Menjadi Aceh - Ingin Kupejamkan Mata - Nyanyian Ombak Penjaring Laut - Menggapai Lembayung - Menggapai Lembayung - Ia Berlari - Setelah Kutipu Waktu - Gelombang Ka’bah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menjadi Aceh - Ingin Kupejamkan Mata - Nyanyian Ombak Penjaring Laut - Menggapai Lembayung - Menggapai Lembayung - Ia Berlari - Setelah Kutipu Waktu - Gelombang Ka’bah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Menjadi Aceh - Ingin Kupejamkan Mata - Nyanyian Ombak Penjaring Laut - Menggapai Lembayung - Menggapai Lembayung - Ia Berlari - Setelah Kutipu Waktu - Gelombang Ka’bah

Menjadi Aceh

setiap membayangkan waktu, tiba-tiba
kau ingin sekali menjadi aceh
bagian lukanya yang telah menghisap saripati
matahari di tanah ini
tak pernah lagi tersenyum
hanya bangunan yang hancur
puing yang terjulur
laut yang terbuka
bagi rahim semesta
tak kapok-kapok peristiwa ditulis
di ujung pulau itu
ah, di mana cintamu lagi akan berlabuh?

Jakarta, Desember 2004

Ingin Kupejamkan Mata

ingin kupejamkan mata
televisiku menangis darah
cuma bah yang mampir
tapi menghamparkan tubuh yang terkilir

ingin kulupakan perempuan
sebab di ujung tahun
ujung Pulau Sumatra
benar-benar penuh luka

2004

Nyanyian Ombak Penjaring Laut

Siang mulai rebah jatuh pada batas bias maya
Biduk menyapa ombak melepas tambatan tali kekang
Renjana menyanyikan gemuruh air
Penjaring laut melepas gelisah terhempas gelombang
tegar di dada
pada titian langit digantungkannya sebilah harap di
antara tilam angin

Ketika jaring menanti mangsa
keringat di badan tersaput angin
letih adalah penundaan waktu
Seperti camar di langit
mengarungi angkasa tanpa lelah
menghunjam batas pandang
sebagai teman setia
kala keheningan menghampiri
di situ perbedaan hidup tanpa cermin
memantulkan bias sinar
potret makhluk hidup
dalam sebuah perjuangan hidup

Nyanyian ombak,
begitu bersahabat di telinga
Tatkala langit berubah gelap gulita
hanya sebuah lentera kecil
membiaskan sinar redup
tanpa daya menyingkap tabir malam
Tapi di situ,
mungkin ada rasa cinta terkuak
mengalunkan syair
membuka tatapan mata penjaring laut

Segenap doa telah dipanjatkan
agar nyanyian ombak memberi makna hidup
di antara temali jaring dan deburan ombak
Apakah senantiasa harus berhitung,
tentang perjuangan takdir?
Di tengah pergumulan gelombang air dan riak
mungkin, ada jerit tangis tak tersampaikan
hari-hari dilalui menanti keputusan
Sesungguhnya, hidup harus memilih
walau meniti dalam lipatan air, setiap waktu…setiap
saat
Dalam kejenuhan sang waktu , senja mulai mencumbu
batas maya
bersama nyanyian ombak membahana di permukaan
laut
– dan biduk terus memburu pergumulan hidup

Malang – 2016

Menggapai Lembayung

Aku ada di penghentian itu
sebelum ufuk jatuh di pembaringannya
lembayung merona tipis menggurat awan
hitam dan merah memancarkan risau
dan dada ini masih diam terpaku
Kala senja mulai membasahi temaram malam
tatapanku semakin erat dalam pelukan lembayung
Di situ, aku menggapai keteduhan
merona langit senja
– dan rembulan mulai tersenyum manis

Malang, 2015

Kerap Aku Kehilangan Dirimu

kerap aku kehilangan dirimu
saat engkau berpose untuk foto bersama
kenangan itu lebur
jadi temaram bayang-bayang
yang suatu saat bakal usang

maka cinta cuma gombal
tak bisa dimakan untuk esok hari
semestinya tak perlu pula kubangun
puing-puing hujan jadi sarang buat berteduh
setelah berpuluh musim abai
dan kita kuyup lalu gigil di dalamnya

betapa aku tertatih
untuk singgah di simpang jalan lain
tempat mula kita bertemu atau berpisah?
menggapai sejumlah kenangan

di bekas bibirmu, ada yang pernah tinggal
namun sedari malam aku mencarinya
tetap saja ada yang hilang
mungkin dirimu

2005

Ia Berlari

ia berlari, membakar matahari
menjauhi selat dan laut
menipu seluruh kenangan
tapi air terus saja bercakap
pada maut yang pernah luput, semaput
terbang dalam akut yang penuh kabut

ribuan jumlahnya
menggapai air mata
tak mampu mengobati rasa sakit
yang tumbuh berbukit
ribuan yang mati
ia merasa begitu sunyi

2004

Setelah Kutipu Waktu

setelah kutipu waktu
tubuhmu kembali jadi kekupu
menggenangi di remang peristiwa
yang sekian abad tak lagi kubaca

duh, mimpimu mengerjap
menyingkirkan bekas pengap
yang datang penuh lindap

seperti di musim hujan lalu
kita berpayung
dua-duaan
mencari jalan pulang

setelah kutipu waktu
tampak sadar
jika aku memang lama mencintaimu

2005

Gelombang Ka’bah

: ikha b. sutrawhana
diam-diam, akar dirimu terus pergi
melintasi perbatasan kering
barangkali, di sana kau akan bertemu ismail, atau
ibrahim
terseret dalam gelombang ka’bah
berputar-putar
mencari diri-Nya
lalu tunailah segenap kelam
saat kau tanggalkan pakaianmu yang lain
dengan ikhram
meniti cahaya
dengan mata yang basah lewat air mata
di sana, diam-diam
aku tahu kau tengah berdoa, buat siapa saja
yang kerontang dimakan nasib
negeri kita yang penuh gelombang

2005

Alex R Nainggolan, dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di beberapa media nasional dan lokal. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi, antara lain Ini Sirkus Senyum...(2002), Elegi Gerimis Pagi (2002), Grafitti Imaji (2002), La Runduma (2005), Negeri Cincin Api (2011), Akulah Musi (2011), Sauk Seloko (2012), Negeri Abal-Abal (2013). Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (2012), Kitab Kemungkinan (2012). Bekerja di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alex R Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 20 Agustus 2017

0 Response to "Menjadi Aceh - Ingin Kupejamkan Mata - Nyanyian Ombak Penjaring Laut - Menggapai Lembayung - Menggapai Lembayung - Ia Berlari - Setelah Kutipu Waktu - Gelombang Ka’bah"