Ke Langit Bersama Azan Maghrib | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ke Langit Bersama Azan Maghrib Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Ke Langit Bersama Azan Maghrib

WAK Kadir, lelaki yang sudah berambut salju itu, masih mengayuh becaknya di tengah terik matahari berdentang. Sudah tiga kali ia bolak-balik dari terminal ke Kampung Purnama, dari terminal ke Perumahan Dock, dari terminal ke Bukit Datuk, sejak tadi pagi. Handuk bacinnya sudah semakin bau dan kuyup karena mengelap keringatnya yang mengalir tiada henti. Semakin lama air yang tergenang di tubuhnya semakin banyak saja yang tumpah. Seolah-olah dari tubuhnya menganga sumur yang tak pernah kering.

Topi pandan Wak Kadir sudah mulai teleng. Walaupun menjalankan puasa di hari keenam di bulan Syawal ini, ia masih semangat. Minimal, bersemangat-semangatlah. Di usia kepala enam ini, selain semangat, apalagi yang ia punya?

Tenaga? Tenaga seperti apa yang diharapkan dari usia yang sudah mulai dijilat senja?

Kini jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 15.37 petang Waktu Indonesia Bagian Barat. Ia masih menunggu pelanggan. Wak Kadir masih memerlukan uang untuk membawa istrinya berobat ke dokter nanti malam.

“Bisa ke Bukit Timah, Pak?” tawar seorang penumpang lelaki berkacamata hitam, berumur kira-kira empat puluhan sambil membawa tas besar dan kantong plastik hitam.

Kadir terdiam sejenak. Ke Bukit Timah? Pikirnya.

Dari terminal ke Bukit Timah bukannya dekat. Ia coba mengira-ngira apakah tenaganya masih cukup dan sanggup mendayung becak sejauh itu. Kadir menghela napas berat. Bukit Timah, Bukit Timah, ejanya dalam hati sambil terus berpikir di tengah ragu.

“Bisa, Pak?”

Wak Kadir terkejut mendengar pertanyaan lelaki berkacamata hitam itu. Pertanyaan dengan suara agak keras itu membuyarkan lamunannya.

Kelebat bayangan istrinya muncul. Perempuan yang amat dicintainya itu terbaring di rumahnya. Batuk menahun membuat intan pilihannya itu terkulai lemah tak berdaya, badannya tinggal kulit pembalut tulang.

Wak Kadir masih berpikir. Apa aku sanggup atau tidak ya? Tanyanya dalam hati tak sudah-sudah.

“Bagaimana, Pak? Bisa?” tanya lelaki dari kota besar itu tampak sangat tak sabar.

“Bisa,” kata Wak Kadir menjawab ragu.

Ya. Sudah tak mungkin menunggu lama untuk membawa perempuan setia kepadanya itu ke dokter spesialis. Mak Leha harus segera dibawa berobat. Penyakit paru-parunya kian parah. Dahaknya sudah mulai merah.

Nanti malam seusai maghrib harus pergi. Harus ke dokter paru. Pikir Wak Kadir. Dirasanya uang dari sewa terakhir ini akan membuat pelengkap hasil sewa yang ditabungnya sejak Ramadhan kemarin.

“Bagaimana, Pak?”

“Sila naik.”

“Sila naik, Pak,” kata Wak Kadir lagi, tersenyum ragu mempersilahkan si penumpang naik ke becaknya.

Dengan membaca bismillah, Wak Kadir mulai mendayung sepeda kesayangannya. Pikirannya mulai disungkup bayangan Mak Leha di rumah. Perempuan yang setia bersamanya sejak seperempat abad lalu itu belum ditemuinya sejak ia berangkat tadi pagi. Nasi dan lauk ala kadarnya memang sudah dimasakkannya. Obat dari puskesmas pun sudah diletakkannya di samping tudung saji. Tapi apakah Leha bisa duduk dan makan sendiri seperti semalam? Tadi perempuan itu belum jaga ketika ia berangkat dari rumah. Ia tak sedap hati membangunkannya karena semalaman tak dapat tidur nyenyak tersebab batuk. Setelah ia kecup kening perempuan itu dengan lembut dan hati-hati, ia pun tancap kerja. Mendayung becaknya keliling kota.

“Hati-hati, Pak. Hampir saja masuk parit. Bapak ini bagaimana sih?”

