Manusia yang Tercipta dari Secangkir Kopi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Manusia yang Tercipta dari Secangkir Kopi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:45 Rating: 4,5

Manusia yang Tercipta dari Secangkir Kopi

SEKALI pun perempuan itu duduk menghadap jendela kayu berukiran khas Jepara, tapi ia tidak mengetahui apa pun yang terjadi. Padahal dari jendela itu terlihat awan beriringan, jalanan yang lengang, sesekali pejalan kaki terlihat melangkah di atas trotoar seraya membawa bungkus plastik berisi makanan.

Jika beruntung bisa menyaksikan rombongan burung merpati hinggap di atas kabel listrik, lalu turun untuk mematuk biji-bijian yang berserakan di aspal. Ketika seorang pengendara motor lewat burung-burung itu dengan segera beterbangan. Ya, siapa pun bisa menyaksikan kejadian serupa, kecuali perempuan itu. Perempuan buta yang selalu duduk di bangku yang menghadap ke jendela kayu itu. 

Perempuan buta itu selalu duduk di sana. Bukan karena ia ingin. Sejak datang pertama ke kedai kopi itu beberapa tahun lalu, dalam keadaan buta, dengan baik si pemilik kedai menuntunnya lalu menyilahkannya duduk di bangku itu. Sejak itu, setiap kali ia datang ke kedai kopi, ia akan hafal jalan ke bangku yang menghadap ke jendela itu. Cukup satu kali bagi pemilik kedai menunjukan jalan karena selebihnya ia akan mengandalkan tongkat besinya menuntunnya, seolah tongkat itu adalah matanya. Mata yang mengarahkannya untuk melangkah, yang membimbingnya untuk berjalan. Namun langkahnya tidak selalu berpijak pada apa yang ia harapkan. Perempuan buta itu sadar. Sebagaimanapun sebuah tongkat ia hanya mampu menuntunnya, menunjukkannya, mengarahkannya, mengatur langkahnya, sekali lagi hanya sebatas itu, tidak seperti mata yang memperlihatkan apa yang musti terlihat. Terlebih lagi mata hati yang memperlihatkan apa yang tidak nampak.

Beberapa pengunjung yang sering mampir ke kedai kopi selalu bertanya pada pemilik kedai perihal perempuan buta itu. Jawaban si pemilik kedai selalu ‘tidak tahu’. Pemilik kedai benar-benar tidak tahu perihal perempuan buta. Yang ia tahu sebelum ia datang dan membuka kedai kopinya perempuan itu telah ada di depan pintu kedai, menunggunya membuka kedai, lalu setelah pintu dibuka perempuan itu akan duduk di bangku tempatnya biasa duduk, memesan kopi dan hanya akan meneguk kopinya satu kali, selebihnya ia hanya mengaduk-aduknya. Ia bisa saja meneguknya dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali atau bahkan berkali-kali sampai kopi habis. Tapi ia tak melakukannya. Ia hanya meneguknya satu kali.

“Mengapa kau hanya meneguknya satu kali, nona?” tanya pemilik kedai.

“Dari secangkir kopi bisa tercipta seorang manusia,” jawab perempuan buta.

Si pemilik kedai adalah orang pertama yang yakin perempuan buta itu tidak hanya buta mata, tapi juga buta pengetahuan. Ia mafhum, sebab perempuan itu buta dan kebutaannya itu yang membuatnya tidak bisa melihat tulisan dalam buku-buku pengetahuan sehingga ia tidak bisa membedakan mana air yang bisa menciptakan manusia dan air yang tidak bisa menciptakan manusia. Tapi kemafhumannya berubah menjadi kebingungan ketika ia tahu bahwa perempuan itu selalu berbicara pada secangkir kopi yang dipesannya. Walaupun esensinya sama-sama air, tetap saja fungsinya berbeda. Ya, jelas berbeda. Kopi itu berwarna hitam, sedangkan air yang bisa membuahi sel telur berwarna putih. Kopi itu encer, sedangkan air yang bisa membuahi sel telur kental. Kopi itu pahit, sedangkan air yang bisa membuahi sel telur amis. Kopi itu membuat terjaga, sedangkan air yang bisa membuahi sel telur membuat perubahan pada perut seorang perempuan. Sekali lagi jelas ber-be-da. Lantas bagaimana bisa dari secangkir kopi tercipta seorang manusia? “Kasihan perempuan itu. sudah buta, ditambah gila,” batin pemilik kedai.


***
SATU kali. Perempuan buta itu meneguk kopinya. Baginya itu lebih dari cukup. Ia tidak ingin untuk yang kedua kalinya hanya dari secangkir kopi tercipta seorang manusia yang bersarang selama 9 bulan dalam perutnya. Ia tidak pernah menduganya bahwa hanya dengan secangkir kopi, beberapa hari kemudian di pagi hari setelah ia bangun tidur badannya lemas, kepalanya serasa akan pecah, mulutnya terasa begitu mual seolah ada yang hendak keluar tapi tak kunjung keluar. Ia sangat hafal, gejala-gejala seperti itu hanya akan dirasakan oleh seorang perempuan yang tengah hamil.

