Semua Ayah Itu Sama | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Semua Ayah Itu Sama Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:30 Rating: 4,5

Semua Ayah Itu Sama

KABAR kepulangan arwah ayahku ke rumah sudah sejak lama bukan lagi cerita yang mengejutkan untukku. Sampai kini, saat menelepon, ibuku masih kerap mengabarkan kalau ia kembali memergoki arwah Papa pulang.

’’Sosoknya begitu jelas. Ia masih mengenakan pakaian waktu meninggal,” kata Mama dengan suara datar. ’’Aku baru habis makan ketika melihatnya berdiri di bawah tangga. Ia hanya menoleh padaku sekilas, kemudian naik ke lantai atas tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin ia cuma pulang untuk melihat-lihat.’’

Aku menarik napas pendek. Tidak mencoba menanggapi, hanya mendengarkan saja Mama terus bercerita sampai akhirnya ia berganti topik sendiri. Ya, kukira memang tak ada yang perlu aku tanggapi. Toh demikian, aku mencoba membayangkan sosok Papa yang terlihat ibuku itu: wajahnya yang tirus dengan tulang pipi menonjol, hidung mancung, dan mata besar yang cekung. Namun kau tahu, betapa waktu memang kerap memudarkan ingatan. Aku lagi-lagi jadi sedih ketika tak bisa mengingat dengan persis warna kemeja yang ia pakai --apakah putih atau krem muda-- saat tubuhnya dimasukkan ke peti jenazah. Tetapi celana panjangnya tak pernah aku lupa, berwarna biru tua dan sedikit kependekan untuk kakinya yang panjang.

Itu bukanlah celana panjang milik Papa, namun pesanan seorang pelanggan yang tak pernah diambil. Apa boleh buat, kala itu Mama tak berhasil menemukan celana panjang yang cukup layak untuk Papa kenakan ke alam baka. Meskipun ia seorang penjahit, Papa boleh dikatakan tak pernah memiliki banyak pakaian. Dari tahun ke tahun, kemeja dan celana panjangnya hanyalah beberapa setel yang ia pakai sehari-hari. Itu pun sudah kusam dan dipenuhi lubang-lubang kecil berkas percikan api rokok.

Duh, tiba-tiba aku merasa begitu kangen pada Papa; pada dongeng-dongeng, gurauan, bahkan kemarahan-kemarahannya. Mama pastinya juga amat merindukan Papa, pikirku gundah. Jika sudah begitu, kembali aku disergap oleh rasa bersalah lantaran mesti meninggalkannya begitu jauh ke Jawa. Sebagai anak tunggal, bagaimanapun akulah satu-satunya pelipur hatinya sepeninggalan Papa. Tidakkah Papa marah padaku karena meninggalkan Mama? Atau, akankah ia bisa memaklumi aku jarang pulang belakangan ini?

Aku jadi terkenang saat-saat masih duduk di bangku SMA. Kala itu Papa kerap mengomel panjang-pendek setiap kali aku telat pulang ke rumah selepas sekolah, apalagi jika aku sampai menginap di rumah teman tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

Tetapi arwah Papa tak pernah berkata apaapa. Tidak kepada Mama setiap ia pulang, tidak juga saat beberapa kali ia muncul dalam mimpiku. Ya, berbeda dengan arwah nenekku (ibu Mama) yang suka bertanya ini-itu jika menampakkan diri kepada Mama.

*** 
AYAHKU meninggal pada umur 59 tahun, awal November 1999. Dua tahun setelah Akong berpulang. Ketika ia jatuh sakit kemudian bertambah parah, aku sedang berada di Lampung dan ikut terseret ’’huru-hara” reformasi. Aku bergegas pulang begitu menerima kabar buruk itu. Ia dirawat hampir satu setengah bulan di Balai Pengobatan Bakti Timah, Belinyu. Komplikasi, kata dokter. Kena di ginjal, juga paru-paru dan lambung.

Kami hanya bisa menghela napas. Dengan gaya hidup Papa yang berantakan; makan tidak teratur, tidur tidak teratur, jarang minum air putih dan perokok berat, ia memang rentan terkena bermacam-macam penyakit. Lagi pula jika sakit ia tak pernah mau pergi ke dokter dan cukup mengonsumsi obat-obat China yang dijual bebas di toko. Ia tak pernah percaya pada medis Barat, apalagi di tangan fan ngin yisang.

