Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:30 Rating: 4,5

Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet

BUTET, sepupuku memanggil dengan suara agak ditekan melalui jendela rumahnya. Ia berkata ada rahasia yang sedang gempar di desa. Diam-diam kami pergi dari pintu belakang saat Bapak dan Ibu tertidur selepas makan siang. Kami berhenti di ladang bekas panen padi. Semak mulai tumbuh. Sejenis rumput menjalar mengelilingi batangbatang jerami. Kupetik tangkai padi yang sengaja dibiarkan karena waktu itu bulirnya masih muda. Aku gemetaran melihat selembar daun merayap di punggung tanganku. 

“Itu belalang,” kata Butet. 

“Apa ini bukan daun?” tanyaku, merasa aneh sendiri. Ragu-ragu aku menangkapnya lalu mengarahkan bagian yang berdiri ke wajahku. Ia rupanya ada mata. Kecil. Seperti titik dua, namun pancarannya mengingatkanku pada ibu jari yang tertusuk peniti saat mengambil duri. Aku bergidik takut seakan darahku semua menuju kepala. 

“Belalang,” kata Butet lagi—ia memang senang baca buku yang isinya memuat flora dan fauna. 

“Belalang setan?” 

Butet menatap lekat mataku. Dalam matanya kulihat yang berwarna hitam. Lebar. Di dalam warna hitam lebar itu ada dua sosok memanggil-manggil. Api bernyala-nyala mengelilingi mereka, membuat tubuh mereka bergoyang seperti terpal dihantam badai. 

“Kau bisa meramal sesuatu?” aku bertanya pertama kalinya meski sebenarnya tak terlalu yakin. 

“Tentu saja tidak. Kau mengenalku sejak kecil.” 

Mengenai mataku yang melihat keanehan di dalam matanya, menurutnya, itu karena aku terlalu lama melihat ke arah matahari. Matahari putih yang terlampau terik, jika dipandangi tanpa pengaman bisa membuat mata memunculkan bayang-bayang. Bisa berupa balon-balon udara yang dimasuki seekor belalang. Bisa seperti ada yang berkejaran, katanya. Kupikir yang ia katakan ada benarnya. Setelah menutup mata sebentar penglihatanku kembali normal. 

Belalang yang membuatku merinding tadi, kini sudah tak ada. Entah kapan ia pergi. Dengan cara apa? Merangkak? Terbang atau menghilang begitu saja? Sudah sering bermain di bekas panen padi, baru kali ini kutemukan belalang semacam itu. 

Kadang ia juga bisa datang ke dinding rumahmu. Diam-diam ia memanjat bajumu, masuk ke rambutmu dan membuat rumah di sana, kata Butet. Tapi kubilang jangan menceritakan hal horor lagi. Nanti aku ngompol. Lagi pula tak ada hubungan belalang dengan rahasia. 

Kami hanya ke ladang bekas panen padi lalu kebetulan saja ada belalang merayap di tanganku. Dasar penakut, ejek Butet. Meski aku anak laki-laki sehat dan berotot, tapi untuk cerita begituan aku lebih lemah dari bayi. Bila malam tiba kubangunkan Bapak menemani kencing. Sedang Ibu, aku lebih sering terkejut mendapati mulutnya yang sewarna darah. Gusinya selalu penuh. Ibu suka menyirih. Sehabis itu ia menggosok-gosokkan tembakau ke seluruh gigi. Kata Ibu, giginya yang sudah goyang itu suka gatal. Jika digosokkan tembakau gatalnya hilang. Selain itu bisa juga mengobati bentol-bentol karena ulat bulu, atau bekas gigitan serangga. 

Pernah ada yang datang minta tolong. Kami semua sudah tidur. Seseorang itu mengeluhkan kakinya baru saja dipagut ular. Ibu memeriksa bekas gigitannya. Hanya luka sedikit, kata Ibu. Namun bila tak diobati nyawa bisa terancam. Segera Ibu ke kamar—bukan kamar tidur bersama Bapak, tapi kamar khusus Ibu menyimpan ramuan. 

