25 Tahun Kemudian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
25 Tahun Kemudian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:53 Rating: 4,5

25 Tahun Kemudian

SEORANG wanita yang mengenakan gaun terusan putih dengan ban pinggang lebar hijau terlihat memasuki teras. Langkahnya yang mantap digemakan oleh sepasang sepatu bertumit tinggi yang juga berwarna hijau.

“Sudah ada yang menunggu saya tadi?” tanya wanita itu sambil membuka kacamata hitamnya dan melirik ke sekeliling teras serta mengangguk tersenyum kepada zuster yang duduk di situ.

“Belum, Bu,” kata pria yang membawa baki. “Belum ada yang menanyakan ibu.”

“Teh jeruk, Mas,” ujar wanita itu tanpa ditawari, “tak usah pakai gula. Dan dua potong pepaya, kasih jeruk nipis sedikit.” Pria itu pun masuk ke ruangan dalam sementara wanita itu mengeluarkan sebuah cermin saku dari dalam tasnya yang berwarna hijau lalu mematut-matut letak rambutnya yang berwarna kecoklatan. Di sana-sini terselip beberapa lembar yang sudah berwarna putih.

Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan “Dewiii!” Wanita yang memegang cermin itu terperanjat dan menoleh ke arah datangnya suara. “Marni!” teriaknya membalas ketika melihat seorang wanita bergaun merah yang berlari ke arahnya. Mereka saling berpelukan dan berciuman.

“Marni!”

“Dewi, Dewi, Dewi,” wanita yang dipanggil Marni itu mencubit gemas pipi wanita satunya. Zuster yang duduk di sudut teras melirik dari sudut atas kacamatanya, tersenyum dan terus membaca. Daun-daun yang bergulung di atas lantai teras seolah menyemarakkan pertemuan itu.

“Kau awet muda, Mar,” ujar wanita yang menunggu tadi.

“Aaah kau pun tak banyak berubah, Wik,” jawab wanita yang baru datang. Warna biru langit di kelopak mata wanita itu sungguh kontras dengan lipstik dan gincu merah di pipinya. Gaunnya yang berwarna merah tanah membungkus badan yang agak gemuk tinggi. Bros berinisial “M” di dadanya menimbulkan pertanyaan apakah semua yang berkilau itu adalah emas. Dewi dan Marni saling bertukar pandang agak lama dan tersenyum.

“Dua puluh lima tahun,” ujar Dewi sambil bersandar dan menopang dagunya dengan jemarinya.

“Ya, seperempat abad,” jawab Marni, “sungguh cepat waktu berlalu. Aku masih ingat, waktu malam pesta perpisahan sekolah waktu itu kau menyanyikan lagu Tennessee Waltz.”

Dewi tersenyum. “Dan waktu itu aku pikir kau akan menjadi penyanyi atau bintang film,” Marni melanjutkan.

“Ternyata malah kau yang mendarat ke layar perak,” ujar Dewi. “Film serialmu di televisi juga kutonton, Mar. Anak-anak selalu berkata: itu teman Mama yang cantik.”

“Ah, aku sudah tua. Setiap kali bercermin, aku menghitung garis kerut wajah yang makin bertambah. Sudah bagus ada produser yang masih mau memakai aku.”

“Yang penting, kau selalu hidup senang,” ujar Dewi sambil menatap wajah Marni dan memegang lengannya.

Marni balas menatap wajah Dewi agak lama. Matanya memancarkan sinar kecurigaan. Ia menarik lengannya dari sentuhan Dewi dan berkata: “Dewi … Dewi, kau tak berubah, Wik. Dua puluh lima tahun berlalu dan kau masih saja seperti dulu. Suka menyindir.”

“Aku tahu,” sambung Marni, “kau cuma kawin satu kali, anak-anakmu sudah besar-besar, usahamu sukses. Tapi ‘kan kau tak perlu menyindir aku hidup senang segala macam.”

Kini Dewi yang terperanjat. “Aku tak bermaksud menyindirmu, maaf. Agaknya kaulah yang tak berubah selama dua lusin tahun berlalu. Kalau kau sampai kawin empat kali itu urusanmu sendiri. Maksudku, yang penting kau hidup senang, yaah … maksudku … enjoy, begitu.”

“Huh, enjoy, enjoy. Sejak dua puluh lima tahun yang lalu, waktu kau menyanyikan Tennessee Waltz sambil meratapi: ‘sahabat karibku telah mencuri kekasihku,’ kau memang sudah pintar menyindir.”

“Astagaa ….” Dewi menengadahkan kepalanya ke atas sambil membuka kedua tangannya. “Jadi kau pikir aku kheki karena kau menggaet si Emmo? Si Emmo yang kalau menggandeng tangan cewek saja sudah gemetaran itu? Aku meratapi dia? Tak usah ya!”

Zuster yang duduk terpisah dua meja dari mereka berdua agaknya merasa terganggu. Ia melirik dari sudut atas kacamatanya.

