Senyum Kontrak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Senyum Kontrak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:02 Rating: 4,5

Senyum Kontrak

MALAM bertambah larut dan dingin semakin menusuk tulang. Di luar masih gerimis dan sesekali angin meniup agak kencang. Rumah-rumah di kiri kanan lorong itu sudah menutup pintu. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip tak kuasa bersinar terang terhalang oleh hujan yang tak henti-hentinya.

Tetapi lelaki itu, Sam namanya, masih saja tekun di belakang mejanya. Ia kelihatan tidak menghiraukan dinginnya malam bahkan menyibukkan dirinya dengan membuat naskah teka teki silang yang akan dikirimkan kepada redaksi Merpatipos.

Haniek, isterinya yang setia datang menghampirinya dengan membawakan jaket penghangat badan, seraya berkata: “Mas, pakailah ini. Sejak sore belum istirahat, dan selarut ini pula belum tidur.”

“Terima kasih dik,” sahut Sam sambil berdiri. “Sebentar lagi juga selesai. Tidurlah duluan. Oh ya, sudah kau pasang obat nyamuk? Kasihan Nana, tidurnya kurang pulas.” Isterinya tersenyum dan mengangguk.

Sam meneruskan kesibukannya lagi, kertas-kertas masih berserakan. Haniek duduk di sampingnya. Sebentar ia memandang kepada Sam, dan segera sesudah itu ia berdesah panjang dan memandang lurus ke depan seakan menembus dinding dan menerawang jauh sekali. Sebenarnya ada sesuatu yang akan disampaikan kepada suaminya.

“Mas, tadi sore Jeng Bambang pemilik rumah ini menemuiku.”

“Oh ya? Lalu, apa yang dikatakannya?” Sam bergeser dari duduknya.

“Keluarganya menunggu keputusan dari kita, apakah mau meneruskan mengontrak rumah ini atau tidak. Sebab kalau tidak, katanya akan diberikan kepada orang lain.”

“Heem, jadi soal kontrakan rumah ini,” ujar Sam sambil menunduk. “Lantas kalau kita teruskan, mintanya berapa?”

“Minimum dua tahun, dia minta seratus sepuluh.” Bergetar bibir Haniek mengatakannya dengan mata berkaca.

“Dua tahun seratus sepuluh, berarti setahun lima puluh lima,” kata Sam bergumam seperti kepada dirinya sendiri. 

“Ya mas, tapi … kekuatan kita tidak sampai. Apakah sebaiknya kita cari lain yang agak lebih ringan walaupun sederhana.”

“Semurah apa pun kita masih harus menjual kalung dan sepeda,” sahut Sam untuk memancing pendapat isterinya.

“Mas, bagiku kalung ini hanya sekadar tabungan untuk membantu dalam keadaan insidentil, tetapi justru yang kupikirkan adalah sepedamu.”

“Kalau soal sepeda, akan kurelakan dik. Saya bersedia jalan kaki ke kantor, paling-paling setengah jam sudah sampai, dan pula badanku akan bertambah sehat.”

Kedua suami isteri tersebut diam, dan mereka baru menghitung-hitung hasil penjualan kedua harta yang berharga tersebut, tetapi masih jauh dari yang diharapkan. Mereka masih tetap membisu. Kertas-kertas masih tetap berserakan dan sudah tidak mendapat perhatian lagi. Justru saat-saat berakhirnya masa kontrak rumah inilah yang membingungkan mereka, walaupun hal tersebut pasti dialami oleh hampir seluruh teman sekantor. Minggu-minggu terakhir ini Sam sering pergi ke rumah teman-temannya kalau-kalau ada rumah yang sewanya ringan, tetapi sebelum ada rumah yang sekiranya cocok, dia tidak menceritakan kepada isterinya.

“Jum’at kemarin sehabis jam kantor saya ke Jatingaleh naik bus-kota untuk melihat rumah yang ditawarkan dua puluh lima setahun. Tetapi setelah saya buktikan ke sana, ternyata rumahnya sudah terlalu tua, tanpa sumur dan wc. Tambahan pula jarak ke terminal bus-kota yang terdekat masih cukup jauh. Apalagi kalau diperhitungkan berapa banyak biaya untuk boyongan ke sana.”

“Jauh sedikit dari kantor saya kira tidak apa, tapi kalau aku harus berdiam di tempat begitu, akh rasanya tak sanggup mas.”

“Oleh sebab itu langsung saya putuskan tidak jadi, sebab sudah kuperhitungkan kau tak akan betah tinggal di sana.”

“Apakah mas Sam pernah mengutarakan kesulitan sewa rumah ini kepada Bapak Kepala Bagian dan Bapak Kepala Urusan atau setidak-tidaknya kepada teman-teman?”