“Pasti lelaki itu yang telah membuatku hamil,” gumamnya dalam hati.

Lelaki? lelaki yang mana? Semenjak buta ia tidak pernah lagi berdekatan dengan seorang lelaki apalagi sampai bersetubuh hingga membuatnya hamil. Ya, kecuali pemilik kedai yang setiap hari membukakan kedai dan mengantarkan kopi pesanannya. Tapi itu hanya sebatas pelanggan dan penjual. Di sana jarang ada percakapan. Perempuan buta itu hanya tersenyum ketika kopi pesanannya telah ada di hadapannya. Ia bisa mencium aroma kopi itu. Lagi pula setelah pemilik kedai menyodorkan kopi ia akan pergi lagi ke tempat ia membuat kopi. Selalu seperti itu.


***
PEREMPUAN buta itu tak pernah menaburkan gula pada kopinya. Bukan karena ia tak melihat gula di mejanya. Ia lebih tertarik pada sesuatu yang terasa pahit. Salah satunya kopi. Dalam setiap tegukannya ia tidak hanya merasakan pahit dari biji kopi, tapi juga kenangan pahit bersama seorang lelaki. Lelaki yang selalu menunggunya di gerbang sekolah. Seorang lelaki yang tak pernah alpa mengajaknya ke kedai kopi. Ya, begitulah adanya.

Ia masih mengingat ketika lelaki itu menebarkan senyum setiap kali melintas di depan kelasnya sebelum ia buta. Dengan hati berdebar-debar perempuan buta itu akan membalas senyumnya dengan manis. Walau bagi orang yang memandangnya itu adalah senyum yang sengaja dimanis-maniskan.

Ya, bersamaan dengan ditelannya seteguk kopi perempuan buta jadi ingat percakapan-percakapan itu. Percakapan dengannya di antara kepulan asap kopi dari secangkir kopi yang baru saja disajikan di atas meja kedai kopi.

“Nikahilah aku setelah lulus SMA nanti,” pinta perempuan buta.

“Ya,” kata lelaki itu.

Perempuan buta tersenyum, meneguk kopinya. “Bagaimana jika kau mati sebelum menikahiku?”

“Apakah kau menyukai kopi?” Perempuan buta mengangguk. “Jika seperti itu, tenang saja. Aku akan selalu ada dalam secangkir kopi.”

“Apa yang akan kau lakukan di dalam secangkir kopi?”

“Apakah kau meminum kopi?” Untuk kedua kalinya perempuan buta mengangguk. “Setelah kau meminum kopi maka kopi yang kau telan akan masuk ke dalam lambung. Sementara jiwaku akan menyatu dengan jiwamu dan aku akan abadi dalam ingatan.” Perempuan buta tersipu malu. Tersenyum. Meneguk kopinya lagi.

Kemudian keduanya pulang diantar oleh lambung yang dipenuhi kopi. Sejak saat itu perempuan buta tak pernah menyisakan setetes kopi yang ia pesan setiap kali lelaki itu mengajaknya ke kedai kopi. Ia akan meneguknya berkali-kali sampai tak bersisa. Bahkan ia akan memesan lagi dan meneguknya berkali-kali sampai gelas benar-benar kosong.

Sebagaimanapun sebuah takdir. Ia memang tidak bisa dipinta, tidak dengan wajah memelas, tidak juga dengan lelehan air mata, pun halnya dengan bersimpuh, bahkan dengan bersujud sekali pun. Perempuan buta tak pernah lagi ke kedai kopi dan meneguk kopi. Ia hanya mengurung diri di dalam kamar setelah tahu bahwa lelaki yang selalu mengajaknya ke kedai kopi mati satu hari sebelum pesta pernikahannya berlangsung.

Lelaki itu menembakkan airsoft gun tepat di ubun-ubunnya setelah mendapat kabar dari dokter spesialis kanker bahwa penyakit yang dulu sempat sembuh sekarang kembali menjalar dalam tubuhnya. Karena itu ia dilarang keras untuk meminum kopi.

Tak ada lagi kopi. Tak ada lagi harum biji kopi. Tak ada lagi kepulan asap yang membubung dari cangkir berisi kopi. Tak ada lagi suara memesan kopi. Tak ada lagi seseorang yang mengantarkan kopi. Lebih ironis tak ada lagi seorang perempuan yang akan menemaninya meneguk kopi. Ia bertanya-tanya pada diri sendiri. “Apakah sanggup jika harus seperti itu?” Maka untuk menjawab pertanyaannya ia lebih memilih menembakkan airsoft gun tepat di ubun-ubunnya. Ia akan sangat menyesal ketika tahu perempuan yang selalu diajaknya ke kedai kopi menjadi buta karena tak pernah berhenti menangis sejak peninggalan pria itu.

