Senyum P4 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Senyum P4 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:10 Rating: 4,5

Senyum P4

SAMPAI sekarang ia belum mengetahui apakah ia merasa beruntung atau menyesal kawin dengan isterinya. Suasana rumah tangganya yang ia nilai hampir setiap hari diwarnai oleh pertengkaran, seolah-olah tidak keringnya. Dan ia merasakan, ia selalu di pihak yang bersalah. Kemudian sebentar akur lagi tanpa melalui proses perdamaian, tanpa ada maaf memaafkan.

Pangkat sang suami bertambah tinggi, dan anehnya sang istri merasakan seolah-olah ia ikut naik pangkat pula. Suasana rumah tangga ini baik bagi suami maupun bagi sang isteri semakin sulit mengadakan penilaian apakah mereka itu masing-masing orang berbahagia, apakah suami bahagia atau isteri bahagia.

Setiap hari sang isteri mengomel saja. Mengenai anak, mengenai suami pulang kantor, mengenai uang dan sebagainya, sehingga pada waktu-waktu tertentu sang suami merasa jengkel terpaksa menutup kedua belah kupingnya.

Tetapi sang suami merasakan satu keanehan yang ia sendiri tidak bisa mengerti. Ketika suatu hari isterinya tidak mengomel sama sekali, ia merasakan satu kesepian dan kebosanan dan ia rindu supaya isterinya mengomel lagi. Dan bahkan ia rindu supaya bertengkar lagi. Kemudian damai lagi, lalu nikmat kembali.

Ia jatuh cinta dulu kepada isterinya, sebenarnya melalui satu pertengkaran yang sengit. Satu pertengkaran yang mengundang kehadiran kepala kantor waktu itu. Ketika kuliah praktik di kantor pos Pekalongan, suatu pagi ia ditugaskan secara tiba-tiba untuk mengopname loket perangko yang pada waktu itu dipegang oleh seorang gadis. Pada waktu itu benaknya masih penuh teori PD V., dan seolah-olah ia ingin memberi tahu orang lain bahwa ia menguasai sepenuhnya apa isi PD itu. Setiap diketemukan yang tidak sesuai, bagaimana menyusun perangko di album, bagaimana melayani publik dan sebagainya, ia beritahukan gadis itu. Tetapi setiap apa yang diajukan kepada gadis itu pasti mendapat jawaban yang membuat ia merasa menyesal mengucapkannya. Namun, matanya semakin nanap manakala menyaksikan gadis itu sebentar-sebentar menjulurkan lidahnya untuk membasahi ujung jarinya untuk menghitung lembaran perangko. Ia begitu suka melihat lidah itu tetapi timbul protesnya: “Dik, telah disediakan spons khusus maksudnya untuk membasahi ujung jari. Maksud utamanya supaya kesehatan pegawai terjamin. Sebab menurut yang kami pelajari di Pendidikan Pos, bahwa di tiap lembar uang kertas ada ribuan bahkan puluhan ribu unit bakteri yang sewaktu-waktu mengancam kesehatan kita.” Lantas dijawab oleh gadis itu: “Maaf, saya bukan siswa Pendidikan.” Lalu timbullah pertengkaran. Namun sejak pertengkaran itu ia sudah tidak bisa melupakan si gadis. Dan memang setamat dari pendidikan ia persunting gadis itu, yang sudah berhenti menjadi pegawai.

Ketika suami isteri ini secara kebetulan mendapat giliran yang sama untuk mengikuti penataran P4 di tempat yang berlainan tetapi masih dalam kota yang sama, maka sadar atau tidak sadar mereka ini selalu melewati malam-malam yang semarak dan malam-malam yang indah.
.
Setiap malam sang suami betul-betul merasakan betapa perlunya ia berdiskusi dengan isterinya yang nampaknya lebih serba tahu. Isterinya yang begitu cekatan sering kali menyalahkan pendapatnya tentang bahan penataran. Kemudian mereka bertengkar, sering pertengkaran memuncak, lagi-lagi isterinya naik pitam. Dan dengan gaya penatar isterinya berdiri seperti sedang berpidato:

