Pohon Api | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pohon Api Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:02 Rating: 4,5

Pohon Api

SEJAK tubuhnya mulai tumbuh, Kekayi sangat sadar akan kekuasaan yang dimilikinya. Kekayi, sangat mengagumi bentuk tubuhnya. Tubuh yang lebih indah daripada sebatang pohon, pohon yang tumbuh dekat jendela kamarnya.

POHON itu tingginya 20 meter. Daunnya halus dan rimbun. Tanaman ini memiliki bunga yang sangat indah. Maka banyak orang rebutan memberi nama: flamboyan, delonix regia, royal poinciana. Kekayi lebih suka memberinya nama pohon api.

Pohon yang anggun dan seksi. Dan Kekayi merasa tubuhnya telah tumbuh menjadi sebatang pohon, pohon api. Pohon itulah temannya, ibunya, juga semangatnya. Tempat dia mengadu. Juga jika marah, pohon api itu membiarkan Kekayi menancapkan puluhan pisau runcing dan tajam di tubuhnya. Pohon api itu tetap diam, tidak merasa dilukai, justru menjatuhkan kelopak bunganya yang merah menyala. Kadang pohon api itu dipenuhi bunga, seolah pohon itu akan membakar langit. Pohon api itu akan memakan semua daun-daunnya, meninggalkan lidah api yang menyala. Kekayi akan meletakkan tubuhnya di bawah pohon berkasur rumput. Pohon api itu akan menjatuhkan kelopak bunganya yang merah menyala, mengubur tubuh Kekayi. Terasa hangat dan merasa dilindungi. Kekayi sangat menikmati, sampai seorang dayang membongkar kuburan bunga itu dan mengangkat tubuh kecilnya. Begitulah kejadiannya jika pohon api itu berbunga. Kekayi merasa pohon api itulah yang mengajarinya cara hidup. Memberi inspirasi. Juga mengajarinya cinta! 

Pohon api itu terasa menjelma di tubuh Kekayi. Bahkan ketika dia menggosokkan tangannya ke tangan Kekaya, lalu menjatuhkan tubuhnya yang mulai terbentuk indah, lekuk yang sempurna, pinggang kecil, dan dua buah bukit yang membusung padat ke tubuh Kekaya, sambil menggosokkan bukit-bukit yang mulai menonjol kaku dan padat itu ke dada Kekaya, lelaki setengah baya itu berkeringat dan menggigil. Kekayi girang melihat kepandiran Kekaya, ayah tirinya, ayah angkatnya itu blingsatan. Tidak sanggup menatap mata Kekayi. Apalagi menyentuh kulitnya yang bening. 

Semakin hari, tubuh Kekayi tumbuh cepat. Sorot mata iri para putri dan pemaisuri, juga selir, membuat Kekayi merasa semakin bergairah. Bahkan ada seorang selir ingin meracunnya, berharap dia mati! Semakin banyak yang menaburkan racun di makanannya, semakin bertambah pesona yang memancar dari dirinya. 

Setiap hari adalah tantangan. Semakin banyak perempuan ingin melukainya. Semakin bertambah kecantikan Kekayi! 

Banyak lelaki datang, ingin melamarnya. Kekayi tak ingin harta. Yang dia inginkan adalah kekuasaan. Kekuasaanlah yang kelak dikenang orang-orang yang menandakan dirinya pernah ada dan tumbuh di dalam kehidupan ini. Tubuhnya dipersiapkan untuk melahirkan raja-raja besar dan berkuasa dalam sejarah. 

Akhirnya, datanglah Dasarata, lelaki tua, yang terpikat oleh kecantikan dan kemudaannya. Lelaki sekaligus seorang raja dari kerajaan besar dan termasyhur. 

Kekayi sempat menangis tujuh hari. Karena dewata memilihkan seorang lelaki tua untuknya. Lelaki yang kelihatannya akan mati dalam waktu dekat karena ringkih dimakan usia. Lelaki yang ditolongnya ketika terluka. Ayahnya, Raja Kekaya menyuruh Kekayi merawat lelaki itu dengan baik. Kelak, lelaki itulah yang akan mengangkat kehidupannya. 