Marni tersenyum. “Ya, ya, Emmo. Si bego itu. Pernah sekali ia ke rumahku. Ia dikejar anjingku … ha-ha-ha … kau tahu,” Marni memukul lengan Dewi, “dan saking takutnya, ia sanggup melompati pagar rumahku yang tingginya satu setengah meter. Hahaha.” Tawa Marni agaknya menggelitik Dewi juga. Ia mulai tersenyum dan akhirnya mereka tertawa berdua sementara tangan Marni memukul-mukul lengan Dewi dengan gemas.

Pelayan datang dengan minuman untuk Dewi. Dewi mencicipi sedikit tehnya. “Sayang sekali Lisa belum datang,” ujar Dewi sambil memandang ke jalan raya. “Aku jadi teringat di asrama dulu. Kita selalu tertawa-tawa bertiga di kamar walaupun lampu kamar sudah dipadamkan oleh ibu asrama.”

Marni memesan air jeruk pada pelayan. “Bawakan juga satu kroket dan satu risoles. Kau mau kue, Wik?” Dewi menggelengkan kepalanya.

“Lisa itu dari dulu memang selalu ngaret,” ujar Marni. “Kau ingat, tiap kali kita manggung, ia selalu datang terlambat. Pernah ‘kan kita sudah harus mulai tapi ia belum datang. Akhirnya kita nyanyi berdua.”

“Ya, ya, trio Delima. Dewi, Lisa, Marni. Sungguh menyenangkan mengingat masa-masa itu.” Dewi mendesah perlahan. Tiba-tiba ia tersenyum. “Kau ingat pesta ulang tahun ibu asrama? Anak-anak membuat bowl cocktail, kau tahu, es buah campur.” Dewi menggerakkan tangannya seperti mengaduk. “Pada waktu itu kau asik berdansa di ruang tamu. Lisa berdua denganku di dapur, ia mencari-cari sendok besar untuk mengaduk cocktail buah itu tapi tidak ketemu. Kau tahu apa yang dilakukan Lisa?” Tebersit tawa Dewi waktu bertanya.

“Apa?” tanya Marni.

“Ia mencelupkan … haha,” kini Dewi tak dapat menahan tawanya, “ia mencelupkan tangannya dan mengaduk dengan kepalan tangannya.” Dewi tertawa terbahak-bahak.

Namun Marni diam saja. Agaknya bahkan ia mulai tersinggung. “Aha! Jadi waktu itu Lisa mengaduk es buah sepanci penuh dengan tangannya. Pantas kiranya ia disebut bertangan dingin. Dan kau, apa yang kau lakukan. Kau diam saja tentunya.”

Dewi masih tertawa terbahak. Agaknya ia tak melihat gelagat. “Aku … aku, juga ikut mengaduk …” ujar Dewi gamblang.

Marni menarik badannya ke belakang. Bibirnya mencibir, mukanya merah padam. “Kau. Kau juga ikut mengaduk! Sadarkah kau apa yang kau lakukan itu! Ibu asrama, pastor Burgmans, pak Sastra, pak Oei, lalu tamu-tamu, murid-murid, ya-ya, semuanya. Bahkan aku. Aku ikut minum es buah hasil adukanmu itu.” Marni mempermainkan brosnya dengan gugup. “Tega benar kau berbuat begitu padaku, sahabat karibmu sendiri.”

Dewi terkejut melihat leluconnya membuat Marni tersinggung. “Tunggu dulu,” ujarnya, “memangnya kau mati karena minum es buah itu?”

“Menjijikkan,” ujar Marni, “mual aku karena ulahmu itu!”

“Heeiii? Setelah dua puluh lima tahun? Baru sekarang kau sakit perut?” agaknya Dewi memang suka menyindir.

“Itu baru es buah. Aku tak tahu apa lagi yang telah kau perbuat di belakang punggungku.”

“Aaahhh … kau ini memang perasa, Mar. Sungguh mengherankan bintang film dan bintang televisi macam kau bisa tak mempunyai humor macam ini!”

Marni membelalakkan matanya. “Aku tidak punya humor? Memang tinggi humormu itu. Humormu itu juga yang membuat Lisa minggat dari rumah, kau tahu!”

“Lisa? Ia minggat karena aku? Novel apa lagi yang kau karang ini?” ujar Dewi membela diri.

Pelayan datang dengan jeruk dan kue-kue untuk Marni. Keduanya hening. Masing-masing memandang ke lain jurusan. Pelayan pergi. Marni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya, kini aku makin mengerti. Gara-gara suratmu yang tidak lucu itu, Lisa diusir pergi oleh orang tuanya,” Marni melanjutkan perangnya.

“Bukan. Bukan karena suratku ia pergi,” ujar Dewi datar.

“Huh, dasar kau plinplan. Aku sendiri menyaksikan suratmu itu dibaca oleh ayahnya.”

Dewi diam saja. Ia mengambil sebungkus rokok dari tas dan menyalakan sebatang. Asap rokoknya yang tipis seolah mengawang ke udara bersama pikirannya.

“Berikan padaku sebatang,” ujar Marni sambil menarik sebatang rokok dari bungkus rokok Dewi, “sorry, pak dokter. Hari ini aku tak takut mati.”

