Sirene Candi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sirene Candi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Sirene Candi

AKU gagal Candi.”

Seorang gadis, masih dengan isakan membalas pesan singkat yang dikirim oleh sahabatnya. Kabar yang baru saja ia dapat tidak sesuai dengan harapan. Bagaimana bisa? Usaha yang sudah ia lakukan dengan mengorbankan banyak hal tidak membuahkan hasil sesuai apa yang ia inginkan. Hanya tetesan air mata membasahi pipi. Tidak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan.

Di tempat lain, remaja tanggung bernama Candi menatap nanar layar HP-nya. Ia mengerti sekali apa yang sedang terjadi. Sudah terbayang wajah sahabatnya itu menangis tersedu, Qyara tidak pernah bisa menahan perasaannya. Ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukan untuk temannya itu.

Candi dan Qyara menjalin pertemanan di sekolah menengah atas (SMA) terpadu al- Hikmah, Karawang, Jawa Barat. Keduanya kerap bertukar pikiran seputar pelajaran dan masalah yang dihadapi. Ketika itu, Qyara terpaksa menunda kuliah, karena keterbatasan ekonomi.

“Jangan berkata gagal. Kau sudah lupa ya? Sirene semangatku tidak akan pernah padam untukmu,” kata Candi.

Layar ponsel mengeluarkan pop up chat, muncul nama Candi di sana. Ah Candi, justru ketika berusaha menghibur, memberi semangat tak pernah absen, membuat Qyara semakin merasa bersalah. Bagaimana bisa ia setega itu membalas semangat dan doa dari sahabatnya dengan kata gagal. Gadis itu semakin terisak.

“Kau tidak kuliah tahun ini juga bukan kiamat bagimu kan? Kau sudah melakukan yang terbaik untuk mimpi-mimpimu. Sekarang, bangkit dari kesedihan dan sambut kembali donatur bahagiamu. Mereka tidak sekecewa itu dan akan memahami keadaan yang terjadi.”

Qyara hanya sanggup membacanya, lalu tenggelam kembali dalam tangisan yang membasahi bantal tidurnya. Donatur bahagia yang Candi maksud adalah kedua orang tuanya, teman-temannya, guru-gurunya. Mereka adalah orang-orang yang selama ini memerhatikan kehidupannya.

Candi bingung harus melakukan apa. Upaya apa yang harus dilakukan agar sahabatnya mengerti tidak ada yang harus terlalu dikhawatirkan. Qyara sudah hebat sejauh ini. Ia menjadi pelajar berprestasi dengan sejuta capaian. Hanya sekarang, Allah menentukan bukan tahun ini ia berkuliah, meskipun orang tuanya mengalami keterbatasan ekonomi. Mungkin tahun depan. Dan Candi yakin sekali, yang akan ia hadapi besok adalah yang terbaik untuk sahabat itu.

“Kau ingat cerita Nabi Ibrahim AS yang diminta Allah untuk menyembelih putra tercintanya?”

Qyara menatap lama pesan kesekian yang sedari tadi hanya ia baca. Ia mengambil ponselnya, memencet layar touch screen-nya lalu membalas singkat, “Apa hubungannya?”

Candi yang membacanya tertawa pelan di sisi lain. Ia berharap, Qyara bisa mengambil hikmah yang baik dari kisah pengorbanan yang mulia. Ia tiba-tiba teringat akan cerita ini karena melihat boneka domba milik adiknya tertinggal di kasur. Mereka baru selesai bermain bersama tadi.

“Kau tahu persis bukan ceritanya? Ketika Allah menurunkan wahyu lewat mimpi Ibrahim berkali-kali. Bapak para nabi itu bermimpi Allah memerintahkan ia untuk menyembelih Ismail. Bagaimana mungkin seorang bapak tega menyembelih putranya sendiri? Tapi kita semua tahu akhir ceritanya, bahwa Ismail dengan secepat kilat Allah ganti dengan seekor hewan kurban. Kisah ini menjadi rujukan budaya berkurban di agama kita.”