Tenang saja aku akan selalu ada dalam secangkir kopi.

Pada bulan ketujuh masa pengurungan diri akhirnya perempuan buta keluar kamar. Tak ada tempat yang ia tuju selain kedai kopi. Hanya untuk membuktikan apakah ucapan kekasihnya itu memang benar adanya.

Ia meneguk berkali-kali kopi yang dipesannya. Tapi tidak sampai menambah. Tak ada apapun. Perempuan buta tak merasakan bahwa jiwa kekasihnya memang ada dalam secangkir kopi. Baru pada hari ketiga datang ke kedai kopi ia merasakannya. Ia merasakan ketika kopi yang ditelannya masuk ke dalam lambung. Bersamaan dengan itu ada sesuatu yang ganjil dirasakannya. Sesuatu yang aneh masuk ke dalam tubuhnya. Ya, itulah satu proses di mana jiwa orang mati menyatu dengan jiwa orang hidup. Perempuan buta menikmati proses itu. Proses tersebut masih berlangsung ketika ia dalam perjalanan pulang. Perempuan buta seolah tidak melangkah dengan kakinya. Ia memiliki sayap dan terbang menuju rumahnya. Kemudian proses itu akan hilang ketika perempuan buta tersadar dari tidurnya. Sungguh proses penyatuan jiwa yang unik. Ya, memang unik. Sebab ditunjang oleh secangkir kopi.

Justru keunikan itu tidak habis sampai di sana. Keunikan itu masih terus berlanjut sampai beberapa hari setelahnya. Tubuhnya lemas. Perempuan buta terus merasakan mual. Ingin muntah tapi tak bisa. Seolah ada yang hendak keluar namun tak kunjung keluar. Dan beberapa bulan kemudian barulah keunikan itu menjadi suatu kejanggalan lantaran perutnya semakin menggelembung.

“Pasti lelaki itu yang telah membuatku hamil,” gumamnya dalam hati. “Tentu, siapa lagi? Pasti ia salah. Jiwanya tidak menyatu dengan jiwaku. Tapi menyatu dengan indung telur. Lalu membuahinya dengan secangkir kopi.”

Pada usia kandungan menginjak 9 bulan makhluk hasil pembuahan dari secangkir kopi itu keluar. Keluar sebagai manusia murni. Bukan secangkir kopi apalagi bercangkir-cangkir kopi. Perempuan buta itu yakin bahwa anak itu tercipta dari secangkir kopi. Secangkir kopi yang di dalamnya bersemayam jiwa kekasihnya.

Kendati demikian perempuan buta masih tetap ke kedai kopi dan meminum kopi walau tidak secangkir kopi. Ia hanya meneguk satu kali. Ia takut jika peristiwa serupa akan menghampirinya jika ia menghabiskan secangkir kopi, apalagi bercangkir-cangkir.

Ia akan datang lebih awal dari pemilik kedai. Menunggu di depan pintu. Lalu setelah pemiliknya membukakan pintu ia akan duduk di bangku biasa. Bangku yang menghadap ke jendela. Dari jendela tersebut siapa pun akan bisa menyaksikan jalanan yang lengang, kecuali perempuan buta. Perempuan buta tidak akan pernah melihat seorang lelaki yang selalu memperhatikannya di seberang jalan itu. Seorang lelaki yang setelah lelah berdiri memperhatikannya ia akan duduk di hadapan perempuan buta. Lalu membubuhkan serbuk soporific, obat bius ke dalam cangkir kopi yang diminum perempuan buta. Kemudian setelah perempuan buta mulai tak sadarkan diri lelaki itu akan membopongnya lantas membawanya pulang, tentunya ke rumah perempuan buta. Di rumah perempuan buta lelaki itu akan menyetubuhinya. Dari sanalah manusia yang dikandung perempuan buta berasal. Bukan dari secangkir kopi. Tapi betapa pun benar adanya, perempuan buta itu tiada akan pernah percaya bahwa ada seorang lelaki yang menyetubuhinya. Sebab ia tak sadar diri sewaktu disetubuhi.

Lelaki yang menyetubuhinya adalah lelaki yang tak pernah alpa mengajaknya ke kedai kopi. Lelaki yang mati bunuh diri satu hari sebelum pesta pernikahannya. Lelaki yang membuat perempuan itu buta. Lelaki yang memalsukan kematiannya.

Karawang, Juli 2016

Iswanto ialah mahasiswa di Universitas Pasundan Bandung. Kesehariannya diisi dengan kegiatan menulis.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu 13 Agustus 2017

0 Response to "Manusia yang Tercipta dari Secangkir Kopi"