“Maaf, Pak. Maaf, Pak,” kata Wak Kadir pada penumpangnya yang sebal dengan rasa bersalah.

“Kalau begini, cukup sekali ini saja saya menumpang di becak Bapak ini,” kata sang penumpang dengan wajah amat masam.

“Maafkan saya, Pak,” kata Wak Kadir sekali lagi.

Wak Kadir terus mendayung becaknya sekuat dapat. Ia ingin segera tiba di kampung Bukit Timah. Kakinya mulai terasa memberat.

Wak Kadir mulai merasa tak kuat. Kakinya mulai lemah. Namun, dengan semangat ia kayuh lagi becaknya sekuat dapat, semampu yang ia bisa.

Pikirannya kembali terbang. Ia teringat lagi pada Nurleha, bunga desanya seperempat abad silam. Perempuan anak pamannya itu. Perempuan ranum yang dipuja banyak lelaki muda dan tua. Perempuan yang menjadi buah bibir dari berbilang kaum di kampungnya.

Ia terkenang senyum Leha saat mereka duduk bersanding. Sungguh manis ulas bibir Leha saat itu. Tak puas-puasnya ia memandang roman muka Leha pada malam pertama mereka usai duduk bersanding dulu. Bukan main wangi aroma yang keluar dari tubuh perempuan pujaannya itu. Bau bunga tanjung kala dihembus angin malam. Saat itu, ia ingin memeluk perempuan itu sampai pagi, sampai petang, sampai malam, sampai esoknya lagi. Tak keluar-keluar dari kamar. Tapi apa kata orang nanti? Kadir senyam-senyum sendiri. Kebahagiaan itu terus berlanjut saat Leha mulai menjejak bulan. Berlanjut sampai melahirkan. Akh, kebahagiaan yang sangat dirindukannya. Menimang, mendodoi-dodoikan. Melambung-lambung anaknya secara bergantian dengan istrinya. Menikmati suara tawa gamang dan suka anak mungilnya.

Bayangan Leha pun berubah, kini wajah perempuan itu tampak jelas rautnya seperti ketika dulu mereka kehilangan anak satu-satunya. Anak perempuan mereka yang berumur lima tahun pergi untuk selamanya. Manis raut wajah Nurleha yang dipuja lelaki berbilang kampung tiba-tiba berubah hencut. Perempuan itu berduka. Betapa takkan luka? Betapa takkan duka lara? Anak perempuan yang menyalin rupanya semasa kecil dahulu dipanggil Tuhan secara tiba-tiba. Demam berdarah telah memisahkan mereka. Hati ibu mana yang takkan pilu jika ditinggalkan buah hati ulam sayang? Ketika anak semata wayang yang ditiman-timang siang dan malam pulang takkan kembali lagi? Perempuan itu benar-benar bermuka limau purut yang membusuk. Hari-harinya hanya bermandi duka dan lara. Malam-malamnya hanya berselimut pedih dan perih.

Wak Kadir merasa amat bersalah pada Leha karena tak sanggup membawa Naila Ramadhani, anak perempuan mereka, ke rumah sakit disebabkan duitnya tak cukup untuk menebus obat dan menyewa kamar rumah sakit.

Akan tetapi, beberapa bulan kemudian Leha seolah mampu melupakan anak perempuan mereka itu. Senyum Leha berkibar lagi. Wajah perempuan itu seolah sinar matahari yang terbit seusai malam dihempas hujan.

Leha ternyata sudah sanggup mengobati luka hatinya. Hari-hari berikutnya, perempuan itu selalu hangat padanya, selalu tersenyum padanya walau hampir saban hari hanya makan nasi berlauk ikan asin, sambal belacan, dan rebus pucuk ubi. Bahkan kadang-kadang hanya makan sekali sehari. Kain di badan pun hanya berganti bila hari raya Idul Fitri. Hati Wak Kadir benar-benar terobati karena ketabahan perempuan itu. Hati Wak Kadir benar-benar bahagia mendapatkan amanah Tuhan yang selalu membawa aroma bunga kepadanya.

Lehaaa, Leha. Oh Leha…

Pikiran Wak Kadir benar-benar melanglang buana. Kini ia merasa tangan lembut Leha memijit tengkuknya, punggungnya, lengannya, betisnya, sampai telapak kakinya bila ia ingin tidur. Pijatan kasih tulus Leha membuat tubuh letihnya ringan lagi setelah mendayung becak seharian.

