Ceruk Kesedihan ( Siti Zubaidah ) - Hampa - Ratap ibu yang terlampau dirahasiakan - Kesedihan Purba— | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ceruk Kesedihan ( Siti Zubaidah ) - Hampa - Ratap ibu yang terlampau dirahasiakan - Kesedihan Purba— Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:39 Rating: 4,5

Ceruk Kesedihan ( Siti Zubaidah ) - Hampa - Ratap ibu yang terlampau dirahasiakan - Kesedihan Purba—

Ceruk Kesedihan ( Siti Zubaidah ) 

Kau bukan sekadar sebuah nama, atau mitos belaka, Zubaidah
di kening lelaki kau adalah penyandang
kebanggaan sejarah masa lalu,
perempuan yang menyusun harga diri, dari segumpal darah yang tumpah,
juga penenang tilam bantal ketika petang dan malam bertandang
//
Di debar ombak Tanjungjati
kala malam di tuang
dan siluet waktu mencekam
tubuhmu oleng dihantam karang
tersebab telah tertancap sebuah lancang,
perahu yang siap di kemudi oleh kejantanan lelaki.

//
Zubaidah, cintamu terpasung oleh zaman
di lapisi oleh harapan dan makian
kau tak ubahnya bagai hempasan bono di TanjungHarapan
terombang-ambing di birahi yang tersadai,
tenggelam dalam ceruk  kesedihan
pun teramat  memendam agung kerinduan pada rahim ibu

“ibu, Benarkah  adanya, perempuan hanya menjadi pelampiasan 
syahwat di balik segala dongeng cinta dan perlindungan laki-laki?“ 
Ucapnya memekik di tiang angin dengan tangis mengalir ke sungai-sungai

Kedaikopi, 16/07/16


Hampa

Aku berjalan seorang diri,
dalam gelap
senyap
dan sepasang mataku, memantul biji lampion
menerang jalan buntu yang kaku.

Pekanbaru, 2016


Ratap ibu yang terlampau dirahasiakan

Nila ksuma

Jika ibu berkata, masa lalu adalah sumber kebahagiaan
itu adalah kebohongan yang benar, sebab kelampauan yang dimiliki ibu,
bagai sekumpulan capung bermata lembam
yang gemar memilin kesedihan.

“Ibu, apakah kau bahagia selepas menikahi bapak? 
sewaktu melata bibir, memperkeruh adakah cinta yang purba,
Bahagiaku tak terkira, Nak, Bersuami pekeja keras nan setia, “ ucap ibu terbata.

//
Selepas itu, aku kerap menatap ibu memenung diri,
merayakan hari-hari sepi
dan waktu menjelma bak burung yang terkukung di sangkar belati

“ibu, kenapa kau bersedih? tanyaku tak henti

“tidak ada kesedihan yang tidak bersebab, Nak,  Sedang Usiamu yang seumur jagung

tidaklah tepat untuk kudendang  ratap yang tak berkesudah

bermainlah dengan usia,

sebab hitungan waktu tidak dapat diputar,

Serta kenangan hanya kepakan kupu-kupu didera pilu

seiring waktu berjalan, ibu merengkuh, berlalu dengan mata bertabur linang.

Pangkalan Kerinci, 20/11/16


Ombak Bono, Kenangan yang tak bakal disepuh oleh waktu

Bagi Kunni Masrohanti, Sahabat Competer

1.
Awal jumpa pada kenangan itu;  desau angin musim hujan begitu deru,  turun sebutir lalu deras,  Di mana tubuhmu gigil diseduh dingin yang mengancam
teramat lamat kutatap wajahmu digenangi raut kecemasan, namun, cepat  tertangkis dengan gelak tawa meringis.  Kamu tahu, kala itu  hatiku kemayu. Ketika kau sodorkan segelas kopi—mengantar hangat tubuh di antar deram guntur, dan ombak mengelegar runtuh.

