Haji Kusman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Haji Kusman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:00 Rating: 4,5

Haji Kusman

HAMPIR beberapa hari ini, Haji Kusman tak bisa tidur, karena memikirkan keberangkatannya ke tanah suci, setelah menunggu bertahun-tahun. Keberangkatan ini bukan pertama kalinya, tetapi sudah yang ke tiga kalinya. Ia berharap, ini bukan yang terakhir kalinya ia berangkat ke tanah suci. 

Entah, merasa senang ataupun sedih yang jelas dari raut wajahnya tersimpan wajah gelisah. Memang setiap kali berangkat ke tanah suci, jantungnya terasa deg-degan. Untuk hal semacam itu, ia butuh berkunjung ke rumah orang pintar untuk mendapat mencerahan. Biasanya, ia akan mendapat jimat atau doa-doa tertentu. Tetapi, untuk kali ini ia datang ke rumah Pak Yai Suli. Entah mengapa, ia punya pikiran untuk datang ke rumah orang alim.

Sekitar pukul 14.00, Haji Kusman dan istrinya berkunjung ke rumah Pak Yai Suli dengan membawa beberapa bawaan seperti gula, kopi dan amplop putih berisi uang, entah berapa. Mereka dipersilakan duduk oleh putri Pak Yai Suli.

Dari pukul 14.00 sampai 14.30 Haji Kusman dan istrinya masih menunggu untuk menemui Pak Yai Suli. Selang beberapa waktu, suara pintu terbuka dari ruang belakang. Sementara ia dan istrinya berdiri seperti sedang menanti apa yang ditunggu-tunggu. Mereka saling beradu pandang.

“Apa yang harus kukatakan kepada Pak Yai Suli?” tanyanya pada istrinya.

“Katakan saja kalau kita akan berangkat haji Minggu depan. Kita hanya ingin mendapat doa atau jimat darinya,” jawab istrinya.

Putri Pak Yai Suli muncul dari ruang belakang melangkah menuju ke ruang tamu. Wajah gadis itu tertunduk, seperti kebingungan.

“Mohon maaf Pak Haji, Abah sedang tidak ingin menemui tamu. Kata abah, Njenengan disuruh pulang saja. Sekali lagi saya minta maaf atas perlakuan Abah.” Gadis itu terus menundukkan kepalanya ke arah lantai. Ia takut jika membuat tersinggung Haji Kusman dan istrinya.

“Tapi kenapa, apa salah saya?” tanya Haji Kusman bernada membentak.

“Saya juga tidak tahu Pak. Setahu saya kalau Abah tidak mau menemui tamunya pasti ada sesuatu hal yang tidak bisa diterimanya. Abah sedang marah, entah karena apa. Abah mengatakan, jika beliau tidak mau menemui haji pengabdi setan,” jawab putrinya gemetar.

Seperti yang ditakutkan gadis itu, Haji Kusman melototi gadis itu lekat-lekat, dahinya mengernyit, nafasnya naik turun, seperti pompa minyak yang akan menyembur. Matanya semakin tajam menatap gadis itu yang hanya bisa tertunduk. Gadis itu semakin takut dengan apa yang ditunjukkan Haji Kusman.

“Katakan pada Abahmu, ini sebuah penghinaan. Bilang saja kalau beliau iri dengan saya yang sudah berangkat ke tanah suci dua kali dan akan berangkat untuk ketiga kalinya Minggu depan.” Pak Kusman menggandeng istrinya beranjak keluar dari rumah Pak Yai Suli tanpa salam. Umpatan-umpatan yang tak pantas terus terucap. Gadis itu tetap tak bergeser dari tempatnya. Ia mendengar umpatan-umpatan itu, seperti ribuan pisau yang menyayat hatinya. Beberapa kali Haji Kusman menyebut nama-nama binatang sebelum ia naik mobil.

Sesampainya di rumah, sebuah guci menjadi sasaran atas kekesalan hatinya, demikian dengan vas bunga milik istrinya yang menjadi berkeping-keping. Ia masih terngiang-ngiang oleh ucapan putri Pak Yai Suli. Sementara musim kemarau telah membuat rumahnya terasa pengap. Barangkali hawa panas telah menyuburkan amarahnya. Pohon-pohon di dekat rumahnya menjadi gundul, karena daun-daunnya digugurkan oleh musim.