“Sudah dik, dan bahkan sudah berkali-kali. Kesempatan sesudah jam kantor sering kami gunakan berbincang-bincang. Teman yang senasib seperti kita ini juga banyak, sebab mereka umumnya dipindah dari daerah-daerah dengan Abp dan perumahan ditanggung sendiri. Bapak Kepala Bagian sangat menaruh perhatian, dan beliau beberapa kali mengajak teman-teman untuk meninjau lokasi kapling kalau-kalau harganya terjangkau.”

“Ahh kapling! Untuk membelinya sudah berat, belum lagi mendirikan rumah di sana. Kalaupun bisa mendirikan rumah, mana kita berani hidup sendirian di tengah padang dan tegalan seperti itu,” bantah isterinya dengan ketus.

“Itulah masalahnya dik. Bagi yang kuat membeli saya kira menguntungkan. Sebab kapling tersebut merupakan tabungan yang dalam waktu beberapa tahun saja harganya sudah berlipat ganda,” sahut Sam dengan sabar. “Kecuali mungkin dengan cara mengangsur yang ringan.”

Haniek berdiri, ia gelisah dan berjalan ke sana kemari. Ia sudah mempunyai pikiran membanding-bandingkan, lalu berkata dengan nada kesal:

“Seandainya, seandainya dulu mas bisa masuk pendidikan Pmpos di Bandung, saya kira tidak begini jadinya nasib kita.”

“Ya begitulah, dan tentunya tidak ada masalah sewa kontrak rumah seperti sekarang ini. Tetapi kau sendiri tahu dik Haniek, aku sudah mencoba mengikuti ujian masuk agar dapat diikutsertakan pendidikan. Menempuh ujian masuk sampai tiga kali adalah suatu usaha yang sungguh-sungguh, tetapi apa daya. Walaupun aku pernah sampai ujian lisannya, tetapi tetap tidak diberi kesempatan. Kalau sudah berusaha keras toh tetap tidak kesampaian, itu namanya nasib.”

Tanpa komentar lagi dari Haniek. Sam juga diam. Sementara itu malam bertambah larut. Gerimis yang berkepanjangan belum juga berhenti. Kedua suami isteri itu belum bisa menelorkan sebuah keputusan. Akhirnya dengan penuh kasih sayang, diajaknya isterinya masuk ke kamar tidur. Mereka akhir-akhir ini selalu gelisah disebabkan setengah bulan lagi masa sewa kontrak rumah yang didiaminya habis, dan keputusan harus segera disampaikan kepada pemilik rumah, mau terus atau tidak. Sam melihat isterinya telah tertidur dengan wajah muram. Ia merasa kasihan kepada isterinya yang sudah terbiasa hidup di pedesaan. Namun dia merasa beruntung bahwa anaknya baru seorang dan belum banyak membutuhkan biaya pula.

Dia gelisah saja dan tidak bisa tidur. Pikirannya kembali ke masa lampau di mana waktu itu tidak ada masalah perumahan, sebab walaupun sederhana sudah ada annex.

Semenjak harus tanda tangan pada surat pernyataan bersedia dipindah sebagai salah satu syarat untuk mendapat kenaikan pangkat Pmpos, ia sudah mulai gelisah. Segera sesudah itu ia dipindahkan ke Biro Kdpos, atas biaya Perusahaan dan perumahan ditanggung sendiri. Sebelas tahun sebagai Pengurus Kpp kelas tiga yang langsung melayani loket, berganti dengan karyawan staf yang mengurusi kertas konsep dan Nddp melulu. Dari yang tidak memikirkan perumahan, berganti dengan keadaan di mana setiap saat harus pusing dikejar-kejar uang kontrakan. Ia terpaksa merelakan tunjangan jabatan, tunjangan kegiatan khusus, prangko representasi, langganan koran cuma-cuma, uang pakser khusus dll yang langka ditemui di tempat baru. Usaha ternak ayam dan itik yang sudah terbukti bisa membantu belanja sehari-hari terpaksa terbengkalai tidak bisa diteruskan di tempat baru, sebab rumah kontrakan di tempat baru tidak mempunyai halaman sama sekali.

Kali ini ia membawa sebuah usul yang akan disampaikan kepada pemilik rumah. 

Sam merasa kalau usul ini diterima, maka semua problema kan dapat diatasi. Di suatu sore yang cerah, ia menemui pemilik rumah yang kebetulan sedang duduk-duduk relaks bersama keluarga.

“Selamat sore pak Bambang. Nah saya telah mendengar semuanya dari isteri saya. Dan saya datang untuk bermusyawarah,” kata Sam sebagai basa-basi.