’’Pengobatan Barat itu memasukkan racun ke dalam tubuh kita. Metodenya adalah membunuh virus penyakit, tapi seringkali membuat badan kita jadi semakin lemah. Berbeda dengan medis China. Metode dalam pengobatan kita adalah memperbaiki kerusakan organ dan menguatkan pertahanan tubuh sehingga serangan virus tak lagi mempan,” katanya suatu kali.

Ia benar dalam hal ini. Namun masalahnya, obat-obatan China yang ia minum pun buatan pabrik yang melewati proses kiamiwi. Bukan obat herbal China termashyur hasil riset ribuan tahun yang ia banggakan itu!

Kami sebetulnya ingin membawa ia ke rumah sakit yang lebih besar dan komplit di Sungailiat atau Pangkalpinang. Tetapi keuangan kami kala itu begitu sulit selepas krisis moneter. Untuk membayar rawat-inap Papa di rumah sakit kelas C itu saja, Mama terpaksa meminjam uang pada salah satu adiknya dan menjual perhiasan pemberian nenek saat ia menikah.

Kondisi Papa awalnya membaik dan ia diizinkan pulang oleh dokter dengan catatan tiga hari sekali harus memeriksakan diri. Selama seminggu ia tampak baik-baik saja. Saban petang ia malah terlihat begitu bergairah mendengarkan siaran sandiwara ’’Sam Kok” dan undian lotre dari Radio Internasional Singapura3 yang berbahasa Mandarin. Bahkan pada hari terakhir dalam hidupnya, ia sempat membeli kupon lotre dari Leu Sukkong yang datang ke rumah. Namun keesokan subuhnya, mendadak ia mengeluh sesak napas. Aku dan Mama panik seketika. Dan semua terjadi begitu cepat. Belum sempat aku memanggil dokter, arwah Papa sudah keburu terbang meninggalkan jasadnya.

’’SETAN barbar! Ular tanah India!” sumpah serapah dalam bahasa Hakka itu meluncur tak terkendali dari bibir Papa yang gemetar setelah pemuda Melayu itu keluar dari toko jahit kami. Wajah cekungnya tampak merah padam. Ia menggebrak mesin jahitnya, lalu meludahkan segumpal dahak hijau kental ke lantai toko; teronggok menjijikkan di antara perca-perca kain yang berserakan.

Luapan kemarahannya itu sering membuatku kecut, tak berani berada dekat-dekat dengannya. Demikian pula Mama. Hanya kakekku yang tampaknya tak begitu peduli. Akong terus bekerja di belakang meja besarnya, membuat pola-pola kemeja di atas selembar kain dengan kapur, seolah-olah segala sumpah serapah Papa yang menyakitkan kuping itu tidaklah lebih mengganggu daripada siaran radio yang tak berada pada frekuensi tepat.

Pemuda Melayu itu telah mengakali Papa. Ia datang dan menyuruh ayahku mengecilkan kaki celana jeansnya. Dan Papa sudah mencoba mengingatkan kalau permintaannya itu tak masuk akal; ukurannya terlalu kecil sehingga tidak bakal muat. Namun pemuda itu tetap bersikeras, sehingga Papa mau tak mau menuruti keinginannya. Apa yang terjadi kemudian?

Keesokan harinya ia datang kembali ke toko kami membawa blue jeansnya yang tak bisa dipakai dan meminta ganti rugi! Ya, dapat kami pahami betapa gusarnya Papa. Meski, tentu saja, tak seorang pun di antara kami yang tidak menyesali hal ini. Setiap kali Papa marah, kau tahu, suasana rumah bakal terasa sesak, panas, dan muram. Apalagi jika kemarahan itu berlanjut berkepanjangan. Semua orang jadi serbasalah; yang tak tahu-menahu persoalan pun kerap ikut terkena percikan. Ibarat ujar-ujar orang Hakka: ’’ Mo sit polo ta to nen”.

