ayam den indak lapeh - merawat kumis - memancing ikan di air dangkal - beternak ayam di kandang sendiri - dilarang bermain api - menjual bawang merah ke padang panjang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
ayam den indak lapeh - merawat kumis - memancing ikan di air dangkal - beternak ayam di kandang sendiri - dilarang bermain api - menjual bawang merah ke padang panjang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:17 Rating: 4,5

ayam den indak lapeh - merawat kumis - memancing ikan di air dangkal - beternak ayam di kandang sendiri - dilarang bermain api - menjual bawang merah ke padang panjang

ayam den indak lapeh

kulepaskan ayamku,
kutangkap kembali,
kuikat kakinya,
kutajamkan tajinya,
kuusap-usap bulunya,
kumasukkan dalam kandang,
kuberi makan,
kujentikkan jari,
berkokok dia tujuh tingkat.

sikua capang sikua capeh, 
sikua tabang sikua lapeh, 

tak kubiarkan lagi dia terbang,
tak kubiarkan lagi dia lepas,
kupotong ujung sayapnya,
kukarang dengan tali sekeliling
arena bermainnya,
kulepas induk ayam di kandangnya.

mana mungkin lagi bakal lurus
jalan ke payakumbuh, mana
mungkin lagi berbelok jalan
ke andaleh, mana mungkin lagi mendaki
jalan ke pandaisikek, mana
lagi menurun jalan
ke palupuah, mana lagi ada
duduk termenung setiap sebentar,
kututup semua pintu,
kujaga ayamku. di luar ganas.

merawat kumis

su, sekarang aku mempunyai kegemaran baru.
kamu mau tahu ’kan! aku gemar merawat kumis.
kumisku semakin tebal saja. mereka tumbuh
sangat kasar. aku suka mematok kumisku
di depan kaca. aku pelintir. aku usap-usap.
pagi, siang, malam. aku goda kumisku yang dalam
kaca

aku bosan menonton televisi. televisi semakin
membuat aku bodoh saja dengan informasi,
ya, kamu tahulah. kegemaranku menonton televisi
diganti dengan kumisku yang tumbuh semakin lebat.
tubuh kumisku molek, lekuknya membuat mataku
tak mau berpaling

hatiku menderita melihat kumisku menderita
setiap kali dia harus aku bunuh dengan mata
gunting. sama menderitanya setiap aku menonton
informasi di televisi. aku bunuh hasratku terhadap
televisi. aku hidupkan hasratku terhadap kumis

kau bakal tahu, su. lihatlah kumisku.


memancing ikan di air dangkal

aku pancing ikan di air dangkal
ikan ini ikan migrasi daratan tinggi

aku tidak butuh ikan di air dalam
tali pancingku tali pancing pendek

aku lempar ikan ke air dangkal
mata pancing menancap di limau hanyut

tidak apa
aku hanya butuh limau hanyut ini.

beternak ayam di kandang sendiri

saya gemar beternak ayam di kandang sendiri.
kas, anak adik ibu, mengajari saya meraut betung dengan
pisau bersepuh. memaku betung di empat sisi kandang.
”biar tak masuk angin buruk yang bakal membunuh
detak jantung ayam kita.” kas senang berkelakar.
”lain waktu bisik di jantungmu juga kita kandangkan,
biar bisik buruk terkurung buat waktu yang panjang,
bisik baik pandai menjaga ke mana angin harus
berhembus membawa kabar.”

aku muak beternak ayam di kandang tetangga. ada
saja ayam yang hilang dengan betung kandang patah tiga
dikoyak musang. satu belahan betung mengoyak isi jantungku,
satu belahan betung mengoyak isi jantung kas, satu belahan betung
menutup pintu masa lalu yang hendak masuk masa depan.
”musang di jantung si anu begitu liar kalau sudah menyangkut
ayam tetangga.” kelakar kas cukup pandai membuat
aku tertawa pingkal. ya, begitulah.

dilarang bermain api

ibu menyorongkan kayu ke dalam tungku,
kayu dipotong dari hutan garogok, diambil
petang hari, dijunjung ibu sepanjang empat kilometer.

”ibu bakar keringat ibu?” ”bukan, nak,
ibu bakar kayu api.” ibu singkap lengan
baju beraroma rinju. salung api ditiup,
bunga api jadi bunga warna merah.

”ibu pintar bermain api?” ”bukan, nak,
ibu menghidupkan api biar matang gulai
kentang ini, biar bapakmu yang gendut
itu makan pagi.”

aku tertawa. ibu tertawa. keringat ibu
jatuh satu-satu. aku tertawa.

menjual bawang merah ke padang panjang

su, kau orang mudiak yang bangun dini hari,
katamu di mudiak bawang merah berbuah kecil,
tanahnya tanah berpasir, telapak tanganmu
pecah-pecah, serupa nasibmu pecah-pecah.

katamu, ke padang panjang pergi ke pakan namanya,
membawa bawang merah, membawa garis
telapak tanganmu buat ditukar ikan padang,
singgang tujuh biji, lapek bugih, katupek pitalah.

Alizar Tanjung lahir di Solok, Sumatera Barat. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alizar Tanjung 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 13 Agustus 2017

0 Response to "ayam den indak lapeh - merawat kumis - memancing ikan di air dangkal - beternak ayam di kandang sendiri - dilarang bermain api - menjual bawang merah ke padang panjang"