Bus Menuju Peradaban | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bus Menuju Peradaban Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Bus Menuju Peradaban

SEANDAINYA semua bus di dunia hilang, apakah mungkin Mariana masih pergi dari sini? Aku tidak dapat membayangkan sepelik apa urusan mereka yang senang mencari masalah, tetapi enggan menghadapi dan lebih memilih lari, jika semua bus di dunia ini hilang? 

Seandainya itu terjadi, aku tentu senang. Ketika bus-bus mendadak lenyap, mereka yang akan lari dari tanggung jawab akan berpikir ulang, “Kiranya aku dapat mencuri mobil!” 

Barangkali kesialan macam itu tidak terjadi di tempat lain, tapi aku tahu, di dusun ini, kekayaan adalah hal mustahil, kecuali seseorang membawa ilmu sihir di tubuhnya. Sayang, orang-orang terlalu beriman untuk tidak tahan terhadap godaan yang tidak terlalu berpengaruh dalam hidup mereka. Sebuah mobil, misalnya, tidak akan memiliki arti di sini, di suatu dusun yang bahkan untuk mengayuh sepeda pun tidak semulus yang kita bayangkan. 

Orang-orang tidak bermobil. Orang-orang berjalan kaki. Begitu pun para pengecut yang telah merampas sebagian besar hal baik dalam kehidupanku. Mereka tentu juga harus berjalan. Berkilo-kilo jauhnya jarak mereka tempuh. Sekalipun jalan aspal dengan lubang-lubang di sanasini, dan bukan sepenuhnya hutan rimba, akan amat sulit ditempuh. 

Dari rumahku, jika ingin mencapai jalan aspal, yang kadang-kadang dapat disebut jalan raya, meski sangat sepi, seseorang harus lebih dulu menempuh medan berlumpur, dan baru setelah itu dapat mencegat bus yang lewat dua puluh empat jam sekali. Mariana, tentu saja, telah menumpang bus itu. Khayalan betapa semua bus di dunia ini mendadak menghilang mungkin tidak terlalu berguna, sebab toh dia juga sudah tidak ada. Namun aku malah senang mengkhayalkan itu detik ini, ketika kusadari kemungkinan segala yang telah dicuri dariku mustahil kembali. 

“Kita tertinggal sehari di belakang. Kalau nanti bus berikut datang, Mariana sampai di pinggir kota. Pada saat itu, kemungkinan kalian bisa ketemu jadi sangat kecil, bahkan hilang sama sekali,” prediksi Mudakir, sahabatku yang sejak awal sering mengingatkan, tetapi selalu kubantah. 

Mudakir memang tidak suka caraku mengenal Mariana. Aku dan si wanita itu dekat dengan cara kurang wajar, dan meski tidak ada kejadiankejadian mesum di antara kami, Mudakir mengira wanita itu tidak tepat untukku. Aku tahu ada banyak wanita tertarik menjadi istriku sejak kudapatkan warisan besar berupa beberapa hektare lahan. Dusun-dusun di sekitaran hutan diisi orang-orang yang masih berkaitan erat; sebagian bahkan masih sangat kental hubungan darah mereka. Beberapa lain kenal sejak brojol dari rahim ibu masing-masing. Jadi, siapa tidak tahu betapa pemuda pengangguran ini, yang tidak pernah berhasil dalam perkara asmara, mendadak diincar banyak wanita? 

Aku sangat mengerti cara memilih perempuan, sekalipun selalu gagal jika sedang jatuh cinta. Aku tahu beberapa perempuan lebih menyukai apa yang seorang laki-laki miliki ketimbang si laki-laki itu sendiri. Dan aku tidak ingin calon istriku tertarik padaku justru karena harta warisan yang kudapat. 

Karena terlalu lama membujang dan tidak sabar membangun kehidupan percintaan, aku pergi ke kota menumpang bus suatu hari. Di pinggiran kota, terminal penuh orangorang dari berbagai arah membawa banyak tujuan. Dari terminal itu, aku kembali pergi, menjauh dari kampung halamanku hingga tiba ke kota berikutnya. Demikianlah, aku terus berpindah bus selama beberapa hari, hingga sampai ke suatu tempat yang menurutku lumayan bagus. 

Kukatakan pada kondektur bus, “Sebaiknya saya turun di sini.” 

“Sebaiknya Anda turun di sini?” tanyanya keheranan. 

“Ya, memang saya tidak pernah tahu tempat macam apa ini. Namun saya kira akan mendapat sesuatu yang bagus di sini.” 

Begitulah, hari-hari yang aneh pun berakhir dengan pertemuanku bersama seorang wanita bernama Mariana di rumah makan dekat pom bensin. Mariana tidak ada teman makan. Kami berkenalan dan duduk berdua sampai hampir dua jam. Sampai tak terasa betapa makanan dan minuman kami telah lama tandas. 

Perkenalan itu pun kubawa ke dusunku yang terpencil, dan segera menjaring ragam reaksi. Orang-orang terdekat sebagian besar setuju aku menikahi Mariana, meski wanita itu tidak lagi punya keluarga, karena suatu tragedi besar menimpa mereka. 

Beginilah cerita yang kami dengar dari Mariana tentang bagaimana dia kehilangan keluarga. 

