Balada Pemakan Honor | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Balada Pemakan Honor Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Balada Pemakan Honor

SELAMAT pagi, apa honor saya sudah ditransfer? 

Maaf sebelumnya, bagaimana kabar honor saya? 

Oya, mengapa honor saya belum dikirim?...dst. 

Ah! Ezra sudah terlalu bosan dengan berbagai pesan teks maupun chat yang masuk ke teleponnya. Pesan-pesan yang selalu bernada sama: menagih honor. Ya, menagih honor tulisan mereka yang dimuat media tempat Ezra bekerja. 

Kali ini telepon yang selalu ingin ia singkirkan itu, lagi-lagi bergetar. Ada panggilan masuk, dilayar tertulis kata: Istri. Ezra merasa jengah ingin mengangkat panggilan itu. Akan tetapi, getar yang makin menjadi-jadi itu, lama-lama menimbulkan debar juga di dadanya. Barangkali ada berita penting, atau...apa, ah angkat sajalah, pikirnya. 

Begitu di menekan tombol accept, Ezra langsung diterpa suara membahana, “Kau tak tahu ini hari apa, ha!? Hari ini ulang tahun Reza, anakku itu tau. Dan kau dimana sekarang? Pasti kau sedang foya-foya, kan! Cepat pulang, dan jangan lupa belikan kado. Oya, jangan lagi kau anggap Reza anak kecil lagi, lantas kau belikan sepasang kaos kaki atau remeh-temeh lainnya. Kau harus belikan dia smartphone terbaru!” 

Tassh! Panggilan ditutup, suara bahana tadi berakhir. Justru gejolak di hati Ezra baru saja dimulai. Ia betul sama-sekali tak ingat, hari ini ulang tahun Reza, anak yang selalu disebut istrinya sebagai “anakku”, seolah Ezra tidak punya fungsi sebagai ayah dari anak itu. 

Jarum pendek jam di ruangan kantor itu, masih bertengger di angka 12. Hari ini hari Selasa. Ya, hari yang selalu menjadi tugas yang seharusnya mesti dilaksanakannya. Ditengah gejolak hati Ezra yang kian menjadi itu, Cory memanggilnya. “Ez, dipanggil Bu Sekred tuh.” 

Sontak senyum mengembang ditampangnya. Panggilan itu semakin memastikan dirinya bahwa hari ini, hari Selasa, ya! 

*** 
SAMA pada hari-hari lainnya, di depan kantor media itu lalu lintas selalu macet. Klakson mobil saling bersahutan, seolah itu menjadi instrumen yang menandakan bahwa Ezra tengah hidup di kota metropolitan. 

Ezra menuruni tangga kantor media tempat ia bekerja, selama tiga bulan terakhir ini. Wajahnya membiaskan cahaya mentari yang menerpa ketika ia tiba di anak tangga paling bawah. Dengan langkah agak gegas ia menuju tempat parkir disebelah gedung kantor ini. Ia mencari-cari motor brengseknya, ya motor yang selalu macet disaat-saat genting hadir. Meski sampai saat ini, motor itulah yang mengantarnya kemana-mana. 

Sebelum ia menaiki motornya itu, ia memeriksa sakunya. Dikeluarkannya beberapa amplop, yang masing-masingnya tentu berisi uang. Ya, isi dari amplop itulah honor-honor para penulis yang terus-terusan menagih itu berada. 

Ezra menghitungnya, ada tujuh belas amplop yang masih terlihat baru dan mengilap. Ezra tak perlu membuka isi amplopnya. Ia telah tahu isi dari masing-masing amplop tersebut. Ya, tiap amplop berisi seratus ribu. Maka, tujuh belas amplop menandakan ia tengah mengantongi uang sebanyak 1,7 juta. 

Dengan gerakan elegan yang dibuat-buat dan berlebihan, Ezra kembali memasukkan semua amplop itu ke dalam sakunya. Lalu ia naik ke motornya, bersiul-siul kecil seraya menggeber motor brengsek itu. Seharusnya, Ezra pergi ke bank untuk mengirim isi-isi dari tiap amplop itu kepada penulis-penulis yang berbeda diberbagai kota. Atau bila perlu ia harus ke kantor pos untuk mengirimkan uang melalui wesel, tersebab ada penulis yang tidak mencantumkan nomor rekeningnya. Dari setiap amplop yang dikirim, ia mendapat komisi sebesar 20 ribu dari kantor media tempat ia bekerja. Awalnya, ia merasa sangat gembira dengan komisi tambahan itu. Ya, tentunya Ezra juga mendapatkan gaji pokok standar provinsi juga setiap bulannya. 

