Ziarah Sunan Ampel - Pulang - Selamat Datang Tubuh yang Pergi - Bila Aku - Saat Tiba | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ziarah Sunan Ampel - Pulang - Selamat Datang Tubuh yang Pergi - Bila Aku - Saat Tiba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Ziarah Sunan Ampel - Pulang - Selamat Datang Tubuh yang Pergi - Bila Aku - Saat Tiba

Ziarah Sunan Ampel

Ziarah, pada akhirnya
adalah jalan pulang menuju diri
di tengah rimbun dan riuh arah
palung abadi di relung cinta
jalan yang menggugurkan doa
menjadi mutiara dalam kesunyian

Reguk dekap ziarahku
dalam diam mengajarkan tunduk
ruang menghayati rukuk
menuju sujud

[Surabaya, 2017]

Pulang

Aku telah tiba di kampung halaman
ingin kutanam gurbet di samping rumah
bersama ari-ari yang dikubur seorang ayah
“Dia sudah pulang,” ujar mereka sumarah

Orang-orang berbisik. Suara-suara berisik
mata mereka menabur pandang kosong. Awas
mengintip tanpa kedip sebelum lepas
melengos
wajah-wajah pias menyimpan
beban-beban usik

Apakah aku sudah pulang?

Jalan-jalan menuju rumahku begitu asing
aku seperti berkelana ke tempat-tempat jauh
menemui nama-nama yang tak lagi kukenal
sawah-sawah, pohon-pohon, wajah-wajah

Aku coba memanggil satu per satu kenangan
jalan masa kanak yang menyuruk ke sungai
tapi ia semakin jauh mengalir luruh ke entah
menampung ingatanku yang retak dan patah

Aku pulang menuju keterasingan, ibu
di tanah kelahiranku sendiri

Dan gurbet lalu menyala-nyala di tubuhku
merayakan kerinduan tempat-tempat jauh
seketika ia ingin menghapus namamu
terciptalah aku kembali menjadi asing
cara terbaik untuk mengenalmu
hingga rindu menulis namamu
tak akan pernah padam!

[Tanggulun, 2017]

Catatan:
Gurbet (Turki): Kerinduan pada rumah
(homesick)

Selamat Datang Tubuh yang Pergi

Tubuhmu rambi diketuk jalanan dan puji-puji
berdendang tandang untuk Rambipuji
memeram rongsokan rel kereta dan jerit
peluit
darah basuh luka peluh perah pelabuhan
nyeri perkabungan jerit perkebunan
bangkai-bangkai Blambangan
ataukah Sriwijaya
itukah tubuh kami?

Nafas kami ditutus pasukan bareta
moncong peluru dan serbuk mesiu
sepatu lars menghentak dari barat
gaun-gaun putih dari tanah hijau
membelaimu, juga menamai kami
tubuh-tubuh yang pergi tanpa ruh
akhirnya engkau pun pulang
kepada palung raung gunung
rumah-rumah yang retak
tanah-tanah yang remuk
selamat datang
tubuh yang pergi

Masa remajamu terantuk di sini
tersimpan pada dengung terminal
mendaras makna-makna sebiji kota
kelak membelai tubuhmu
di kota-kota jauh
ke ujung benua

Bilakah perlu engkau mencatat
jalan-jalan di seberang berlumur pesona
museum dan istana di balik pulau yang sepi
mungkin di tubuhmu menitipkan angin
pulang sebagai lambaian di sebuah senja

Kami tak sempat membingkai arus jalan
sejarah tanah, matahari dan nenek moyang
hancur lebur di tubuh kami. Apa yang kau
lihat
dari jauh? Tubuh kami ditampung ke
persimpangan
dititipkanlah sobekan tanah kepada mereka
yang pergi
kepadamu jua, menyimpan biji kopi di
perantauan
pohon-pohon tebu bersepah di perkebunan!

Kembalilah wahai tubuh yang pergi
ceritakan tentang tanahmu diperah sirah!

Selamat datang
tubuh yang pergi

[Rambipuji, Mei 2017]

Bila Aku

Bila kusebut namamu
lereng bukit dan lembah Anatolia bersahutan
merapalkan doa-doa
menggelar perjamuan untukmu
yang terdiam dalam palung rinduku
sebagai kekasih jauh yang lahir dari rahim
berlumur cinta yang sama
mereka menyambutmu, mengakrabi
kisah-kisah baru bagi pertemuan
menakar arti keberadaan pada
sebidak harap. Engkau terus menyapa
aku yang berjalan di ruas pesona;
mereka setia menyambut kita!

Bila kubilang garam
wajah-wajah tampak muram
menunggu kabar pahit dari laut
yang dekat. Ombak beriak sama
 dalam ingatan mereka seperti
riak abad yang setia menyimpan kisah
perang sipil di Charleston
mereka tak henti menceritakan luka
dari lahan-lahan gandum dan
jagung ditanam akhir musim dingin.
Wajah-wajah asing yang diam
dibiarkan merajam dan orang-orang kota
dihantam badai kelam

Bila kubisikkan sungai
kesiap danau Burley Griffi n
tiba-tiba tercekat dan menunggu
seperti ada yang hendak datang
dari sejarah masa lalu mereka
suara-suara menyerbu dari rumah
dan halaman Rumbalara
mereka lalu mengirimkannya ke sebuah
monumen rumah kaca
menjadi museum bagi orang-orang kota
yang alpa
mengenang luka tanpa bau amis
menyaksikan air mata tanpa jerit tangis

Bila kutiupkam ombak
sepanjang jalanku bergelegar
dan engkau datang menuntunku
menuju pantai abadi di hati seorang ibu
di tanahmu sendiri

Bila kubisikkan rindu
seluruh jagat raya menyambutmu
mendendangkan lagu dan mantra saripati
semesta
dan kita menjadi abadi, sepasang pengantin
kelana

[Australia-Turki, 2011/2015]

Saat Tiba

Saat tiba aku pergi
di belakangku suara-suara riuh
kapal-kapal pecah, perkebunan terbakar
memanggilku kembali menemui
buruh-buruh pelabuhan
menyapa pekerja garam
mengeram di dadaku
memeluk petani tembakau
payau menyesap jantungku
jalan-jalan ini begitu kelu

Saat tiba aku pergi
ibu menasbihkan izin
dengan doa dan air mata
juga seekor jaghir dari ayah
dan suara-suara itu terus bergemuruh

Di Kamal, malam-malam begitu banal
selat menyapaku dengan nafas tersengal
“Selamat jalan, pejalan. Jangan pernah pulang
sebelum engkau lupa,” suaramu seperti
berteriak
tapi hanya di dadaku adalah seribu bisik

Saat tiba aku pergi
mencari diriku yang mengambang
fatamorgana di langit sebuah tambak
di hutan-hutan jati, di tengah kecipak ombak
atau di ujung seberang yang konon semerbak

saat tiba aku pergi
saat tiba aku kembali
menemukanmu dalam perjalanan
mendekapmu dalam kobaran kerinduan

[Madura, 2006-2011]

Catatan:
Jaghir (Madura): anak sapi beranjak dewasa?

Bernando J. Sujibto, penulis kelahiran Sumenep. Menimba ilmu dan belajar menulis karya sastra sejak di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk. Puisi-puisinya terkumpul dalam buku Rumbalara Perjalanan (Diva Press, 2017). Diundang pada Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II di Jakarta, 2017.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bernando J. Sujibto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 13 Agustus 2017

0 Response to "Ziarah Sunan Ampel - Pulang - Selamat Datang Tubuh yang Pergi - Bila Aku - Saat Tiba"