Dioleskannya krim ke kaki orang itu. Disembur sirih ke badannya. Ibu membisikkan sesuatu ke ubunubunnya. Tak lama setelahnya seseorang itu pergi dengan mengucapkan terima kasih saja. Kudengar ia belum punya uang. Ibu jawab tak apa-apa yang penting sembuh dulu. 

Hampir selalu begitu. Belum pernah kulihat Ibu menikmati jerih payahnya. Paling dibawakan rokok, buah, beras, kelapa, sayur, dan ternak. Jika pasien Ibu sudah pergi, aku segera tengkurap dan pura-pura ngorok. Ibu tak membolehkanku penasaran bila sedang mengobati. Urusan orangtua tak perlu dicampuri anak-anak, begitu Ibu berpesan. 

“Lalu, apa rahasia yang kau mau katakan itu, Butet?” 

“Tapi kau harus berjanji menjaganya. Pokoknya tak ada yang boleh tahu. Bisa?” 

“Bisa. Aku bisa,” jawabku, dan langsung menautkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya. 

Berhari-hari belakangan— mungkin semingguan lebih, kata Butet ada pertemuan sembunyisembunyi di rumah seorang laki-laki di ujung desa. Orang-orang lewat yang tak terlibat dalam perbincangan mengira itu sebagai ajang kumpul-kumpul (tempat singgah untuk beristirahat) sewaktu kembali dari kebun masing-masing. 

Di sana orang-orang itu bisa ngopi, minum tuak (arak), memesan teh manis, merokok. Yang perempuan ada juga yang ngemil kacang tanah. Rumah itu dari kejauhan terdengar riuh. Namun saat Butet akan sampai tiba-tiba hening. Seakan semua tak saling kenal. Seakan semua larut dalam pikiran masing-masing. Butet akhirnya singgah karena Bibi Hana, ibunya Butet kehausan. Persediaan air minumnya habis. Bibi Hana memesan segelas teh, diminum segera lalu pergi. 

Tapi menurut Butet lagi, waktu ia ke belakang menompang pipis, dari balik tirai yang dibuat seadanya sebagai penutup kamar mandi ia dengar orang-orang menyebut sebuah nama. Ranggas. Siapa Ranggas? Belum pernah ia dengar nama itu sebelumnya. Lagi pula nama itu terkesan sembarangan. Ranggas, menurutnya hanya ranting-ranting kayu kering. Ranting kering seharusnya dipotong dari dahan kemudian dibakar. Maka ia buka tas, ia catat. Butet memang senang membawa buku kosong dan pena setiap ia keluar rumah. 

Seperti yang kukatakan sebelumnya ia suka flora dan fauna. Ia akan mencatat mengenai tumbuhan yang kali pertama ia jumpai. Begitu pula dengan hewan, dan apa saja yang terasa asing ataupun sekadar berkelabatan di kepalanya. Pernah kucuri sirih dan rempah obat yang belum ibuku racik. Ia terkekeh memandangi mulutku yang merah. Kau seperti drakula, ejeknya, lalu mencatat itu. 

Aku tidak tahu persis apa yang ia tulis, tapi kukatakan padanya: kelak jika sudah tua kau akan jadi ilmuwan. Ia menarik daun telingaku sampai jauh. Sampai merah dan panas. Agar berhenti kubilang ia akan tetap gadis cantik berumur belasan tahun meski lama hidupnya sudah seratus. Ia terbahak. Liurnya menetes ke tanganku. Aromanya wangi seperti daun-daun padi yang baru muncul. Seketika aku terkesima. Bila sudah begitu, aku pasti menggelitiki telapak kakinya sampai nangis. 

“Jadi sudah kautemukan teka-teki nama itu?” 

“Belum.” 