Apalagi secara kalkulasi ia memperhitungkan, bila setiap minggu ia menerima sepuluh amplop, maka komisi totalnya sebesar 200 ribu. Itu kalau hanya sepuluh! Tentunya itu jumlah minimal. Ah, tentu dengan segera Ezra bisa mengganti motor brengseknya itu. 

Akan tetapi, semua itu hanyalah ekspektasi tanpa realisasi. Awal minggu pertama bekerja, dengan telaten ia mengirim semua isi amplop itu ke rekening-rekening dan alamat penulis. Bahkan dengan senang hati Ezra mengirim pesan teks kepada sang penulis bahwa honornya sudah ditransfer. Ezra merasa lega, apalagi setelah mendapat balasan terima kasih pula. Tentu ia mengerti juga bagaimana kehidupan para penulis. Apalagi penulis-penulis yang belum punya nama di media, tentu mendapat honor adalah anugrah bagi hidupnya. Apalagi pula, para penulis yang menggantungkan hidupnya melalui honor-honor tulisannya. Tentu mereka sangat terbantu dengan honor-honor yang kukirim ini, demikian pikirnya. 

Sampai akhirnya, waktu demi waktu mengubah segalanya. Ketika istrinya, semakin menjadi-jadi dalam belanja. Berbagai barang yang sebenarnya tak menjadi kebutuhan urgen berserakan di segala sudut rumah. Bahkan, secara terus-menerus istrinya selalu meminta jumlah uang yang semakin besar, hari ke hari. 

“Harga beras naik, gula naik, garam naik, listrik naik,...” 

Segala penjabaran kenaikan itu tak akan berhenti bila Ezra tak buru-buru merogoh saku, dan mengulurkan uang untuk istrinya. Maka, tak perlu heran, belum usai satu bulan, gaji sebesar standar upah provinsi itu pun telah ludes. Namun anehnya, istrinya malah menuduh Ezra memfoya-foyakan uang gajinya. 

Maka, tak ada jalan lain. Desakan demi desakan yang kian menjadi-jadi dari istri, Ezra menggunakan peluang yang tersedia. Ezra sebenarnya tak berniat mengambil isi-isi amplop tersebut. Ia hanya beniat sekadar meminjam saja. Nanti ia berencana akan menggantinya kembali. Namun, semua ekspektasi itu tak terjadi. Realitanya adalah saat ini. Ia harus menggunakan uang-uang yang sebenarnya bukan hak nya itu untuk memenuhi desakan-desakan tak wajar istrinya. 

Maka, seperti hari ini. Ya, hari Selasa ini. Hari kembali ia menerima amplop-amplop berisi honor-honor para penulis itu. Kini Ezra tengah menggeber motor brengseknya itu keluar dari sebuah Plaza, sambil membawa sebuah smartphone baru yang telah dibungkus kado untuk hadiah ulang tahun Reza. Namun, apalah daya ketentuan manusia biasa seperti Ezra yang tak bisa menolak takdir yang semata punya kuasa. 

Begitu Ezra hendak menancap gas, motor brengseknya sontak di hantam mobil yang sedang melaju berkecepatan tinggi. Tak pelak, tubuh Ezra terpelanting ketengah jalan raya. Tak dinyanya lagi, tubuh yang sekarat itu mendadak dilindas oleh truk yang langsung meremukkan tulang-tulang Ezra dalam serakan amis darah disekitarnya. Sementara truk itu terus melaju dengan perlahan, tak menyadari apa yang baru saja dilindasnya. ❑-g 

Medan, 2017 

*) Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Karya-karyanya termuat pula dalam buku Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Riau Pos 2015), Perayaan Cinta (Puisi Inggris-Indonesia 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara 2016), Cinta yang Terus Mengalir (Taaruf Penyair Muda Indonesia 2016), Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016), dll. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Husein Heikal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 17 September 2017

0 Response to "Balada Pemakan Honor"