“Hati-hati, Pak!”

Kadir tak menyahut.

“Dasar orang tua sasau! Sudahlah lambat, mengkhayal pula.”

Wak Kadir diam. Kakinya terus mengayuh sepeda.

Penumpang becak Wak Kadir semakin tampak gelisah. Marah, kesal, dan sesal membuncah di dadanya yang berbulu dan merah. Hari sudah agak gelap, sementara jarak ke Bukit Timah masih jauh.

“Hentikan saya di sini, Pak!”

Wak Kadir benar-benar tak mendengar permintaan penumpangnya. Ia makin tenggelam dalam khayalannya sendiri. Hanyut dalam lamunannya yang tak bertepi. Ia tak mendengar omelan penumpangnya. Ia tak melihat gelagat marah dan kesal penumpangnya. Ia terus mengayuh becaknya.

Kini Wak Kadir melihat tangan putih lampai gemulai Leha tiba-tiba melambai padanya dari tengah laut. Wak Kadir makin terpana. Itu wajah Leha sekitar seperempat abad lalu. Itu tangan lembut Leha yang molek dulu. Itu Lehaku dulu. Lehaku yang ranum.
Lehaku yang… katanya seolah tak percaya.

Diusapnya matanya berkali-kali. Benar itu Leha. Itu Leha ketika mengandung Naila.
Kenapa Leha muda lagi? Kenapa Leha bisa berdiri di atas laut? Leha, Leha, Lehaaaaaa….
pekiknya.

Penumpang Wak Kadir melompat.

“Dasar sial! Dasar edan!” hamun- makinya tak berjeda.

Becak Wak Kadir terperosok ke parit. Penumpangnya marah dan memaki hamun tak senonoh berjujai-jujai tak henti-henti. Ia tinggalkan Wak Kadir yang disungkup becaknya di dalam parit. Sungguh ia tak menaruh iba kasihan pada orang tua itu. Ia tak peduli nasib orang tua yang sebaya dengan ayahnya itu. Ia ingin ada ojek atau becak lain yang segera membawanya pulang ke Bukit Timah, ke rumah orang tuanya yang pensiunan perusahaan minyak raksasa.

Para penduduk yang berada di sekitar tempat itu terjun ke parit. Menaikkan dan menyelamatkan Wak Kadir dan becak kesayangannya ke badan jalan.

Wak Kadir terkulai. Matanya terpejam. Di sudut keningnya meleleh air merah kehitam-hitaman. Itu merupakan darah segar yang bercampur air selokan. Anehnya, ada senyum di wajahnya yang beku. Wajah Wak Kadir benar-benar teduh seteduh senja yang sedang berlabuh.

Masyarakat di tempat itu melarikan Wak Kadir ke rumah penduduk terdekat sambil menunggu datangnya mobil tetangga mereka untuk membawanya ke klinik terdekat. Wak Kadir masih diam dan pejam. Napasnya mulai tampak sesak turun naik. Semakin lama napas Wak Kadir makin sesak. Beberapa orang yang hadir coba memanggil dan mengguncang-guncang tubuh Wak Kadir. Namun yang tampak dan terdengar hanya desah napasnya yang semakin tak teratur.

Suara tabuh azan Maghrib pun berdentang nyaring. Muazin melansikkan suara azannya ke langit dengan syahdu. Tepat ketika azan Maghrib mengalun itu, napas Wak Kadir berhenti, denyut nadinya benar- benar senyap. Sunyi.

Lelaki tua berambut salju keperakan itu pun pergi jauh. Terbang ke alam baka. Ia pulang ke rumahnya yang abadi. Ia hijrah ke langit bersama kumandang azan pilu yang menyayat senja di mushala, tak jauh dari becak tua kesayangannya. Tanpa istri tercinta, tanpa sanak keluarga, tanpa membawa apa-apa.


Catatan:

Hencut: tidak manis
Sasau: gila atau setengah gila
Menjejak bulan: baru tahu tentang kehamilan.
Lansik – melansikkan: melaungkan

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Griven H Putera
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 6 Agustus 2017

0 Response to "Ke Langit Bersama Azan Maghrib"