Tetapi apa mau dikata, sifat meledak-ledak tampaknya memang sudah menjadi karakter Papa. Selalu ada saja hal yang menggusarkan hatinya dan memicu kemarahannya: Paman bungsuku ketahuan mencuri uang Akong di laci, masakan Mama terlampau hambar, Paman Ngiu Long salah menjahit kain kasur, tim badminton putra RRC gagal merebut Thomas Cup, tebakan nomor lotrenya meleset tipis, atau kegiatan gereja yang terlalu banyak menyita perhatian Akong sehingga toko menjadi sedikit terabaikan…

Ah, terkadang terjadi perdebatan alot antara Akong dan Papa yang tak jarang berujung pada pertengkaran hebat. Dua lelaki, ayah dan anak, tak ada yang mau mengalah. Sama-sama bertabiat keras. Jika sudah demikian, Mama biasanya akan memberiku isyarat agar masuk ke kamar. Namun tetap saja pertengkaran itu cukup menarik untukku dan serta merta menjelma jadi sebuah lakon-kisah yang seru. Bentakan atau gedebuk tinju di atas meja tidaklah terlampau mencemaskan dari balik dinding papan kamarku, di mana aku dengan tenang menyimak semuanya di atas tempat tidur.

Papa bahkan tak segan-segan mencaci-maki saudara-saudaranya --paman dan bibiku-dengan umpatan-umpatan menyakitkan seperti cu keu, silo, pot bun, san cu. Tentu bisa dibayangkan betapa kasar caci-maki yang terlontar dari mulutnya saat ia terlibat percecokan (yang kadangkala nyaris menjelma jadi baku-hantam jika tak segera dilerai orang-orang) dengan Bong Kim Loi, tukang mi tetangga sebelah rumah kami. Walaupun sama-sama penggemar berat Yang Yang dan Han Jian7, keduanya memang bagaikan kucing dan anjing. Sedikit saja bersenggolan, alamat palang pintu bakal teracung di tangan. Ya, kendati bertahun-tahun kemudian, pada masamasa terakhir hidup Papa, keduanya kembali berbaikan layaknya dua orang sahabat lama yang berjumpa lagi setelah sekian waktu.

Hanyalah kepadaku Papa tak pernah melontarkan makian kasar, meskipun pukulan penggaris bambu tebal tak jarang mampir di tangan atau kakiku. Dan itu sungguh menciutkan nyali…

*** 
NAMUN begitu, apabila suasana hatinya sedang baik, ayahku sebenarnya adalah tipe lelaki periang yang suka bercanda.

’’A Ngo itu, kalau bayinya sampai keluar di tengah jalan, anak itu harus diberi nama Lu Ngo!” Demikian suatu kali ia mengomentari perut seorang penjaja kupon lotre langganannya yang sedang hamil tua dengan perut membusung besar namun masih tetap berkeliling jualan. Dan kami semua tak bisa menahan tawa.

Ya, jika sedang senggang, lagi tak banyak pesanan jahitan, kasur, atau pakaian yang mesti dipermak, atau semua pekerjaan itu sudah dirampungkan atau boleh ditunda, Papa senang menemaniku bermain. Ia membuatkan untukku banyak pedang-pedangan, mobil-mobilan, pistol dan senapan dari kayu. Bahkan dijahitkannya buatku sebuah kerudung ninja. Aku ingat betul, kerudung merah dari kain sisa menjahit celana seragam SD itu dibuatnya tak lama setelah kami menonton film Black Ninja yang dibintangi Yasuaki Kurata.

Papa juga pernah membuatkan untukku sebuah kipas lipat dari bambu dan kertas yang dihiasinya dengan tulisan kaligrafi berbunyi ’’Yi lu shun feng” yang membuatku merasa benar-benar menjadi Pendekar Harum, Chu Liu Xiang.

Ah, itu masa-masa kejayaan bioskop di Indonesia. Setiap malam turun, di kota kecil kami, pusat keramaian akan bergeser dari sepanjang ruas jalan di mana ruko kami berada di samping pasar ikan ke seputaran dua buah bioskop besar, Belia dan Gelora, yang tegak berdekatan sejak zaman Belanda. Suasana tak ubahnya pasar malam dengan warung kopi, toko pakaian, kios sewa buku, toko kaset, gerobak-gerobak jajanan, penjual mainan, dan warga --China maupun Melayu-- yang tumpah ruah.

