Tikus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tikus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:43 Rating: 4,5

Tikus

BARANGKALI di dunia ini orang yang paling membenci tikus adalah Slompret. Bagi laki-laki berusia 30 tahun itu, tikus lebih jahat dari iblis. Kepada siapa saja dan di mana saja ia mengatakan, musuh utama manusia adalah tikus. Oleh karena itu, bagi Slompret tugas sucinya di dunia ini adalah membunuh binatang menjijikkan itu. Membunuh tikus bagi Slompret merupakan missionsacre.

Kebencian Slompret terhadap tikus dimulai ketika masih remaja. Pada suatu pagi keluarganya menemukan adiknya yang masih bayi sudah tidak bernapas. Seluruh tubuhnya berlumuran darah. Dari hasil penelitian rumah sakit diperoleh kesimpulan si bayi kehabisan darah akibat digigit tikus. Dokter mengatakan, paling tidak ada sepuluh ekor tikus telah mengigit tubuh si bayi.

Sejak saat itu Slompret menyatakan perang terhadap tikus. Para tetangganya memahami prinsip hidup “perang melawan tikus” dari manusia bernama Slompret itu. Tikus-tikus tersebut memang kurang ajar sekali. Menurut penelitian PBB, komunitas tikus telah menghabiskan makanan sebanyak makanan yang dikonsumsi manusia. Jadi kalau misalnya setiap tahun manusia mengonsumsi sekian juta ton beras atau roti, maka sebesar itu pula yang dicuri para tikus dari manusia. Namun bagi Slompret bukan hanya itu yang membuat kebenciannya kepada tikus sampai menulang sungsum. Segala macam tingkah laku tikus membuat kebenciannya semakin besar saja.

Tikus-tikus itu memang keterlaluan. Dari menciptakan bunyi-bunyian di atas langit-langit yang bisa bikin stres, mengganyang semua makanan yang ada, memutuskan kabel-kabel komputer, mesin cuci, merusak buku-buku sampai menebarkan butiran-butiran kotoran hitam yang sangat menjijikkan. Saban hari ada saja perbuatan tikus-tikus itu yang membuat Slompret nyaris jantungan. Maka segala macam upaya dilakukan Slompret untuk menangkap tikus atau membunuhnya. Racun, senapan angin, lem tikus dan berbagai macam jebakan disiapkan Slompret untuk menangkap atau membunuh tikus. Toh tikus-tikus itu tetap merajalela.

Namun, entah dari mana datangnya ide itu, tiba-tiba saja Slompret memiliki cara lain untuk membunuh tikus: tangkap hidup-hidup kemudian siksa sampai mati! Sejak ide itu datang Slompret tidak pernah lagi memakai racun atau jebakan yang mengakibatkan tikus-tikus itu mati seketika. Segala macam cara diupayakan agar ia berhasil menangkap tikus itu hidup-hidup. Dan apabila tikus-tikus itu sudah tertangkap Slompret akan menyiksa hewan itu sampai mati. Dengan tertawa-tawa Slompret menghukum “musuh”-nya itu seperti yang diinginkan. Misalnya mengikat ekor tikus itu erat-erat kemudian digantung dengan kepala di bawah. Lalu dengan tenang sekali Slompret mengeluarkan senapan angin, mengisi peluru, mengokang lalu membidik tikus yang terayun-ayun dalam gantungan itu. Tentu saja tembakan tidak cukup hanya sekali, tetapi berkali-kali sampai tikus itu mati atau sampai ia bosan sendiri. 

Pada hari lain ia akan menyiksa tikus yang tertangkap hidup-hidup itu dengan cara yang lain pula. Misalnya ia siapkan seember besar air dan tikus yang tertangkap dimasukkan ke dalam ember. Dengan tenang Slompret memasukkan ujung kabel listrik yang terbuka ke dalam air. Tentu saja tikus itu menggelepar-gelepar kesakitan. Dan dengan tertawa-tawa Slompret menyaksikan hewan yang kesetrum listrik tersebut, seperti menyaksikan lawak Srimulat di layar televisi. Slompret akan memasukkan ujung kabel itu berkali-kali sampai tikus itu mati. Atau kadang-kadang ia tidak menyetrum tikus di dalam ember, tetapi membiarkan tikus itu semalamam di dalam air sampai mati kedinginan. 

