Rumah di Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rumah di Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:00 Rating: 4,5

Rumah di Langit

IA mendongakkan kepalanya dan berpikir, kenapa rumah orang miskin itu harus berada di ketinggian bukit, ia terus memikirkan batang-batang pakis sepanjang jalan setapak menuju rumah itu, tumbuhan liar ada di mana-mana --ia tidak tahu apa saja namanya, pohon kelapa, dan oh, betapa banyak batang pakis, dan kembali ia tertanya-tanya, kenapa rumah orang miskin itu berada di tempat yang amat tinggi dengan jalan demikian mendaki, atap sengnya begitu cokelat dan tua, dinding-dinding kayunya rapuh, sebagian berlubang --dimakan usia dan cuaca, adakah Tuhan sesekali datang ke sana dengan cara-cara yang hanya mereka mampu merasakannya--kehadiran yang menguatkan dari segala penderitaan dan luka dan demi itukah keluarga itu membangun rumah di tempat paling tinggi di antara beberapa rumah lainnya, rumah yang lalu ia ketuk pintunya dan seseorang menjulurkan kepala dan bertanya ragu, ’’Apakah kau tersesat?” 

’’Tidak,” ia menjawab begitu saja, ’’aku sedang mencari Tuhan.” 

’’Kau salah alamat. Ini bukan rumah ibadah.’’ 

’’Ah, maaf, aku memang tidak mencari rumah ibadah, aku mencari...’’ Pintu rumah mendadak ditutup bersamaan dengan raibnya kepala yang tadi menjulur keluar. Ia memutuskan untuk tidak mengetuk pintu rumah itu lagi dan mulai berbalik dan menuruni jalan setapak yang di kiri-kanan rasanya bertambah sesak dengan segala macam jenis tumbuhan liar dan ia membayangkan beberapa pasang mata tengah memandangi punggungnya lewat lubang-lubang dinding. Paling tidak, ia sudah menemukan rumah itu. Kapan-kapan ia bisa kembali. Ia akan datang dengan sikap lebih baik dan tidak membuat bingung orang yang membukakan pintu dan menyiapkan sapaan yang umum saja, ’’Permisi, saya mencari Bapak Ovias.” 

Setengah perjalanan menuruni bukit, ia membalikkan badan untuk melihat ke arah satusatunya rumah di tempat paling tinggi itu --pantaskah bangunan serupa kandang itu disebut rumah?-- yang kini terlihat sebagian saja dan hatinya meledak kecil dan seketika ia ingin sekali menumpahkan air mata seolah ia baru saja melakukan perjalanan suci.

*** 
KAKINYA sudah kembali menjejak pinggir jalan raya, di sebuah kehidupan kota yang ramai; kendaraan yang memadati jalan, toko yang berjejer, dan rumah-rumah yang bersesakan di belakangannya. Manusia di kota ini terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Ia bagian dari orang-orang kota itu. Selama puluhan tahun menjadi manusia, apa yang sudah ia lakukan? Ia sama sekali tidak pernah menanyakan itu sebelum gadis kecil dengan sebelah matanya yang cacat menadahkan mangkuk plastik ke arahnya pada Minggu pagi di warung bubur ayam. Ia tidak memberi uang kepada gadis pengemis itu, melainkan menarik sebuah kursi kosong dan memesan satu mangkuk lagi bubur ayam. ’’Kau pasti belum sarapan,” katanya. Gadis kecil itu mengangguk pelan dan duduk canggung di sampingnya. Gadis itu memasukkan mangkuk plastik dalam tas kumal yang ia letakkan di bawah kaki. ’’Siapa namamu?” ’’Saila.” ’’Nama itu terlalu bagus untuk seorang pengemis,” selorohnya dan Saila tertawa kecil seolah ia sedang diledek teman bermain sesama pengemis dan mereka sudah biasa melakukannya. Begitu pesanan bubur diantar pelayan, tawa Saila menghilang dan ia makan tanpa membuang waktu lagi.

Saila memberinya alamat rumah di atas bukit itu pada pertemuan mereka yang ketiga kali di tempat yang sama. Gadis itu mengatakan kalau ia tinggal bersama keluarga yang memungutnya ketika ia berumur lima tahun dan mengemis di pasar bersama ibu kandungnya.

’’Bapak Ovias dan keluarganya baik sekali,’’ kata Saila, ’’tapi mereka juga sangat miskin.’’ ’’Karena itu kau masih mengemis?’’ ’’Aku hanya mengemis pada Minggu pagi. Harihari lainnya aku pergi sekolah.’’