2

Di pendopo, selepas deras hujan berangin, seketika lampu-lampu padam, gelap mendiami

ilang jalan, namun tidak dengan hati yang benderang

di hias kerlip rona senyuman, sesekali kutikam hatimu dengan rayuan puisi,

agar terdeteksi pikatnya daku mendambamu ;pujaan

lalu jam menunjukan angka 12 malam, orang-orang sibuk menguap, menina-bobokan mata

yang hampir redup,  obor masih kupegang menyalakan kenangan yang tak bakal kulupakan.


3.

Pagi sekali embun lahir, tubuh oleng terbangun, mencicipi bantal pesing.

Sekawanan masih sibuk berbincang seputar malam yang belum tuntas kita nikmati.

Tapi katamu,”kita sudah teramat bahagia lewat perjumpaan yang tidak terdurga

Perlahan matahari naik,

Bulirbulir rindu menghilir

ombak menghempas.

Kita berlari bagai gembala ditiup angin girang

Lalu kenangan mana lagi yang tak bakal disepuh oleh waktu, “kataku merayu.

Pantai ogis, 03/05/16


Kesedihan Purba— 

 :Eko Ragil Ar-Rahman

Ketika langit gelap
Dan hujan tak kunjung meredah
jejakmu bagai tapak kurcaci
yang gemar menapak ratap
juga menyalak kesedihan purba
di ujung jalan, kau menatap seekor kunang-kunang
berteduh di dahan rapuh
lalu dengan lugu kau beri ia sekotak kenangan
agar tersimpan segala memori
juga kelam yang menampar hasut hati

katamu,” di kota ini senja senantiasa menguarkan cahaya kemerahan,
juga seekor musang yang menebar wangi dedaun pandan.
Tetapi tidak dengan dirimu yang menjelma hantu sawang
sendiri
dan terlumat sepi

Pekanbaru, 2016


Perempuan yang membara api di dadanya


Perempuan itu berdiri
matanya bagai bara yang meluap-luap
barangkali, seliang luka telah mengubun
di lubuk paling purba

Pukul dua dini hari
di patung yang tergantung
bewarna merah—serekah darah
perempuan itu telah ditawan
oleh sekumpulan buaya putih berkepala manusia
tubuhnya dicabik, di rampas kesuciannya

orang-orang berdoa menghilangkan kepala
dan hatinya
sepasang burung ruak mengepak
membiar tubuh perempuan itu dilahap derita.

Di luar—senja terbenam
langit pitam, malam bertandang
angin datang
menghantam bagai tajam belati
kendati perawan dirampas habis
namun desir dendam tetap menyala
di lubuk—perempuan yang membara api
di dadanya

Pangkalan kerinci, 29/09/17


Sisik melik Banyuwangen


Berulang kali degung itu dipukul
balunganing gending membentur bunyi berdengung,

Berderit di atas ancak yang tergantung,
Mengiring lincah tubuh  Banyuwangen
Melenggok, memuas mbirahi  tamu undangan

Di sana,
penonton bertepuk gairah
Menyudahi malam dengan tawa ria
Sembari memberi sawer ke benggol  Penari lincah,

“Iki gendhinge randha kembang, eman lakone wong wirang, 
kepingin laki mung sepisan,
eman tibane kesandung ring dalan ,”
Syair pengagung melantun di purna rembulan

Malam semakin larut, raksa wiletan semakin didendang
Menarilah melik agar kidungan
dan tabuhan gendang tak membosankan


“Kdigi rasane dadi randha kembang, melewati hidup bak batu menggelinding
penuh terjal nan kubang tangis, gelak hambar meringis “Ucap penari dalam batin,
  dikerumun tamu berjubal
  dan udara dingin yang gempal

Pekanbaru, 21/11/2017


Sisik melik Banyuwangen* penari gandrung banyuwangi



Membunuh Keantagonisan Ayah tiri

Bagi Muhammad De Putra

Malam pun tiba,
Kegelapan mulai mencericit deru hidup
di ruang benjana
Ibu sibuk menghitung almanak waktu
Menyisir lebam rautnya yang berbekas telapak tangan Ayah
Aku menatap lamat ke arah Lelaki sableng itu, ia tengah duduk bersila
meneguk bir  dan sesekali mata tajam bagai ujung bedil itu
kembali mempertonton keantagonisan yang menyeramkan