“Oleh sebab itulah emansipasi wanita begitu galak di negara barat. Mereka yang sudah begitu bebas nampaknya itu, masih menuntut diperlakukan sebagai isteri yang harus mendapat penghargaan suami. Demokrasi barat yang begitu tinggi menghargai pribadi, cenderung membuat seseorang bersikap otoriter, baik itu pada jabatannya maupun pada isterinya sendiri di rumah. Ia semakin tidak menghargai apa pendapat isteri, apalagi menghormatinya. Dalam demokrasi Pancasila kita ini, karena kesamarataan individu tersebut, memang sering timbul perbedaan pendapat, tetapi justeru perbedaan itulah yang kita hargai. Karena pada saat itulah timbulnya rasa untuk saling menghargai, rasa saling isi mengisi dan saling mengokohkan, saling mengingatkan lalu saling membenarkan. Dengan demikian terhindarlah sikap otoriter sang suami yang sering melihat sebelah mata pada isterinya.”

“Sudahlah Bu. Di rumah ini, bukan saya yang selalu ngotot, bukan saya yang otoriter. Tetapi saya mengucapkan syukur karena Ibu ikut ditunjuk mengikuti penataran. Mudah-mudahan ada perubahan bagi kebiasaan ibu sehari-hari. Di rumah kita ini memang kurang sehat suasana demokrasi, apalagi dengan menentukan masa depan anak. Saya tegaskan pada Ibu, bahwa demokrasi pancasila itu tidak lain maksudnya ialah: di mana masing-masing pihak, harus belajar bisa menahan diri, belajar supaya bisa mengalah untuk satu tujuan yang jauh lebih besar, yaitu untuk kebahagiaan semua pihak, kebahagiaan keluarga dan sebagainya. Kalau kita ngotot saja terus maka malam yang begini indah akan berlalu begitu saja. Bukankah demikian Bu?” Lantas isterinya tersenyum, senyum yang masih berbau P4, manis sekali dengan mata yang mulai pura-pura mengantuk. Diskusi malam itu berakhir jauh tengah malam, semua makhluk sudah pada lelap, sedang suami-isteri ini untuk sementara nampaknya semakin sibuk.

Besok sorenya menjelang magrib, sepulangnya dari penataran, sang isteri dengan rasa bangga buru-buru melapor pada suami:

“Pak, saya ditunjuk akan berpidato pada sidang paripurna penataran.”

“Lho, mengapa? Ibu mengikuti penataran hanya sebagai pendengar. Ibu tidak wajib ikut pidato. Ibu cuma mendengar saja.”

“Benar Pak, tetapi kami diminta secara sukarela apakah bersedia berpidato untuk menyumbangkan pendapat kami mengenai partisipasi kaum wanita dalam pembangunan. Dan kami pun tidak berkeberatan. Secara aklamasi mereka menunjuk saya untuk berpidato. Dan terus terang, sekarang saja saya sanggup berpidato bila perlu tanpa teks sama sekali!”

“Wah hebat. Cobalah sekarang juga. Biar saya dengar, mungkin bisa kutip untuk pidato saya.”

“Tidak mau. Kalau mau mendengar nanti boleh Bapak datang di penataran. Sebab kalau sekarang, nanti malah bisa kacau konsentrasi saya. Bapak bisa beri komentar menjadi tidak karuan. Saya lebih baik mandi dulu, nanti malam kita diskusi lagi. Bapak juga siap-siap saja mandi, saya sebentar saja.” Isterinya memang segera masuk kamar mandi. Dan, aneh begitu lama. Mengapa? Ada apa. Jangan-jangan pingsan terlalu capek mengikuti penataran. Tetapi ketika ia mendekati kamar mandi ternyata isterinya kedengaran sedang latihan berpidato.