“Selamat sore. Begini pak Sam, sebelumnya kami minta maaf atas kelancangan isteri saya. Kami merencanakan akan memperbaiki kamar mandi yang masih darurat itu, dan tentunya kami berharap pak Sam tetap senang tinggal di rumah tersebut.”

“Benar pak. Saya masih senang tinggal. Hanya persoalannya saya kurang mampu membayar sebesar yang telah ditentukan. Saya datang membawa sebuah usul sekiranya diterima. Begini, ada sebuah keluarga yaitu teman sekantor sendiri pindahan dari daerah. Berhubung yang dicari sewa yang murah dan dekat kantor, maka saya ajak untuk bersama-sama menyewa rumah pak Bambang, agar dengan demikian selain saya menjadi ringan dan pula ada teman yang tertolong.”

“Oh, maksud pak Sam sewanya dibagi dua begitu. Tetapi apakah pak Sam bersama keluarga tidak terlalu sempit kalau rumah tersebut dibagi dua?”

“Yah apa boleh buat pak, toh hanya keluarga kecil saja. Ukuran separo dari 6 x 8 meter cukup memadai lah. Dan teman baru tadi besok akan saya antar sowan kepada pak Bambang.”

“Terima kasih pak Sam. Kami sekeluarga menjadi amat senang bilamana pak Sam tidak pergi dari kampung ini. Rumah itu menjadi hidup dan bersemarak sepanjang hari sebab pak Sam selalu rajin membersihkan halaman depan.”

“Begitulah, agar menjadi kerasan dan tenang di rumah.”

Kini kesulitannya tinggal dari mana mendapatkan uang. Persoalan sempitnya kamar biasalah hidup di kota. Ruangan sebesar 3 x 8 meter harus bisa diatur menjadi ruang tamu, ruang makan, ruang tidur dan dapur. 

“Dik Haniek, daripada diberikan kepada orang lain, kan lebih baik kita serahkan sepeda kita itu pada pak Bambang, toh suatu saat kalau ada perlu kita bisa pinjam.”

“Terserahlah mas kalau memang mau jalan kaki. Dan tadi aku dari toko emas menjual kalung dapat uang dua puluh lebih sedikit, kalau dengan uang sepeda kan sudah empat puluh,” kata Haniek berseri-seri.

“Aku jadi amat terharu dik atas pengorbananmu. Nah kalau begitu, kekurangannya yang lima belas bereslah, aku yang nanggung. Ini tabanasku hampir tujuh belas ribu, dan ini dia wesel dari Merpatipos Rp. 5000,-- sebagai honor tulisanku yang berhasil diterima untuk dimuat,” kata Sam dengan luapan kegembiraan yang amat sangat.

“Alhamdulillah! Terima kasih mas atas perjuanganmu. Kita pasti dapat bernapas lega, tidak sesak seperti kemarin. He mas, kemarilah, hampir lupa aku. Lihat nih. Ini bed bertingkat dari pak Ketua RT lengkap dengan kasur dan kelambunya, dan bed kita yang makan tempat tersebut sudah dibawanya pula. Anak kita tidur di atas, dan kita berdua di bawah, siiip deh!”

“Aduh, baik benar pak RT ini. Pada waktu kerja bakti Minggu pagi itu dia menyatakan turut prihatin dengan kesulitanku dan mengharapkan agar aku jangan pindah dari kampung ini. Benar-benar tanpa diduga menaruh simpati yang besar,” sahut Sam dengan wajah cerah dan mengangguk-angguk.

“Nah sekarang, ayo gotong-royong mengatur almari dan bufet itu sedemikian, sehingga bisa berfungsi sebagai dinding pemisah antara ruang tamu dan ruang makan, okey?”

“Tetapi bagaimana ya mas, kalau ayah ibu dari kampung datang, beliau tidur di mana nih?”

“Alah dik, berpikirlah yang praktis. Caranya mudah saja, kursi dan meja kita tumpuk dan kita sendiri yang tidur di atas tikar. Ayah ibu bisa tidur di bed kita yang bertingkat itu. Beres ‘kan?”

Hidup adalah masalah. Di dalam kehidupan selalu ada problema. Dan keluarga Sam telah dapat mengatasi problema dengan baik dan dengan cara sederhana. Sebenarnya tidak ada problema yang tidak bisa dipecahkan selama manusia berserah dan berlindung kepada Tuhan.

Titik-titik gerimis mulai terdengar lagi malam itu dan hembusan angin semakin dingin. Namun di dalam kamar yang sempit itu hembusan napas kelegaan semakin hangat dari sebuah keluarga yang sudah dapat tersenyum kembali, setidak-tidaknya untuk masa dua tahun mendatang.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gito
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Merpati Pos" edisi No. 3 Th. 11 – Maret 1977

0 Response to "Senyum Kontrak"