Bukan Kecap Oriental | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bukan Kecap Oriental Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Bukan Kecap Oriental

IBU pernah berpesan agar Arun mencari istri yang pandai memasak. Tidak perlu molek, asalkan pintar mengulek. Tidak harus sesuku, yang penting mahir menyeling menu. Tidak wajib berkarir tinggi, tetapi jago memuaskan lidah suami.

Amanat yang terdengar sederhana itu rupanya belum mampu ia tunaikan. Calon pendampingnya bukan sekadar tak paham cara mengolah, melainkan nyaris tak kenal segala rempah.

Kabar baik bagi Arun dan bakal istrinya, Ibu sudi memberi restu. Beliau menyukai pribadi Anin yang bersahaja. Apalagi, gadis pilihan anak tunggalnya tersebut semanis pewara kuis di televisi. Ibu siap melatih menantunya kelak supaya terampil berkawan api.

Dalam hitungan bulan, Anin resmi menyandang status sebagai Nyonya Arun. Mereka tinggal seatap bersama Ibu usai mereguk candra madu.

*** 
TRIWULAN pertama, Ibu masih mafhum prioritas Anin yang berseberangan. Jika Ibu lengket dengan kompor, Anin mesra dengan komputer. Kala Ibu sibuk mengurus belanjaan, Anin khusyuk mengelola bisnis online. Bila Ibu gemar menjajal resep masakan, Anin candu menulis artikel hiburan. Sementara Ibu dekat dengan talenan, Anin akrab dengan telepon. Meskipun bukan pegawai, pekerjaan sambilan menantunya kerap menyita banyak waktu.

Belakangan Ibu lebih blak-blakan menegur Anin, terutama saat kepergok bermain gawai. Saking seriusnya merespons pelanggan, ia acap melalaikan tugasnya di dapur. Alhasil keluhan Ibu mulai mampir di telinga.

’’Besok lagi kalau masak jangan ditinggal ya, Nin. Bisa gosong,” sentil Ibu ketika Anin lupa mematikan kompor.

’’Maaf, Bu. Tadi ada pembeli komplain, jadi harus cek segala macam.” Perempuan bertampang kanak-kanak itu langsung membenamkan ponsel ke dalam saku celananya. Entah berapa lama ia menelepon, berbagai gorengan sudah matang semua. Dilihatnya Ibu sedang menumis bumbu halus. ’’Tolong ambilkan kecap, Nin.” 

Anin segera membuka lemari gantung. Kontan ia bingung melihat deretan botol berisi cairan yang nyaris sewarna, pekat. Ia membatin satu per satu nama penyedap dalam lemari itu: kecap manis, kecap asin, kecap ikan, kecap inggris, saus tiram, saus teriyaki. 

’’Kecap yang mana, Bu?” tanyanya kemudian.

’’Kalau Ibu bilang kecap saja, berarti yang ini lho, Nin.” Ibu menghampiri Anin seraya mengambil sebotol kecap manis. ’’Ingat, kecap yang paling sering dipakai.”

’’Aku tahunya cuma kecap yang di tukang bakso, Bu,” ungkap Anin santai.

Ibu hanya meringis sambil menggelengkan kepala.

’’Kalau aku sih cuma tahu makan,” timpal Arun sekeluarnya dari kamar mandi. Tangannya merangkul Anin yang tengah menata penganan. Ia mencomot sepotong martabak telur, lalu mengunyahnya penuh kenikmatan.

’’Kepuasan lidah juga bisa membuat suami betah di rumah,” demikian prinsip Ibu. ’’Kata orang tua dulu, kalau habis nikah suaminya tambah gemuk, berarti istrinya pintar mengurusi.”

Anin terkikih seketika menyaksikan Arun menepuk perutnya yang kian tambun. Lelaki paling tampan di rumah tersebut selalu berhasil memulihkan suasana.

*** 
SEPEKAN sekali Ibu mengajak Anin berbelanja ke pasar tradisional. Ia mesti hafal semua lapak langganan Ibu. Sebut saja Teteh penjual sayur mayur murah. Daging dan ikan segar tersedia di kios Abah. Toko sembako milik Ucok nan lengkap. Kelontong Uni yang paling ujung. Tak ketinggalan pula daftar belanja kebutuhan seharihari. Lumayan bisa menghemat pengeluaran. Tidak heran, Ibu lebih senang memborong di pasar ketimbang di swalayan. Menurut Ibu, supermarket lebih cocok untuk jalan dan jajan.