Musim kemarau telah mengeringkan beberapa irigasi sawah para warga. Pun juga sungai-sungai yang ada di kampung itu telah menjadi lahan kering. Upaya untuk bertahan dengan kondisi yang memprihatinkan itu telah berlangsung sebulan yang lalu, saat hujan tak lagi mau turun. Untuk bisa mencuci dan minum pemerintah telah menyediakan bantuan PDAM tetapi dalam jumlah terbatas. Biasanya petugas PDAM datang ketika sore hari, dengan puluhan warga telah mengantre sejak jam dua siang.

Musim kemarau memang menakutkan.


***
LELAKI itu terus berjalan, seolah-olah ia telah menemukan tujuan pasti. Sesampainya di pertigaan jalan, ia menutup kepalanya dengan sebuah topeng hitam, lalu melangkah mengendap-endap di depan rumah besar. Ia memanjat pagar rumah itu.

“Rasakan Haji sialan, akan kukeruk hartamu biar tidak bisa berangkat haji lagi. Dasar haji sombong, suka pamer. Orang-orang pada kesulitan untuk bertahan hidup, dia malah enak-enakan berangkat haji, apalagi sampai tiga kali. Dasar orang tidak punya perasaan. Dasar orang pelit,” umpat lelaki itu dalam hati. Ia mengeluarkan sebuah obeng dari saku jaketnya untuk mencungkil jendela. Ia akan masuk lewat ruang depan.

Dengan hati-hati, lelaki itupun masuk dalam rumah. Baru pertama kali ia melakukan pencurian. Sebelum ia masuk ke dalam ia sempat memanjatkan doa. “Ya Allah, berikanlah kelancaran melakukan dosa ini.”

Dengan penuh hati-hati, ia memasukkan tumpukan uang dan perhiasan ke kantong yang dibawanya dari rumah. Ia juga membuka kulkas lalu mengambil beberapa makanan. Ia beranjak pergi, tetapi apesnya ia kepergok setelah ia menyenggol guci, sehingga pecah memunculkan suara nyaring.

“Maling!!! Maling!!!” teriak Haji Kusman sambil berusaha mengejar.

Mendengar suara teriakan itu, para warga yang ada di pos ronda langsung segera mengejar maling itu. Lelaki itu terus berlari menjauh dari kejaran warga. Ia melempar hasil curiannya ke semak-semak agar ia dapat mengambilnya di lain waktu.

Dipikirannya hanya ada lari dan terus lari. Tetapi malangnya ia tersungkur, karena tersandung batu. Ia tertanggap warga.

“Bakar saja dia!”suara itu berasal dari arah belakang kerumunan warga. Haji Kusman muncul dari arah belakang yang dari tadi berusaha mengejar maling di rumahnya dengan membawa minyak tanah dan korek api.

“Maling bangsat, seharusnya kau dibunuh saja,” ujar Haji Kusman sambil menampar wajah maling yang tertangkap. Kemudian ia membuka penutup kepalanya.

“Ternyata kau, Rustam. Kurang ajar. Kau seharusnya dibakar hidup-hidup.” Berkali-kali ia memukul, menendang, menjambak rambut Rustam sampai-sampai warga merasa kasihan dengan Rustam. Salah satu dari warga ada yang mencoba untuk menahan amarahnya tetapi warga yang melerai malah dibentak-bentak.

Haji Kusman terus berkoar-koar. Para warga semakin geram, tak tahan dengan sikapnya. Rustam bangkit, lalu menyiramkan minyak tanah ke badannya. Ia menyulut api ke badan Haji Kusman. Api menjalar cepat. Dalam sekejab rambut Haji Kusman habis dilahab api, kemudian api menjalar memanggang ke seluruh tubuhnya. Ia berguling-guling di tanah, berusaha memadamkan api. Ia terus menjerit, tetapi tak ada satupun warga yang berusaha menolongnya.

“Biarkan saja ia mati, biar tak ada lagi rentenir di kampung ini,” ucap dari salah satu warga.

“Tetapi jika ia mati, pasti kita semua akan masuk penjara,” sambung warga yang ada di kejadian itu.

“Nah, itu yang aku tunggu-tunggu. Kalau dipenjarakan, kita bisa makan, minum gratis tidak usah capek-cepek kerja. Hahaha,” kelakar warga lain.❑-g

*) Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro. Cerpennya terhimpun dalam antologi “Doa Dalam Cinta”, Sayembara Cerpen Nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anas F. Malo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Senin, 28 Agustus 2017

0 Response to "Haji Kusman"