Aku Sergio | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aku Sergio Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:50 Rating: 4,5

Aku Sergio

MEREKA menyebutku pecundang. Bintang-bintang kurang ajar itu. Berkelap-kelip mengejek dari kejauhan di setiap kesempatan hanya karena aku kalah dan terdampar di lantai bumi. Aku ini tak lebih dari sisa-sisa kosmik yang tersingkir, ledek mereka.

Apalah artinya kata-kata kalau tak membiarkannya menembus jantungmu? Yang kalah hanyalah kalah bila mereka membiarkan label itu menempel, menggelayut di sisa-sisa harga diri. Sering kutuliskan dalam buku yang kelak akan kuberikan pada anak-anakku, bahwa aku ini pejuang. Yang mampu bertahan, yang memilih untuk tetap ada ketimbang rela tergerus ketiadaan.

Aku Sergio. Keluargaku sudah entah di mana, mungkin masih bersama bintang-bintang di sana. Tak pernah sekali pun kudengar mereka memanggil namaku tanda rindu. Padahal kami dulu mengembara dalam ketiadaan yang fana: luar angkasa yang hening. Tak apa. Mungkin sudah terlalu lama bersama, bila salah satu seketika tiada, yang ada hanyalah lega. Untuk beberapa jenis cinta, jarak seringkali menghilangkan sesak.

Ledakan itu terjadi kala kami lewati sebuah bintang yang hendak meledak, agresif luar biasa. Padahal sedari jauh sudah kami katakan, takkan kami ganggu wilayah kekuasannya. Kami hanya numpang lewat. Tapi lagi-lagi, seperti semua hal yang ada di semesta ini, mereka takut akan sesuatu yang tak mereka pahami. Habislah kami diinjak-injak, ditarik-tarik, diledakkan hingga mampus berkeping-keping.

Mereka yang beruntung segera musnah, bergabung dengan ketiadaan. Mereka yang tak beruntung, terluka, terdampar di planet tak bertuan untuk kelak kembali mengembara. Karena bukankah hidup seperti itu? Dari ketiadaan kembali ke ketiadaan. Aku? Aku yang paling sial di antaranya. Tak hanya terpincang-pincang harus melanjutkan hidup, aku malah menjadi hina. Tak lagi menjadi bintang, kini aku hanya sebongkah batu belaka. Mendarat pula di planet bumi yang berisi manusia.

Untuk waktu yang lama sekali, aku duduk sendiri di tepi sungai itu. Sungguh deras arusnya. Seperti tak kenal ampun, menggerus siapapun yang berniat menghalangi. Sering aku bercengkerama dengan malam yang sama sakitnya dengan bumi. Semakin hari ia kian pelupa karena gelapnya terus tercabik cahaya. Dipenuhi lampu-lampu sedemikian terangnya hingga sering ia bertanya, ia ini malam atau siang.

Angkasa adalah tempat yang sepi. Sempurna untuk berpikir dan merenung tentang segala hal. Namun bumi tempat yang baik untuk menyerap hal baru. Seperti memasak, tak ada yang bisa kau renungkan kalau tak kau kumpulkan dulu bahan-bahan untuk direnungkan. Setelah jutaan tahun bersama, bumi semakin berani berbagi, ia membanjiriku dengan segala keriuhannya.

Ibu bumi bernapas dengan caranya sendiri, meski kini tinggal sepatah-sepatah. Jangkrik-jangkrik usil mulai malu menampakkan diri. Ulat-ulat menggeliat menyembunyikan diri dari jeritan anak-anak kecil yang ngeri akan sesuatu yang tak mereka mengerti. Pepohonan berlomba-lomba untuk tak jadi tinggi dan besar, karena mereka yang tinggi dan besar harus siap jadi kursi, meja, dan hiasan rumah. Para harimau lebih memilih menggali kubur sendiri ketimbang dikuliti. Bumi menarik napas dengan susah payah dan menghembuskannya dengan lebih susah payah lagi.  

Batu-batu di sekeliling enggan bermain denganku. Begitu pula dengan anak-anak kecil yang kini mulai merambah ke sisi sungai tempatku bersemayam nyaman ribuan tahun terakhir. Permainan mereka aneh-aneh. Sungai telah sedemikian ramahnya, kini mereka berwarna-warni. Batu-batu cantik dipunguti, diwarnai, dibawa pulang, dijadikan pajangan. Satu demi satu, lama-lama jadi seribu. Tapi tak ada yang berani memungutku.

Terlalu tajam, kata mereka. Jangankan hanya kulit dan daging, sudutku mampu menggores apapun tanpa ampun. Terlalu berat. Aku berisi hal-hal yang tak mampu ditangkap otak mungil kaum manusia. Kusimpan rahasia yang tak mampu mereka tampung, kusaksikan semesta sedari mula, hal-hal yang tak terbayangkan. Wajar aku berat di lengan mungil mereka. Terlalu menyilaukan, aku bicara terlalu banyak akan hal-hal yang tak mereka pahami, dan lagi-lagi, hal itu cukup untuk membuatku ditakuti.