“Suatu malam saya tidur dan ketika masih dalam keadaan lelah, ada laki-laki masuk kamar dan meminta saya pergi dengannya. Saya tahu itu paman saya, yang tidak dianggap waras, sehingga saya kira itulah sebabnya kenapa mereka membiarkan kami berdua pergi. Di ruang tengah, masih saya ingat, ketika itu sangat berisik. Orang-orang datang dan membawa celurit, serta menuduh-nuduh bapak saya anjing busuk yang layak disembelih.” 

Ketika akhirnya orang-orang memang menyembelih bapaknya, Mariana tahu tidak ada lagi yang tersisa baginya di situ. Ibunya juga tidak berdaya dan mati dengan cara sama. Bersama pamannya, Mariana hijrah ke dusun lain, dan mendapat perlakuan kasar, hingga dia diangkat anak oleh sosok asing yang pada harihari belakangan kerap kali disebutnya sebagai “papaku”. Tentu saja, kini papa Mariana telah tiada, dan lelaki itu meninggalkan sejumlah warisan. Sayang, kehidupan baik yang Mariana dapatkan setelah tragedi besar menghabisi seluruh keluarga kandungnya tidak lantas membuatnya segera mendapat jodoh. 

Karena sikap baik Mariana, orangorang terdekatku menyukainya, dan tidak peduli pada sejarah kelam wanita itu. Beberapa orang menolak Mariana. Di sekelilingku, orangorang itu seakan bekerja kepada pihak tertentu yang lahir ke muka bumi untuk membenci anjing-anjing busuk serupa bapak kandung wanita itu. 

Yang paling membuatku sedih, salah satu sahabat dekatku, Mudakir, juga ikut barisan kedua. Ia menolak Mariana dengan tegas, karena menurutnya, di sini tak harus dilahirkan penerus anjing-anjing busuk yang dahulu memang patut ditumpas oleh seorang jenderal. 

Namun, tentu saja, aku tetap teguh menyanding Mariana di sisinya. Toh keluarga besarku hanya sedikit yang tidak setuju. Itu pun mereka tidak terlalu berani mengungkap ketidaksukaan. Jadi aku sekadar tahu siapa anggota keluarga besarku yang membenci wanitaku, sementara mereka tidak dapat berbuat apa-apa. 

Kukatakan pada mereka, “Jikapun memang sejarah seorang perempuan seburuk itu di mata kalian, bukankah dia punya masa depan yang panjang, yang tentu sangat mungkin lain dari apa yang orang tuanya lalui?” 

Sejak itu orang-orang sepenuhnya mendukungku. Mariana pun tampak bahagia dan tidak sabar untuk segera kunikahi. Maka, setelah sebelumnya ditampung seorang bibiku yang baik, wanita itu segera pindah ke kamarku, setelah resmi menjadi istriku. Kami nikmati beberapa malam bersama, sampai akhirnya suatu malam, wanita yang menjadi belahan jiwaku itu, hilang entah ke mana. 

Tidak ada yang dapat kami pikirkan tentang Mariana, kecuali tentang watak palsu yang selama ini dia perankan. Nyatanya, uang hasil penjualan warisan, yang telah kumaksudkan untuk membangun bisnis baru di pinggiran kota demi menjauhi orangorang yang tidak suka pada istri baruku ini, hilang. Mau tak mau orang berpikir wanita itu yang mencuri. 

Aku masih tidak percaya sampai kutemukan sebuah surat, tepat sehari setelah dia pergi. Surat itu diletakkan persis di bawah bantal. Seandainya aku tidak meraih bantal itu untuk memeluknya karena kepalaku penuh isi, mungkin pengetahuan tentang dia yang mengkhianati dan memperalatku sejak awal terlambat kusadari. Mariana dengan terang mengakui dia rela datang jauh-jauh ke sini, lantas bersedia menikah denganku, adalah karena harta warisan yang kudapat. 

“Tentu cerita tentang anjing yang disembelih antek jenderal itu, semua bull shit!” tutupnya dalam surat bernada sinis dan penuh kepuasan total itu. 

Aku hanya berbaring kaku selama dua jam. Setelah itu baru aku dapat menuturkan kebenaran tentang Mariana kepada semua orang. 

Saat itu, tentu, Mariana sudah berada jauh di depan. Belasan jam lagi bus akan melintasi kawasan ini. Karena tak mungkin menunggu terlalu lama, selagi menanti bus berikutnya lewat, orang-orang menemaniku berjalan, menjemput Mariana yang tak pernah benar-benar mencintaiku. 

Sepanjang perjalanan itu, aku terus saja memikirkan Mariana yang dengan tega melukai hatiku demi uang. Aku juga tidak henti membayangkan seandainya semua bus di dunia ini hilang. Tentu, jika keadaan itu benar-benar terjadi, Mariana akan sukar meninggalkan dusun ini tanpa segera tertangkap. 

Lagipula, jika benar bus-bus hilang, aku pun tidak mungkin pergi dari sini demi menghindari wanita-wanita kampungan yang mendadak tergila-gila oleh harta warisan. Apakah semua wanita begitu? Aku tidak tahu pasti. Yang kutahu pasti saat ini: aku kembali miskin, Mariana meninggalkanku jauh di depan, dan wanita-wanita dusun berubah pikiran tentang apakah sebaiknya mereka menjadi istriku atau tidak. Oh, betapa aku ingin tidur selamanya, sebab keinginan itu jauh lebih masuk akal ketimbang berharap semua bus di muka bumi ini lenyap! (44) 

Gempol, 20 Agustus 2017 

- Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (2016) dan Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 27 Agustus 2017

0 Response to "Bus Menuju Peradaban"