Yang paling sadis—dan membuat orang lain tidak tahan menyaksikannya—ketika Slompret menghukum “musuh”-nya dengan api. Setelah seekor tikus tertangkap hidup-hidup, Slompret menyiapkan api dan obeng yang ujungnya diruncingkan. Ia bakar obeng itu sampai merah membara lalu sambil menghisap rokok putihnya, Slompret menusuk-nusuk tubuh tikus dengan obeng panas itu. Ia terus menusuk-nusuk tubuh tikus sampai hewan itu sekarat dan tidak bernapas lagi. 

Kebencian Slompret terhadap tikus-tikus memang sudah sampai ubun-ubun.

***
PERILAKU Slompret itulah yang membuat Jaitun, istrinya, sangat prihatin. Perempuan yang sedang hamil tua itu tidak sampai hati melihat tikus-tikus itu disiksa demikian sadis oleh suaminya. Tikus-tikus itu memang kurang ajar sekali. Mereka pantas dibunuh. Tapi Jaitun tidak pernah setuju cara suaminya membunuh tikus-tikus itu. Kenapa harus disiksa terlebih dahulu? Beberapa kali ia mengkritik keras cara suaminya membunuh hewan-hewan itu. Namun Slompret tidak bergeming.

“Apa yang aku lakukan sudah setimpal dengan kesalahan mereka. Tikus-tikus itu tidak cukup hanya dibunuh tetapi harus disiksa terlebih dahulu. Tikus itu hama musuh manusia yang harus diberantas. Tuhan memerintahkan kepada kita untuk memberantas setiap hama.”

“Tapi cara Mas Slompret itu tidak benar. Mungkin Tuhan tidak marah kita membunuh tikus dengan cara yang wajar. Cara Mas Slompret tidak wajar dan melampaui batas. Tuhan tidak suka kepada perbuatan yang melampaui batas.”

“Ah, tahu apa kamu tentang ajaran Tuhan.”

“Apa Mas Slompret lupa istrimu ini sedang hamil?”

“Tidak ada hubungan kehamilanmu dengan tikus-tikus yang aku bunuh.”

“Apa Mas ingin anak kita seperti tikus?”

“Huss, omong apa kamu?! Sudahlah kamu tidak perlu khawatir. Apa yang aku lakukan menjadi tanggung jawabku sendiri. Tikus-tikus itu telah membunuh adikku.”

“Dendam Mas Slompret membabi buta.”

“Terserah kamu mau bilang apa. Aku tidak peduli. Pokoknya aku akan menangkap tikus-tikus itu hidup-hidup dan menyiksanya sampai mati.”

“Aku tidak setuju.”

“Hanya cara itulah aku mendapatkan kesenangan. Nikmat sekali rasanya menyaksikan musuh-musuhku menggelepar-gelepar kesakitan, meregang nyawa kemudian mampus.”

Kalau sudah begitu Jaitun tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Namun diam-diam Jaitun sangat takut, apa yang dilakukan suaminya terhadap tikus-tikus itu akan sangat berpengaruh terhadap bayinya dalam kandungan. Kata orang tua-tua kalau istri sedang hamil suami dilarang keras membunuh binatang dengan cara apa pun. Jangankan membunuh binatang-binatang besar, membunuh semut pun dilarang tanpa alasan yang kuat. Sedang Slompret tidak hanya membunuh tetapi menyiksa tikus-tikus itu.

Jaitun menanyakan hal itu kepada Kyai Wahab, seorang guru ngaji di kampungnya. Kyai Wahab datang ke rumah Slompret dan berusaha menasehatinya. Tidak banyak nasehat Kyai Wahab. Orang tua itu hanya mengatakan bahwa apa yang dilakukan Slompret itu sudah menyalahi ajaran agama. Membunuh hewan boleh saja asal dengan niat baik dan tujuan yang jelas. Kata Kyai Wahab, setiap hari manusia membunuh hewan misalnya menyembelih sapi, kerbau, kambing, ayam, dan sebagainya. Tapi penyembelihan itu dilakukan dengan nama Allah dan tujuannya untuk kemaslahatan manusia. “Kamu pernah melihat hewan disembelih? Lihat mereka begitu pasrah untuk mati karena kematiannya dengan cara terhormat dan demi kebaikan makhluk lain ciptaan Tuhan,” kata Kyai Wahab.