’’Mengemis tetap saja tidak baik meski hanya sekali dalam seminggu.’’ ’’Aku membayar sekolahku, juga untuk jajan.’’ ’’Mereka membiarkan kau mengemis?’’ ’’Bapak dan Ibu Ovias sangat miskin. Mereka punya empat anak, ditambah aku menjadi lima.’’

Hari ini Minggu dan Saila belum pulang ke rumah saat ia datang ke sini. Dari cerita Saila Minggu lalu, ia tahu, setelah berkeliling menadahkan mangkuk plastiknya ke orang-orang yang sedang sarapan di seputaran gedung olahraga, Saila biasa bermain ke rumah temannya sampai pukul satu. Ia lupa memperhitungkan itu. Rutinitas yang telah Saila lakukan sekian lama dan gadis itu tidak akan mengubahnya begitu saja hanya karena rencananya ingin menemui Bapak Ovias.

Lalu yang terjadi, memang fatal. Ia tak pernah membayangkan jika alamat yang diberikan Saila mengantarkannya kepada sebuah keluarga yang hidup di bukit tepat di atas kota ini dalam kemiskinan yang sedemikian rupa --adakah orangorang kota ini pernah benar-benar memandang ke atas sana?-- dan serta merta ia dihinggapi rasa euforia tak terbendung tentang sentuhan rasa keimanan yang memenuhi hatinya dan muncullah jawaban itu dari bibirnya, ’’…aku sedang mencari Tuhan’’ dan jalan masuk ke rumah itu segera tertutup baginya sebab bisa jadi ia dianggap tengah mempermainkan mereka.

Ia membuka pintu mobil. Sopir yang menunggu tertidur di dalamnya dalam iringan lagu Gloomy Sunday yang konon bisa memicu orang untuk bunuh diri. Ia segera masuk dan mengempaskan pantatnya dan ia berkata, ’’Kita pulang.’’

’’Kau menemukan rumah itu?” tanya sopir yang adalah teman semasa sekolahnya dan gagal menjadi seorang polisi dua puluh tahun lalu. ’’Ya,” desahnya, ’’sangat tidak masuk akal.” 

’’Apanya?”

’’Mereka begitu miskin, sangat miskin, dan mereka masih sanggup menerima kehadiran Saila.” 

’’Kau sangat peduli kepada gadis pengemis itu.’’ 

’’Memang aneh sekali.’’

*** 
ANEH sekali, ia mengulang kata-kata itu di teras belakang lantai dua rumahya yang tepat menghadap ke permukiman para pemulung. Rumah-rumah kecil yang saling berdempetan dan semrawut. Ia belum pernah melihatnya dalam jarak yang dekat, tapi ia bisa menduga seperti apa kehidupan di sana. Anak-anak bertubuh kurus dan kotor dan penyakitan. Orang-orang dewasa yang batuk berkepanjangan dan hidup dengan napas pendek-pendek. Tumpukan sampah yang sudah disortir memenuhi pekarangan rumah mereka. Air yang sudah tercemar. Makanan yang tidak terjamin kebersihannya.

Aneh sekali, desisnya lagi. Sebelum ini, tiap berdiri di teras, ia hanya memandangi langit atau menikmati pancaran matahari atau rintik hujan bila cuaca buruk. Ia bahkan tidak berpikir bahwa ada kehidupan lain di luar rumahnya ini. Maka kembali ia mengingat Saila. Ia tidak tahu kenapa menarik kursi untuk gadis pengemis pada hari itu. Ia melakukannya begitu saja dan itu awal pertemanan mereka yang juga tidak ia mengerti.

Lalu, semua seperti terbuka di depan matanya. Ia mampu melihat segala sesuatu yang tak pernah ia lihat selama ini dan pelan-pelan membiarkannya menjadi bagian dari dirinya. Anak-anak di permukiman pemulung itu mungkin saja sedang berebut roti berjamur kebiruan yang mereka temukan dalam bungkusan plastik. Saila mengaku jarang sekali sarapan, tapi di sekolah ia membeli sebuah gorengan dan pada jam istirahat ia membuka bekal yang dibawanya dari rumah.