Selanjutnya, mereka menyambangi kios penjual ayam yang tampak padat punya Pak Haji. Anin memerhatikan papan nama yang terpasang tepat di atasnya, ’’H. Thoyib: Jual Ayam Potong Halal”.

Para pembeli bersahutan sembari mendesak agar buru-buru dilayani. Pak Haji beserta istrinya malah menimpali dengan lelucon. Barangkali sebab keramahan itulah kaum Ibu rela menunggu lama dan mengabaikan bau anyir yang terus menyengat hidung. Padahal, Pak Haji bukan satu-satunya bakul ayam potong di pasar itu.

’’Bu, tukang ayam sebelah nggak antre panjang,” Anin mengusulkan. Kalau lazimnya ia manut saja tiap Ibu memilih tempat, kali ini sedikit berpendapat.

’’Lebih terjamin beli di sini, Nin. Makanya selalu ramai,” sanggah Ibu. Alasannya karena Pak Haji senantiasa merapal doa sebelum mendebah ayam-ayamnya. ’’Zaman sekarang mesti teliti kalau belanja. Halal haram itu penting.”

Anin mengangguk sambil melengkungkan bibirnya pertanda setuju.

Seperempat jam kemudian, giliran Ibu mendapat satu ekor ayam kampung yang telah disembelih serta dicabuti bulunya. Pedagang bergelar haji tersebut dengan terampilnya mengayun pisau, merobek dan memotong ayam hingga sepuluh bagian. Seluruh jeroan dipisah ke dalam kantong plastik kecil. Ibu kerap menambahkan ceker dan kepala ayam favorit anak lanangnya. ’’Kamu capek, Nin?” 

’’ Nggak apa-apa, Bu. Sekalian olahraga.” ’

’Kalau mau dimasakin atau masak sendiri bilang saja. Nggak usah malu.” 

’’Iya, Bu.” 

’’Arun itu doyan makan seperti almarhum ayahnya. Kesukaannya soto ayam sama semur balungan. Nanti Ibu ajarkan cara bikin soto yang enak, ya.”

Keduanya lekas beranjak dari satu kios ke kios lain tanpa lelah. Sesekali Ibu membisikkan wejangan pada mantu semata wayangnya: cara meladeni suami supaya makin cinta serta manajemen rumah tangga. Tidak terasa, empat kantong kresek besar penuh dengan aneka belanjaan.

*** 
BILA musim kawin tiba, Ibu sering menerima pesanan jasa boga. Masakan beliau terkenal lezat nan pas dengan selera si empunya hajat. Ibu biasa mengupahi beberapa tetangga untuk membantunya. Seharian meninggalkan rumah, terlebih jika ada undangan saudara, Ibu bisa menginap berhari-hari. Otomatis urusan pangan dipercayakan Anin sepenuhnya.

Dapur menjelma medan peperangan bagi Anin. Tergores pisau seakan jadi langganan. Menggoreng ikan sampai terciprat minyak panas pun pernah. Namun, berkat itu jua ia semakin lihai mengolah sajian sederhana. Menu andalannya tumisan. Kendati soal rasa tidak jauh-jauh dari hambar atau keasinan, Arun tetap setia melahap masakan istrinya.

Anin selalu sukses menyiapkan sarapan dalam sekejap, sebelum Arun berangkat kerja. Pagi ini Ibu tidak bisa membantunya karena kelelahan setelah masak besar di kampung sebelah. Ia sedikit ragu saat Ibu menengok pekerjaannya, sebab kondisi dapur masih berantakan. Beruntung ia telah rampung menata meja makan. Suaminya yang takjub sertamerta menghadiahi tepukan tangan.

’’Masak apa, Nin?” tanya Ibu seraya membenahi posisi kacamata.

’’Nasi goreng, Bu,” jawab Anin sembari mengangkut peralatan kotor ke wastafel. ’’Ibu langsung sarapan ya, kan mau minum obat.”

’’Ibu sudah sembuh kok, cuma kecapekan. Ayo makan dulu. Nanti saja beres-beresnya.” 

