Kedatangan Renggali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kedatangan Renggali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:00 Rating: 4,5

Kedatangan Renggali

SEMUA penduduk dataran tinggi Gayo tahu, kalau Renggali adalah bunga langka yang keberadaannya tak pernah terlihat lagi. Mereka terus mendongengi anak-anak tentang kembang ungu berbilah dua itu. Sebagai bukti turun temurun, dulu bunga itu merupakan lambang kebanggaan orang Gayo, sebagaimana Jeumpa telah diklaim milik warga pesisir. 

Renggali hanya sebuah mitos hingga sebatang pohon berdaun lonjong-lonjong tumbuh di dapur Win Jeroh. Adalah Encu Dieni, selanjutnya kita panggil Encu saja, istri Win Jeroh yang pertama menemukan tumbuhan tersebut. Ia meyakini itu merupakan tumbuhan dari bumbu masakan yang terjatuh di dapur. Atau dari biji-bijian yang dibawa burung yang hinggap di jendela. 

Encu tak tahu pasti, hal apa yang membuat ia membiarkan begitu saja tumbuhan itu di dapur. Pernah sekali waktu tangannya yang memegang pisau hendak memangkas pohon itu, tapi suara Win Jeroh yang meminta dibawakan kopi dari ruang depan membatalkan niat Encu. Ia meletakkan pisau di meja, lalu mulai memanaskan air untuk kopi sang suami. 

Dapur yang berlantai tanah, sebagaimana umumnya rumah di pegunungan, membuat pohon itu tumbuh leluasa. Ia tumbuh di dekat tempat yang disemen seluas satu meter persegi untuk mencuci piring. Karena itu pula tumbuhan tersebut tidak pernah kekurangan air. 

Encu tersenyum melihat tumbuhan itu semakin membesar, tak terbesit lagi keinginannya untuk memangkas tumbuhan yang tidak dikenal rupanya itu, bahkan ia juga melarang sang suami. Menurutnya, letak pohon di dekat tempat cuci piring bisa menghalangi pandangan orang kalau sekali waktu di malam yang sangat dingin, Encu malas ke kamar mandi yang letaknya beberapa meter di belakang rumah. Encu bisa buang air di tempat itu, tanpa takut dilihat Saga, kemenakan suaminya yang ikut bersama mereka. 

Saga baru berumur lima tahun saat pertama ikut mereka. Ayah-ibu Saga menjadi korban gelombang air laut yang melanda Banda Aceh beberapa tahun yang lalu. Saga selamat karena terhempas ke atap sebuah rumah. Win Jeroh berhasil menemukan anak kecil itu di sebuah tenda pengungsian. Semenjak saat itu Saga ikut paman dan bibinya yang belum dikaruniai anak itu. 

Tengah malam, ketika Encu terbangun karena kebutuhannya yang mendesak untuk buang air, ia terkejut melihat pohon yang tumbuh di dapur mengeluarkan bunga berwarna ungu dengan dua mahkota. Wujud kembang itu persis dengan yang didongengkan ibu selama ini. Perempuan itu menjerit membangunkan suami dan kemenakannya beserta penghuni dua rumah di dekat rumah mereka. 

Win Jeroh yang berlari kecil ke dapur terpana melihat pemandangan di depannya. Penghuni dua rumah tetangga ikut terkejut mendapati bunga-bunga ungu bermunculan di pohon yang tumbuh di dapur rumah Win Jeroh itu. 

Semenjak saat itu, kampung mereka menjadi sedikit berbeda. Kabar dari mulut ke mulut membuat orang-orang berdatangan untuk melihat bunga renggali yang terkenal langka itu. Mereka tak pernah menyangka kalau itu merupakan sebuah pertanda. 

*** 
MULA pertama yang datang adalah penduduk desa sebelah untuk memaknai Renggali yang tumbuh di dapur rumah itu, kemudian penduduk di desa sebelahnya juga ikut mendengar kabar dari mulut ke mulut. Ibaratnya sebuah kabar penting, juru foto yang bekerja lepas di sebuah koran mengabadikan tumbuhan tersebut. Alhasil setelah muncul di halaman pertama sebuah surat kabar lokal, orang-orang kota yang mengaku pecinta bunga ikut berdatangan. 

Saking banyaknya yang ingin melihat sang renggali yang terus bermekaran itu, mereka mulai kebingungan mencari penginapan. Beruntung, Sempena, orang Gayo yang kaya diperantauan berinisiatif mendirikan sebuah penginapan di dekat lokasi rumah Win Jeroh. Di sanalah orang-orang yang berdatangan dari berbagai penjuru kota bermalam. 

Ternyata selain tempat bermalam, mereka juga butuh tempat makan. Ikan-ikan yang diambil dari Laut tawar yang terletak beberapa kilo meter dari desa itu sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan pendatang yang semakin hari semakin menyemut itu. Tak lama berselang, berdirilah beraneka ragam rumah makan dari berbagai penjuru nusantara. Dari yang menawarkan asam keueng, rendang, sampai nasi liwet bisa di jumpai di desa tersebut. 