Tapi aku curiga ia telah mengetahui sangat banyak dan akan menceritakannya perlahan sampai aku benar-benar masuk perangkapnya—maksudku sampai ia benar-benar melihat sorot mataku yang paling serius. Tak ada begu (setan) di sini ataupun di rumahmu, katanya, suatu malam sewaktu belajar kelompok di rumahnya dan aku minta diantarkan pulang sebab listrik padam total. 

** 
AKU melakukan pengintaian berikutnya. Kubuat alasan kepada Mama agar diizinkan keluar rumah. Ada tugas mengenai hewan dan tumbuhan dari sekolah, ujarku. Aku harus juara di semester ini. Juara umum. Mama pun membolehkanku. Mama selalu mendukung apa pun yang kulakukan. 

Hari kedua, aku baru tahu kalau Ranggas itu perempuan. Suka menyirih, suka menggosokkan tembakau ke gigi. Tapi hampir semua perempuan menikah di desaku melakukan hal semacam itu, termasuk mamaku. Hanya, perempuan penyirih yang mereka maksudkan ini, hebat. Punya ilmu. 

Pamanku, Bapaknya Timur, sepupuku yang penakut itu tiga minggu lalu terlibat pertengkaran dengan tetangga ladangnya. Si tetangga ngotot menuduh Paman menggeser tapal batas sekitar satu meter. Harusnya pohon kemirinya berjumlah seratus. Kok tinggal sembilan puluh sembilan? Kenyataan tak sebatang pohon kemiri pun di ladang Paman. 

Untuk tanaman tua Paman hanya menanam kemenyan. Saat Paman bilang barangkali dulu sewaktu masih kecil batang-batang kemiri yang dipinggir sakit lalu mati, si tetangga itu langsung menuduh: jangan-jangan kauguna-gunai. Istrimu yang melakukannya. Dasar parbegu ganjang! cecarnya, tanpa membiarkan Paman membela diri. Seminggu kemudian lelaki tua itu kejang-kejang lalu mati. 

Cerita itu aku tahu saat menguping ketika Mama bertandang ke rumah Paman, di mana waktu itu lengan kanan paman berdarah. Kena tebas parang, kata Paman. Mama membantu Tante meracik obat Paman. Saat aku duduk lebih dekat, Mama menyuruhku pulang. Sana, pergi belajar. Bilangnya mau juara? Aku pun pergi. Namun bukan benar-benar pergi. Aku berdiri di balik dinding, kemudian berlari sekencang-kencangnya saat sudah yakin siapa sebenarnya Ranggas yang dibicarakan banyak orang di rumah laki-laki di ujung desa. 

** 
AKU ketiduran saat Butet bercerita. Tahu-tahu matahari sudah ke barat. Ketika kukatakan ayo pulang, Butet menahan badanku. Kugertak mata Butet. Bagian hitam matanya berubah menjadi layar. Aku bisa melihat dengan jelas sesuatu yang berkibarkibar. Sebuah kobaran api. Tinggi. Besar. Menjulang. Di sekelilingnya orang-orang berteriak: begu, begu, bakar rumah ini, bakar orang itu, laki-laki itu, perempuan itu! 

Aku patah hati dan menjerit. Butet membekap mulutku. Jangan berbunyi, katanya. Jangan cengeng bila kau tak mau terbakar. Kau tidak akan tahan. Kau akan gosong. Hangus, kata Butet, menggenggam debu tanah di kiri-kanan tangannya. 

Layar di bagian hitam mata Butet mengalirkan cairan berwarna merah. Ada tangisan memanggilmanggilku, menggapai-gapaiku. Ibuku. Bapakku. Tapi aku tak percaya kalau Ranggas itu nama ibuku. ** 

Riau, Maret 2017 

Cat: Begu ganjang = Semacam ilmu santet 

Jeli Manalu merupakan penikmat sastra. Sejumlah karyanya telah diterbitkan di sejumlah media massa nasional dan daring.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jeli Manalu 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu 27 Agustus 2017 

0 Response to "Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet"