Lalu Sunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lalu Sunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:21 Rating: 4,5

Lalu Sunyi

KENANGAN pertamaku tentang Bapak adalah jemarinya. Setengah terlelap, bisa kurasakan jemarinya yang kasar mengelus-elus rambutku yang menutupi wajah. “Cantik sekali, ya, anak ini.” Seolah tak percaya mengapa bisa dikaruniai anak kurus kering berkulit gelap gulita bergigi tonggos sepertiku.

Juga, tak lupa dentaman langkahnya di rumah masa kecilku yang luas. Dum, dum, dum, langkahnya sepulang kantor. “Oiii, Butet!” aku yang ia cari begitu pulang. Bukan Ibu, bukan pula Abang, tapi aku, sang putri kesayangannya.

Aku akan terkikik bersembunyi. Di bawah kasur, di belakang pintu, di bawah tumpukan baju kotor. Ia akan selalu menemukanku. Lengannya yang kokoh mengangkatku ke langit-langit. Diayun- ayunkannya aku hingga kepala ini terasa berputar, entah karena tawa entah karena bahagia. Wajahnya yang penuh kumis tajam disorongkan ke pipiku. Matilah aku diciuminya. Aku menyebutnya hari baik. Hari baik akan selalu jatuh pada hari Sabtu, di mana ia hanya perlu pergi sebentar mengajar di kampus lalu sempatkan diri bermain denganku sesekali.

Pada hari buruk ia akan mengurung diri di kamar mandi seharian dengan kaca di kamar. Aku akan berjinjit perlahan, takut menginjak kata-kata yang salah yang bisa meledakkan seisi rumah dengan teriakan dan tangisan. Hari-hari di mana aku tidak mau pulang dan lebih memilih untuk tidak dilahirkan. Memar hilang sehari dua hari, tapi keinginan untuk mati bertahan lebih lama dari yang bisa kuingat: Mengapa harus dengan sabetan kalau cukup dengan kata-kata? Apa aku semengecewakan itu? Mengapa aku tidak mati saja agar semua bahagia? Kadang, Paman akan memelukku menenangkan, meski aku tak suka dengan pelukan.

Namun, semua kembali terlupakan ketika hari Sabtu muncul lagi. Kepalan jemarinya akan terbuka sekali lagi dan ia akan lupa apa yang sudah terjadi. Akan ia gendong aku sambil tersenyum lebar. Menjadikanku anak tercantik sedunia.Dan aku pun mengikuti permainannya: Kita lupakan saja yang kemarin itu.

Berkali-kali kutanya pada Ibu, apa Bapak sakit? Mengapa tidak ke rumah sakit? Ibu menyuruhku bungkam. Katanya, di keluarga Bapak, tak ada yang kenal orang sakit jiwa. Bagi mereka, hanya ada yang lemah dan yang kuat. Tak apa sesekali Bapak terlihat lemah di rumah, sepanjang di luar ia terlihat kuat. Bagaimana kalau jiwa sakit tak diobati? Bukankah lengan yang sakit dan tak diobati akan membusuk? Apakah jiwa bisa membusuk juga? Ibu menggeleng, lalu melakukan tindakan yang ia paling kuasai seumur hidupnya: Diam.

Aku pernah membaca buku Bapak yang bercerita bahwa kepribadian dan segala pilihan yang diambil masa kini terbentuk oleh masa kecil. Mungkin, karena itu, seperti Ibu, aku terus kembali pada mereka yang tak cukup menyakiti sekali. Ibu selayaknya nelayan yang mencintai lautan: Kembali lagi dan lagi meski tahu akan mati tenggelam ditelan badai.

Tahun demi tahun berlalu, selain Sabtu, kami jarang bersentuhan. Kini, ia hanya mengangguk sopan sembari lewat dari kamarnya lalu entah ke mana. Untungnya, ada Paman yang tinggal bersama kami. Ia seperti Bapak, tapi jauh lebih ramah. Tanpanya, mungkin aku akan lupa seperti apa rasanya kasih sayang keluarga. Suatu hari, kutemukan kembali alasan yang membuat Bapak tidak keberatan menggendongku: Pohon jambu depan rumah.

Berawal dari diriku yang masih baru bersekolah mengamati dengan penasaran jambu-jambu hijau keputihan. Bapak menghampiri dengan langkah khasnya yang berdentam-dentam. Bapak gendong aku di bahunya, “Ambil yang kanan, Tet.” Tanpa memedulikan aku yang terbelalak menahan kaget.

Bagiku, kala itu, ia sedemikian mengerikannya, selayaknya Kronos yang sanggup memakan anak-anaknya. Kontak fisik yang kuingat hanya jepretan demi jepretan yang muncul karena berbagai kesalahan. Kadang lemparan. Kadang pukulan. Tapi, kali ini ia menggendongku! Di bahunya! Dengan telaten, kuturuti maunya, kupetiki satu demi satu jambu di atasku.

“Sudah, jangan semuanya. Untuk besok,” kata Bapak. Besok! Besok ia akan menggendongku lagi!

Keesokannya, aku melesat lari, kutunggu ia di atas pohon jambu sejak pulang sekolah hingga ia pulang kantor sorenya. Kupamerkan kini aku bisa memanjat pohon. Padahal, Paman terkadang membantu, ia suka sekali menggendongku meski kadang aku tak mau dibantu. Dari kejauhan, Abang hanya mengamati di sisi Paman. Usianya yang tiga tahun lebih tua tentu sudah tak bisa lagi ditahan oleh pohon jambu ini.

Bapak sering terkekeh kalau aku melontarkan candaan sesekali selama kali berburu jambu. Tak memuji, tapi cukup membuat hidungku kembang kempis. Lagi-lagi, ia gendong aku di bahunya.

Begitulah setiap hari. Dengan patuh, kukunyah-kunyah buah jambu yang diam-diam rasanya mulai memuakkan. Tak penting, yang kutahu, aku bisa mengobrol dan bermain dengan Bapak, seperti anak-anak lainnya yang hanya bisa kusaksikan di TB.

Lengannya yang menjagaku agar tidak jatuh. Usapan di kepalaku. Tawanya yang tertahan kala mendengar cerita lucuku. Ia tak perlu tahu: Aku sesungguhnya tak suka buah jambu. Ia pun tebang pohon itu setelah seminggu mengurung diri di kamar mandi. Tampaknya, hari buruk datang bertubi-tubi. Ia menangis, meratap, menghabisi silet demi silet untuk menyayat bagian dari dirinya yang tak semua orang bisa lihat. Kalau sudah begitu, Ibu pun diam. Karena, untuk diam pun diperlukan keberanian.

Hari buruk datang lagi. Kali ini lebih dahsyat. Ia mengamuk hanya untuk terkaget-kaget sendiri. Dengan napas memburu, ia akan bertanya-tanya, “Ada apa?” Pertanyaannya seharusnya apa yang tidak ada? Ada darah Ibu yang masih belum berhenti mengucur karena pukulanmu. Ada memar yang kau titipkan di sekujur tubuhku. Lengannya membuka, gigi-gigi depan Abang berjatuhan dari genggamannya. Tak perlu kata-kata, bahkan tak perlu air mata. Diam punya bahasanya sendiri yang mulai kami kuasai.

Beberapa tahun setelah ditebangnya pohon jambu, Abang berhenti bicara sama sekali. Ia bahkan tidak menggunakan bahasa isyarat sama sekali. Hanya diam, tak mau berkomunikasi. Seolah mengunci semua orang dari dunianya sendiri. Seakan, ia memilih ditelan sunyi ketimbang berjibaku dengan kenyataan. Bajingan beruntung. Ia meninggalkanku berkicau sendiri tanpa ada yang menanggapi.