Bioskop Gelora yang awalnya bernama Mi Liong Cai lebih luas ketimbang Belia yang mulamula bernama Bioskop Bintang atau lebih dikenal oleh orang-orang China sebagai Ng Sen Hi Jan. Namun Bioskop Belia memiliki balkon, tempat orang-orang bisa menonton dari atas, tepat di bawah lubang tembak proyektor. Di kiri-kanan bagian luar gedungnya terdapat dua buah tangga beton untuk naik ke balkon tersebut dan sampai bertahun-tahun lamanya setelah bioskop itu bangkrut, anak-anak kecil masih suka bermain pelosotan di pegangan tangga besinya yang bulat.

Kedua bioskop berarsitektur Eropa itu samasama memiliki jadwal tayang dua kali sehari, yakni pada pukul lima sore dan pukul delapan malam. Namun keduanya punya segmen masing-masing. Jika Belia selalu memutar film-film Hollywood dan Mandarin, Gelora kebanyakan menayangkan film India dan produksi dalam negeri yang digemari orangorang Melayu. Aku masih ingat bagaimana orang-orang Melayu entah dari kampung mana saja keluar berbondong-bondong setiap kali film-film yang dibintangi para pesohor Bollywood pada masa itu seperti Amitabh Bachchan, Sridevi, Mithun Chakraborty, Hema Malini, atau Dharmendra ditayangkan Gelora.

Tetapi Papa tak suka film India. Seingatku hanya tiga kali ia berkenan membawaku nonton film India. Pertama film Hanoman, kedua Nagina, dan yang terakhir film Tarzan India dengan bintang Herman Birje.

Nagini dan Tarzan tak mengecewakan dirinya. Namun tidak demikian dengan Hanoman yang membuat ia menggerutu panjang-pendek, bahkan bersumpah takkan pernah menonton film ’’jin tu thai so” 10 lagi.

Ya, kami lebih kerap menonton film di Bioskop Belia, terutama film-film wuxia produksi Hongkong yang dibintangi oleh aktor-aktris idola Papa: Lin Ching Sia, Lo Lieh, Ti Lung, Chen Kuan Tai, Hu Hui Chung, Cheng Pei Pei, Liu Chia Hui, Erl Tung Sen… Tetapi toh sesekali aku dibawanya juga menonton filmfilm silat produksi dalam negeri di Gelora: Jaka Sembung, Tutur Tinular, Mandala dari Sungai Ular, Sundel Bolong.

Biasanya jam empat sore aku sudah disuruh Mama mandi, berpakaian rapi, dan makan lebih dulu agar tidak kelaparan nantinya. Dan kau tahu, betapa mendebarkannya saat-saat itu. Waktu serasa berjalan begitu lamban. Namun begitu, aku seolah-olah sudah bisa membayangkan serunya adegan-adegan kungfu dalam film yang akan kami tonton dari poster selebaran yang kudapatkan sebelumnya. Poster-poster itu --yang biasa kami sebut kai cau--dicetak bolak-balik di atas kertas berukuran A4, kebanyakan dalam dua warna: merah dan biru. Tetapi untuk film-film tertentu, yang tergolong box office, sering dicetak full colour.

Setiap hari, menjelang sore, mobil pengiklan film akan melintas di depan ruko kami dengan suara speakernya yang soak: ’’Saksikanlah beramai-ramai, Shaolin melawan Ninja! Pertama kali di bioskop kesayangan Anda! Film besar yang membuka lembaran baru dalam dunia kungfu, jurus maut tingkat tinggi! Menampilkan Alexander Lou…”

Dan kami, anak-anak, berlarian ke pinggir jalan, berebutan kai cau-kai cau terlipat dalam bentuk segiempat yang dilemparkan dari jendela mobil. ’’Awas ada motor!” teriak Mama cemas.

Papa juga mandi lebih cepat dari biasanya dan berganti pakaian bersih. Aku suka melihat ia meminyaki rambutnya dengan Tanco, menyisir rambut yang agak gondrong itu ke belakang lalu menekan-nekan bagian depannya dengan tangan. ’’Ini rambut Elvis,” katanya nyengir. Tetapi aku dan Mama lebih suka menyebut model rambutnya itu sebagai ’’kai kung ki” atau jambul ayam jago!

