Uak dan Burung Gagak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Uak dan Burung Gagak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:52 Rating: 4,5

Uak dan Burung Gagak

SEEKOR burung sehitam sulang beterbangan di atas bubungan rumah kami. Berputar-putar. Berkoak-koak. Uak bilang itu burung gagak. Terdengar jelas dari suaranya yang kaak kaak kaak... Soal burung gagak, Uak pernah menceritakan, barang siapa yang rumahnya dikitari burung hitam itu, pertanda salah seorang dari anggota rumah tersebut akan meninggal. Menurut Uak, itu bukan cerita belaka, melainkan sebuah firasat. Sebuah pertanda. 

“Orang-orang terdahulu menandai kabar kematian seseorang dengan burung gagak,” ujar Uak suatu kali, sambil menggulung kulit jagung yang berisi rajangan tembakau. 

“Mengapa harus burung gagak?” aku menyoal. 

Uak terus menggulung rokok kelobotnya, sebelum mengapitnya di antara dua bibir, “Karena gagak adalah burung bangkai,” jawabnya dengan bibir nyaris rapat. 

Uak menyalakan korek dan membakar ujung kelobot yang siap mengepul di antara dua bibirnya. Aku menatap Uak dengan segenap kumis, janggut, dan rambutnya yang serba putih. Aku takut kalau rambut-rambut yang tampak kerontang itu ikut terbakar. 

“Burung bangkai cukup lihai untuk mengendus siapa-siapa yang akan menjadi calon bangkai, calon mayat,” lanjut Uak. 

“Jadi kalau ada burung gagak berkoak di atas atap rumah kami berarti salah satu di antara kami, ibu atau bapak atau kakak-kakakku atau aku akan mati?” aku menyimpulkan. 

“Bisa jadi, dan kalau burung bangkai itu mengitari atap rumah Uakmu ini, bisa dipastikan Uakmu ini yang akan mati,” Uak turut menyimpulkan, dengan intonasi sedikit berkelakar. Tapi aku tak sedikitpun menangkap ada yang lucu dari kata-kata Uak. 

Uak adalah kakak tertua ibu. Ia tinggal di rumah besar tapi reot, tepat di sebelah rumah kami, hanya terpisah pekarangan selebar sepuluh meter. Istri Uak meninggal dua belas tahun silam, sebelum aku lahir. Uak tak memiliki anak, dan Uak tak menikah lagi. Rumah yang ditempatinya itu dulunya adalah rumah utama kakek dan nenek, waktu masih kecil ibu juga tinggal di rumah itu. Namun setelah kakek dan nenek meninggal, serta Uak dan saudara-saudara ibu lainnya menikah, rumah itu jadi sepi. Tinggal Uak seorang dan istrinya yang menempati rumah itu. Hingga istrinya meninggal di rumah itu. Hingga kini, rumah itu hanya ditinggali Uak seorang. Uak cukup tua untuk menjadi seorang Uak, bahkan rasanya pantas-pantas saja misalkan aku memanggilnya kakek. Beberapa teman sepermainanku memangilnya kakek. 

Semenjak Uak tinggal seorang diri di rumah besar itu. Rumah itu jadi kurang terurus. Dapur di rumah besar itu sudah tak mengepul selama bertahun-tahun. Setiap hari, ibu menyuruhku menyelinap ke rumah sepi itu untuk mengantarkan nasi serta laukpauk, juga secangkir kopi di pagi dan petang hari. Di bagian tengah rumah itu ada sebuah meja kayu bundar tanpa taplak yang tampak usang dan berdebu, sesekali ketika ibu membersihkan rumah itu, ibu selalu mengelap meja itu dengan kain basah. Di meja itulah aku meletakkan aneka makanan yang menjadi jatah Uak. Uak tidak bekerja. Sesekali saja ia menjadi makelar ternak, namun lebih banyak menganggur. Uak suka duduk mencangkung di dipan ruang tengah sambil mendengarkan radio dan merokok kelobot. Hingga aroma pakaian dan tubuh Uak selalu seperti pendiangan. Itulah Uakku, orang yang mengatakan bahwa rumah yang dikitari burung gagak adalah rumah yang bakal dihinggapi kesedihan lantaran kematian. 