“Bapak-bapak para penatar, Bapak-bapak serta ibu-ibu sekalian yang hadir. Dalam beberapa hari ini otak kita rasanya sudah penuh, apa lagi buat Ibu-ibu rekan saya yang datang hanya sebagai pendengar, yang sehari-harian mengurusi rumah tangga saja. Bagi kita Ibu-ibu haruslah diakui betapa kita harus memeras otak agar kita bisa menangkap apa yang diucapkan oleh Bapak-bapak penatar. Tetapi Ibu-ibu dan Bapak-bapak, bagi saya pribadi mengambil kesimpulan bahwa maksud dari P4 ini sebenarnya bisa dituangkan hanya dalam sekalimat saja. Ibu-ibu dan Bapak-bapak, bangsa kita dalam beberapa Pelita ini sedang dituntut untuk bekerja keras, membangun sebuah landasan besar untuk sebuah pesawat super raksasa yang mampu tinggal-landas membawa semua rakyat Indonesia di dalamnya, terbang mengarungi angkasa raya dan menghantarkan kita semuanya ke suatu tujuan yang kita cita-citakan, yakni satu tempat idaman di mana kita bisa hidup makmur, sejahtera dan berbahagia.

“Nah Ibu-ibu dan Bapak-bapak, khususnya untuk Ibu-ibu yang sedang hadir di sini. Saya bertanya sekarang: Apa yang bisa kita lakukan sebagai isteri? Apakah kita cukup di dapur saja? Tentu saja tidak! Saya berpendapat, sebagai isteri kita juga harus membangun sebuah landasan pesawat di rumah tangga kita masing-masing. Yakni sebuah landasan yang kokoh, landasan kasih-sayang.” Dengan semangat berapi-api di kamar mandi itu si isteri meneruskan omelannya, yang terpaksa saya tinggalkan, karena saya harus bersiap-siap pula untuk mandi. 

Malam harinya mulai lagi diskusi, diskusi yang lebih panas serta lebih ramai dari malam-malam sebelumnya.

Kedua suami-isteri saling serang dan saling bertahan pada pendapat masing-masing. Sering emosi mulai berperan membuat mereka saling membentak, membuat anak-anak yang sudah tidur terbangun dan mengintip apa yang sedang terjadi pada orang-tua mereka itu. Pada ketika secara tidak sadar mereka memasuki permasalahan yang sipatnya filsup, yakni duluan mana ayam dari telor, mereka itu benar-benar hampir saling hantam:

“Pendapat saya, harus stabilitas ekonomi dulu barulah tercipta ketahanan nasional.”

“Tidak, bagaimanapun ketahanan nasional dulu barulah mungkin ekonomi stabil.”

“Otakmu taruh di mana. Memang wanita tidak punya otak sama sekali.”
 Isterinya benar-benar bagaikan digodam mendengar kalimat yang menyakitkan kaumnya. Tetapi kali ini ia mencoba menenangkan hatinya. Kata-kata suaminya yang keterlaluan membuat hatinya sedih. Lalu dengan nada tenang sang isteri berkata:

“Maksud dari P4, ialah memulai pengamalannya dari diri kita sendiri, kemudian dalam lingkungan keluarga, suami isteri. Bagaimana mungkin tercipta pengamalan di negara kita ini kalau di rumah saja kita sudah mulai saling menghancurkan?” malah suara isteri semakin lembut halus, seolah suara putus asa. Tetapi kata-kata isteri yang demikian berjiwa itu benar-benar membuatnya takluk sebagai suami. Dengan nada yang minta dikasihani sang suami menjawab:

“Maafkan aku Bu, benar-benar sekali ini Ibu harus memaafkan aku. Pada malam ini saya berjanji, bahkan bersumpah akan berubah sikap. Saya tidak akan mengulangi lagi ….”
Mendengar kata-kata sumpah dari sang suami, isterinya begitu terharu. Air matanya meleleh, sebab baru kali ini setelah puluhan tahun menjadi suami isteri, yakni satu pengakuan yang begitu tulus dan murni. Semangat kewanitaannya kini bertambah agung. Dengan serta merta ia merangkul suaminya, memeluk suaminya demikian hangat, melebihi segala kehangatan cinta yang pernah ada. Lantas, suami yang merasa bahwa malam sudah begitu larut, membelai isterinya demikian mesra. Kemudian tangan suami menyentuh dagu isteri, mengangkat dagu itu sambil mata keduanya bertemu rada malu.***
.
 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Siantoeri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Merpatipos" edisi No. 6 Th. XIV – Juni 1980

0 Response to "Senyum P4"