Hingga, suatu hari, hari terburuk dari yang buruk datang kembali. Kali ini, bukan Ibu sasaran pukulnya, melainkan Paman. Aku baru kembali dari se kolah, sebuah SMA dekat rumah, ketika kudapati Bapak melemparkan cermin besar ke tubuh Paman yang sudah babak belur. Kali ini, ia garang luar biasa, tapi tak ada balasan dari Paman. Mencoba bertahan pun ia tak lakukan sama sekali. Tak pula Ibu berusaha hentikan Bapak yang nyaris membunuh adiknya sendiri.

Ibu hanya berdiri dengan tangan lunglai menggenggam celana dalam Abang yang bernoda darah. Aku sungguh tak mengerti. Tapi, tak ada yang mau berbagi, seolah semua sudah sepakat untuk menutup diri. Kali ini, Bapak tak bertanya ada apa. Kini, sedari awal sepenuhnya sadar.

Kini, tak ada lagi yang bicara di rumah ini. Peduli setan hari ini Sabtu atau Minggu atau Jumat terkutuk. Bekas potongan pohon jambu pun sama diamnya, seolah kami semua dikutuk.

Sunyi punya caranya sendiri untuk menguasai. Di sela-sela sepi, kadang aku mendengar suara-suara entah dari mana. Mungkin hantu. Ya, pasti hantu. Atau diriku sendiri, yang lain, bukan yang ini. Atau, bisa jadi diam-diam aku bisa mendengar suara batin Abang dan Ibu. Bisa saja aku jadi sakti mandraguna karena Bapak pernah cerita, aku ini keturunan raja-raja. Makin lama makin riuh. Kian lama kian bising. Mulai dari celoteh tentang tetangga, hingga teriakan kematian setiap malam. Lolongan anjing sekali pun berubah menjadi bisikan-bisikan penuh makna. Aku di kelilingi keramaian di tengah kesunyian ini.

Suatu hari, hari buruk datang lagi. Entah apa pemicunya, padahal bicara satu sama lain pun bahkan kami sudah tak pernah. Kali ini, Bapak sabeti Ibu dengan kabel radio. Abang berdiri dalam diamnya di sudut sana, tak lagi bergerak, tak lagi hidup, sungguh aku berharap ia mati saja dengan segala ketidakberdayaannya. Amarah biasa menggelegak, namun kali ini kubiarkan ia mengambil alih tubuhku.

Lihat, apa yang mampu sebuah derita lakukan: Ia tanamkan derita-derita lain di tubuh orang-orang yang mencintainya. Betapa tega Bapak pukuli Ibu yang menahan pukulan saja sudah tak mau. Seolah tak cukup ia renggut jiwanya, harus pula ia rusak raganya yang sudah renta.

Seketika semuanya sudah terlalu riuh, hingga aku tak mampu mendengar pikiranku sendiri. Kuambil kapak yang tak pernah tersentuh sejak dipakai untuk menebang pohon jambu itu. Hanya dibutuhkan satu jeritan untuk membebaskan Ibu dari rasa takut. Diamnya pecah setelah bertahun-tahun, lenyap dalam satu teriakan. Suaranya yang kutunggu dengan sabar, tapi tak kunjung muncul di malam-malam demamku, terdengar kasar di sela derasnya darah yang berlomba mengucur keluar.

Satu ayunan untuk membebaskan Abang dari entah apa yang menggerogotinya dari dalam. Satu tatapan tak percaya untuk membebaskan Bapak dari rasa sakit yang menyiksanya. Betapa mudahnya, hanya butuh tiga ayunan untuk membebaskan kami semua dari penjara ini.

Lalu, kukejar Paman yang kutahu bersembunyi di lemari Abang setiap hari Sabtu. Aku tahu karena sebelumnya ia pun selalu bersembunyi seperti itu di lemariku. Untuknya, kuayunkan kapak itu lagi dan lagi, berkali-kali, memastikan sepenuh hati bahwa aku berhasil membebaskannya dari iblis yang merasuki. Aku tahu, kami semua akhirnya terbebas dari derita masing-masing. Karena, hari ini hari Sabtu.

Aku terduduk menghela napas. Bising itu akhirnya hilang. Lalu sunyi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zhizhi Siregar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 13 Agustus 2017

0 Response to "Lalu Sunyi"