Lelaki tua yang terkapar di tengah hutan. Dengan luka yang menjijikkan. Baunya melebihi bau mayat dan sampah makanan busuk. Lelaki tua yang tubuhnya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda yang bisa membuatnya bergairah. Lelaki tua, yang berdiri saja, memerlukan bantuannya. Keriput di seluruh kulitnya juga wajahnya. Lelaki tua yang memiliki mata begitu nakal. Lelaki itu juga sering mengelus pundak dan pipinya dengan napas yang berpacu. Lelaki yang kadang menyuruh Kekayi melumuri seluruh tubuh keriputnya dengan minyak cendana. Aslinya, lelaki itu begitu menjijikkan bagi Kekayi. Setiap selesai menggosok tubuh lelaki tua itu, Kekayi muntah-muntah. Seluruh makanan dalam perutnya terkuras. Tubuh lelaki itu begitu buruk dan menjijikkan. Membuat Kekayi selalu mual jika berada di dekatnya. 

”Turuti seluruh perintahnya, Kekayi. Kelak kau akan tahu siapa sesungguhnya lelaki itu?” Itu kata-kata yang selalu dikatakan Kekaya, ayah angkatnya. 

Bahkan emban, yang sudah kuanggap ibu bagiku juga mengatakan hal yang sama. Siapakah lelaki tua jelek ini? Lelaki tua dengan mata nakal. Mata yang selalu membuat Kekayi merasa telanjang di hadapannya. Lelaki yang mengelus seluruh tubuhnya dengan penuh gairah. Lelaki yang menawarkan seluruh hidupnya untuk Kekayi. 

”Aku akan membuang semua istriku jika kau mau ikut denganku, Kekayi. Perempuan tercantik melebihi kecantikan istri para dewa. Hidupku kembali bergairah lagi melihatmu. Mintalah apa saja! Aku adalah raja dari kerajaan besar. Keputusanku adalah hukum. Akulah yang menentukan hidup-mati rakyatku. Ikutlah denganku, kau akan kujadikan ratuku!” Suaranya parau dan tidak jelas. Mungkin umurnya sudah ratusan tahun, atau ribuan tahun. 

Lelaki yang telah melecehkan dirinya. Tetapi Kekayi tidak bereaksi karena semua manusia di kerajaan Kekaya menaruh hormat pada lelaki ringkih ini. Kekayi menimbang sendiri. Berpikir dan berhitung. Apakah lelaki ini jawaban bagi doa-doanya? Bagaimana mungkin lelaki tua ini bisa menanamkan benih di rahimnya? Berapa umurnya? Dia jauh lebih tua dari Kekaya. Kenapa Kekaya begitu hormat padanya? Dan membiarkan dirinya menemani lelaki tua, bau, dan jelek ini berbulan-bulan, sampai seluruh luka di tubuhnya mengering. Kekaya juga membiarkan dirinya memandikan dan merawat lelaki tua ini sendiri! 

Kekayi pun dibawa Dasarata dengan upacara megah bak upacara menyambut raja baru. Sungguh sebuah upacara yang tidak biasa. Tetapi, siapa yang berani menentang titah Raja? Membuat para perempuan semakin geram dan cemburu pada kecantikannya, juga keberuntungannya. 

Ia merupakan wanita ketiga yang dinikahi Dasarata setelah dua permaisurinya yang lain tidak mampu memiliki putra. Pada saat Dasarata meminang dirinya, ayah Kekayi membuat perjanjian dengan Dasarata bahwa putra yang dilahirkan oleh Kekayi harus menjadi raja. Dasarata menyetujui perjanjian tersebut karena dua permaisurinya yang lain tidak mampu melahirkan putra. 

