Pascakolonialisme Brandon Venzord - Untuk Adriaan Valckenier - Onderdistrik Tujuh - Mengenai Ipie - Tentang Jane | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pascakolonialisme Brandon Venzord - Untuk Adriaan Valckenier - Onderdistrik Tujuh - Mengenai Ipie - Tentang Jane Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Pascakolonialisme Brandon Venzord - Untuk Adriaan Valckenier - Onderdistrik Tujuh - Mengenai Ipie - Tentang Jane

Pascakolonialisme Brandon Venzord

Ia merasa dirinya Hindia yang utuh
: Dialektika dalam paspor Belanda

"Aku lupa, ada Jan dalam namaku,
Tanpa Coen, dan seseorang, di laut,
Telah menggunting bayanganku."

Ia kenang leluhur tatkala
Berlabuh di Sunda Kelapa

Tapi itu saat mereka tak tahu
Di mana pulau berpasir putih

Kecuali anyir penaklukan
Pada sebentang peta kumal

"Di kanal, telah kutinggal kebaya,
Kulepas beha—aku ingin negeri
Dengan tiga warna bendera."

Mungkin ia menyitir kata-kata
Seseorang dari Amsterdam sana

Sebab jenuh, barangkali, dan takut,
Hatinya, terjebak dendam, juga kalut

"Negeri ini memang tak tega mengusir;
Mereka hanya masih mencium bau pala
Dan anggur dari tubuh seorang Meneer."

2017

Untuk Adriaan Valckenier

Hanya api dari sejarah kelam
Yang belum mau padam
Di wilayahmu saat malam
Menjulang, di balik otofokus

Dan ransel yang selalu saja
Jadi identitas para pengelana
Di zaman ini, berabad-abad
Setelah darah ribuan Tionghoa

Tumpah dan mungkin mengalir
Ke sumur di halaman depan itu
Serta terus bergema di trem
Sesekali disela derit roda, derita

Tak ada kau, tak ada, hingga kini
Hanya hantu para rakyat melintas
Dalam ingatan yang tak utuh, terus
Berabad-abad menunggu, abadi

2017

 Onderdistrik Tujuh

Dingin Onderdistrik Tujuh adalah tikaman pertama
Dari karih, yang entah sejak bila, bersarung kerinduan

Tikaman selanjutnya berasal dari nama-nama,
Juga peristiwa, yang tak kekal, tetapi langka

Maka di aspal itu selanjutnya akan
Tertinggal darah kita: jejak cahaya

Selebihnya cuma cambuk kuda, dengan
Perih yang janggal, yang, anehnya,
Tak lahir dari terjangan kolonial

Onderdistrik Tujuh yang tak dingin ada di kehidupan
Yang lain: di surga, dengan kita, tanpa cemas yang rutin

2017

Mengenai Ipie

Lantaran angin Semarang tak membuai lagi
Godam dan arit enggan meriwayatkan kisah ini

Lantaran sisa mimpi Harlem belum terkebas dari saku jaket
Percikan semangat yang bergairah itu tak lebih sekadar pamflet

Lantaran peta penjarahan akan selalu terkembang di perut tuan kompeni
Selori tinjauan tak lebih dari omong kosong soal keadilan buat pribumi

Lantaran pada pertemuan dua angin tak terbawa harum kopi
Ladang-ladang Deli tak akan membungakan apa-apa lagi

Lantaran aroma tembakau kembali moksa di udara
Gigil para kuli cuma ilusi di antara dingin penjara

Lantaran lengau di tukak vrije man akan melahap sisa perbendaharaan
Yang dilakukan hanya berangan soal upaya memutus jejak penjarahan

Lantaran tambang-tambang sudah dingangakan
Kelingking patuh berkait ke peta penjajahan

Lantaran di simpang ke Suliki itu ratib sayup cuma terdengar
Sekerat ingatan tak lebih baik dari margarin sebelum hambar

Lantaran tak sampai tikam dan telah dikirim pelor berdentam
Kini, dari tubuh ke tubuh, selain pikiran, diputuskan bermalam

2017

Tentang Jane

Di selembar peta koyak itu,
Ia temukan paras negerinya:
Amsterdam yang dingin,
Rotterdam yang agak lain,
Den Haag yang penuh lilin

Lalu dengan telunjuk yang sakit
Ia raba satu gang sempit:
Di situ, keluarga Ludwig dengan 12 anak
Berebut kasur, bagai itik bersua dedak

Tinggal pula pemilik bar,
Seorang jompo korban perang,
Dan para perantau Madagaskar
Di lantai dua dengan sisa tahi camar

Matanya pun hampir rabun karena itu,
Tapi lekas ia temukan ingatan baru:
Seorang gadis menuruni tangga dekat kanal
Lalu menyapa mereka yang dikenal
(Seandainya ia tak tersandung
Atau hampir terjungkal di jalan terjal itu,
Ia tak ingat kalau ini malam Natal)

Tapi ingatan tak kekal, katanya

Kelak, ia pun tahu, peta koyak itu
Adalah lamunannya yang tak utuh

2016

Boy Riza Utama lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 4 Mei 1993. Ia bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Boy Riza Utama
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" akhir pekan 12 - 13 Agustus 2017

0 Response to "Pascakolonialisme Brandon Venzord - Untuk Adriaan Valckenier - Onderdistrik Tujuh - Mengenai Ipie - Tentang Jane"