Qyara terus membaca. Ia belum mengerti apa maksud dari cerita Candi kali ini. Ia hanya menunggu Candi melanjutkan ceritanya. Melanjutkan hikmah yang terkandung dalam cerita hebat itu. Hatinya mulai sedikit tenang dibanding sebelumnya. Lama-lama ia berpikir, untuk apa menangis terlalu lama? Untuk apa meratapi terlalu lama? Toh, tidak ada yang berubah.

Pesan Candi masuk. “Dari kisah itu, kita belajar apapun yang terjadi sudah diatur Allah. Jangan sampai kita tidak percaya adanya qadha dan qadar hanya karena kekecewaan yang sementara. Nabi Ibrahim saja tidak mengetahui apa rencana Allah ketika beliau dengan ikhlas menjalankan perintah untuk menyembelih putra tercinta. Namun pada akhirnya, ketika berserah kepada-Nya, kita akan mengetahui apa rahasia atau skenario terbaik untuk kita.”

Membaca pesan Candi membuat gadis itu terisak kembali. Hampir saja ia menyalahkan kehendak Tuhannya atas ke gagalan yang ia alami. Ia lupa akan kalimat sederhana itu. Ia lupa bahwa Allah akan mengganti yang lebih baik, dan itu mutlak. Pasti Allah akan berikan yang terbaik untuknya.

“Nah, Qyara, sekarang tugas kita hanya taat dan tawakal. Pasrah dan ikhlas. Tidak ada usaha yang sia-sia. Percaya pada-Nya. Ia Sang Mahamengetahui apa-apa yang terbaik bagi hambanya.”

Napas Qyara mulai tenang. Jiwanya mulai lapang. Ia mulai mengerti dan paham arti di balik semua ini. Kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail memberi secercah harapan baru dalam perjalanan hidup yang singkat ini.

“Apa kau masih menangis? Astaga. Cengeng sekali kau ini Qyara.”

Candi hampir menyerah. Dari tadi pesannya hanya dibaca tanpa dibalas satu katapun. Pikirannya penuh dengan omelan, neuron otaknya keheranan dengan sikap Qyara. Apalagi yang harus ia lakukan?

Qyara membaca pesan itu sambil tertawa kecil sekaligus mendengus sebal. Apa-apaan Candi ini. Barusan berusaha menghiburku, sekarang malah meledek cengeng. Ia mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa kalimat.

“Aku sudah lebih baik kok. Jangan depresi gitu. Jangan marah-marah. Terima kasih untuk kisah Nabi Ibrahimnya.”

Sesaat setelah nada notifikasi berbunyi, Candi langsung mengambil ponselnya. Sambil membaca, ia makin heran, siapa yang sebenarnya emosi.

“Kau ini ya. Siapa juga yang marah-marah? Nah sekarang, apa rencanamu ke depan? Apa yang ingin kau lakukan selama satu tahun penuh? Kau tidak akan menyia-nyiakan begitu saja kan?”

Wah, Candi ini. Di saat seperti ini, kenapa ia tidak membiarkan gadis yang baru tamat sekolah menengah atas itu tenang dulu meski sebentar. Gadis berambut hitam itu tiba-tiba berpikir harus melakukan apa.

“Apa tujuanmu hidup? Apa misi yang Allah berikan untukmu? Kenapa kamu hidup?”

Seakan bisa membaca pikiran Qyara, Candi mengingatkan lagi, sekaligus membantu apa yang harus Qyara lakukan selanjutnya. Candi selalu percaya bahwa tidak ada yang Allah ciptakan sia-sia, tanpa memiliki fungsi dan manfaat apapun di bumi ini. Ia percaya bahwa setiap manusia tidak ada yang pantas disebut sampah masyarakat. Mereka hanya bingung, sebenarnya apa yang harus mereka lakukan sebagai manusia di bumi-Nya?