Kusalya istri pertama Dasarata hanya bisa meneteskan air mata. Lelah rasanya memburu cinta Dasarata. Dulu Dasarata berjanji padanya, akan mengabdikan hidupnya untuknya. Kemudian mereka menikah. Kusalya, putri tunggal Prabu Banaputra dengan Dewi Barawati dari negara Ayodya, cinta mati pada Dasarata. Lelaki itu pun dinobatkan menjadi raja Ayodya menggantikan mertuanya, Prabu Banaputra, yang terbunuh mati dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. 

Tiga puluh tahun bersama tanpa putra, Dasarata menyerah. Kelakuannya berubah. Datanglah, Sumitra. Perempuan peragu dan pandai mengambil hati dengan kata-katanya yang manis. Bagi Kusalya, Sumitra perempuan penjilat. Berusaha melakukan apa saja untuk menyenangkan hati orang banyak. Semuanya tentu untuk keuntungannya pribadi. 

Kebenciannya pada Sumitra, perempuan kedua yang dibawa Dasarata, belum lagi terkikis, padahal sudah puluhan tahun bersama. Hari ini, datang Kekayi, perempuan ketiga, memiliki kecantikan dan keangkuhan yang tidak tertandingi. Kekayi memiliki ketegasan seorang raja. Taksunya kuat. Sumitra, yang berusaha menjilat dengan kata-kata manisnya, tidak berkutik. Justru ketakutan jika duduk berdampingan dengan Kekayi. 

Namun, setelah menikah dan hidup lama, Kekayi pun belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Kondisi ini membuat Kusalya sedikit terhibur. 

Dasarata pun putus asa, dia kemudian mengadakan upacara bagi para dewa. Upacaranya diterima oleh para dewa dan utusan mereka memberikan sebuah guci bertabur permata hitam berisi air suci agar diminum oleh setiap permaisurinya. Kusalya minum seteguk dengan perasaan ragu karena mengingat usianya yang sudah tidak lagi muda, mungkinkah bisa hamil? 

Sumitra, dengan nekat sengaja minum dua teguk, dan berharap lahir banyak anak dari rahimnya agar mampu mengalahkan Kusalya dan Kekayi. Atas anugerah tersebut, ketiga permaisuri Raja Dasarata melahirkan putra. Rama, lahir dari Kusalya. Bharata, lahir dari Kekayi, Laksmana dan Satrugna, lahir dari Sumitra. 

***
KEKAYI puas, seorang bayi laki-laki kini jadi miliknya. Dan lelaki tua itu tidak pernah datang lagi ke biliknya. Setiap hari lelaki tua itu datang untuk memangsa tubuhnya dengan rakus. Tidak pernah bosan. Tidak pernah berhenti. Sangat menjijikkan. Sejak bayi lelakinya lahir, Kekayi berusaha sibuk mengurus semua kebutuhan anaknya. Memilih guru untuk bertempur. Juga sibuk dengan urusan-urusan sepele. Dia ingin terlihat sibuk karena jijik meladeni Dasarata yang selalu lapar pada tubuhnya. Tubuh Kekayi yang sudah seperti batu. Dingin dan kehilangan kekuatan, juga tak ada gairah lagi jika melihat lelaki. 

Akulah Kekayi, perempuan yang tidak tahu arti cinta. Seorang ibu yang mengandung 12 bulan. Telah dikutuk oleh anaknya sendiri! 

Bharata telah memakiku. Kata-katanya kasar, yang seharusnya tak layak diucapkan oleh seorang anak yang berutang kehidupan pada ibunya. 

Aku tidak ingin mengutuknya. Aku ibunya. Kutukan seorang ibu akan membuat bencana besar bagi anakku. Aku ingin Bharata jadi raja. Aku ingin semua anak yang kumuntahkan dari tubuhku berkuasa. Bukan Rama, anak dari perempuan tua, Kusalya. 

Kekayi namanya, sejak kematian Dasarata, sang raja. Memilih untuk berbicara dengan matahari. Mulutnya tidak pernah terbuka. Matanya selalu tajam memandang ke arah matahari terbit sampai matahari terbenam. Perempuan itu akan terus menghadap ke arah matahari dengan posisi yoga. 