Orang tua itu juga mengatakan, oleh karena itu sesuai dengan kesalahannya menurut agama, hukuman mati bagi manusia diperbolehkan tetapi dengan cara yang wajar. Orang yang divonis hukuman mati tidak boleh mengalami siksaan. Si terhukum harus mati secara cepat. Misalnya hukuman pancung, pedangnya harus tajam sekali. Kalau dengan listrik setrumnya harus kuat. Kalau dengan tembakan peluru harus diarahkan ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Semua itu dilakukan agar si terhukum tidak tersiksa.

Namun, rupanya Slompret sudah menjadi batu karang atau batu padas. Nasehat Kyai Wahab hanya masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Slompret hanya mengangguk-angguk saja. Tapi keesokan harinya tetap saja ia menyiksa tikus-tikus yang tertangkap. Bahkan makin hari teknik penyiksaan yang dilakukan bertambah sadis saja.

Dan Jaitun semakin cemas terhadap bayi dalam kandungannya. Tidak hanya Jaitun yang cemas, tetapi keluarga dan para tetangganya.

***
PERSIS sembilan bulan sepuluh hari Jaitun melahirkan. Sebelum melihat bayinya Jaitun cemas sekali. Tidak hanya Jaitun yang cemas, tetapi juga keluarga dan para tetangga serta handai-taulan. Semua orang lega karena bayi laki-laki Jaitun sehat tidak kurang suatu apa. Wajahnya tampan, hidungnya mancung seperti hidung Slompret. Matanya bulat seperti mata ibunya.

Dengan riang Slompret mencium kening istrinya.

“Apa aku bilang, Tun. Tidak ada hubungan antara tikus-tikus itu dengan kehamilanmu. Kalau menyiksa tikus-tikus itu memang dosa, akulah yang akan menanggung dosanya, bukan anak kita.”

“Sudahlah, Mas Slompret, hentikan kebiasaan burukmu itu.”

“Kebiasaan buruk katamu? Tidak Tun, menyiksa tikus-tikus itu merupakan tugas hidupku.”

Pada upacara selapanan bayi Jaitun tidak tampak. Orang-orang yang diundang kenduri malam itu heran tidak melihat Slompret. Tapi Jaitun mengatakan kepada mereka suaminya sakit dan tidak dapat keluar dari kamar. Mereka pun dapat memahami. Tidak ada yang dapat memaksa orang sakit untuk berbuat sesuatu seperti yang dilakukan orang sehat. Tetapi tidak hanya malam itu Slompret tidak keluar dari kamar. Slompret bahkan tidak mau bertemu dengan istrinya. Jaitun heran karena suaminya hanya mau bicara dari dalam kamar. Kalau lapar, Slompret hanya berteriak dari dalam kamar dan menyuruh Jaitun meletakkan makanan di depan pintu. Slompret mengambil makanan itu setelah Jaitun meninggalkan makanan tersebut.

Lebih satu bulan Jaitun melayani apa yang diminta suaminya dengan cara itu. Malam hari kadang-kadang ia mendengar Slompret membuka pintu kamarnya. Mungkin suaminya perlu ke kamar mandi atau WC. Jaitun ingin menemui Slompret, tetapi ia takut suaminya marah. Jaitun makin cemas karena sejak beberapa hari terakhir ini Slompret tidak lagi berteriak minta dikirim makanan. Jaitun mencoba mendekati kamar suaminya. Ia mengintip lewat lubang kunci tapi ia tidak melihat apa-apa. Tampaknya lampu kamar dimatikan dan Jaitun hanya melihat kegelapan. Suatu malam Jaitun terkejut karena mendengar suara cericit-cericit dari kamar suaminya. Suara itu persis suara tikus-tikus yang pernah disiksa Slompret sebelum akhirnya mati. Bermalam-malam Jaitun mendengar suara itu.

Jaitun semakin cemas saja. Akhirnya Jaitun tidak tahan lagi. Suatu hari bersama para tetangga Jaitun mendobrak kamar suaminya. Slompret terkejut lalu menerjang orang-orang itu dan lari keluar kamar. Aneh sekali, Slompret berlari tidak hanya dengan kedua kaki tetapi juga dengan kedua tangannya persis seperti hewan. Sambil berlari mulut Slompret terus bercericit seperti tikus dikejar kucing. Orang-orang terus mengikuti ke mana Slompret berlari. Slompret menyuruk-nyuruk di selokan dan mulutnya terus bercericit. []


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 23 Juni 2002

0 Response to "Tikus"