Bila Tiba Saatnya Kumemilih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bila Tiba Saatnya Kumemilih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:49 Rating: 4,5

Bila Tiba Saatnya Kumemilih

DIA adalah seorang gadis hitam manis. Kulitnya berwarna cokelat tua, tapi paras dan matanya sangat menggoda. Ditambah pribadinya yang amat mengesankan, alhasilkan sekarang disukai rekan sekerja setelah sebelumnya cukup populer di antara teman-teman sesekolahnya.

Karena bekerja di kantor yang sama, tidak heran Heru yang dulu satu kelas, sekarang cukup akrab dengan Diah. Namun semua teman sekerjanya tahu, bahwa selepas SMA-nya Diah sudah pacaran dengan Erwin, yang menurut cerita burung punya kegiatan sebagai pengusaha wiraswasta.

Tapi hari ini Diah yang banyak bicara dan membuat kisah-kisah lucu yang mengundang rekan sekerjanya tertawa terbahak-bahak, menjadi pendiam. Bahkan sangat diam, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu Luciana.

“Ada apa nih, kelihatannya mendung cukup berat,” pancing Luciana.

Diah membalas dengan seulas senyum hambar.

“Perang Libanon meletus lagi?” tanya Luciana, berusaha memancing terbitnya berkas sinar cerah di wajah Diah.

“Tidak ada apa-apa, cuma sedang malas ngomong,” jawab Diah.

“Tidak usah ditutup-tutupi, nanti makan diri sendiri.”

“Sungguh, aku sedang tidak enak badan saja ….”

“Kau sih, mencari pacar seperti bom waktu, selalu meletus setiap detik, sehingga kau panas-dingin terus.”

Luciana ingin bicara lagi, tapi Diah langsung pura-pura sibuk mengetik. Dalam hatinya Diah membenarkan Luciana, tapi untuk melepaskan Erwin belum pernah dipikirkannya. Diah sendiri heran, daya tarik apa sebenarnya yang membuatnya begitu kuat menyerahkan cintanya pada laki-laki itu.

Karena Erwin tampan dan disukai banyak perempuan, sehingga Diah merasa bangga sebagai pemenangnya? Atau pribadinya? Ah, Diah tidak bisa berkata apa-apa tentang hal itu. Menurut Heru, pribadi Erwin rapuh, seperti tiang yang keropos digerogoti rayap.

“Masih pacaran saja, kalian sudah ribut terus. Bagaimana kalau nanti berumah tangga?” Heru pernah bertanya.

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu …” jawab Diah menghindar.

Sekarang Luciana juga berkata sama. Apa betul Erwin bagaikan bom waktu, yang setiap detik meletus tanpa henti? Mereka memang suka berselisih paham, tapi itu ‘kan wajar saja bagi laki-laki dan perempuan yang sedang asyik memadu kasih?

“Wajar memang,” tukas Heru, satu-satunya orang yang sering menampung keluh kesah Diah. Tapi sambungnya, “Kalau ributnya tidak prinsipil memang masih bisa diterima. Tapi ini masalah hak azasi. Kau bayangkan saja sendiri, Erwin melarang tidak boleh ini, tidak boleh itu, sementara dia sendiri bebas saja berbuat sekehendak hatinya.”

“Itu ‘kan katamu?” Diah coba membela diri.

“Semua teman sekantor bilang begitu.”

“Tapi aku tidak peduli.”

“Sejak awal juga kau memang tidak peduli. Sebenarnya aku sudah bosan memberi saran. Tapi kau terus membawa cerita baru, sehingga telingaku lama-lama panas juga. Bahkan orang tuamu kulihat kurang simpatik pada Erwin ….”

“Orang tua memang selalu begitu.”

“Tidak selalu, Diah. Kau jangan lupa, orang tua punya indera keenam dalam mengawasi sepak terjang anak-anaknya. Memang mereka tidak selalu benar, tapi biasanya pandangan orang tua perlu ikut diperhitungkan.”

“Kau selalu berkata begitu. Apakah kau tidak bisa memberikan saran yang lain?”

“Kau mungkin lupa, ketika mula-mula kalian sering bertengkar aku sudah bilang, kalau hubunganmu dengan Erwin mau diteruskan kurangilah pertengkaran itu. Tapi nyatanya, kau terus mengeluh. Kalau tidak ada sesuatu, pasti semuanya berjalan dengan normal. Artinya, orang yang sedang asyik menjalin cinta itu kelihatan bahagia, harum semerbak bagaikan bunga seribu satu rupa. Tapi kau? Begitu berbeda, begitu berubah setelah berpacaran dengan Erwin.”

“Pendapatmu itu berlebihan,” Diah mencoba membela diri.

“Mungkin juga ada benarnya aku berlebihan. Tapi secara jujur kau akuilah, bahwa kebebasanmu banyak berkurang. Erwin melarang ketika kau mau ikut teman-teman sekantor piknik. Erwin juga melarang ketika direktur kita mengundang makan malam di Ricebowl, Wisma Nusantara. Lagi-lagi Erwin melarang kau ikut ketika kami mengadakan rujak party di halaman belakang rumah pak direktur pada hari minggu. Mana kebebasanmu? Mana?”