Dewi menyalakan rokok Marni. Hening sejenak. “Tiga tahun sudah aku tidak merokok,” ujar Marni serak, “hari ini menuntut perkecualian.”

“Dalam hidup ini kalau tidak ada perkecualian maka sejarah masa datang sudah dapat digariskan dari sekarang.”

“Ya, kasihan Lisa. Sudah rumahnya begitu sempit, sanak saudara berjejal di situ, ayah ibunya cekcok setiap hari ditambah suratmu itu. Kau tahu, tiba-tiba saja sang ayah masuk ke kamar Lisa dan menempelengnya sambil berteriak, ‘Pergi kau dari rumah ini. Bikin malu!’ dan entah apa lagi. Surat yang kau kirim untuk guyonan itu ternyata jatuh ke tangan ayahnya. Namun dasar Lisa orangnya kukuh, ia pun mengemas tasnya dan pergi.”

“Itu bukan suratku,” ujar Dewi datar.

“Jelas-jelas kubaca surat yang dilempar ayah Lisa itu. Siapa lagi kalau bukan tulisanmu, sedikit klise di sini, sedikit gombal di sana: Lisa pujaanku. Tiga malam bersamamu. Asmara yang kita reguk bersama, masih membara di dada,” Marni mendesah. “Lanjutannya aku lupa kau sendiri sebagai penulisnya tentu lebih ingat.”

“Kita nyalakan kembali api cinta. Malam ini,” sambung Dewi. Kata-kata yang diucapkan Marni dan Dewi dengan keras membuat iri zuster yang duduk di dekat mereka. Ia mulai mengemasi buku-bukunya.

“Adiknya Lisa yang menceritakannya padaku,” Dewi melanjutkan.

“Bahkan Martino juga kena getahnya akibat tulisan tanganmu itu,” Marni melanjutkan. “Untung saja tandatangannya berbeda. Hampir saja ia kena usir juga dari rumah.”

Hening sejenak …. “Kasihan Lisa. Entah jadi apa ia sekarang. Waktu itu ada yang mengatakan ia ke negeri Belanda dan bekerja di restoran. Ada yang bilang dia ke Kanada. Cerita lain mengatakan ia kawin dengan orang Swiss. Ya, semua itu sudah telanjur. Dua puluh lima tahun berlalu ….” Marni menengok ke jam tangannya.

“Namun ia pergi bukan karena suratku. Pasti bukan,” ujar Dewi yakin. “Aku memang menulis surat seolah-olah dari Martino untuk Lisa, agar mereka jadi berpasangan. Sejak kita bertiga keluar dari asrama yang berpisah, kulihat dia begitu kesepian. Surat itu hampir kuposkan ketika kau dan Emmo datang ke tempatku mengajak berenang dan kutitipkan pada Emmo. Keesokan harinya Emmo datang lagi minta maaf karena surat itu basah dan hancur.”

Marni terperanjat. “Jadi tak diposkannya suratmu itu. Dasar ceroboh si Emmo bego itu,” ujarnya spontan. Ia bagaikan disambar petir dan mendekapkan jari-jarinya di mulutnya. “Jadi … siapa yang menulis surat itu?”

Dewi memandang sinis kepada Marni. “Lempar batu sembunyi tangan, nona manis? Pemain watak!”

Marni kebingungan, ia hanya mengulang pertanyaannya, “siapa gerangan yang mengirim surat itu?”

“AKU!” tiba-tiba terdengar suara mantap membelah di tengah Dewi dan Marni. Mereka berdua memalingkan muka dan terlihat sang zuster yang berdiri di situ. “Aku sendiri yang menulis surat itu. Aku memang ingin pergi dari rumah waktu itu,” zuster itu melanjutkan.

Dewi dan Marni terbangun dari kursi mereka. “LISA!” teriak mereka berdua dan langsung memeluk zuster itu sambil menangis.

“Ampuni kebimbanganku tadi. Semula aku sudah ingin pergi saja,” ujar Lisa di sela sedu sedan Dewi dan Marni, “namun aku tak tahan lagi. Kalian begitu manis … begitu menggemaskan.”

Lipstik Marni meninggalkan goresan merah di pipi zuster Lisa yang basah karena air mata keduanya.

***
SEMENTARA itu di Malang, ibu asrama yang kini menikmati senja hidupnya, membuka sebuah album foto yang sudah tua namun masih rapih. Di bawah sebuah foto bergambarkan tiga gadis bertulis: “Trio Delima. N.B: Atur reuni 25 tahun j.a.d. 4 April 1959.”

Ia juga sudah berpesan pada pelayan café restoran di Jakarta itu agar membuat foto gadis-gadis, eh ibu-ibu itu bertiga. Mudah-mudahan pelayan itu ingat. Anak muda zaman sekarang memang pelupa.
Ia mengusap ruang kosong di sebelah foto hitam-putih tadi dan menuliskan di bawahnya: Dua puluh lima tahun kemudian. 4 April 1984”.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tiyana H.
[2] Pernah tersiar di "Majalah Kharisma Elida" Tahun V no. 1 Maret 1986

0 Response to "25 Tahun Kemudian"