Qyara di sisi layar yang lain berpikir tentang mimpi besar. Ia ingin menjadi orang yang membahagiakan orang lain. Maka ketika ia bahagia, maka orang-orang di sekitarnya turut berbahagia. Visi hidupnya adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi dunia, mengindahkan Islam di alam yang mendukungnya. Qyara ingin menjadi manusia yang berkualitas.

“Candi, aku mau jadi manusia yang berkualitas. Sebelum aku menularkan kebaikan kepada dunia. Aku harus baik dulu kan?”

“Tentu saja Qyara.”

“Lalu?”

“Beri aku saran. Teladanku dalam memutuskan hal ini adalah Muhammad Al- Fatih.”

Candi menunggu kalimat selanjutnya.

“Dalam setahun ini, aku mau mencoba menghafalkan Alquran. Dengan begitu tingkat fokusku akan bertambah, plus mentadaburinya, itu menjadi landasan langkah-langkah kakiku nanti. Lalu bahasa, aku mau menguasai minimal 4 bahasa baru. Bahasa kunci dari semuanya. Lalu terakhir, pendidikan harus tetap dijunjung tinggi. Al-Fatih memenangkan peperangannya, menaklukkan Konstantinopel karena tarbiyah (pendidikan).”

Candi tersenyum lebar. Sahabatnya kini mulai melihat harapan. Sirene semangatnya akan terus berbunyi untuk sahabatnya itu, sampai kapan pun. Hilang sudah keterpurukan dan ketakutan tidak akan menjadi seperti pemuda lainnya yang mulai ikut orientasi mahasiswa baru. Qyara sudah tidak memikirkan apa tanggapan orang lain.

Hati dan pendiriannya semakin teguh. Dia meyakini akan mampu menjadi manusia yang bermanfaat dengan sedikit bersabar dan tentu saja bertawakkal kepada Ilahi Rabbi.

“Wah, Qyara sudah besar. Sudah tak nangis lagi dong ya? Oke. Tidak ada yang perlu dikoreksi. Hanya perlu melangkah terus. Kalau melihat kebelakang, kau akan terus melihat sireneku. Ia tidak akan pernah berhenti berbunyi untukmu.

Qyara tersenyum lebar kali ini. Tidak ada yang harus ia takuti di dunia ini. Meski terkadang dunia sangat kejam, ia tidak perlu takut. Sebesar dan seberat apapun masalah yang dihadapi, ia punya Tuhan yang jauh lebih besar. Tuhan adalah donatur kebahagiaan tidak pernah putus memberinya semangat dan bantuan.

“Jadi, aku hanya perlu menjadi orang baik yang terus melangkah kan, Candi?”

“Tentu saja Qyara. Jadilah orang baik yang mengubah dunia menjadi baik pula. Karena dunia merindukan orang-orang baik menyetirnya. Jangan pernah berhenti dengan mimpi-mimpimu karena itu jalanmu. Jika bukan sekarang waktunya ia terwujud. Maka, kau akan tahu ketika Tuhan kita, mengatakan kun (jadilah)!”

Kedua insan itu sama-sama tersenyum. Mereka sama-sama bahagia melihat dunianya, masa depan bangsanya. Meski mereka tahu melakukan mimpi besar tidak semudah tersenyum membayangkannya. Yang mereka lakukan hanyalah melangkah, biar Allah yang memberikan jalan yang spesial.

“Hey Qyara.”

“Iya, Candi?”

“Berjanjilah satu hal padaku.”

“Janji apa?”

“Jangan pernah berhenti meski dunia bahkan tidak memihakmu nanti.” ***

(Penulis sering mengisi acara diskusi dan aktif dalam berbagai kegiatan sekolah. Belum lama ini, karya penulis berjudul “Breaking The Limit” sudah dibaca oleh anak-anak muda. Penulis sering meluangkan waktu dengan menulis cerita pendek)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fathia Sya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 27 Agustus 2017

0 Response to "Sirene Candi"