Dan seperti yang pernah kusimpulkan, burung sehitam sulang itu kini berputar-putar di atas bubungan rumah kami. Melihatnya aku menjadi sangat cemas. Aku tak mau memikirkan soal kematian, tapi diam-diam aku menebak-nebak siapakah gerangan yang akan disambangi malaikat maut di antara kami. Apakah itu ibu, bapak, kakak-kakakku, atau malah aku sendiri. Tapi rasanya mustahil, semua orang di rumah kami tampak sangat sehat. Jauh dari tanda-tanda kematian. Tapi, sebagaimana yang pernah Uak katakan padaku, kematian itu bisa datang dengan seribu jalan, bukan sekadar sakit. Tiba-tiba, aku membayangkan bapak ditubruk kereta saat pulang dari tempatnya bekerja. Atau kakak-kakakku yang terlibat tawuran atau terkena bidikan senapan angin yang salah sasaran di pinggir jalan. Atau bahkan, ibu yang tiba-tiba terbakar saat sedang memasak di dapur. Aku berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran mengerikan itu, tapi kata-kata Uak terus-terusan mengompor di kupingku. 

Senja hari selepas suara burung hitam itu tak terdengar lagi, aku meringkuk di pangkuan ibu. Rumah cukup sepi. Ayah belum balik kerja, dan kakakkakakku keluyuran entah ke mana. Aku takut sekali. Maka, kuceritakan pada ibu semua yang telah diceritakan Uak padaku, soal burung hitam itu, soal firasat kematian. 

“Itu cuma burung, Nak,” jawab ibu enteng, tak sedikitpun kecemasan tersirat di wajahnya. 

“Tapi kata Uak, burung sering datang sebagai alamat, burung prenjak berkicau di pekarangan rumah sebagai pertanda datangnya tamu. Dulu, waktu Budhe mau datang dari Kalimantan, ada burung prenjak juga yang berkicau di atas pohon petai. Tapi sekarang burung gagak, dan kata Uak...” kataku terpasung, penuh kemurungan. 

“Hidup dan mati itu urusan Tuhan, bukan urusan burung-burung,” ibu menyanggah. Kata-kata yang nyaris sama pernah kudengar dari guru agama di kelasku, bahwa kematian itu memang urusan Tuhan. 

“Tapi, bukankah Tuhan kerap mengirim tanda-tanda buat seseorang?” aku berusaha mendebat ibu. 

“Dan kiriman itu bukan berupa burung,” sahut ibu, cepat, “tapi berupa uban, sakit, pendengaran yang buruk, serta penglihatan yang mulai buram, itu yang ibu tahu,” sambung ibu setengah berbisik. Membuatku bungkam, tak hendak membantah katakatanya lagi. 

“Oh ya, sebentar, kopi Uakmu,” ibu beranjak ke dapur, kesunyian segera membaluriku. Terdengar suara cangkir mengetuk punggung meja, lalu suara sendok yang mengetuk-ngetuk dinding cangkir. Tak kurang dari lima menit, secangkir kopi mengepul sudah berpindah ke tanganku. Dan sebentar lagi akan melayang ke maja bundar di rumah Uak, lalu Uak menyeruputnya sambil bercerita apa saja kalau aku tak segera enyah dari hadapannya. Asap tipis dari permukaan cangkir berlambaian dihalau angin. Aroma pahit kopi menguar menerobos lubang hidungku. Warna hitam yang berguncang dalam cangkir mengingatkanku pada bulu-bulu gagak yang mengkilap. Aku kembali teringat soal firasat kematian itu. 

Aku mengetuk pintu rumah sebelah dan menerobos begitu saja karena pintu rumah itu tak pernah terkunci. Suara radio sayup-sayup melantunkan iklan anggur kolesom. Aku meletakkan kopi itu di atas meja dan menyeru Uak. Tapi Uak tak menyahut. Biasanya begitu aku menyeru soal kopi, Uak segera muncul. Dipan ruang tengah kosong. Aku merunut muasal suara radio yang sudah berganti melantunkan lagu dangdut lawas. Suara itu jelas berasal dari kamar Uak. Benar. Dan di kamar itu, di atas dipan, di sebelah radio yang terus mengoceh, aku mendapati Uak berbaring miring memeluk lutut, berkemul sarung. 

“Uak, kopinya...” kataku. Tapi Uak tak bergeming. 

Aku menggoyangkan tubuhnya. Beberapa kali. Dan Uak tetap tak bergerak. Tubuhnya dingin dan sekaku kayu bakar. Aku menghambur menyeru ibu. Lalu silih ibu yang berlarian menyeru para tetangga dengan muka panik. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku mendengar suara sepiker memekik lantang dari bubungan surau. Nama Uak disebut di sepiker sebanyak dua kali. Sebagai si mati. Sebagai si mati. ❑-c 

Malang, 2016 

*) Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 9 Juli 2017

0 Response to "Uak dan Burung Gagak"