Berdua, kami, ayah dan anak, kemudian berjalan kaki menuju bioskop. Ada banyak orang yang juga pergi menonton film dengan berjalan kaki dan sesekali Papa saling menyapa dengan mereka. Kami berjalan ke arah barat, di mana langit sore tampak memerah seperti udang rebus, terkadang dengan ratusan ekor burung walet beterbangan ke sana-kemari. Ah, sampai kini aku masih sering terpesona setiap kali mengingat pemandangan itu.

Kala itu, kendati belum banyak orang meninggikan ruko-ruko mereka untuk memelihara walet, namun sebagai kota di pinggir laut sudah sejak lama langit kota kecil kami senantiasa dipenuhi oleh burung-burung berliur emas itu. Dan setiap pergi ke bioskop kami selalu melewati sebuah rumah kayu tua bertingkat tiga yang menjadi sarang walet. Rumah itu sudah reyot dan tampak sedikit miring, sehingga aku sering cemas sewaktu-waktu ia akan ambruk menimpa orang-orang yang lewat di depannya. Namun kata Papa, itu salah satu rumah terkaya di kota kami.

’’Air liur walet itu mahal sekali karena bergizi tinggi. Biasanya dijual ke Singapura,” ayahku memberitahu.

Toh, tetap saja aku tidak bisa menyingkirkan bayangan seram yang tercipta dalam benakku setiap melihat rumah tua itu menjulang di kejauhan dengan ratusan ekor walet mengitarinya sambil bercericit ribut. Di bawah langit sore, di mataku, ia tak ubahnya istana drakula yang kusaksikan dalam film-film. Dan, tentu saja, burung-burung walet itu tampak olehku seperti kelelawar-kelelawar pengisap darah.

*** 
SEPERTI halnya diriku, ayahku lahir di tahun ular, tepatnya 28 Februari 1941. Hanya setahun kurang sebelas hari sebelum Jepang berhasil menduduki Pulau Bangka pada 17 Februari 1942.

’’Kau tahu, kalau monster-monster cebol itu terlambat sedikit saja menyerah, mungkin aku sudah mati,” demikian katanya sekali waktu. Mungkin ia tidak berlebihan. Sebab lantaran kekurangan gizi, ketika itu nenek hampir tak punya air susu. Akibatnya Papa pun terpaksa diberi air perasan singkong.
Akong juga dilahirkan pada tahun ular 1917. Sehingga di keluarga kami ada tiga orang yang bershio ular. ’’Keluarga ular,” begitulah Mama sering berkelakar. Akong adalah ular tua, Papa ular muda, sementara aku ular kecil, katanya sambil tertawa.

Syahdan, orang yang bershio ular mahir mengatur waktu, bijaksana dalam segala hal, serta selalu penuh perhitungan. Tetapi kurasa tidak seorang pun dari kami bertiga yang pandai mengatur waktu, tidak pula cukup bijak dalam menghadapi berbagai persoalan. Barangkali kami memang cukup perhitungan, namun hal ini menurutku justru sering merugikan. Kerap membuat kami telat mengambil keputusan karena kelamaan terombang-ambing. Pada tahun enam puluhan akhir, Papa memutuskan berangkat ke Palembang. Ia bertekad untuk mencoba peruntungannya sendiri, lepas dari Akong. Namun setelah belasan tahun lamanya merantau, toh akhirnya ia kembali juga ke rumah dan bekerja pada ayahnya. Tidak banyak yang kami ketahui tentang episode kehidupan Papa selama di Palembang. Meskipun ia --seperti halnya Akong-- memiliki begitu banyak kisah yang bakal membuatmu ternganga, merinding, atau tertawa, Papa tampaknya tidak pernah berkenan bercerita banyak mengenai masa-masa tersebut. Kami hanya tahu ia bekerja di sebuah penatu milik seorang keluarga jauh kami (yang masih satu nama keluarga). ’’Se yi,” begitulah jawabannya setiap ada yang menanyakan pekerjaannya di Palembang, dan selebihnya gelap.