Hari demi hari, pepohonan di sekelilingku mulai berbaur dengan ketiadaan. Ibu bumi sering merasa bersalah karena tak mampu menyediakan makan yang layak untuk anak-anaknya yang berlindung di hutan. Tak ada yang perlu ditakuti dari kematian, hiburku pada mereka setiap kali menghadapi ajal. Aku tak lagi aman tersembunyi di semak belukar, karena semak belukar pun lama-lama mati mereguk sungai yang justru berkhianat membawa racunnya ke mana-mana.

“Bukan salahku,” sang Sungai meraung menangis bercerita tentang manusia yang lemparkan hal-hal yang mampu lagi ia cerna. Aku memeluk tubuh rerumputan yang sudah tak bernyawa lagi. Puluhan generasi sudah ia lindungiku dari terik panas matahari. Kuletakkan ia kembali ke perut bumi sambil berdoa pada ketiadaan untuk menerima jiwa-jiwa mungil mereka.

Manusia lupa, di setiap hal kecil di hutan ini, bersembunyi jiwa-jiwa yang sama sucinya dengan yang ada di dalam tubuh mereka. Bedanya hutan tak mampu berteriak dalam bahasa yang mereka mengerti. Hutan hanya mampu menangis dalam bentuk longsor. Babi hutan hanya mampu berontak dalam bentuk amukan. Sekali lagi, seperti kami, manusia takut akan hal yang tak mereka mengerti.

Kini hutan ini, bukit ini, dianggap sebagai ancaman. Terlalu banyak hewan liar, kata mereka. Beberapa orang datang, menggali-gali dan mencatat. Emas, mereka berteriak sambil jungkir balik tak keruan. Andai digali lebih dalam lagi, bisa jadi uang.

Datanglah kembali mereka membawa kotak demi kotak berisi peledak. Ini untuk kepentingan bersama, kata mereka menenangkan satu sama lain. Kepentingan siapa? Mereka yang tinggal di sekeliling hutan ini tak tahu menahu tentang emas yang ada. Mungkin disuruhnya mereka menjadi buruh, sisanya emas lari ke pangkuan mereka yang batang hidungnya pun tak muncul di sini.

“Nanti tekan ini kalau peledaknya sudah disebar ya.” Diletakkannya remote control tepat di sisiku. Mereke berkerumun di dekat tumpukan peledak, mengatur strategi.

Bolak balik kutatap remote itu. Manusia-manusia ini juga berjiwa. Kuamati sekeliling. Namun hutan ini juga rumah bagi ribuan jiwa lainnya. Hanya karena mereka tak mampu bicara dengan bahasa yang tidak manusia pahami, nilainya tak lantas kehilangan arti. 

Aku tak banyak bergerak jutaan tahun ini, tapi kalau kukerahkan sekian besar tenaga tersimpan, mampu lah aku kalau hanya sekedar melompat. Seperti sekarang. Aku melompat sekuat tenaga ke pemicu ledak. Tak ada yang menduga, kelompok itu tercerai berai badannya. Aku sendiri terkena ledakan, tapi apalah artinya ledakan buatan manusia bagiku, bintang meledak depan mata saja kuhadapi.

Kini sudah puluhan tahun lamanya, hutan dan sungai ini aman tentram. Orang-orang memilih pergi dan menjauh dari hutan angker ini. Tiba-tiba sesosok pria memungut tubuhku.

“Akhirnya.” Ia berbisik sambil menghela napas lega. Semacam sudah puluhan tahun mencari-cariku. Matanya sibuk mengamatiku dari balik kaca pembesar.

“Ini berlian yang aku cari.”

“Berlian kok… hitam?” asistennya bertanya.

“Kuberitahu ya, tak banyak berlian hitam di planet ini, bisa jadi ini berasal dari luar angkasa. Luar biasa!” Kutatap wajahnya lekat-lekat yang entah mengapa begitu bahagia meski habis sudah jemarinya kugores-gores dengan tega.

“Kira-kira bisa berapa harganya?”

“Jutaan dollar! Tak ternilai!”

 “Kalau begitu, biar kupegang saja.” Pria di belakangnya menarik pelatuk.

Mereka saling tembak. Demi sebongkah batu dari pinggir kali. Ah, manusia. Satu-satunya hal yang semakin kumengerti justru semakin kutakuti. Kututup mata. Lelah sudah dengan tingkah mereka. Mungkin saatnya aku berpaling menuju ketiadaan ketimbang berjibaku dengan keriuhan yang tidak masuk akal ini.

Sebuah tangan akhirnya memungutku tepat beberapa saat sebelum aku memutuskan untuk tinggal bersama ketiadaan. Lengan itu berlumuran darah, nampak tubuh teman-temannya yang tewas bergelimpangan di sekeliling.

Wajahnya yang penuh kepuasan berangsur dipenuhi ketidakpercayaan, semakin dalam aku berjalan menjauh menuju ketiadaan. Sayang sekali ia harus tahu dengan cara seperti ini: berlian yang memilih ketiadaan akan berubah menjadi sekedar batu biasa. Terdengar raungannya menggaung di seluruh penjuru hutan mengiringi kepergianku.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zhizhi Siregar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 3 September 2017

0 Response to "Aku Sergio "