Tidak ada yang bisa mengajaknya bicara. Tidak juga anak-anaknya. Jika malam datang, Kekayi akan merebahkan tubuhnya. Telentang menghadap langit. Sambil memejamkan mata. Menunggu matahari. 

***
SETIAP pagi, ketika kemilau mulai menggores langit, perempuan itu akan duduk bersimpuh sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Perempuan cantik itu tidak akan pernah bicara, kecuali Bharatha mau menjadi raja. 

Namaku Kekayi. Lengkapnya, Dewi Kekayi. Putri Prabu Kekaya, raja negara Padnapura. Kekaya, sesungguhnya, bukan ayah kandungku. Aku adalah putri Prabu Samresi, raja Wangsa Hehaya. Ayahku terbunuh mati dalam pertempuran melawan Ramaparasu. 

Waktu aku masih berwujud bayi merah, seorang emban berhasil menyelamatkanku, Matara. Dialah yang menyerahkan bayi merah itu kepada Kekaya. 

Aku tumbuh makin besar dan cantik. Kupikir Kekaya tertarik padaku, para selir dan ratu cemburu padaku. 

”Sumber kekuatan terbesar dalam hidupku hanyalah kecantikan dan kemudaan.” Kata-kata itulah yang selalu diselipkan Matara kepadaku. Sesungguhnya aku adalah perempuan miskin. Tidak memiliki harta. Tidak juga orangtua. Yang kumiliki kecantikan dan kemudaan. Kata Matara, kecantikankulah yang kelak membuatku memiliki kekuasaan. Jika aku bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Secepat dan setepat mungkin. Jika meleset membidikkan anak panah. Hidupkulah yang jadi taruhan! 

Aku suka sekali menggunakan kecantikanku untuk berkuasa. Para panglima di kerajaan mengajariku berkuda, kadang menggunakan tombak untuk berburu. Apa pun yang kuinginkan, para lelaki selalu datang membantuku. 

Suatu hari, ayah angkatku, Raja Kekaya kugoda. Aku suka membangun impian-impian aneh. 

Kata para dayang, kadang tubuhku mengeluarkan cahaya. Jika datang bulan terang, purnama, cahaya tubuhku akan memancar membuat silau. 

Kadang mereka berpikir aku keturunan para dewa sakti. Aku tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku senang mereka berpikir aku keturunan dewa. Mereka semua tidak pernah mengingat nama ayahku dan kerajaannya yang hancur. Karena kebodohan ayahku kerajaanku hancur. Seorang perempuan cantik telah dihidangkan kepadanya. Untuk umpan menguasai kerajaannya. 

Matara, emban itulah yang menyelamatkan nasibku. Kadang aku berpikir Matara adalah ibuku, dan aku lahir karena hubungan Matara dan ayahku. Aku senang membayangkan Matara sebagai ibuku, karena dialah yang selalu ada sejak aku masih bayi merah sampai aku tumbuh jadi perempuan paling cantik. Aku malah berpikir Matara itu bukan manusia. Mungkin dia dedemit, raksasi atau sejenis itu. Tubuhnya tidak berubah menua. Dia juga kuat menggotong tubuhku ketika aku rubuh. Waktu itu seorang selir raja mengajakku santap malam. Kata Matara, selir itu telah membubuhkan racun ganas di tubuhku. Dan sesungguhnya aku telah mati tiga hari. Entah apa yang dilakukan Matara, sampai hari ini aku baik-baik saja. 

Sebuah rahasia tetap kusimpan rapi. Jika istri raja mengundangku datang ke kamarnya, Mataralah yang menjelma jadi Kekayi. 

Banyak selir raja yang mati jika Matara yang menjelma jadi Kekayi. Karena Matara mampu melihat mana menu beracun, dan dengan mudah memindahkan makanan beracun itu ke tempat pemberi racun. 