Renggali semakin hari semakin banyak memunculkan bunga-bunga berwarna ungu nan indah itu. Tumbuhan itu semakin berkembang, memenuhi dapur Win Jeroh. Setelah itu cabang-cabangnya mulai mengarah ke bagian rumah yang lain. Tetua desa mengadakan urun rembuk yang menyepakati kalau Win Jeroh dan keluarganya harus mencari rumah lain untuk ditempati. Sebenarnya Encu sedikit keberatan dengan usul itu, ia terlanjur mencintai rumahnya yang berada di punggung bukit. Namun keputusan tetua desa ibarat undang-undang tak tertulis yang harus dipatuhi setiap orang. 

Dengan wajah bermuram durja, Encu dan keluarga meninggalkan rumah tersebut. Sebuah rumah berlantai dua sudah disediakan pemerintah untuk mereka tempati di desa tetangga. Rumah lama mereka otomatis menjadi milik negara. Para ilmuwan juga berdatangan untuk meneliti bunga langka yang dikabarkan sudah punah itu. 

Sebenarnya kesedihan Encu Dieni bukan tanpa alasan. Ada satu hal yang selama ini luput dari perhatian orang desa dan pendatang itu. Diam-diam Encu mengambil bebera helai daun bunga renggali kemudian direbusnya. Air rebusan itu ia minum bersama sari pati buah pisang keupok. Dan karena itu ia merasa semakin sehat saja. 

Beberapa hari setelah pindah ke rumah barunya yang berlantai dua, Encu merasakan ada yang berbeda dari dirinya. Kepala pusing dan ia ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya. Ia merasakan ada makhluk lain kini bersemayam di bawah pusarnya. Benar saja, setelah diperiksa bidan, ternyata Encu telah mengandung. Anak yang selama ini ia rindukan bersama sang suami, sejenak ia melupakan rumah lamanya di desa sebelah. 

Win Jeroh semakin menyayangi sang istri. Semua keinginan perempuan itu selalu dipenuhinya, ia tak peduli harus ke dataran rendah di tengah malam hanya untuk mendapati kelapa muda yang diinginkan sang istri. Bayi dalam kandungan perempuan itu sudah sangat lama mereka rindukan. Kebahagiaan memeluk erat keluarga itu. 

Perekonomian daerah itu tumbuh dengan cepat, semula penduduk hanya tergantung pada penghasilan kebun kopi, kini mulai ada yang mengelola rumah peristirahatan, rumah makan, dan anak-anak mereka yang selesai kuliah di kota pulang ke kampung untuk bekerja di perhotelan. Keindahan suasana pegunungan telah sampai hingga ke negara tetangga. Kini yang datang bukan hanya dari penjuru negeri, mereka yang berlainnan warna bola mata juga jatuh cinta pada lembah itu. 

Hanya suatu pagi terjadi keganjilan yang lebih mengherankan dari kedatangan renggali itu sendiri. Jika biasanya kabut bewarna putih menghiasi puncak gunung, hari itu mereka melihat kabut hitam pekat mulai turun perlahan dari puncak menuju lembah. 

Ketakutan mulai merasuk ke hati penduduk pribumi dan para pendatang. Para pendatang langsung berkemas untuk meninggalkan tempat itu. Mobil-mobil berdesakan di jalan menuju keluar lembah dan menimbulkan kemacetan total. Mereka hanya bisa membunyikan klakson, sementara mobil tak bisa melaju sama sekali. Kekacauan mulai terlihat ketika pengemudi mobil di belakang turun untuk memaki pemilik mobil di depannya. Seorang pengemudi mobil lainnya menarik kerah baju pengemudi mobil di sampingnya yang tidak sengaja menyerempet kaca spion sedan orang itu. Pengemudi dan penumpang mulai turun dari mobil sambil memaki-maki, hanya sebagian saja yang tidak peduli memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. 

Penduduk setempat yang menduga kabut itu kutukan dari renggali mendatangi rumah lama Win Jeroh. Mereka membawa minyak dalam jligen dan mulai membakar rumah tempat renggali tumbuh itu. Asap hitam juga membubung ke angkasa. 

Dari rumah baru yang berlantai dua, Encu mengendong putranya yang berusia tiga tahun sembari melihat ke arah penghuni mobil yang mulai anarkis di jalanan. Kemudian berpaling ke arah desa sebelah tempat rumah lamanya berada. Api telah melalap rumah demi rumah yang berada di sana. Win jeroh datang memegang bahu perempuan yang terlihat ketakutan itu. 

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Encu tanpa melihat sang suami. 

Win Jeroh menarik napas panjang, sementara kabut hitam semakin dekat menuju desa. ❑-e 

*) Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang bekerja di Dinkes Kab. Aceh Timur. Buku Kumcernya berjudul Air Mata Shakespeare (2016)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 20 Agustus 2017

0 Response to "Kedatangan Renggali"