesungguhnya, tidak sesepele itu
dan centini tahu
sebab sebelumnya, telah ia pinjam lidah izrail
ketika tambangraras menggali lahat dengan kuku-kukunya
dan bunga kamboja gugur serupa hujan
"aku tak akan membawamu, belum akan membawamu"

"kenapa?" demikianlah tambangraras meratap
"bukankah kau semestinya datang dan menyatukan
sepasang kekasih yang telanjur kau pisahkan?"

dan saruan kematian itu pergi
*
tapi tidak sesepele itu
dan centini, kali ini, tak tahu
*
sebelumnya, kisah centini,
kukira maut akan tiba lebih cepat
ketika kami tersesat di kampung rampok
dan candrageni menelanjangi kami
tapi semar telah meminjamkan kentutnya
yang membuyarkan pergubukan iblis itu
sewaktu mereka tunggingkan pantatku
dan dengan batang membara, hendak mereka
koyak liang itu

demikianlah, demikianlah
kami meneruskan bait suluk
*
pada parak pagi yang berwarna perak
centini menangisi kisah yang belum ia
tahu ujungnya, "seharusnya tak perlu
ada yang menceritakan bagaimana utusan
sultan agung menenggelamkan amongraga
di samudra padma merah"

tapi tambangraras telah menceritakannya
sebelum bait pertama puisi ini

montel menyeka airmatanya
dan anggunrimang memetik bunga-bunga
dan centini kemudian merangkainya
dan montel menggali tiga lubang di samping masjid

"maut," seseorang bergumam, "barangkali hanya
kerepotan-kerepotan bagi yang ditinggalkan"

tapi di wanataka, sebuah negeri yang hanya ada
dalam suluk, tak ada yang sesederhana itu,
dan maut, barangkali, tak lebih permainan
yang gampang diakhiri, dicurangi, atau dibatalkan
*
syahdan
di samudra yang jauh
amongraga yang tak lagi beraga
mendaras wanataka seperti
penyair membaca sajak-sajak
dan sedetik kemudian
ia telah berada di hadapan tiga jasad
yang belum sempat dimandikan

"bangkitlah," katanya
dengan nada yang sama dengan nada yang
digunakan untuk menciptakan semesta

dan inilah yang kemudian terjadi
: rangkaian bunga itu layu percuma
dan tiga liang hanya terisi kekosongan yang seakan baka

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Ia juga menulis cerita pendek dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 22 - 23 Juli 2017

0 Response to "selepas karam - buku kesembilan - tentang maut"