Perayaan Qi Xi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perayaan Qi Xi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Perayaan Qi Xi

SEMENJAK berkali-kali gagal membina hubungan spesial dan usia terus mengelinding tanpa bisa ditangkal, aku memasrahkan urusan jodoh pada Mama. Menyerah pada cara konvensional: dijodohkan! Jodoh bukan perkara hati, melainkan bagaimana memenuhi target diri. Siapa pun lelaki itu, asal tak beristri, akan kuterima.

Markus T’sien satu sekolah denganku di Yayasan Shion. Namun aku tak memiliki memori kuat untuk menemukan namanya di deretan siswa yang kuketahui. Wajah dan rupanya samar. Menyisakan misteri. Bagaimana aku bisa mengingat satu wajah secara spesifik, bila seluruh siswa di Yayasan Shion berwajah bulat, mata segaris, dan kulit kuning bersih? Beberapa teman SD yang kutanyai pun tak bisa menjawab detail rupa Markus T’sien.

Marga T’sien tak begitu susah ditemukan di Semarang. Keluarga Tísien memiliki satu rumah makan lunpia terkenal. Aku mengenal keluarga T’sien dari kisah yang selalu didengung-dengungkan di kalangan keturunan Tionghoa. Konon, salah satu moyang mereka pembuka bisnis lunpia di Semarang. Keluarga T’sien memiliki mansion mencolok dibanding rumah-rumah di sekelilingnya.

Markus T’sien sulung yang akan menjadi ahli waris kekayaan keluarga. Keluarganya sedang mencarikan gadis dan aku, kata Mama, cocok menjadi istri Markus T’sien.

Mama memiliki radar sensitif. Mama tak hanya pandai memilih warna sutra bahan cheong sam untuk perayaan Imlek. Mama memikirkan pula masa depanku. Mama sadar, memilih pasangan berharta bukan hanya menjamin anak cucu di kemudian hari.

Keluarga T’sien mengundangku pada perayaan Qi Xi. Aku hanya mendengar kosakata itu dalam buku Old Chinese Wisdom, yang dulu kubaca serampangan di Yayasan Shion. Meski aku berdarah Tionghoa, Mama berkulit cokelat asli Jawa. Praktis, hanya perayaan Imlek dan Qing Ming, hari raya arwah, kami membakar hio dan kertas doa di atas hiolo, mendoakan arwah buyut dan Papa.

Qi Xi adalah perayaan kasih sayang pada tanggal tujuh bulan ketujuh. Menurut legenda, pada hari itu Ratu Surga melepaskan tusuk rambutnya agar Lelaki Gembala yang mengejar Bidadari Surga terhalang. Itu demi cinta. Lantas burung murai yang suci berbondong-bondong membuat jembatan agar Lelaki Gembala dan Bidadari Surga bertemu. Pada tanggal tujuh bulan ketujuh, mereka akan bertemu dan memadu cinta. Alangkah bahagia aku akan bertemu calon suami kali pertama pada hari kasih sayang?

Perayaan itu sebenarnya hari kebebasan bagi nyonya rumah. Pada Hari Raya Qi Xi, pesta diatur sang istri. Bebas mengadakan permainan mahyong, mengundang penyanyi, atau bahkan menyajikan arak dalam guci keramik. Itu berkait dengan larangan bagi wanita keluarga terhormat untuk mendatangi pesta pada hari biasa. Maka dibuatlah hari agar wanita terhormat, termasuk Nyonya T’sien, leluasa berpesta.

Hanya keluarga dengan garis Kanton yang cukup kental yang menjaga perayaan itu. Keluarga Tísien salah satunya. Tak ada darah selain darah yang serupa. Dalam klan T’sien, pernikahan antarsepupu adalah wajar demi kemurnian garis keturunan dan menjaga binis lunpia.

Saat kutanya mengapa aku yang bukan sedarah harus menerima Markus T’sien, Mama menekankan mereka sudah kehabisan stok sepupu yang sepadan usia dan siap menikah dengan Markus T’sien. Kalau dua ekor burung merpati hinggap di dahan bunga peony terlalu lama, dahan yang rapuh akan patah. Satu solusinya, lekas membuatkan keduanya ikatan sah dan sarang yang hangat untuk berletur.

“Ma, apa aku harus memakai cheong sam?” tanyaku. Meja kayu di ruang depan penuh baju aneka warna. “Terakhir aku memakai pada perayaan Imlek saat kelas V SD. Aku tak mungkin memakai warna semerah ini.”

“Kali ini harus. Pesta Qi Xi adalah hari kamu bebas menjadi wanita,” sahut Mama.

Sudah kubayangkan betapa gerah memakai baju kurung ketat. Namun aku ikhlas saja menjadi boneka Mama, kemudian ditawarkan kepada Markus T’sien.


***
KUPILIH cheong sam hijau pucat dengan bordir bunga morning glory di kerah dan lengan. Rambutku digelung ke atas dengan sebuah tusukan berbandul mote. Mama mengikat erat hingga kepala seperti diikat rantai, berharap tak sehelai pun rambutku jatuh. Leherku yang jenjang dan mulus harus jadi fokus perhatian. Tak lupa beberapa perhiasan. Intinya, hari itu aku menjadi gadis berpakaian lengkap yang cukup pantas andil pada parade festival kebudayaan.

Seperti kuduga, banyak tamu telah berdatangan di mansion keluarga T’sien. Rumah besar berhalaman luas itu disulap seperti halaman hotel untuk acara pernikahan. Deretan meja dan kursi berselimut kain merah menambah manis suasana. Juga panggung kecil yang kini diramaikan anak-anak—yang kukira generasi termuda keluarga T’sien—menyanyikan lagu-lagu Mandarin dengan ceria.

