Mengeja Hari, Mengulang Waktu - Kami dan Kesunyian - Ketika Rindu Harus Diulang - Di Bawah Tanah Ini Ada Awan-awan - Mawar Merah dan Surat Cinta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mengeja Hari, Mengulang Waktu - Kami dan Kesunyian - Ketika Rindu Harus Diulang - Di Bawah Tanah Ini Ada Awan-awan - Mawar Merah dan Surat Cinta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:37 Rating: 4,5

Mengeja Hari, Mengulang Waktu - Kami dan Kesunyian - Ketika Rindu Harus Diulang - Di Bawah Tanah Ini Ada Awan-awan - Mawar Merah dan Surat Cinta

Mengeja Hari, Mengulang Waktu

ingin mengulang hari
di mana engkau dan aku disaksikan dedaunan
mengeja mantra-mantra
mencari-cari kebaikan manusia

ingin mengulang waktu
di antara lelehan-lelehan tanah
yang berguguran tahun lalu
jelang musim kemarau

ingin mengenang hari
di mana engkau dan aku pertahankan imaji
menggetarkan hati
: manusia-manusia negeri

ingin mengulang waktu
di antara debu-debu
dan tanjakan yang membisu
: hingga tangan-tangan nasib
sembunyikan lukaku

Purwokerto, 14 Januari 2016


Kami dan Kesunyian

sesenja apa mereka menunduk kepadanya?
- membaca lelaku manusia
meneguk masa lalu
ataukah melipat dongeng yang membentang
di antara langit dan bumi

kami dan kesunyian,
yang kadang-kadang menjadi amuk badai
yang kerap berontak
dan teriak-teriak
meminta lakon, tempat persembunyian
dan pembelaan

apakah mereka selalu ingat?
tentang buku-buku, semangkok cerita,
dan narasi wingit yang sulit diterjemahkan
- barangkali itu sebuah simbol kehidupan
kelak, manusia bisa pecahkan
kepingan-kepingan perselisihan

Purwokerto, 15 Januari 2016

Ketika Rindu Harus Diulang

ketika rindu harus diulang
kami membaca bongkahan-bongkahan masa silam

ketika rindu harus diulang
kami nyanyikan lagu-lagu kenangan

ketika rindu harus diulang
kami bertahan dari doa-doa yang mulai berguguran

Purwokerto, 16 Januari 2016

Di Bawah Tanah Ini Ada Awan-awan

di bawah tanah ini ada awan-awan
di bawah tanah perempuanku ini
ada awan-awanmu yang mengantung
aku antara

berpijak di tanah
dan menapaki awan-awan
aku kadang tegak
dan sering terbanting

oleh oleng
aku selalu di antara
tidur dan berjaga
mimpi dan nyata
dan ketika aku terbangun
engkau di mana?

Purwokerto, 11 Februari 2016

Mawar Merah dan Surat Cinta

kemarin turun hujan
membuka-buka surat cinta
dan setangkai mawar merah
kelopaknya berguguran
bersama tanah basah

kemarin hujan semalaman
ada patahan-patahan doa
belum sempat terjawab
dalam sembahyang malam

kemarin kita bersepakat
bahwa kata-kata adalah matahari
setia pancarkan cahaya
kepada semesta

Purwokerto, 26 Maret 2016

- Yanwi Mudrikah, lahir di Darmakradenan, Ajibarang, Banyumas, 12 Agustus 1989. Cerpennya termuat dalam antologi Bukan Perempuan (2010). Sajaknya termuat dalam antologi Pilar Penyair (2011), Pilarisme (2012), Pilar Puisi (2013), Matahari Cinta Samudra Kata (2016). Buku puisi tunggalnya Rahim Embun (2013) dan Menjadi Tulang Rusukmu (2016). (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yanwi Mudrikah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 27 Agustus 2017

0 Response to "Mengeja Hari, Mengulang Waktu - Kami dan Kesunyian - Ketika Rindu Harus Diulang - Di Bawah Tanah Ini Ada Awan-awan - Mawar Merah dan Surat Cinta"