Karena Matara selalu berwujud Kekayi, istri-istri raja dan selir pun makin takut pada Kekayi. Bahkan banyak rumor, aku adalah anak kesayangan dewa yang lahir untuk menguasai seluruh kehidupan ini. Kekayi tidak mempan diracun. Juga tidak mempan disabet benda tajam. Aku tahu semua itu ulah Matara. Makanya, aku berpikir Mataralah ibuku. Hanya seorang ibu yang rela melakukan apa saja untuk darah dagingku. Aku lebih mengenal Matara, dibanding sosok ibu yang melahirkanku. 

”Kau adalah keturunan raja besar yang gagah. Lahir dari rahim perempuan cantik yang tidak ada tandingannya. Bahkan banyak dewa jatuh cinta pada ibumu, Kekayi?” Suatu hari Raja Kekaya berkata sungguh-sungguh. Tatapan lelaki itu tajam, mengupas seluruh serat kapas yang melekat di tubuh Kekayi. Terdengar detak jantungnya, desah napasnya yang berdengung seperti tawon di kupingku. Aku tahu, Kekaya berusaha menghentikan seluruh detak tubuhnya yang dia rasa tidak normal. Kekayi tahu seluruh dayang, selir, dan puluhan istri Kekaya tahu. Bahwa Kekaya jatuh cinta pada Kekayi. 

”Aku suka para lelaki menatapku dengan birahi.” 

”Kekayi!” 

”Jaga mulutmu! Jika kau semakin angkuh dan sombong. Musuhmu akan semakin banyak.” Matara selalu berkata dengan ketus. Hanya Mataralah yang bisa meredamnya. Kekayi tidak percaya pada siapa pun, juga pada apa pun. Penunjuk jalan hidupnya adalah Matara. Perempuan bertubuh kayu, dengan bongkok seperti gumpalan batu di punggungnya. 

***
AKU adalah Kekayi, perempuan yang menghabiskan hidupnya untuk berdoa dan tirakat pada hidup. Kini menjelma perempuan tua, yang dicaci-maki anakku sendiri. Sebagai Ibu, aku tak akan mengutuk mereka. Karena mereka tidak pernah tahu siapa Kekayi sesungguhnya! Namaku Kekayi, perempuan, istri seorang lelaki tua, dan ibu Bharata. Bharata memusuhiku, memakiku, dan berkata kasar, menyesal memiliki ibu seperti aku. Yang tamak, loba, haus kekuasaan, menghalalkan apa saja untuk dirinya sendiri dan tanpa hati. Perempuan hina yang membunuh suaminya sendiri, Dasarata. Kekayi tidak habis pikir, kenapa dia yang disalahkan oleh Bharata? Bukankah Dasarata sendiri yang berjanji akan memberikan apa saja yang dia inginkan? Juga mengangkat Bharata sebagai raja? Lalu, kenapa Dasarata berubah arah, mengangkat Rama? Kenapa Bharata begitu marah padanya? Bukankah hak dan kewajiban seorang ibu adalah memberi hal-hal terbaik bagi anaknya. Tugas ibu juga membuat masa depan anaknya gemilang. 

Bharata memang lelaki yang masih muda. Belum paham hidup. Belum paham bahwa kesempatan itu tidak datang dua kali! Kekayi tidak habis pikir, kenapa Bharata berpihak pada Kusalya? Dan memohon maaf atas nama Kekayi. 

Hyang Jagat! Betapa bodohnya Bharata. Betapa menyedihkan Kekayi sebagai ibu telah melahirkan seorang anak lelaki yang rapuh! 

Mungkin ketika aku mengandung mereka, mereka adalah burung gagak yang mematuk rahimku. 

Oka Rusmini, menulis puisi, cerpen, novel. Ia peraih SEA Write Award di Thailand (2012) untuk novel Tempurung dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014 untuk buku puisi Saiban. Kini ia tinggal di Denpasar, Bali.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Oka Rusmini
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 6 Agustus 2017

0 Response to "Pohon Api"