Aku mengekor di belakang Mama, mengarah ke seorang wanita dengan rambut bersarang gelungan berhias rantai mutiara.

“Jadi ini Mia putrimu?” seru dia. “Di mana saja kausembunyikan dewi secantik ini?”

Wanita itu, yang kemudian kuketahui adalah Nyonya T’sien, merangkul dan mendudukkan aku semeja dengannya. Kudapan dan minuman mahal tersaji di meja. Aku ingin meraih, tetapi Nyonya T’sien tak sekali pun mencontohkan. Aku kikuk, menelan liur sambil mencoba menikmati alunan musik dan lagu yang tak kuketahui artinya.

“Kamu pantas jadi menantu kami,” bisik Nyonya T’sien.

Kujawab dengan senyuman dan anggukan. Aku malu sekaligus berdebar membayangkan kelak menjadi bagian mereka. Muncul pertanyaan, “Mana sosok Markus T’sien yang akan dijodohkan denganku?” Mataku mencari lelaki yang sekiranya seusia denganku dan berpenampilan sebagai anak keluarga T’sien. Mungkin lelaki yang duduk dengan menopang dagu itu? Atau lelaki yang jadi pusat beberapa kawan semeja dan selalu mengumbar dekik di pipi? Namun yang benar-benar menggodaku adalah sosok lelaki berkacamata dan kemeja merah, yang sejak tadi memainkan telepon pintar. Entah mengapa, andai benar dia Markus T’sien, aku tak menyesali perjodohan ini.

Mendadak perhatianku tersedot ke atas panggung. Ada alat musik tradisional Tionghoa dan standing mic. Mungkinkah Markus T’sien akan muncul di panggung memainkan musik? Dia akan menyenandungkan lagu paling indah. Hati wanita mana akan tegar menerima rayuan sedemikian romantis? Membayangkan itu, mendadak pipiku merah. Aku menunduk, tak ingin ada yang menangkap perubahan wajahku.

Saat Mama dan Nyonya T’sien saling lempar guyonan, kusaksikan tiga lelaki memasuki panggung. Dadaku gugup untuk sesuatu yang belum kuketahui. Seperti sorai burung murai, dadaku bersorak: orang paling segar dan muda itulah Markus T’sien. Dua yang tertua memegang yang qin, dan yang kuyakini sebagai Markus T’sien meraih er hu.

Pemain yang qin begitu mahir memainkan alat musik berdawai banyak itu. Pemain er hu duduk di bangku rendah dengan instrumen terpegang tegak di depan, jemari melayang di leher er hu, sedangkan tangan sebelah lagi menggesekkan busur dari bulu ekor kuda. Aku bisa melihat bahu bidangnya saat dia membungkuk dan bagaimana torsonya membentuk pinggul yang ramping.

Aku terlena oleh alunan musik dan lelaki pemain er hu itu. Dadaku tak henti-henti bergejolak, hingga permainan rampung. Bertiga mereka membungkuk, salam perpisahan. Suitan dan tepuk tangan mengiringi mereka turun dari panggung.

Pemain er hu berjalan ke mejaku. Dadaku makin bergetar kencang. Aku kikuk menatap rupanya yang tampan. Dia menuju Nyonya T’sien lantas berpelukan.

“Aku bangga padamu, Sayang,” suara Nyonya T’sien tertangkap olehku.

Aku berdiri. Mama menyalami. Aku pun menunggu giliran.

“Mia, kenalkan ini anak bungsuku, Thomas T’sien,” ujar Nyonya Tísien.

Dadaku mendadak layu. Celah-celahnya disusupi kecewa.

“Oh, kukira Markus T’sien,” ucapanku mendadak membuat mejaku hening. Aku menoleh pada Mama yang memalingkan wajah.

Nyonya T’sien menghapus bungah di wajah. Matanya menghilang dalam garis. Senyumnya tak lengkung lagi.

“Mungkin sudah saatnya kamu kukenalkan pada Markus T’sien,” kata Nyonya T’sien.

Aku dan Mama digiring ke dalam rumah. Pikiranku dirambati aneka prasangka. Perabot mewah, lukisan indah, keramik China kali ini tak mengusik kegundahan hatiku. Aku menuju sebuah kamar. Mungkinkah?

“Dia sudah tidur dengan tenang di sini,” Nyonya T’sien menunjuk sosok lelaki yang lengkap dengan jas dan dasi kupu-kupu. Ada asap hio dan sajian buah di meja persembahan. Remangku berdiri.

“Apa ini?”

“Ya, aku ingin kamu jadi minghun*. Mark harus memiliki istri sebelum dikremasi,” kalimat Nyonya T’sien tak ubahnya rentetan gergaji.

“Mama! Apa kita sudah sedemikian miskin?”

Dunia berkontraksi hebat. Tangisku sedu. Warna-warni pada Hari Raya Qi Xi memudar, garis-garis mengabur. Kemudian, seperti sentakan pada getah perca, segalanya runtuh, menimpaku yang terluka. (44)

* Minghun: tradisi Tionghoa, menikah dengan jenazah. Mia dinikahkan dengan jenazah Markus T’sien, karena arwah Markus terus menghantui keluarga Tísien yang semasa hidup tak mencarikan jodoh. Itu sekaligus mengurangi wanita seperti Mia yang menua dan tak berpasangan.

Puturama Benaputra lahir di Kulonprogo, 4 April 1998, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Puturama Benaputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 6 Agustus 2017

0 Response to "Perayaan Qi Xi"