“Tapi aku tidak merasa terbelenggu ….”

“Kau mengeluh, aku memberi saran. Namun kau tidak pernah menerimanya sebagai suatu jalan keluar. Sebenarnya aku terlalu bodoh untuk memusingkan kepala bagi seorang yang sedang jatuh cinta. Apalagi cinta yang buta seperti yang kau perlihatkan.”

Diah agak heran juga mengapa dia hampir selalu menceritakan kesulitan yang dialaminya dari Erwin kepada Heru. Padahal kritik Heru terhadap Erwin cukup pedas. Begitu rupa kritiknya, sampai pada suatu waktu Heru pernah berkata:

“Kalau putus dengan Erwin, kau jadi pacar aku sajalah ….”

Tapi Diah menganggap kalimat Heru itu sebagai suatu hal yang iseng saja.

Dan sekarang bendera perang itu berkibar lagi. Erwin semalam marah-marah, karena dia merasa kecewa menanti Diah terlalu lama berdialog dengan tetangganya dan seakan-akan melupakan Erwin yang sedang menunggu di ruang tamu.

Walaupun Diah mencoba menjelaskan bahwa tetangganya itu adalah teman mainnya waktu kecil dan sekarang baru sempat bertemu, karena dia melanjutkan sekolah ke luar negeri. Tapi Erwin tetap tidak mau mengerti dan pulang dengan membawa sisa-sisa kekecewaannya.

“Yang penting pribadinya, Diah. Tampang sih cuma menjadi hiburan pada awalnya saja. Kalau bisa mendapatkan yang tampan dan baik, tentu itu karunia Tuhan namanya …” Diah mendengar Luciana berceloteh lagi.

Sejak tadi Heru mendengar semua pembicaraan Luciana dan Diah, tapi dia pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Ketika makan siang di kantin, Heru sengaja menjauhi diri dan dia melihat Luciana terus mengoceh sambil menyuap nasi ke mulutnya di depan Diah.

“Sudah hampir dua tahun kau bekerja di sini dan kudengar hubunganmu dengan Erwin lebih lama lagi. Aku heran kau bisa bertahan begitu lama. Mumpung masih bisa dipertimbangkan, kupikir lebih baik kau menjauhkan diri dari Erwin …” kata Luciana.

Diah menerimanya dengan pandangan setengah kosong. Nasi di piringnya baru habis dua sendok, tapi Diah sudah tidak berselera lagi.

“Kalau kau sakit, menderita karena Erwin dan kemudian menutup usiamu, aku rasa Erwin tenang-tenang saja. Ini nasehat seorang teman, Diah. Harap kau pikirkan. Sebelum terlambat mari kita sediakan payung.”

Luciana mendengar Diah menarik napas.

“Kau dengar, Diah?” tanya Luciana penasaran.

“Ya, aku dengar,” jawab Diah singkat.

“Jangan biarkan aku ikut menderita. Hayo tentukanlah pilihanmu sekarang.”

Dikelilingi dengan kesibukannya di kantor siang itu, Diah mencoba menekuni pekerjaannya dan melupakan apa saja yang dikatakan Luciana. Tapi akhirnya dia bertanya juga pada dirinya sendiri.

“Berapa lama lagi aku bisa bertahan?” kata batinnya.

Anehnya ketika pulang bersama, Heru melontarkan pertanyaan yang sama.

“Pada suatu waktu, dalam hidup ini kita harus berani menentukan pilihan. Pilihan  yang tepat akan memberikan berkah. Jika terjadi sebaliknya, kau akan menderita seumur hidup …” lanjut Heru.

Hujan yang turun di luar musimnya sore itu, seakan-akan turut menghanyutkan Diah dalam bimbang. Kalau selama ini Diah berusaha menegarkan diri menghadapi Erwin, agaknya sekarang perasaannya mulai dipengaruhi Luciana dan Heru.

“Tapi, jika tiba saatnya aku harus memilih, siapa pengganti Erwin?” tiba-tiba Diah bertanya.

Heru menengok dan merangkul bahu Diah. Mereka mandi air hujan seperti anak kecil di sudut jalan itu.

“Benarkah kau sudah mulai memikirkan hal itu?” tanya Heru.

Kejap-kejap mata Diah bagaikan jawaban.

“Kau sudah mengambil langkah yang berani, Diah. Kau sudah menentukan langkah paling berani dalam hidupmu …” kata Heru setengah berseru, karena curahan hujan semakin deras dan suaranya bergemuruh.

“Inilah saatnya kau memilih, Diah! Kalau tidak, aku rasa kau tidak akan pernah memilih lagi,” kata Heru dan mempererat rangkulannya.

Hujan terus tercurah bagaikan tuangan air dari langit. Tapi Heru dan Diah tidak berusaha mempercepat langkah. Mereka meniti trotoar itu satu-satu. Pulang.(*)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Olivia MNH.
[2] Pernah tersiar di "Kharisma Elida" tahun V No. 3 Oktober 1986

0 Response to "Bila Tiba Saatnya Kumemilih"