Tak lama setelah kepulangannya dari Palembang inilah ia dikenalkan pada Mama oleh seorang sanak. Mereka menikah pada tahun 1974 dan aku lahir tiga tahun kemudian. Aku tidak tahu sebesar apa pengaruh kelahiranku ini pada pilihan Papa untuk secepatnya beralih kewarganegaraan menjadi WNI pada tahun 1980. Namun kukira hal ini cukup menguatkan keputusannya. Apalagi Mama sudah jauh lebih dulu menjadi Warga Negara Indonesia, yakni pada 1961.

Ya, seperti sejumlah orang China lainnya di Belinyu, bersama paman-paman dan bibi-bibiku ketika itu ia buru-buru mendaftarkan diri ke pengadilan negeri begitu terbuka kesempatan menjadi WNI. Kau tahu, sebagai partai yang berkuasa, Golkar kala itu memang sengaja mempermudah golongan China Peranakan yang lahir di Indonesia untuk mendapatkan kewarganegeraan demi memantapkan legitimasi politiknya dan mendulang perolehan suara pada pemilu 1982. Alhasil, berkat Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia yang Papa peroleh, pada akta kelahiranku pun tertera kalimat ’’Dari daftar kelahiran untuk warga negara Indonesia di Belinyu” bukan lagi berbunyi ’’Dari daftar kelahiran untuk Golongan Tionghoa” sebagaimana yang tertulis pada akta kelahiran dirinya.

Maxine Hong Kington barangkali benar bahwa semua ayah di dunia ini kerap tampak sama. Tetapi tentu saja aku bersepakat dengannya akan hal ini bukan lantaran seperti Tom Hong ayahnya, Papa juga pernah bekerja di penatu. Melainkan karena membaca kisah sosok yang disapa Ed dalam novel China Men itu, kurasa kita semua bakal menemukan betapa beratnya perjuangan ayah kita ketika membesarkan kita; dan betapa mereka memang selalu mengupayakan hal yang terbaik untuk anak-anaknya.

Hanya, Papa tak pernah memberiku nama Indonesia sebagaimana Ed memberi nama Barat kepada Maxine. Ia cuma memberiku nama China ’’Sun Lie” yang bermakna doa pengharapan: sukses atau lancar. *** 

Krapyak Wetan, Jogjakarta, Juli 2017 

*) Cerita ini merupakan kelanjutan dari himpunan cerita ’’Memoar Pulau Timah”. 

Catatan 
1) Mandarin: Fanren Yisheng, dokter bumiputra. 
2) Kisah Tiga Negara ( Romance of the Three Kingdoms/ Mandarin: Sanguo Yanyi adalah sebuah roman klasik berlatar belakang sejarah dari zaman Dinasti Han dan Tiga Kerajaan. Di kalangan Tionghoa di Indonesia, kisah ini lebih dikenal sebagai Sam Kok (dialek Hokkian dari Sanguo atau Tiga Negara). 
3) Mandarin: Xinjiapo Guoji Diantai. 
4) Terjemahan dari Fan Gui dan Yindu Nishe, Hakka: Yindu Naisa, sebuah olok-olok --di bawah pengaruh politik kolonial Belanda-- terhadap nama Indonesia yang kemungkinan berasal dari masa perang kemerdekaan atau agresi militer Belanda. 
5) Bahasa Hakka, artinya: Tidak makan nangka kena getahnya. 
6) Cu keu: babi anjing, silo: mayat, pot bun: sejenis penyakit ayam, san cu: celeng (bahasa Hakka).
7) Yang Yang dan Han Jian adalah dua bintang bulu tangkis RRC pada tahun 1980-an. 
8) Mandarin: Lu E, angsa jalanan. 
9) Mandarin: Yi lu shun feng, Secara harfiah: Sepanjang jalan searah angin, maknanya: Semoga lancar. 
10) Mandarin: Yindu taisha, India konyol. 
11) Mandarin: Xiyi, penatu/binatu. 
12) Mandarin: Shun Li. 

Sunlie Thomas Alexander, lahir pada 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Pernah kuliah di Deskomvis ISI Jogjakarta. Bergiat di Komunitas Rumah Lebah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu  13 Agustus 2017

0 Response to "Semua Ayah Itu Sama"