’’Ya, Bu.” ’

’Wah, mantap. Aku jadi lapar.” Arun melongok sepinggan nasi goreng hangat bertabur irisan sosis dan ayam suwir.

’’Kalau rasanya aneh, maklum ya, Bu,” tutur Anin sembari menarik kursi.

Ibu mengamati satu demi satu hasil kreasi Anin. ’’Ini sudah bagus tampilannya.’’

’’Siapa dulu kokinya,” sanjung Arun. Tangannya mencentong nasi berikut telur dadar ke piring Ibu. Anin turut menambahkan acar dan kerupuk udang.

Suapan pertama berlangsung sekejap. Ibu bukanlah orang yang gampang memuji suatu hidangan sampai lidahnya merasa mapan. Arun dan Anin saling berbalas lirikan mata. Mereka mulai deg-degan. Ibu tampak menahan komentar. Mulut beliau masih asyik mengunyah, sementara menantunya makin gelisah. Anin teringat ajang perlombaan di televisi, Ibu tak ubahnya juri yang siap menilai masakan peserta. Ia berharap komentar mertuanya kali ini tidak sepedas sambal mercon.

’’Aromanya agak lain, tapi lumayan sedap.” Ibu memonten bak pembawa acara kuliner. ’’Hmm... maknyus!”

Kedua jempol Arun malah ikut bergoyang, membuat Anin lantas memamerkan senyum polosnya. Hatinya lega luar biasa. Tidak sia-sia ia mempelajari bermacam varian nasi goreng lewat internet semalam suntuk.

Anin menuntaskan acara makannya lebih dulu. Ia seolah kenyang menyaksikan dua orang menyantap masakannya dengan begitu lahap. Tak biasanya ia seceria itu ketika duduk satu meja bersama mertua.

’’Nanti siang aku mau masak tumis daging paprika, Bu. Kebetulan masih ada stok daging di kulkas. Saking niat ngikutin resep, aku sampai keliling pasar cari kecap versi oriental.”

’’Kecap oriental?” tanya Ibu lalu balik menebak, ’’Saus teriyaki?”

’’Aku lupa namanya, Bu. Botolnya mirip kecap manis. Kata penjualnya bisa buat bumbu daging biar empuk. Nasi goreng juga tambah gurih dikasih itu.”

’’Coba ambilkan, Sayang. Biar Ibu lihat,” pinta Arun yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua wanitanya.

’’Sebentar.’’ Anin bangkit, kemudian mengambil sesuatu dari lemari gantung. Ia meletakkan sebotol kecap yang dimaksud di atas meja. Arun dan Ibu serentak terbelalak saat mendapati label huruf Tiongkok yang melekat di botol beling bertutup merah tersebut.

Ibu berhenti menyendok nasi. Beliau refleks meletakkan sendok dan garpu. Kedua tangan kisutnya mengatup mulut yang hendak berdeham.

’’Oh, ang ciu,” baca Anin lambat, ’’Nama lainnya saus sari tapai. Di dapur belum ada kan, Bu?”

Dengan berat Arun terpaksa menelan sisa makanan yang kadung melesat ke dalam kerongkongan. Anin menoleh bergantian pada Arun serta Ibu yang langsung beranjak dari meja makan. Anin tampak bingung, tapi Arun lebih bingung mencari alibi untuk membelanya.

’’Kenapa sih, Mas? Apa yang salah?” Anin menagih jawaban sambil mengguncang lengan Arun. Dahinya mengerut. Perasaannya kembali resah. Entah bagaimana ia menafsirkan raut Ibu yang mendadak berubah. Ia harap ada penjelasan usai segelas air putih tandas diteguk suaminya.

Arun menggaruk kepala. Ia menilik hasil fermentasi beras ketan di hadapannya. Masih lekat dalam ingatan, betapa cerewetnya Ibu sewaktu batal makan di warung boga bahari. Lantaran tanpa sengaja melihat si tukang masak membubuhkan penyedap masakan itu, Ibu mengajaknya pulang.

’’Ini arak merah, Sayang,’’ terang Arun seraya mengusap kepala istrinya. ***

 Wi Noya, cerpenis, tinggal di Jakarta Timur

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wi Noya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 17 September 2017

0 Response to "Bukan Kecap Oriental"