“Ayah, sungguh aku menanam kebencian terhadapmu, kau tak ubahnya  Aomame yang gemar membunuh rahim ibu, sedang  jerit bungkam  hati kami telah terbenam  di dasar laut kesengsaraan

Tepat pukul dua dinihari
Ketika sunyi telah mati
Dan Ayah mendengkur tidur
Ada sebuah  doa  terperanjat  dari kanal-kanakku
yang mengharap iba pada Tuhan berhati Mulia

“Tuhan aku ingin pulang,membawa  jumput senyum  dan jasad ibu di pembaring keabadian.”
jangan ada lagi Dongeng Ayah tiri yang dengan gampang main tangan.


Padang, 23 September 2016


Ihwal Piatu

Bagi Sahabatku, Linda Mamora

Kau bercermin pada penggalan buntung
Yang Mengampung biji kesengsaraan
berbuah kesedihan murung

Di heningnya malam,  angin pengap bagai kecubung
masuk tanpa cela, menyeka air mata
:bercucur duka
//
Debu-debu beterbang
Potret memburam
Orang-orang pulang
Menjuntai Kembang yang bertabur di atas nisan
Sedang kau teramat belia,
memahami ajal yang  bertandang tanpa ketukan
//
Dan semestinya esok atau lusa
Kau tetap mematung
Membentang harap dan cemas
Pada hidup yang langsir tanpa dekap,
tanpa sepotong bingkisan, tanpa pula kata pamit menyentuh palung
sebab  kiranya Rahim yang kau pinjam telah berpulang ke rumah Tuhan
dengan melambai tetesan kenangan

LubukBangku, 27/12/16

Pertempuran Kedukan Bukit Berangka


605 Saka(683 M)
Sebelum ayam jantan berkokok
sebelum Bende ditabuh menjelang Subuh
Suci Dapunta Hyang telah bergegas
mengembat tugas berat sebagai panglima perang Kerajaan Sriwijaya
ia berangkat dari Minanga Tamwan menunggangi perahu
melahirkan gerombolan bala tentara sebanyak 10.000 jiwa
tanduk babi telah menancap di kepala,
semangat bertalu-talu di punggung telah membara
ia tumpas darah-darah yang menindih kecut
jiwa yang mati, dibayar dengan emas, perak, birahi
agar tumbuh nyali, dikaki pasukan yang telah ia giring
untuk mengepung wilayah dalam penjajahan


di siang yang paling rawan,
Serangan bertubi menghampiri
kabut hitam berjelanak mengitar oase bumi
dalam sekejap sepucuk pistol dan Sebilah tombak
menebas, menusuk para lawan dan tawanan
hingga tergenang darah menyeruah
bagai kapas yang melayang
para musuh memburu, menerjang

Suci Dapunta Hyang tak ingin dianggap pecundang
alhasil, ia yang terkepung memilih bertarung
mesti ajal  menumpas di medan perang

LubukBangku, 27/12/16



Pusvi Defi,  Kelahiran Medan, 23 Juni 1994, sedang menyibukkan diri dengan dunia tulisannya. Beberapa Karyanya berbentuk Cerpen dan Puisi dimuat di laman: Rakyat Sumbar, Sumut Pos, Basa-basi.co, koran Harian Cakrawala Makassar, Batam Pos, RiauKepri, Detakpekanbaru, Tetas Kata, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post. Karya-karyanya pun termaktub dalam Himpunan Puisi dan antologi Cerpen, Bergabung di Komunitas Pena Terbang (Competer), Kenduri Puisi Pekanbaru. Penyair berdomisili di Riau- Pekanbaru




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Pusvi Defi (dikirim langsung oleh penulis, terimakasih dan apresiasi)
[2] Pernah tersiar disurat kabar "Lampung Post"

0 Response to "Ceruk Kesedihan ( Siti Zubaidah ) - Hampa - Ratap ibu yang terlampau dirahasiakan - Kesedihan Purba— "