Namun, sesekali, kata Saila, ia sengaja melupakan bekal itu karena rasa bosan terhadap isinya yang itu-itu saja. ’’Kau menahan lapar?’’ ’’Tidak,” kata Saila tersenyum dan memberi tahu bahwa ia punya seorang teman yang sering menyisakan makanannya. Pukul sembilan ia bergegas pergi ke kantor. ’’Kau tampak sedang tidak sehat,” kata sopirnya di tengah perjalanan. ’’Apa sebaiknya aku segera kembali ke sana?’’ ’’Ke rumah di atas bukit?” tanya sopirnya tak percaya dan mengingatkan kalau teman sekaligus bosnya itu memiliki agenda rapat di kantor dan bertemu klien yang akan merenovasi rumah dan memerlukan jasanya sebagai desainer interior.

Mereka memang saling berbagi cerita tentang apa saja, dari masalah pekerjaan hingga kasus patah hati yang membuat keduanya tak pernah lagi mencoba membangun hubungan baru dengan orang lain.

’’Ini sungguh-sungguh waktu yang tepat untuk pergi ke sana,” sahutnya.

Ia memaksa sopirnya untuk keluar dari pusat kota dan mengarah ke bukit kecil --tempat kehidupan sunyi dan hiruk-pikuk kota saling berhadap-hadapan, tempat kemiskinan dan kemapanan amat dekat, tapi berjarak. Tempat ia pertama kali bertanya, selama puluhan tahun sebagai manusia, apa yang sudah ia lakukan? Pertanyaan yang ia ulang-ulang dan sodorkan kepada dirinya, terutama bila ia sedang ingat kepada keluarga Ovias dan Saila.


*** 
RUMAH itu masih tertutup batang-batang pohon dan semak yang cukup tinggi dan sedikit pun belum terlihat. Rumah-rumah lain --sekitar lima rumah-yang mereka lewati tampak sunyi dan pintunya tertutup rapat. Ia menduga pemilik rumah itu sengaja menutupnya agar tupai atau binatang lain tidak masuk ke dalam dengan leluasa.

Alasan lainnya mungkin penghuni rumah itu sedang keluar untuk bekerja di proyek-proyek bangunan atau buruh di pasar. Saila pernah bilang, semua tetangganya buruh lepas dan jika terpaksa mereka biasa pura-pura membutakan matanya dan mengemis di jalanan.

Ia berhenti dan menoleh kepada sopir yang berjalan di belakangnya --sopir itu ikut serta karena tak begitu yakin kalau ia baik-baik saja-- dan berkata, ’’Bapak dan Ibu Ovias mungkin saja sudah berangkat ke tempat kerja dan semua anaknya pergi sekolah.’’ ’’Sudah kubilang. Mana kau tidak sehat pula.’’ ’’Ini soal Saila. Aku harus segera bertemu Bapak Ovias.”

’’Aku tahu, tapi ini akan sia-sia. Kau semakin sakit. Bapak Ovias tidak ada di rumah.’’ 

’’Paling tidak aku harus sampai ke rumah itu lagi.” Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sopirnya tak lagi menunjukkan minat bicara.

Ia berjalan sambil sibuk berpikir. Saila setiap hari turun dan mendaki bukit ini. Saila mungkin senang memperhatikan serangga di atas semaksemak dengan sebelah matanya yang baik dan sebelah yang rusak. Nanti kau akan punya mata baru, janjinya kepada Saila dan karena itu ia ingin menemui Bapak Ovias pada hari Minggu lalu itu; untuk membicarakan mata Saila. Mata baru? tanya Saila terkikik dan menganggap itu lelucon.

Semak-semak semakin rapat dan menjulur ke jalan. Belum ada tanda-tanda jika mereka sudah dekat dengan rumah itu. Ia mencoba mengingat kepergian pertama kali ke sini dan di tengah perjalanan mendaki bukit ia sudah bisa melihat sebagian dinding dan atap rumah itu.

Ia mencoba mengingat apa pun yang pernah ia lewati dulu, sama sekali tidak keliru, batang-batang pakis, semak yang entah apa saja namanya, pohon kelapa, tapi di mana rumah itu?

Berkali-kali ia mencoba mengingat dan memastikan kalau ia benar-benar berada di jalan yang tepat dan seharusnya ia sudah menghadap pintu itu. Setengah putus asa ia menengadah. Awan-awan. Dua ekor elang melayang. Begitu banyak awan --dan, samar, ia melihat rumah itu tergantung di langit. 

***

RK303, 2017

Yetti A.KA, kumpulan cerpen terbarunya, Penjual Bunga Bersyal Merah (2016) dan Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu (2016)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A.KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu  6 Agustus 2017

0 Response to "Rumah di Langit"